Penggunaan istilah Cina, China, atau Tiongkok di media massa di Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Penggunaan istilah Cina, China dan Tiongkok di media-media utama di Indonesia adalah keputusan penggunaan yang digunakan oleh media-media di Indonesia terkait dengan kontroversi penggunaan ketiga nama yang berbeda ini. sejak tahun 1967 diatur berdasarkan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/PRES.KAB/6/1967, Tanggal 28 Juni 1967 kemudian pada tahun 2014 dicabut dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2014. Artikel ini berisi daftar.

Menggunakan istilah Cina[sunting | sunting sumber]

Penerbitan dan judul buku (termasuk yang terjemahan)[sunting | sunting sumber]

  1. Masyarakat dan Kebudayaan Cina di Indonesia (Hidayat)
  2. Jaringan Masyarakat Cina (Jhon K. Naveront)
  3. Rahasia Horoskop Cina (Lori Reid)
  4. Feng Shui - Ilmu Tata Letak Tanah dan Kehidupan Cina Kuno (Stephen Skinner)
  5. Simbolisme Hewan Cina' (Ong Hean-Tatt diterjemahkan oleh Lie Hua) istilah yang digunakan dalam buku adalah 'orang cina', 'masyarakat cina' dsbnya.
  6. Konglomerat Indonesia (Kwik Kian Gie) istilah yang digunakan adalah orang dan masyarakat cina Indonesia.
  7. Ensiklopedia Nasional Indonesia istilah digunakan untuk menyebut orang Cina yang tinggal di daratan RRC dan yang tinggal di Taiwan, maupun orang Cina yang tinggal di Indonesia, serta "masakan cina" untuk penerjemahan istilah "chinese food".

Surat kabar dan majalah[sunting | sunting sumber]

  1. Majalah dan koran TEMPO (hingga kini)[1]

Masalah hukum[sunting | sunting sumber]

9 Januari 2013 8:03 wib[2] : Farhat Abbas memuat tweet yang kemudian menuai kecaman luas[3][4][5][6][7]

Menggunakan istilah Cina dan Tionghoa secara berdampingan[sunting | sunting sumber]

  1. Politik Tionghoa Peranakan di Jawa (Leo Suryadinata) isi buku menggunakan istilah Tionghoa berdampingan dengan istilah cina.
  2. Majalah 'Sinergi' yang khusus membahas masalah etnis ini, dan sekalipun banyak menggunakan istilah 'Tionghoa', di dalamnya juga ada digunakan istilah 'cina' dengan maksud yang sama dan bahkan oleh penulis cina sendiri. Dalam salah satu edisinya (23) Arif Budiman (So Hok Djin) mengemukakan "Apa Salahnya Menjadi 'Cina'!"

Menggunakan istilah Tiongkok dan Tionghoa[sunting | sunting sumber]

Penerbitan dan judul buku (termasuk yang terjemahan):

  • "Pelajaran dari Tiongkok: catatan Dahlan Iskan", Dahlan Iskan, JP Books, 2008
  • "Rahasia Tiongkok Kuno untuk Hidup Sehat", Andri Wang, Gramedia Pustaka Utama, 2011
  • "Silang budaya Tiongkok-Indonesia", Kong Yuanzhi, Bhuana Ilmu Populer, 2005
  • "Muslim Tionghoa Cheng Ho: misteri perjalanan muhibah di Nusantara", Yuanzhi Kong, Yayasan Obor Indonesia, 2000
  • "Orang Indonesia Tionghoa Mencari Identitas", Aimee Dawis, PT Gramedia Pustaka Utama, 2010
  • "Etnis Tionghoa Di Indonesia: Kumpulan Tulisan", ISBN 9794616893, Mely G. Tan - 2000
  • "Etnis Tionghoa dan nasionalisme Indonesia: sebuah bunga rampai", ISBN 9797095304, Leo Suryadinata - 2010
  • "Tionghoa dalam pusaran politik", Benny G. Setiono - 2003
  • "WNI keturunan Tionghoa dalam stabilitas ekonomi dan politik Indonesia", ISBN 9792241523, Justian Suhandinata - 2009
  • "Penguasa ekonomi dan siasat pengusaha Tionghoa", Lembaga Studi Realino (Yogyakarta, Indonesia) - 1996
  • "Riwayat Tionghoa peranakan di Jawa", ISBN 9793731052, Onghokham - 2005
  • "Setelah air mata kering: masyarakat Tionghoa pasca-peristiwa Mei 1998", 9797094723, Thung Ju Lan - 2010

Surat kabar dan media massa:

Menggunakan istilah China[sunting | sunting sumber]

  • Kompas (setelah 2006)
  • Stasiun berita Metro TV mengeja China pada teks berjalan dan teks-teks lainnya, dan pada saat pembawaan berita para penyiarnya melafalkannya seperti pada bahasa Inggris: /tʃaɪnə/

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]