Pengepungan Naxos (499 SM)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pengepungan Naxos (499 SM)
Bagian dari Perang Yunani-Persia
Aegean Sea with island groups labeled.gif
Letak Naxos di Laut Aigea
Tanggal 499 SM
Lokasi Naxos, Kyklades
Hasil Kemenangan Naxos
Pihak yang terlibat
Naxos Kekaisaran Persia,
Miletos
Komandan
Tak diketahui Aristagoras,
Megabates
Kekuatan
sek.8.000 hoplites, sek. 8.000 marinir,
200 kapal
Korban
Tak diketahui Tak diketahui

Pengepungan Naxos (499 SM) adalah usaha yang gagal oleh tiran Miletos, Aristagoras, yang bekerja dengan dukungan, dan atas nama Kekaisaran Persia pimpinan Darius yang Agung, untuk menaklukkan Pulau Naxos. Ini adalah peristiwa yang mengawali Perang Yunani-Persia, yang kelak akan berlangsung selama 50 tahun.

Aristagoras didekati oleh para aristokrat Naxos yang telah dikucilkan, yang berkeinginan untuk kembali ke pulau mereka. Melihat kesempatan untuk meningkatkan posisinya di Miletos, Aristagoras meminta dukungan dari pemimpinnya, raja Persia Darius yang Agung, dan satrap lokal, Artaphernes, untuk menaklukkan Naxos. Persia setuju dan mengirim 200 kapal trireme di bawah komado Megabates.

Ekspedisi ini dengan cepat berubah menjadi bencana. Aristagoras dan Megabates bersitegang dalam perjalanan ke Naxos, dan seseorang (kemungkinan Megabates) memberi tahu rakyat Naxos mengenai kedatangan pasukan Persia. Akibatnya, ketika mereka tiba, pasukan Persia dan Ionia harus berhadapan dengan kota yang sudah bersiap menghadapi pengepungan. Pasukan ekspedisi tetap mengepung kota itu, namun setelah empat bulan tanpa keberhasilan dan kekurangan uang, mereka pun terpaksa kembali ke Asia Kecil.

Setelah ekspedisi yang gagal ini, Aristagoras merasa bahwa dia akan dipecat dari jabatannya sebagai tiran. Akhirnya dia memilih untuk menghasut seluruh Ionia untuk memberontak terhadap Darius yang Agung. Pemberontakan menyebar ke Karia dan Siprus. Persia pun melakukan kampanye di seluruh Asia Kecil selama tiga tahun tanpa hasil yang bagus, sebelum akhirnya pasukan Persia dikumpulkan ulang dan dikirim langsung ke pusat pemberontakan di Miletos. Pada Pertempuran Lade, Persia secara telak mengalahkan armada Ionia dan secara efektif mengakhiri pemberontakan. Meskipun Asia Kecil berhasil dikuasai kembali oleh Persia, Darius bersumpah untuk menghukum Athena dan Eretria, yang telah membantu pemberontaan. Maka dari itu pada tahun 492 SM, invasi pertama Persia ke Yunani dilakukan sebagai tindak lanjut dari kegagalan serangan ke Naxos dan Pemberontakan Ionia.

Sumber[sunting | sunting sumber]

Secara praktis, satu-satunya sumber primer untuk Pemberontakan Ionia adalah sejarawan Yunani Herodotos.[1] Herodotos, yang disebut sebagai 'Bapak Sejarah',[2] lahir pada tahun 484 SM di Halikarnassos, Asia Kecil (ketika itu dikuasai oleh Persia). Dia menulis karyanya yang berjudul Historia sekitar tahun 440–430 SM, berusaha untuk melacak asal usul Perang Yunani-Persia, yang ketika itu merupakan peristiwa yang belum terlalu lama berlalu (perang itu berakhir pada tahun 450 SM).[3][4] Pendekatan Herodotos sepenuhnya baru, dan setidaknya di masyarakat Barat, dia tampaknya menciptakan 'sejarah' seperti yang kini diketahui.[4] Seperti dinyatakan oleh Holland:[4]

Patung kepala Herodotos
Untuk pertama kalinya, seorang penulis kronik memutuskan untuk melacak asal usul suatu konflik bukan ke masa silam yang begitu jauh demi terlihat menjadi sangat menakjubkan, bukan juga kepada tingkah laku dan keinginan dewa tertentu, bukan kepada klaim orang demi mewujudkan takdir, namun lebih kepada penjelesan yang dapat dia verifikasi secara pribadi.

Banyak sejarawan kuno di kemudian hari yang, meskipun mengikuti jejak penulisan Herodotos, mengkritiknya, bermula dari Thukydides.[5][6] Meskipun demikian, Thukydides memilih untuk memulai catatan sejarahnya pada peristiwa ketika Herodotos menyelesaikan catatannya sendiri, yaitu pada Pengepungan Sestos, dan dengan demikian Thukydides mungkin merasa bahwa tulisan Herodotos sudah cukup akurat sehingga tak perlu dikoreksi atau ditulis ulang.[3][6] Plutarkhos mengkritik Herodotos dalam esainya "Mengenai Kejahatan Herodotos", menggambarkan Herodotos sebagai "Philobarbaros" (pencinta orang barbar), karena menurutnya Herodotos kurang memihak Yunani. Ini menunjukkan bahwa Herodotos kemungkinan telah melakukan penulisan sejarah yang cukup netral dan tidak terlalu berat sebelah.[7]

Pandangan negatif tentang Herodotos berlanjut hingga Eropa Renaisans, meskipun karyanya tetap banyak dibaca.[8] Akan tetapi, sejak abad ke-19 reputasinya secara dramatis mengalami perbaikan akibat temuan-temuan arkeologis yang berulang kali menunjukkan bahwa catatan sejarahnya memang akurat.[9] Pandangan modern yang kini berlaku adalah bahwa Herodotos secara umum melakukan pekerjaan yang baik dalam karyanya Historia, namun beberapa rincian spesifiknya (terutama mengenai jumlah pasukan dan tanggal kejadian) harus dicermati dengan skeptisisme.[9] Meskipun demikian, masih ada beberapa sejarawan yang menganggap bahwa banyak bagian dari catatan Herodotos dikarang oleh dirinya sendiri.[10]

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Peta periode akhir Kekaisaran Lydia di bawah Kroisos, abad ke-6 SM.

Pada Zaman Kegelapan Yunani yang berlangsung setelah runtuhnya peradaban Mykenai,[11] banyak orang Yunani yang beremigrasi ke Asia Kecil dan bermukim di sana. Para pemukim ini berasal dari tiga kelompok suku: suku Aiolia, Doria, dan Ionia.[12][13] Orang Ionia bermukim di pesisir Lydia dan Karia, mendirikan dua belas kota yang membentuk daerah Ionia.[13] Kota-kota ini antara lain Miletos, Myos dan Priene di Karia; Ephesos, Kolophon, Lebedos, Teos, Klazomenai, Phokaia dan Erythrai di Lydia; serta pulau Samos dan Khios.[14][15][16] Kota-kota Ionia merupakan negara-negara yang merdeka hingga mereka ditaklukkan oleh raja Lydia, Kroisos, sekitar tahun 560 SM.[17][18][19] Setelah selama beberapa waktu dikuasai oleh Lydia, kota-kota Ionia berpindah tangan kepada Kekaisaran Persia pimpinan Koresh Agung, setelah kekaisaran itu mengalahkan Lydia.[20][21][22]

Persia mendapati bahwa orang Ionia sulit diatur. Di wilayah lainnya di kekaisaran, Koresh memanfaatkan kelompok elite penduduk pribumi untuk membantunya mengatur daerah taklukan barunya, misalnya kelompok kependetaan Yudea.[23] Kelompok seperti itu tidak ada di kota-kota Yunani pada masa itu; meski biasanya ada aristokrasi, hal ini pada akhirnya berujung pada golongan-golongan yang saling bermusuhan.[23] Persia kemudian menempatkan seorang tiran di tiap kota di Ionia, meskipun ini menyeret mereka ke dalam konflik internal Ionia. Selain itu, tiran tertentu kemungkinan mengembangkan gagasan untuk merdeka dan harus diganti.[23] Para tiran itu sendiri menghadapi tugas yang sulit, mereka mesti mengalihkan kebencian terburuk warganya terhadap Persia, sambil tetap mengabdi kepada Persia.[23]

Sekitar 40 tahun setelah penaklukan Persia atas Ionia, dan pada masa pemerintahan raja Persia keempat, Darius Agung, tiran Miletos saat itu, Aristagoras, mendapati dirinya berada dalam permasalahan seperti di atas.[24] Paman Aristagoras, Histiaios, pernah menemani Darius dalam kampanyenya pada tahun 415 SM, dan ketika ditawarkan imbalan, meminta bagian wilayah Thrakia yang telah ditaklukkan Persia. Meskipun permintaan itu dikabulkan, ambisi Histiaios membuat para penasehat Darius cemas, akibatnya Histaios kembali diberi "hadiah" lain, yaitu dijadikan "Kawan Semeja Raja" (kemungkinan sebagai penasehat) Darius, yang membuat Histaios harus terus berada di Susa, sehingga Persia tak perlu cemas lagi akan ambisinya. Jabatan tiran kemudian diwariskan kepada Aristagoras, yang harus menghadapi rasa ketidaksukaan rakyat Miletos kepada Persia.[24][25]

Peta pulau Naxos

Dan memang, periode ini dalam sejarah Yunani terkenal atas pergolakan sosial dan politik di banyak negara kota Yunani, khususnya pendirian demokrasi pertama di Athena.[1] Pulau Naxos, bagian dari kepulauan Kyklades di Laut Aigea, juga dipengaruhi oleh kericuhan politik pada periode ini. Naxos dikuasai oleh Lygdamis, anak didik tiran Athena Peisistratos, hingga sekitar tahun 524 SM dia digulingkan oleh Sparta. Setelah itu, aristokrasi peribumi berkuasa, dan Naxos tampaknya menjadi salah satu kota paling makmur dan kuat di Aigea.[1][26] Meskipun begitu, Naxos tetap ditimpa ketegangan antarkelas sosial dan kericuhan internal. Rakyat merasa marah terhadap pemerintah yang menerapkan pajak tinggi kepada mereka. Akiabtnya, tidak lama sebelum tahun 500 SM, rakyat memberontak dengan mengusir para aristokrat dan mendirikan demokrasi.[1][27][28]

Pada tahun 500 SM, Aristagoras didekati oleh beberapa aristokrat yang terusir dari Naxos. Mereka meminta Aristagoras untuk menyediakan pasukan agar dapat membantu mereka kembali berkuasa di Naxos.[29] Melihat adanya kesempatan untuk memperkuat posisinya di Miletos dengan cara menaklukkan Naxos, Aristagoras merasa bahwa dia harus menerima tawaran para aritokrat Naxos yang terusir itu.[25] Akan tetapi Aristagoras tidak punya cukup pasukan sehingga dia pun memberitahu mereka bahwa dia akan terlebih dahulu meminta bantuan kepada Artaphernes. Mendengar itu, para aristokrat Naxos menyerahkan segala urusan kepada Aristagoras. Mereka juga menjanjikan banyak hadiah kepada Aristagoras dan mengatakan bahwa mereka akan membayar biaya ekspedisi untuk penaklukan Naxos. Mereka yakin bahwa jika berhasil kembali berkuasa di Naxos, maka mereka akan memperoleh banyak uang dari rakyat Naxos dan juga dari penduduk di pulau-pulau di sekitarnya.[30]

Aristagoras pergi ke Sardis mendatangi satrap Lydia, Artaphernes, dengan sebuah tawaran. Jika Artaphernes menyediakan pasukan untuk menaklukkan Naxos, Aristagoras akan menaklukkan Naxos atas nama Dairus, dan Artaphernes juga akan diberikan bagian dari rampasan perang untuk mengganti biaya pembentukan pasukan. Aristagoras membujuk Artaphernes dengan mengatakan bahwa Naxos adalah pulau yang kaya dan subur, dengan kekayaan dan budak yang berlimpah. Herodotos menuturkan bahwa Aristagoras berkata:[30]

Dengan demikian engkau [Artaphernes] harus mengirimkan sebuah eksepdisi menuju pulau tersebut, dan mengembalikan kekuasaannya kepada orang-orang yang kini telah terusir dari sana: dan jika engkau bersedia melakukannya, maka pertama-tama aku akan menyiapkan sejumlah besar uang yang tidak termasuk biaya yang yang dikeluarkan untuk ekspedisi (yang memang adil bahwa kita yang melaksanakannya harus menyediakannya), dan selanjutnya engkau akan dapat memperoleh wilayah bagi rajamu bukan hanya Naxos melainkan pula pulau-pulau yang bergantung kepadanya, di antaranya pulau Paros dan Andros dan pulau-pulau lainnya yang disebut Kyklades; dari bermula dari sana engkau akan dapat dengan mudah menyerang Euboia, sebuah pulau yang besar dan kaya, bahkan sebesar Siprus, dan amat mudah untuk ditaklukkan. Untuk melakukan semua itu seratus kapal tentulah cukup

Berikut adalah jawaban Artaphernes:[30]

Engkau sungguh merupakan seseorang yang menceritakan hal-hal yang baik kepada keluarga raja; dan dalam semua hal ini engkau memberikan nasehat yang baik, kecuali mengenai jumlah kapal; karena bukan seratus kapal, melainkan akan disiapkan dua ratus kapal pada awal musim semi. Dan benarlah bahwa baginda raja sendiri harus menyetujui usulan ini.

Mendengar ini, Aristagoras pulang ke Miletos dengan gembira. Sementara Artaphernes berangkat ke Susa untuk meminta persetujuan Darius untuk menyiapkan ekspedisi ini. Darius memberi izin dan dibentuklah armada laut yang terdiri atas 200 trireme yang akan dikerahkan untuk menyerang Naxos setahun kemudian.[31][32][33]

Kejadian awal[sunting | sunting sumber]

Armada Persia dikumpulkan pada musim semi tahun 499 SM, dan berlayar ke Ionia. Artaphernes menunjuk sepupunya (yang juga sepupu Darius) Megabates sebagai pemimpin ekspedisi, dan mengirimnya ke Miletos bersama pasukan Persia.[31] Di sana pasukan Miletos, yang dipimpin Aristagoras, bergabung dengan mereka, dan bersama-sama kemudian berangkat berlayar. Supaya orang Naxos tidak curiga, armada mereka pada awalnya berlayar ke utara, menuju Hellespontos, namun ketika sampai di Khios mereka berbalik arah dan berlayar menuju suatu tempat yang disebut Kaukasa, dan dari sana, dengan memanfaatkan angin utara, mereka berlayar ke Naxos.[34]

Model rekonstruksi sebuah trireme, jenis kapal yang digunakan oleh Yunani maupun Persia

Herodotos menceritakan bahwa suatu ketika Megabates memeriksa kapal-kapal (kemungkinan ketika armada sedang berlabuh pada malam hari), dan mendatangi satu kapal dari Myndos yang tidak menyertakan petugas jaga.[25][34] Megabates marah dan memerintahkan anak buahnya untuk mencari kapten kapal itu yang bernama Skylax. Sang kapten lalu dihukum dengan ditempatkan di lubang dayung kapal dengan keadaan kepalanya berada di luar sementara badannya berada di dalam.[34] Aristagoras mendengar berita ini dan bergegas mendatangi Megabates dan memintanya untuk membebaskan sang kapten kapal. Megabates tidak mau mengampuninya, sehingga Aristagoras terpaksa harus turun tangan membebaskan sang kapten itu sendiri.[34] Mengetahui hal ini, Megabates memarahi Aristagoras, yang kemudian membalas dengan mengatakan:[34]

Namun engkau, apa urusanmu dalam permasalahan ini? Bukankah Artaphernes mengirimmu untuk mematuhiku dan berlayar ke manapun aku memerintahkanmu? Mengapakah dirimu ikut campur?

Menurut Herodotos, Megabates sangat marah sehingga dia mengirim orang ke Naxos untuk memberitahu mengenai kedatangan pasukan Persia.[25][34] Para sejarawan modern, yang meragukan bahwa seorang komandan Persia akan menyabotase invasinya sendiri, mengusulkan beberapa kemungkinan skenario lainnya. Sebagian berpendapat bahwa yang memberitahu orang Naxos adalah Aristagoras sendiri, dalam usahanya untuk membuat Megabates tampak buruk. Beberapa lainnya mengusulkan bahwa ada sejumlah aristokrat terusir dari Naxos yang berubah pikiran dan memutuskan untuk membantu Naxos. Ada pula teori bahwa orang Naxos diberitahu oleh marinir Yunani dalam pasukan Persia yang bersimpati kepada Naxos. Selain itu, teori lainnya adalah bahwa orang Naxos sama sekali tidak mengetahui bahwa mereka akan diserang, dan pengepungan itu gagal karena serangan pasukan Persia terlalu lemah sedangkan pertahanan Naxos terlalu kuat.[35] Walau bagaimanapun, tidak mungkin untuk mengetahui secara pasti bagaimana caranya rakyat Naxos bisa mengetahui akan terjadi serangan, namun kemungkinan besar mereka memang mengetahuinya dan melakukan persiapan untuk menghadapinya.[35]

Pasukan[sunting | sunting sumber]

Kiri: lustrasi seorang hoplites, jenis infantri berat di negara-negara kota Yunani Kanan: Ilustrasi prajurit pemanah dalam pasukan Persia Kiri: lustrasi seorang hoplites, jenis infantri berat di negara-negara kota Yunani Kanan: Ilustrasi prajurit pemanah dalam pasukan Persia
Kiri: lustrasi seorang hoplites, jenis infantri berat di negara-negara kota Yunani
Kanan: Ilustrasi prajurit pemanah dalam pasukan Persia

Naxos[sunting | sunting sumber]

Herodotos tidak memberikan angka yang lengkap untuk jumlah pasukan pada kedua belah pihak, namun dia memberikan beberapa gagasan mengenai kekuatan kedua pasukan. Yang jelas, karena orang Naxos bertempur di tanah air mereka, pasukannya secara teoretis kemungkinan besar meliputi seluruh penduduk Naxos. Herodotos menuturkan dalam catatannya bahwa "orang Naxos memiliki delapan ribu pria yang membawa perisai," yang mengindikasikan bahwa ada sekitar 8000 orang yang dapat mempersenjatai diri sebagai hoplites.[29] Hoplites adalah infantri berat Yunani yang mengenakan banyak perlengkapan pertahanan, di antaranya helm perunggu, perisai bundar besar dari kayu berlapis perunggu, pelindung dada dari kulit atau logam, serta pelindung betis dari perunggu. Untuk penyerangan, senjata utama hoplites adalah tombak dengan senjata cadangan berupa pedang.[36][37][38][39] Hoplites digunakan dalam banyak pertempuran oleh banyak negara kota di Yunani kuno. Para hoplites Naxos menjadi tulang punggung yang kuat dalam perlawanan terhadap pasukan Persia.[29]

Dalam catatan Herodotos, disebutkan pula banyak Naxos memiliki "banyak kapal perang", namun tidak diketahui mengapa orang Naxos tidak berusaha menghadapi armada Persia dalam pertempuran laut sebelum pasukan Persia berlabuh di pantai Naxos.[29]

Persia[sunting | sunting sumber]

Jumlah tentara pasukan Persia dapat diperkirakan berdasarkan informasi bahwa armada Persia terdiri atas 200 trireme.[30] Tidak jelas apakah ada kapal angkut tamabahan. Jumlah standar dalam sebuah trireme adalah 200 tentara, termasuk 14 marinir.[40] Pada invasi kedua Persia ke Yunani, tiap kapal Persia membawa tiga puluh marinir tambahan,[41] dan ini kemungkinan benar pula pada invasi pertama ketika seluruh kekuatan invasi disebutkan dibawa melalui trireme.[40] Lebih jauh lagi, masing-masing kapal pasukan Khios pada Pertempuran Lade juga mengangkut 40 marinir. Ini menunjukkan bahwa sebuah trireme dapat membawa paling banyak 40–45 tentara—trireme tampaknya dengan mudah menjadi tak stabil akibat tambahan beban. Jika pasukan Persia di Naxos juga menerapkan hal serupa, maka jumlah tentara Persia ada pada kisaran 8000 hingga 9000 orang, disamping sejumlah besar pendayung yang tak bersenjata.[42]

Pengepungan[sunting | sunting sumber]

Reruntuhan kuil Apollo di pesisir Naxos
Kota Naxos modern

Herodotos menceritakan bahwa pada awalnya rakyat Naxos tidak tahu apa-apa mengenai invasi itu dan tidak menyadari bahwa ada armada Persia yang sedang bersiap untuk menyerbu kota mereka. Namun setelah mereka mengetahui berita itu, mereka dengan cepat melakukan segala persiapan untuk dapat bertahan dalam menghadapi serbuan Persia. Rakyat Naxos memindahkan segala barang-barang penting yang berada di ladang pertanian ke dalam kota. Mereka juga menyiapkan persediaan bahan pangan dan air di dalam kota supaya tidak terjadi kelaparan selama dikepung oleh pasukan Persia. Selain itu orang Naxos juga memperkuat tembok kota mereka.[43]

Karena orang Naxos telah melakukan segala persiapan tersebut, ketika pasukan Ionia dan Persia tiba di kota Naxos, mereka dihadapkan dengan tembok pertahanan yang kuat dan kota yang tersuplai secara baik.[43] Herodotos tidak secara jelas mengatakannya, namun kota ini kemungkinan adalah ibu kota negara Naxos. Dia hanya menuliskan sedikit rincian mengenai tindakan militer yang terjadi kemudian, meskipun ada pendapat bahwa dilakukan serangan awal ke kota tersebut, yang berhasil dipukul mundur.[43] Pasukan Ionia dan Persia akhirnya terpaksa berdiam dan mengepung kota. Akan tetapi, setelah melakukan pengepungan selama empat bulan, persediaan uang yang dibawa oleh pasukan Persia mulai menipis. Selain itu, Aristagoras sendiri telah menghabiskan banyak mereka dalam pengepungan itu.[43] Dengan kondisi pengepungan yang terus menuntut pengeluaran uang, yang sudah mulai habis, sementara pasukan Persia juga sudah benar-benar kehilangan semangat, ekspedisi ini pun diakhiri dan pasukan Persia memutuskan untuk kembali ke Asia Kecil tanpa membawa kemenangan.[25][32] Sebelum pergi, mereka membangun sebuah benteng di pulau tersebut bagi para aristokrat Naxos yang terusir.[43] Ini adalah strategi yang lazim di dunia Yunani bagi mereka yang dikucilkan oleh konflik dalam negeri, memberi mereka basis untuk kembali dengan cepat, jika memungkinkan.[44] Mengenai pengepungan itu, Bauer menuturkan sebagai berikut:[32]

...Kota Naxos di Yunani terbukti tidak mungkin dimasuki. Penduduknya, alih-alih bertempur, hanya menimbun semua persediaan makanan di dalam kota dan bersiap menunggu serangan dari luar. Setelah melakukan pengepungan selama empat bulan, Aristagoras sudah kehabisan uangnya dari pihak Persia, dan Artephernes, yang tidak terkesan dengan kemampuan sang tiran dalam penaklukannya, menolak untuk memberikan apa-apa lagi dalam proyek ini. Aristagoras terpaksa berlayar kembali ke Miletos dengan lumpur di wajahnya, ambisinya gagal.

Akibat[sunting | sunting sumber]

Peta Pemberontakan Ionia

Dengan kegagalan menaklukkan Naxos, Aristagoras mendapati dirinya berada dalam keadaan yang sulit; dia tidak dapat membayar biaya ekspedisi kepada Artaphernes.[28] Selain itu dia semakin menjauh dari keluarga kerajaan Persia. Dia cemas dirinya akan dipecat dari jabatannya oleh Artaphernes. Dalam upaya putus asa untuk menyelamatkan dirinya sendiri, Aristagoras memilih untuk menghasut rakyatnya, yakni penduduk Miletos, untuk memberontak melawan kekuasaan Persia atas mereka.[1][32][33][45] Pemberontakan itu menyebar ke seluruh Ionia,[33] bahkan hingga ke Aiolis dan Doris. Di berbagai kota Yunani di sana, rakyat menggulingkan kekuasaan para tiran dengan menggantinya dengan pemerintahan demokrasi.[46]

Setelah berhasil menghasut seluruh Asia Kecil untuk memberontak, Aristagoras jelas menyadari bahwa orang Ionia masih membutuhkan sekutu lainnya untuk menghadapi Persia.[32][47] Pada musim dingin tahun 499 SM, dia berlayar ke Yunani daratan untuk mencoba mencari sekutu. Dia gagal mengajak Sparta, namun kota Athena dan Eretria bersedia mendukung pemberontakan.[3][33][47] Pada musim semi tahun 498 SM, Athena mengirim dua puluh trireme, dan Eretria mengirim lima trireme, sehingga totalnya menjadi dua puluh lima trireme, untuk berlayar ke Ionia.[48] Mereka bergabung dengan pasukan Ionia utama di dekat Ephesos.[49] Pasukan ini kemudian dipandu oleh orang Ephesos melalui pegunungan menuju ke Sardis, ibu kota kesatrapan Artaphernes.[48]

Setibanya di Sardis, pasukan Yunani mampu mengejutkan orang Persia, yang saat itu sedang tak waspada. Mereka berhasil merebut kota bawahnya namun kota itu kemudian terbakar habis, dan pasukan Yunani, yang kehilangan semangat, memilih untuk mundur dari kota. Mereka berjalan kembali ke Ephesos.[50] Pasukan Persia di Asia Kecil menyusul pasukan Yunani, memergoki mereka di dekat Ephesos. Jelas bahwa pasukan Yunani, yang kelelahan dan kehilangan semangat, bukan tandingan bagi pasukan Persia, dan memang pada akhirnya pasukan Persia berhasil sepenuhnya mengalahkan pasukan Yunani melalui pertempuran di Ephesos.[48] Tentara Ionia yang selamat dari pertempuran melarikan diri ke kota masing-masing, sedangkan pasukan Athena dan Eretria berhasil tiba di kapal-lapal mereka untuk kemudian berlayar kembali ke Yunani.[48][51][52]

Reruntuhan kota Miletos

Meskipun mengalami kegagalan, pemberontakan terus menyebar. Orang Ionia mengirim pasukan ke Hellespontos dan Propontis, dan merebut Byzantion serta kota-kota lain di sekitarnya.[52][53] Mereka juga membujuk Karia untuk ikut memberontak.[53] Lebih jauh lagi, melihat pemberontakan yang semain menyebar, kerajaan Siprus juga ikut memberontak meski tanpa ajakan dari pihak luar.[54] Selama tiga tahun berikutnya, pasukan dan armada Persia sibuk bertempur untuk menghentikan pemberontakan di Karia dan Siprus, sedangkan Ionia tampaknya mengalami masa damai yang tak tenang pada masa-masa tersebut.[44] Pada puncak serangan balasan Persia, Aristagoras, yang merasa bahwa posisinya sudah tak dapat lagi dipertahankan, memutuskan untuk meninggalkan jabatannya sebagai pemimpin Miletos sekaligus pemimpin pemberontakan, lalu dia pun pergi dari Miletos. Herodotos, yang jelas memiliki pandangan buruk terhadap Aristagoras, berpendapat bahwa dia telah kehilangan keberaniannya dan melarikan diri.[55] Setelah meninggalkan Ionia, Aristagoras pergi ke Thrakia dan terbunuh di sana ketika berusaha menaklukkan sebuah kota.[28][52]

Pada tahun keenam pemberontakan (494 SM), pasukan Persia dikumpulkan ulang. Semua Tentara darat yang tersedia digabungkan ke dalam satu pasukan, dan diiringi oleh armda, yang diambil dari Siprus, yang telah dikuasai kembali, juga dari Mesir, Kilikia, dan Fenisia.[56] Pasukan Persia langsung menuju Miletos, tidak terlalu memedulikan pertahanan pemberontakan di tempat lainnya, kemungkinan berniat untuk menghentikan pemberontakan langsung di pusatnya.[52]

Dalam menghadapai armada Persia, orang Ionia berniat mempertahankan Miletos di laut, meninggalkan pertahanan kota Miletos kepada orang Miletos sendiri. Armada Ionia berkumpul di pulau Lade, lepas pantai Miletos.[56] Pasukan Persia merasa tak yakin akan memperoleh kemenangan di Lades, jadi mereka pada awalnya berusaha untuk membujuk beberapa kontingen Ionia untuk membelot.[57] Meskipun usaha ini awalnya gagal, ketika pasukan Persia akhirnya menyerang pasukan Ionia, kontingan Samos menerima tawaran Persia. Ketika armada Persia dan Ionia semakin saling mendekati, kapal-kapal Samos berlayar menjauh dan meninggalkan medan tempur. Akibatnya barisan tempur Ionia pun menjadi berantakan.[58] Meskipun kontingen Khios dan beberapa kapal lainnya tetap bertahan, dan bertempur mati-matian melawan Persia, namun pertempuran itu berakhir dengan kemenangan bagi Persia.[52][59]

Penggambaran pertarungan hoplites Yunani melawan prajurit Persia, pada kylix dari abad ke-5 SM.

Dengan kekalahan pasukan Ionia di Lade, Pemberontakan Ionia berhasil diakhiri oleh Persia. Setahun kemudian, pasukan Persia menaklukkan benteng pertahanan pemberontak terakhir, dan memulai proses untuk menstabilkan daerah Ionia.[60] Meskipun Asia Kecil berhasil dikuasai kembali oleh Persia, Darius bersumpah untuk menghukum Athena dan Eretria atas bantuan mereka kepada para pemberontak.[61][62] Selain itu, Darius menganggap bahwa dunia Yunani yang terpecah-pecah dapat memberikan ancaman berkelanjutan bagi kestabilan kekaisarannya.[21] Oleh karena itu dia memutuskan bahwa seluruh Yunani harus ditaklukkan. Pada tahun 492 SM, dimulailah invasi pertama Persia ke Yunani.[61]

Kepentingan[sunting | sunting sumber]

Secara umum, Pengepungan Naxos dapat dianggap sebagai peristiwa yang penting dalam sejarah Yunani dan Persia karena hasil dari ekspedisi ini membuat Aristagoras melakukan berbagai tindakan yang mengawali dimulainya Pemberontakan Ionia.[45] Herodotos sendiri menyebutkan bahwa pemberontakan terjadi itu sebagai akibat dari motif pribadi Aristagoras. Meskipun demikian, jelas bahwa rakyat Ionia sendiri memang sudah ingin memberontak, terutama karena mereka merasa kesal dan tak puas dengan kepemimpinan para tiran yang ditunjuk oleh Persia untuk memimpin mereka.[1] Dengan demikian tindakan Aritagoras bisa dibilang menjadi pemicu langsung bagi keinginan orang Ionia yang sudah bertumpuk.[46] Pemberontakan Ionia sendiri merupakan konflik besar pertama antara Yunani dan Kekaisaran Persia, dan sekaligus menjadi fase pertama dalam Perang Yunani-Persia, jadi Pengepungan Naxos dapat dipandang sebagai peristiwa yang penting karena merupakan salah satu kejadian awal dari serangkaian peristiwa yang memicu terjadinya Perang Yunani-Persia. Pemberontakan Ionia sendiri kemudian secara langsung menyebabkan serangkaian peristiwa lainnya yang saling berkelanjutan dalam perang tersebut, dimulai dari invasi pertama Persia ke Yunani hingga, menurut sejumlah sejarawan, Perang Liga Delos.[61] Sementara itu secara khusus, Pengepungan ini juga penting karena menunjukkan kepada orang Yunani bahwa serangan pasukan Persia dapat dipukul mundur,[28] meskipun dalam konteks ini Pengepungan Naxos dianggap kurang penting jika dibandingkan dengan Pertempuran Marathon.[4][63][64][65][66][67]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f Fine, hlm. 269–277.
  2. ^ Cicero, Mengenai Hukum I, 5
  3. ^ a b c Bauer, hlm. 596
  4. ^ a b c d Holland, hlm. xvixvii.
  5. ^ Thukydides, Sejarah Perang Peloponnesos, 1.22
  6. ^ a b Finley, hlm. 15.
  7. ^ Holland, hlm. xxiv.
  8. ^ David Pipes. "Herodotos: Father of History, Father of Lies". Diarsipkan dari aslinya tanggal January 27, 2008. Diakses 2008-01-18. 
  9. ^ a b Holland, hlm. 377.
  10. ^ Fehling, hlm. 1–277.
  11. ^ Toynbee, hlm. 223
  12. ^ Bauer, hlm. 395-396
  13. ^ a b Herodotos 1.142–151
  14. ^ Toynbee, hlm. 229
  15. ^ Bauer, hlm. 395
  16. ^ Herodotos 1.142
  17. ^ Bauer, hlm. 520
  18. ^ Nadif, hlm. 7
  19. ^ Herodotos 1.26
  20. ^ Herodotos 1.141
  21. ^ a b Toynbee, hlm. 256
  22. ^ Bauer, hlm. 521-522
  23. ^ a b c d Holland, hlm. 147–151.
  24. ^ a b Holland, hlm. 153–154.
  25. ^ a b c d e Alain, Duplouy. "Aristagoras of Miletus". Ensiklopedia Dunia Yunani, Asia Kecil. Diakses 14-08-2012 
  26. ^ Herodotos 5.28
  27. ^ Lloyd, hlm. 143.
  28. ^ a b c d "Naxos: The Naxos Revolt of Naxos Greece, Cyclades". Greeka. Diakses 11-08-2012 
  29. ^ a b c d Herodotos 5.30
  30. ^ a b c d Herodotos 5.31
  31. ^ a b Herodotos 5.32
  32. ^ a b c d e Bauer, hlm. 595
  33. ^ a b c d Nadif hlm. 8
  34. ^ a b c d e f Herodotos 5.33
  35. ^ a b Keaveney, hlm. 76
  36. ^ Bauer, hlm. 599
  37. ^ "The Dori". Spartan Weapons. Diakses 2008-04-10. 
  38. ^ The Academy of European Swordsmanship 3 (2): 1. 2007 [Newsletter (April 2007) [http://www.the-aes.org/Newsletters/AES-April-2007-newsletter.pdf Newsletter (April 2007)]] Missing or empty |title= (help) 
  39. ^ Cartledge, hlm. 145.
  40. ^ a b Lazenby, hlm. 46.
  41. ^ Herodotos 7.184
  42. ^ Goldsworthy, hlm. 103.
  43. ^ a b c d e Herodotos 5.34
  44. ^ a b Boardman et al, hlm. 481–490.
  45. ^ a b Herodotos 5.35
  46. ^ a b Holland, hlm. 155–157
  47. ^ a b Holland, hlm. 157–159
  48. ^ a b c d Holland, hlm. 160–162
  49. ^ Herodotos 5.100
  50. ^ Herodotos 5.101
  51. ^ Herodotos 5.102
  52. ^ a b c d e Bauer, hlm. 597
  53. ^ a b Herodotos 5.103
  54. ^ Herodotos 5.104
  55. ^ Herodotos 5.124–126
  56. ^ a b Herodotos 6.6
  57. ^ Herodotos 6.9
  58. ^ Herodotos 6.13
  59. ^ Herodotos 6.14
  60. ^ Herodotos 6.31–33
  61. ^ a b c Holland, hlm. 175–177.
  62. ^ Bauer, hlm. 598
  63. ^ Holland, hlm. 201
  64. ^ Holland, hlm. 138
  65. ^ Fuller, hlm. 11–32
  66. ^ Powell et al., 2001
  67. ^ Nadif, hlm. 14

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Sumber kuno[sunting | sunting sumber]

Sumber modern[sunting | sunting sumber]

  • Bauer, Susan Wise. (2010). Sejarah Dunia Kuno. Jakarta: Elex Media Komputindo. ISBN 978-979-27-9043-6
  • Boardman J, Bury JB, Cook SA, Adcock FA, Hammond NGL, Charlesworth MP, Lewis DM, Baynes NH, Ostwald M & Seltman CT (1988). The Cambridge Ancient History, vol. 5. Cambridge University Press. ISBN 0-521-22804-2. 
  • Cartledge, Paul. (2006). Thermopylae: The Battle That Changed the World. New York: The Overlook Press.
  • Fehling, D. (1989). Herodotus and His "Sources": Citation, Invention, and Narrative Art (Translated by J.G. Howie). Francis Cairns. 
  • Fine, JVA (1983). The Ancient Greeks: A Critical History. Harvard University Press. ISBN 0-674-03314-0. 
  • Finley, Moses (1972). "Introduction". Thucydides – History of the Peloponnesian War (translated by Rex Warner). Penguin. ISBN 0-14-044039-9. 
  • Fuller, J.F.C. A Military History of the Western World. Funk & Wagnalls, 1954.
  • Goldsworthy, A. (2003). The Fall of Carthage. Cassel. ISBN 0-304-36642-0. 
  • Holland, Tom (2006). Persian Fire: The First World Empire and the Battle for the West. Doubleday. ISBN 0-385-51311-9. 
  • Keaveney, A. (1988). The Attack on Naxos: A 'Forgotten Cause' of the Ionian Revolt. 
  • Lazenby, JF (1993). The Defence of Greece 490–479 BC. Aris & Phillips Ltd. ISBN 0-85668-591-7. 
  • Lloyd, A. (2004). Marathon: The Crucial Battle That Created Western Democracy. Souvenir Press. ISBN 0-285-63688-X. 
  • Nadif, Faisal A., & H, Astid D. (2011). Sejarah Perang-Perang Besar di Dunia. Yogyakarta: Familia. ISBN 978-602-97660-7-3
  • Powell J., Blakeley D.W., Powell, T. Biographical Dictionary of Literary Influences: The Nineteenth Century, 1800–1914. Greenwood Publishing Group, 2001. ISBN 978-0-313-30422-4
  • Toynbee, Arnold. (2004). Sejarah Umat Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN 979-3477-74-1

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Koordinat: 37°5′LU 25°28′BT / 37,083°LU 25,467°BT / 37.083; 25.467