Penambangan uranium

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Penambangan uranium per tahun 2007, berdasarkan negara. Data diambil dari [1].
Produksi uranium dunia pada tahun 2005.

Penambangan uranium adalah proses ekstraksi uranium dari bawah tanah. Produksi uranium dunia pada tahun 2009 mencapai 50.572 ton. Kazakhstan, Kanada, dan Australia adalah 3 produsen uranium utama dunia dan berkontribusi terhadap 63% produksi uranium dunia. Beberapa negara produsen lain yang produksinya lebih dari 1000 ton per tahun diantaranya Namibia, Rusia, Niger, Uzbekistan, dan Amerika Serikat.[1]

Penggunaan paling umum dari uranium ini adalah untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Sampai tahun 2008, cadangan bijih uranium yang diketahui saat ini masih cukup untuk memproduksi bahan bakar untuk satu abad ke depan, dengan jumlah konsumsi sebesar saat ini.[2]

Setelah bijih uranium ditambang, kemudian diproses dengan memotong material bijih menjadi partikel-partikel kecil berukuran sama dan kemudian mengekstrak uranium dengan proses leaching kimia. Proses ini akan menghasilkan material padat berbentuk padatan bubuk kering yang disebut "yellowcake," yang dijual di pasar sebagai U3O8.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "World Uranium Mining". World Nuclear Association. Diakses 2010-06-11. 
  2. ^ "Uranium resources sufficient to meet projected nuclear energy requirements long into the future". Nuclear Energy Agency (NEA). 3 June 2008. Diakses 2008-06-16. "Uranium 2007: Resources, Production and Demand, juga dikenal dengan Red Book, mengestimasi bahwa sumber daya uranium yang dapat ditambang dengan biaya kurang dari USD 130/kg adalah sekitar 5,5 juta ton, naik dari 4,7 juta ton pada tahun 2005. Meski begitu, tampaknya estimasi ini terlihat terlalu optimis karena tidak memperhitungkan biaya pembangunan, akuisisi lahan, pajak, dan lain-lain. Undiscovered resources, i.e. uranium deposits that can be expected to be found based on the geological characteristics of already discovered resources, have also risen to 10.5 million tonnes. This is an increase of 0.5 million tonnes compared to the previous edition of the report. The increases are due to both new discoveries and re-evaluations of known resources, encouraged by higher prices." 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]