Penaklukan Muslim di Suriah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Penaklukan Muslim di Suriah
Bagian dari the Penaklukan Muslim dan Perang Bizantium-Arab
Mohammad adil-Muslim invasion of Syria-2.PNG
Peta penaklukan Khalid bin Walid di Suriah
Tanggal 634-638
Lokasi Palestina, Suriah, Yordania, Lebanon, Israel dan Anatolia Tenggara.
Hasil Kemenangan Rasyidin
Perubahan
wilayah
Levant dikuasai oleh Muslim
Pihak yang terlibat
Kekaisaran Bizantium
Kerajaan Ghassaniyah
Kekhalifahan Rasyidin
Komandan
Heraclius
Jabalah bin Al-Aiham
Theodore Trithyrius
Vahan
Vardan
Thomas
Buccinator
Gregory
Khalid bin Walid
Abu Ubaidah bin al-Jarrah
Amr bin al-A'as
Yazid bin Abu Sufyan
Shurahbil bin Hassana

Penaklukan Muslim di Suriah terjadi pada paruh pertama abad ke-7,[1] dan merujuk pada daerah yang dikenal sebagai Bilad al-Sham, Levant, atau Suriah Besar. Pasukan Muslim Arab muncul di perbatasan selatan bahkan sebelum kematian Nabi Islam, Muhammad pada tahun 632, berujung pada Pertempuran Mu'tah pada tahun 629, namun invasi sebenarnya baru dimulai pada tahun 634 di bawah penerusnya, Khalifah Rasyidin Abu Bakar dan Umar bin Khattab, dengan Khalid bin Walid sebagai pemimpin militer terpenting mereka.[1]

Penaklukan Suriah Dibawah Kekhalifahan Abu Bakar[sunting | sunting sumber]

Khalid segera dikirim menuju barisan Suriah. Ia berangkat ke Suriah dari Al-Hirah, di Irak pada awal Juni 634, ia membawa separuh tentaranya yaitu 8000 orang. [2]Ada dua rute menuju Suriah dari Irak: salah satunya melalui Daumatul Jandal, dan yang lainnya melalui Mesopotamia, melewati Ar-Raqqah. Tentara muslim di Suriah yang membutuhkan bantuan darurat, jadi Khalid menghindari rute konvensional menuju Suriah melalui Daumatul Jandal, karena rute itu merupakan rute yang jauh, dan butuh beberapa minggu untuk mencapai Suriah. Khalid menghindari pula rute Mesopotamia, karena adanya garnisun Romawi di Suriah Utara dan Mesopotamia. Untuk melibatkan mereka ketika tentara Muslim terkepung di Suriah adalah bukan ide yang bijaksana. Khalid memilih rute yang lebih dekat menuju Suriah, yaitu rute yang tidak konvensional melewati Gurun Suriah. Dengan berani, ia memimpin tentaranya melewati gurun. Tercatat bahwa tentaranya berjalan selama dua hari tanpa setetes air, sebelum mencapai tanda-tanda sumber air di oasis. Khalid kemudian memasuki Suriah Utara dan menjebak sayap kanan tentara Bizantium. Menurut sejarawan modern, inilah manuver strategis cerdik Khalid, barisannya yang berbahaya melalui gurun dan muncul pada front timur laut Bizantium, sementara mereka (Bizantium) diduduki dalam menanggulangi tentara Muslim di Suriah Selatan, menjadikan mereka lepas kendali akan pertahanan Bizantium di Suriah.[3]

Penaklukan Suriah Selatan[sunting | sunting sumber]

Peta yang menunjukkan rute invasi Khalid bin Walid atas Suriah.

Sawa, Suriah, dan kota bersejarah Tadmur telah jatuh pertama kali ke tangan Khalid. Sukhnah, Qaryatain, dan Hawarin ditaklukan setelah Pertempuran Qarteen dan Pertempuran Hawarin. Setelah berurusan dengan semua kota ini, Khalid bergerak menuju Damaskus, melewati gunung yang sekarang diketahui sebagai Sanital Uqab (celah Uqab) setelah nama standar tentara Khalid. Dari sini, ia pindah menuju Bosra, ibukota kerajaan Ghassaniyah Arab, Negara Vasal Kekaisaran Bizantium. Ia memerintahkan komandan Muslim lainnya untuk berkonsentrasi terhadap tentara-tentara mereka yang dekat dengan perbatasan Suriah-Arab di Bosra. Di Maraj-al-Rahit, Khalid mengalahkan tentara Kristen-Arab Ghassaniyah pada sebuah pertempuran cepat, yang disebut Pertemuran Maraj-al-Rahit. Sementara itu, Abu Ubaidah bin Jarrah, komandan tertinggi tentara Muslim di Suriah, telah memerintahkan Syurahbil bin Hasanah untuk menyerang Bosra. Pengepungan terakhir di Bosra membawa tentara yang kecil yang terdiri dari 4000 orang.

Di Bawah Kepemimpinan Khalifah Utsman[sunting | sunting sumber]

Selama kepemimpinan Usman, Konstantinus III memutuskan untuk menaklukkan kembali Levant, yang telah jatuh ke pihak Muslim selama pemerintahan Umar.[1][4] Invasi skala besar direncanakan dan pasukan besar dikirim untuk merebut kembali Suriah. Muawiyah I, gubernur Suriah dipanggil untuk memberi bala bantuan dan Usman memerintahkan gubernur Kufah untuk mengirim kontingen, yang bersama-sama dengan garnisun Suriah mengalahkan tentara Bizantium di Suriah Utara.

Usman memberi izin kepada Muawiyah, gubernur Suriah, untuk membangun angkatan laut. Dari basis mereka di Suriah, umat Islam menggunakan armada ini untuk menaklukkan Siprus pada 649 dan Kreta dan kemudian Rodos dan dilancarkannya serangan tahunan menuju Anatolia Barat ini menggagalkan Bizantium untuk membuat upaya lebih lanjut untuk menaklukkan kembali Suriah.[4] Pada 654-655, Usman memerintahkan dilaksanakannya persiapan ekspedisi untuk menaklukkan ibukota Romawi Timur, Konstantinopel, tetapi karena adanya kekacauan di kekhalifahan yang berkembang pada 655 dan mengakibatkan terbunuhnya Utsman, ekspedisi tersebut dibatalkan selama beberapa dekade dan dilaksanakan di bawah dinasti berikutnya, yaitu Umayyah, namun berakhir dengan kegagalan.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c "Syria." Encyclopædia Britannica. 2006. Encyclopædia Britannica Online. 20 Oct. 2006 Syria -- Britannica Online Encyclopedia
  2. ^ The Sword of Allah: Khalid bin al-Waleed, His Life and Campaigns: page no:576 by Lieutenant-General Agha Ibrahim Akram, Nat. Publishing. House, Rawalpindi (1970) ISBN 978-0-7101-0104-4.
  3. ^ Tabari: Vol. 2, p. 609
  4. ^ a b "Umar (634–644)", The Islamic World to 1600 Multimedia History Tutorials by the Applied History Group, University of Calgary. Last accessed 20 Oct 2006

Pranala luar[sunting | sunting sumber]