Pemimpin Jepara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Pemimpin Jepara (disebut juga Penguasa Jepara) adalah seseorang yang memiliki kekuasan dan menguasai wilayah Jepara. Kota Jepara sebagai Kota Tua memiliki lintasan sejarah atau era dalam kurun waktu yang dimulai sejak munculnya pemerintahan pertama[1] kalinya pada tahun 1470 di bawah Rajanya yang bernama Aryo Timur dan terus berlanjut sampai sekarang, dengan berbagai tingkat pemerintahan yang berbeda sesuai dengan kurun waktu yang dilewati selama lebih dari 5 abad ini.

Kronologis[sunting | sunting sumber]

Secara kronologis dapat disusun lintas sejarah ini dalam era kurun waktu, Jepara telah mengalami beberapa pemerintahan, diantaranya: sebagai berikut:

Jepara menjadi kota niaga yang maju pesat ketika Kerajaan Kalingga di pimpin oleh Ratu Shima. Bahkan Sriwijaya berniat untuk merebut Jepara karena kota pelabuhan niaga yang sangat ramai.

Karena setelah Ratu Shima meninggal Jepara menjadi kota yang dipimpin oleh Kerajaan Mataram Kuno

Jepara menjadi kota bawahan Kerajaan Majapahit

Aryo Timur yang merupakan pemuda yang lahir dari Jepara mendirikan Kerajaan demak Bintoro dan menjadikan kota kelahirannya (Jepara) menjadi kota militer dengan dibangunnya pelabuhan oleh militer Kerajaan Demak Bintoro.

Politik Kerajaan Demak semakin kisruh maka Sultan Hadlirin dan Retno Kencono putri dari Raja Demak ke-3 memutuskan mendirikan kerajaan sendiri meskipun dengan kekuasaan yang lebih kecil, kekuasaannya meliputi Jepara, Kudus, Pati, Hutan Mentaok.

Ketika Pangeran Arya Jepara pergi menjenguk ayah kandungnya di Banten, Panembahan Senopati memanfaatkan untuk menyerang Kerajaan Kalinyamat, Sehingga Jepara menjadi kota bawahan Mataram Islam.

Jepara menjadi Kota Niaga yang sangat pesat bahkan Belanda membangun Benteng VOC di Jepara untuk memantau perniagaan di Pelabuhan Jepara.

  • Era Pemerintahan Militer Jepara (Jepang)

Tahun 1942 tentara dari Kekaisaran Jepang mendarat di Jepara, tentara Jepang mengusir Belanda dari Jepara.

Pada tahun 1945 Indonesia merdeka, tentara Kekaisaran Jepang pulang ke Jepang. Sehingga Jepara menjadi sebuah kabupaten dibawah pemerintahan Republik Indonesia.

Era Kerajaan Kalingga[sunting | sunting sumber]

Era Kerajaan Majapahit[sunting | sunting sumber]

(Tahun 1470 s/d 1478) Bahwa pemerintahan pertama di Jepara tercatat atas nama Aryo Timur pada tahun 1470. beliau berasal dari Kalimantan yang berdagang ke Malaka dan selanjutnya pindah ke Jepara dan menjadi penguasa di Jepara sebagai Raja. Dibawah kekuasaannya, Jepara berkembang dengan pesat sebagai “Kota Bandar”, dan memiliki kekuasaan sampai di Bangka.

Era Kerajaan Demak[sunting | sunting sumber]

(Tahun 1478 s/d 1546) Dalam era ini Raden Patah putra Raden Browijoyo V yang berada di Galagah Wangi yang kemudian bernama Demak Bintoro, sebagai pusat pengembangan agama Islam dengan kejadian perebutan kekuasaan oleh Prabu Girinwardhana (Prabu Browijoyo VI) di Majapahit dengan dukungan para wali mendirikan Kerajaan Demak pada masa era kerajaan Demak pimpinan pemerintahan Jepara tercatat sebagai berikut :

  • Aryo Timur

Memerintah sejak tahun 1470 s/d 1507 dibawah kerajaan Demak.

  • Pati Unus

Putra Aryo Timur yang memerintah sejak tahun 1507 s/d 1513. dalam masa pemerintahan, peristiwa heroic yang sangat terkenal yaitu ekspedisi armada lautnya menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1512/1513.

  • (Ipar falatehan)

Mulai berkuasa pada tahun 1521 setelah Pati Unus sebagai Raja Jepara wafat, beliau memperistri adik dari Pati Unus. Dalam pemerintahan beliau merebut Kesultanan Banten dan Sunda Kelapa termasuk mengusir serangan Portugis tahun 1527 di Sunda Kelapa.

  • Pangeran Hadiri

Memerintah sejak tahun 1536 s/d 1549 memperistri anak ketiga dari Sultan Trenggono bernama Retno Kencono dalam tampuk pemerintahan, berkedudukan di desa Kalinyamat Jepara sehingga sering di sebut Adipati Kalinyamat.

Era Kerajaan Kalinyamat[sunting | sunting sumber]

(Tahun 1549 s/d 1599) Masa ini merupakan masa keributan dan geger perebutan tahta Demak yang dimulai oleh Adipati Aryo Penangsang dari Jipang Panolang yang pelaksanakan pembunuhan terhadap Sunan Prawoto yang sekaligus sebagai upaya balas dendam atas kematian ayahnya yang dibunuh oleh Sunan Prawoto dengan jelas ambisi Adipati Aryo Penangsang untuk menjadi penguasa Kesultanan Demak, yang berhasil membunuh Pangeran Hadiri dari Kalinyamat Jepara dengan tewasnya Adipati Aryo Penangsang tahun 1549 oleh Adipati Pajang. Kejadian berikutnya adalah munculnya Retno Kencono sebagai Ratu Jepara bergelar “RATU KALINYAMAT”. Beliau adalah adik langsung daru Sunan Prawoto, sehingga dapat dikatakan sebagai penerus sah Kerajaan Demak yang didukung oleh para ulama dan kerabat kerajaan. Penguasa dalam era kerajaan Jepara adalah sebagai berikut

Berkuasa tahun 1536 s/d 1546 dinobatkan sebagai Sultan Jepara tahun 1536 yang diberikan oleh Sultan Trenggana ke Sunan Hadirin.

Berkuasa tahun 1549 s/d 1579 dinobatkan sebagai Ratu Jepara tahun 1549 sebagai penerus tahta Demak sangat berkuasa di seluruh pesisir pulau Jawa. Peristiwa heroik yang sangat terkenal ekspedisi militer I tahun 1551 ke Malaka, Portugis bersama kerajaan Johor mendirikan masjid Mantingan tahun 1559. berjasa dalam mengembangkan seni ukir yang sangat terkenal saat ini dengan bantuan Patih Badar Duwung. Melaksanakan ekspedisi militer II tahun 1574 ke Malaka Portugis bersama kerajaan Aceh yang diperintah Sultan Husein, wafat tahun 1579 tanpa meningglkan keturunan dan dimakamkan didesa Mantingan Jepara.

Berkuasa sejak tahun 1579 s/d 1599, menggantikan kedudukan Ratu Kalinyamat sebagai Raja Jepara berasal dari Banten putra hasanuddin yang diangkat anak oleh Ratu Kalinyamat.

Era Kerajaan Mataram[sunting | sunting sumber]

(Tahun 1600 s/d 1742) Penguasa pemerintah Jepara pada masa era Kerajaan Mataram dapat disusun sebagai berikut:

  • Kyai Demang Laksamana

Menjadi penguasa pesisir/ Gubernur Jepara pada tahun 1616 berasal dari Negeri Gujarat dengan nama Koja Hulubalang. Memiliki jasa pada Sultan Agung dalam perluasan wilayah.

  • Kyai Wirasetia

Sebagai penguasa pesisir setingkat Gubernur. Pada tahun 1648 semua biaya pajak kapal berada di Jepara.

  • Kyai Patra Manggala

Diangkat oleh Sunan Amangkurat I menggantikan Kyai Wirasetia awal tahun 1651. pada tahun 1651 ini VOC mendirikan loji I di Jepara dengan Residen I Dirck Schouten.

  • Ngabei Martonata

Diangkat sebagai salah satu dari empat penguasa pesisir (Jepara, Demak, Semarang dan Pati) oleh Mataram. Penguasa ini sangat terkenal anti VOC, bertentangan dengan Tumenggung Pati Kyai Suto yang pro VOC.

  • Ngabei Wongsosdipo (Tanu Manggala)

Memperoleh masa jabatan II pada tahun 1668. pada tahun 1669 ditarik kembali ke Mataram.

  • Kyai Rekso Manggala

Menjabat menggantikan Wongsosdipo tahun 1664 diberhentikan karena kesulitan keuangan.

  • Kyai Wiradika

Diangkat tanggal 11 Februari 1666. pada tanggal 15 Oktober 1667 dibebas tugaskan karena dianggap kurang berandil, mendorong memberi hadiah lebih banyak kSunan Amangkurat I.

  • Ngabei Wansadipa (Tanu Manggala)

Memperolehmasa jabatan kedua kalinya pada tahun 1668 pada bulan Mei 1669 ditarik kembali ke Mataram.

  • Ngabei Waradika

Diangkat kembali bulan Juli 1669. pada masa pemerintahannya menekan Residen Kompeni di Jepara dan akhirnya Residen ini pindah ke Juwana.

  • Wira Atmaka

Diangkat pada bulan Februari 1670 menggantikan Wiradikara sebelumnya berfungsi sebgai Syah Bandar Jepara. Dalam pemerintahannya, Wira Atmaka bersama anak-anaknya melakukan kegiatan yang menekan VOC dan para pedagang.

  • Kyai Ngabei Wangsadipa

Diangkat Sunan Amangkurat I sebagai penguasa Jepara menggantikan Wira Atmaka pada tahun 1675 atau awal 1676.

  • Tumenggung Martapura

Diangkat pada masa akhir geger keratin Mataram pada tahun 1677. penguasa ini yang terkait dalam aliansi Mataram dan VOC pada tahun 1678 terlibat peperangan dengan Tumenggung Martalaya yang anti VOC dan pada pertempuran ini keduanya tewas.

  • Tumenggung Sudjanapura

Diangkat oleh Sunan Amangkurat II pada tahun 1678 sebagai pengganti ayahnya Tumenggung Martapura yang mat setia pada Sunan dan terbunuh melawan Tumenggung Martalaya.

  • Adipati Citro Sumo I

Diangkat sebagai Bupati pada Era Paku Buono I tahun 1705, pemerintahan berkedudukan di desa Bonjot.

  • Adipati Citro Sumo II

Diangkat menggantikan ayahnya tahun1735 pada masa Paku Buono II, beliau meninggal pada tahun 1738.

  • Adipati Citro Sumo III

Menggantikan kakaknya, diangkat tahun 1738. pusat pemerintahan dipindah ke Jepara. Akibat perjanjian Paku Buono II dengan VOC, sejak tahun 1742 Jepara menjadi milik VOC.

Era Kompeni dan Hindia Belanda[sunting | sunting sumber]

(Tahun 1742 s/d 1942) Pada saat kedatangan Gubernur Jendar VOC I Pieter Both pada tanggal 22 September 1613 di Tluk Jepara dan atas izin penguasa Jepara serta restu raja Mataram, Belanda memperoleh persetujuan membangun sebuah kantor dagang di Jepara. Antara Sunan Amangkurat II dan Truna Jaya menghasilkan suatu perjanjian antara VOC dengan Mataram. Dengan perjanjian ini VOC mendirikan Benteng di Jepara, guna kepentingan ketahanan di Jepara. Penguasa pemerintahan Jepara pada era Kompeni/Hindia Belanda sebagai berikut :

  • Adipati Citro Sumo III

Meneruskan masa pemerintahannya sebagai penguasa tertinggi zaman Gubernur Jendral Van Hokendrof dan Nicoles Hatingh.

  • Adipati Citro Sumo IV

Diangkat tahun 1760 oleh VOC, mempunyai tali kerabat dengan Mangkunegara I, meninggal karena sakit tahun 1764.

  • Adipati Citro Sumo V

Diangakat menggantikan Citro Sumo IV, pada masa pemerintahannya terjadi banyak peristiwa antara lain bangkrutnya VOC tahun 1799.

  • Adipati Citro Sumo VI

Masa pemerintahannya yang pertama tahun 1810 s/d 1825. memiliki hubungan kerabat dengan Paku Buono V Surakarta. Pada tahun 1825 dipindah ke Tuban sebagai Bupati tuban.

  • Tumenggung Cendol

Diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai pejabat Bupati tahun 1825 saat mulai berkobarnya perang Jawa yang mulai tanggal 20 Juli 1825 di Tegal Rejo dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.

  • Adipati Citro Sumo VI

Kembali dari Tuban tahun 1828 saat mulai meredanya perang Diponegoro, kembali memangku jabatan Bupati Jepara untuk kedua kalinya.

  • Adipati Citro Sumo VII

Diangkat sebagai Bupati tahun 1837 menggantikan Citro Sumo VI.

  • Raden Tumenggung Citro Wikromo

Diangkat menggantikan iparnya Citri Sumo VII pada tanggal 18 Desember 1857.

  • K.R.M.A.A. Sosroningrat

Diangkat sebagai Bupati tahun 188, sebelumnya weono Mayong sangat dikenal sebagi ayah RA Kartini yang menjadi Pahlawan Nasional.

  • R.M.A.A. Kusoemo Oetaya

Diangkat sebagai Bupati tahun 1905. masa pemerintahannya bersamaan dengan munculnya pergerakan nasional yang menandai kebangkitan Bangsa Indonesia dari panjajahan Belanda.

  • Soekahar

Diangkat tahun 1927. Masa pemerintahan Bupati ini berakhir bersamaan dengan jatuhnya Hindia Belanda ketangan Militer bulan Maret 1942, yaitu beberapa waktu setelah tentara Jepang berada di Jepara.

Era Pemerintahaan Militer Jepang[sunting | sunting sumber]

(Tahun 1942 S/D 1945) Adapun masa jabatan Bupati di Jepara pada masa itu hanya seorang, yaitu : R.A.A. Soemitro Koesoemo Oetaya Diangkat oleh pemerintahan militer Jepang tahun 1942.

Era Republik Indonesia[sunting | sunting sumber]

Arus balik perang Asia Timur Raya mencapai puncaknya ketika Jepang bertekuk lutut pada sekutu tanggal 14 Agustus 1945 dan tiga hari kemudian tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan di Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno. Adapun Bupati Jepara sejak awal kemerdekaan sampai dengan sekarang yaitu sebagai berikut :

  • R.A.A Soemitro Koesoemo Oetaya

Tetap meneruskan jabatannya sebagai Bupati setelah diangkat Jepang tahun 1942. berpihak pada Republik pada masa pemberontakan PKI muso pada bulan September 1948.

  • Raden Soyoto Sastro Wardoyo

Diangkat pemerintah Republik Indonesia tahun 1950 sebagai Bupati pertama setelah penyerahan kedaulatan. Masa pemerintahannya ditandai dengan perubahan bentuk Negara RIS menjadi RI bulan Agustus 1950 dengan sisten Parlemeter.

  • Raden Soetarjo

Diangkat tahun 1954, masa jabatannya ditandai dengan Pemilu pertama di Indonesia tahun 1955.

  • H. Sahlan Ridwan

Diangkat Bupati tahun 1957 menggantikan Raden Soetarjo. Mengalami masa peralihan kembali ke UUD 1945 dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan berasal dari kalangan politisi.

  • Raden Soenarto

Diangkat pada tahun 1961. mengalami masa kemunduran ekonomi khususnya pada masa Demokrasi Terpimpin dan Nasakom serta prolog pemberontakan G.30.S/PKI. Berasal dari kalangan Pamong Praja.

  • H. Zubaidi Ali

Menjabat sebagai YMT Bupati Kepala Daerah. Berasal dari kalangan politisi.

  • Moehadi, S.H

Diangkat sebagai Bupati Kepala Daerah Definitifyang pertama tahun 1967. Berasal dari Korps Kehakiman.

  • Soewarno Djojo Mardowo, S.H

Menjabat sebagai Bupati pada tahun 1973. Berhasil memperoleh “Para Samya Purna Karya” sebagai penghargaan pemerintah RI kepada Kabupaten Jepara yang telah berhasil dalam pembangunan Pelita I tahun 1973. Berasal dari Korps Kehakiman.

  • Sodikto, S.H

Menjabat sebagai Bupati Kepala Daerah tahun 1976, berhasil membangun RSU RA Kartini dan museum RA Kartini, berasal dari Korps Kejaksaan.

  • Hisom Prasetyo, S.H

Diangakat sebagai Bupati Kepala daerah tahun 1981. Beerusaha menggalakkan ekspor non migas, memantapkan pembangunan sarana transportasi antar kecamatan dan desa potensial secara ekonomi. Berhasil dalam penuntasan Program Bebas Buta yang diproklamirkan tanggal 28 November 1988 oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Tengah. Berasal dari Korps Kejaksaan.

  • Drs. Bambang Poerwadi

Menjabat sebagai Bupati Kepala Daerah pada tahun 1991. Berhasil memperoleh “Duaja Samir” sebagai penghargaan dari Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Tengah. Memacu mengembangkan pariwisata di Karimun Jawa yang telah ditetapkan sebgai “TamanNasional Laut”. Berasal dari Korps Pamong Praja.

  • Drs. H. Soeyono, M.Si

Menjabat sebagai Bupati Kepala Daerah tanggal 11 September 1996 s/d 9 Maret 199. Beliau adalah Pejabat Pembantu Gubernur untuk wilayah Karisedenan Pati.

  • Drs. H.Soenarto

Diangkat sebagai Bupati Kepala Daerah pada tanggal 10 Mei1997 s/d 16 Maret 2001. Menggalakkan ekspor non migas industri mebel Jepara mengalami masa keemasannya. Masa jabatannya ditandai dengan Era Orde Baru, berasal dari kalangan Pamong Praja.

  • Drs. H. Hendro Martojo, MM dan Wakil Bupati H. Ali Irfan mukhtar, BA

Diangkat sebagai Bupati tanggal 18 Maret 2001 sampai Pebruari 2007. Mengalami masa peralihan dari Era Orde Baru ke Era Reformasi. Memantapkan dan Meningkatkan ekspor non migas baik di sector pertanian dan perikanan, sector industri dan kerajinan dan lebih khusus lagi di bidang kepariwisataan, sedang giat dalam usaha penataan kota serta sarana prasarana masyarakat. Memacu mengembang tumbuhkan kepariwisataan baik sarana dan prasarana pengadaan transportasi laut, kapal cepat Jepara Karimunjawa. Mengembangkan sentra-sentra industri dan kerajinan rakyat serta pasar seni. Profil pejabat yang dekat dengan rakyatnya, berasal dari Korps Pamong Praja sedangkan Wakil Bupati dari kalangan Politisi.

  • Drs. H. Hendro Martojo, MM dan Wakil Bupati K.H. Ahmad Marzuki,SE

Diangkat sebagai Bupati Pebruari 2007 sampai 2012. Pada 2011 Hendro Martojo membawa Jepara sebagai kabupaten pertama di Jawa Tengah yang memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)dari BPK. Pada tahun 2011 Hendro tercatat mengantarkan Jepara memperoleh Adipura (ketujuh berturut-turut sejak 2005), Penghargaan Swasti Saba Wiwerda, Indonesia Green Region Award, serta Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji memperoleh penghargaan Desa Peduli Hutan.

10 April 2012 sampai sekarang. Kepemimpinan Ahmad Marzuqi, selain opini WTP Jepara juga mendapat Swasti Saba Wistara, Adipura, penghargaan Menteri Koperasi dan UMKM atas Keberpihakan Bupati terhadap Pemberdayaan UMKM, serta Desa Peduli Hutan untuk Desa Bucu, Kecamatan Kembang

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]