Pembicaraan:Kerajaan Sunda Galuh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Judul[sunting | sunting sumber]

Mengapa judul dialihkan dari Kerajaan Sunda-Galuh ke Kerajaan Sunda Galuh (tanpa penghubung)? Menurut saya, bentuk sebelumnya lebih tepat karena menunjukkan keberadaan dua kerajaan kembar, seperti bentuk kerajaan kembar Gowa-Tallo di Sulawesi Selatan. Salam, Naval Scene 17:52, 6 April 2008 (UTC)

Tanyakan ke pengguna Hadiyana borgx(kirim pesan) 00:18, 7 April 2008 (UTC)
Maaf saudara-saudara, saya asing dengan istilah kerajaan kembar. Yang saya ketahui yang ada adalah kerajaan bersatu seperti United Kingdom (England, Ireland, dan Scotland) yang identik dengan England (mereka tidak menyebutnya sebagai twin kingdom). Demikian juga dengan Kerajaan Sunda dan Galuh, mereka adalah kerajaan bersatu (Sunda ya Galuh, Galuh ya Sunda), rajanya pun satu saat dua kerajaan ini bersatu.
Dari bukti primer sejarah, Kerajaan Bersatu Sunda Galuh disebut sebagai satu (kerajaan bersatu) yaitu kerajaan Sunda. Bujangga Manik pun menyebutkan kerajaan yang batas di timurnya Sungai Cipamali (Kali Brebes) dan Ciserayu (Kali Serayu) ini sebagai kerajaan Sunda (bukan kerajaan kembar Sunda-Galuh). Begitu juga dengan sumber Portugis, menyebutkan kerajaan yang ada di Jawa Barat ini sebagai satu (kerajaan bersatu) yaitu Kerajaan Sunda.
Sebagai satu kesatuan, yang manunggal, Sunda Galuh tidak bisa dipisahkan, meski hanya oleh sebuah tanda sambung (-).--Hadiyana 04:40, 7 April 2008 (UTC)

Pendapat

Bung Hadiyana, berikut ini pendapat saya:

  • Isi seluruh artikel ini, dari awal sampai akhir, adalah tentang adanya dua (2) bentuk kekuasaan politik di Tatar Sunda pada sekitar tahun 700-an s/d 1500-an masehi, yang meskipun berhubungan erat tetapi tetap dua kubu politik yang berbeda. Ini yang saya maksudkan dengan istilah "kerajaan kembar".
  • Judul artikel Kerajaan Sunda Galuh tanpa tanda sambung (-) bisa berakibat pembaca umum menganggap adanya kerajaan tunggal yang bernama demikian. Seingat saya artikel ini dahulunya pernah bernama Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, yang kemudian diubah/disingkat menjadi Kerajaan Sunda-Galuh.
  • Sebenarnya istilah gabungan antara dua (atau lebih) kutub politik dalam satu kerajaan tidak asing dipakai. Mengutip contoh Inggris, negara tersebut juga pernah disebut oleh para sejarawan sebagai Anglo-Sakson. Atau pada periode berikutnya, disebut dengan istilah Anglo-Norman.
  • Tidak benar penguasa Sunda dan Galuh adalah selalu satu orang. Setelah raja Tarumanagara terakhir, terjadi pembagian kekuasaan antara Tarusbawa yang bertahta di Sunda dan Wretikandayun yang bertahta di Galuh. Carita Parahiyangan (sumber primer juga?) menceritakan hal tersebut, dan Tarusbawa hanya disebut sebagai Tohaan (raja) di Sunda saja. Polarisasi dan intrik antara keturunan mereka terjadi cukup lama juga, yaitu kira-kira 150 tahun, sampai bergabung kembali di bawah pemerintahan Gajah Kulon sekitar 850-an masehi.
  • Kutipan batas Kerajaan Sunda dari Naskah Bujangga Manik diperkirakan ditulis pada awal abad ke-15, yaitu jauh setelah Sunda dan Galuh kembali berada dalam satu kekuasaan lagi. Demikian pula kutipan sumber Portugis dari Tome Pires, ditulis di awal abad ke-16. Jadi bukan berarti perpecahan sebelumnya tak pernah ada.
  • Bila penekanan isi artikel akan difokuskan pada kebersatuan antara Sunda dan Galuh sebagaimana yang anda tekankan, maka sebaiknya judul artikel diganti saja menjadi Kerajaan Sunda. Saya setuju saja bila diganti demikian, akan tetapi harus konsisten juga memperbaiki artikel dari paragraf pembuka sampai akhir, agar isi artikel sesuai dengan judulnya.
  • Kita mungkin kehilangan peluang untuk membahas adanya konflik internal (perang saudara) antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Ada sedikit kerancuan di sini karena artikel yang khusus membahas Kerajaan Sunda atau Kerajaan Galuh saja ternyata sudah ada.

Ditunggu tanggapan lainnya, dan semoga artikel ini dapat menjadi lebih baik lagi. Salam, Naval Scene 12:37, 12 April 2008 (UTC)

Kalau begitu, saya lebih cenderung agar artikel mengenai Kerajaan Galuh dan artikel mengenai Kerajaan Sunda dipisah saja. Adapun sejarah bersatunya Galuh dengan Sunda bisa dimasukkan kedala artikel Kerajaan Sunda seperti pada wikipedia bahasa Inggris. Saat ini saya sedang membuat halaman "Peninggalan Galuh" dengan nara sumber seorang arkeolog dari Universitas Indonesia, yaitu ibu Richadiana Kartakusuma. Kelihatannya beliau cendering memisahkan kedua karajaan di Tatar Sunda ini. Nanti saya akan mengundang beliau ke halaman ini untuk memberikan tanggapannya.
NB: Berdasarkan definisi bahwa sumber primer adalah sumber yang berasal dari masanya (saat kerajaan masih ada), bisa ditentukan apakan Carita Parahiyangan termasuk sumber primer atau bukan. --Hadiyana 05:49, 14 April 2008 (UTC)

Saya pikir ada tanda sambung (-) atau tidak selalu menunjukkan kerajaan kembar. Pada kasus Kesultanan Johor-Riau misalnya, baik Johor dan Riau bukanlah dua kubu politik berbeda, begitu pula Riau dan Lingga pada Kesultanan Riau-Lingga (paling tidak pada awalnya). Mungkin kita perlu menyetujui konvensi penamaan dalam soal ini. --Gombang 09:50, 14 April 2008 (UTC)