Operasi militer Indonesia di Aceh 1990-1998

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Operasi militer Indonesia di Aceh 1990–1998
Bagian dari Konflik di Aceh
IndonesiaAceh.png
Lokasi Aceh di Indonesia
Tanggal Awal 199022 Agustus 1998
Lokasi Aceh, Indonesia
Hasil Penarikan TNI dari Aceh
Pihak yang terlibat
Bendera Indonesia Indonesia Flag of Aceh.svg Gerakan Aceh Merdeka
Komandan
Bendera Indonesia Soeharto Flag of Aceh.svg Hasan Di Tiro
Korban
9.000-12.000 orang, sebagian besar warga sipil [1]
Artikel ini bagian dari seri
Sejarah Indonesia
Sejarah Indonesia.png
Lihat pula:
Garis waktu sejarah Indonesia
Sejarah Nusantara
Prasejarah
Kerajaan Hindu-Buddha
Kutai (abad ke-4)
Tarumanagara (358–669)
Kalingga (abad ke-6 sampai ke-7)
Sriwijaya (abad ke-7 sampai ke-13)
Sailendra (abad ke-8 sampai ke-9)
Kerajaan Medang (752–1006)
Kerajaan Kahuripan (1006–1045)
Kerajaan Sunda (932–1579)
Kediri (1045–1221)
Dharmasraya (abad ke-12 sampai ke-14)
Singhasari (1222–1292)
Majapahit (1293–1500)
Malayapura (abad ke-14 sampai ke-15)
Kerajaan Islam
Penyebaran Islam (1200-1600)
Kesultanan Samudera Pasai (1267-1521)
Kesultanan Ternate (1257–sekarang)
Kerajaan Pagaruyung (1500-1825)
Kesultanan Malaka (1400–1511)
Kerajaan Inderapura (1500-1792)
Kesultanan Demak (1475–1548)
Kesultanan Kalinyamat (1527–1599)
Kesultanan Aceh (1496–1903)
Kesultanan Banten (1527–1813)
Kesultanan Cirebon (1552 - 1677)
Kesultanan Mataram (1588—1681)
Kesultanan Siak (1723-1945)
Kesultanan Pelalawan (1725-1946)
Kerajaan Kristen
Kerajaan Larantuka (1600-1904)
Kolonialisme bangsa Eropa
Portugis (1512–1850)
VOC (1602-1800)
Belanda (1800–1942)
Kemunculan Indonesia
Kebangkitan Nasional (1899-1942)
Pendudukan Jepang (1942–1945)
Revolusi nasional (1945–1950)
Indonesia Merdeka
Orde Lama (1950–1959)
Demokrasi Terpimpin (1959–1965)
Masa Transisi (1965–1966)
Orde Baru (1966–1998)
Era Reformasi (1998–sekarang)

Operasi militer Indonesia di Aceh 1990-1998 atau juga disebut Operasi Jaring Merah adalah operasi kontra-pemberontakan yang diluncurkan pada awal 1990-an sampai 22 Agustus 1998 melawan gerakan separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh. Selama periode tersebut, Aceh dinyatakan sebagai "Daerah Operasi Militer" (DOM), dimana Tentara Nasional Indonesia diduga melakukan pelanggaran hak asasi manusia dalam skala besar dan sistematis terhadap pejuang GAM maupun rakyat sipil Aceh.[2] Operasi ini ditandai sebagai perang paling kotor di Indonesia yang melibatkan eksekusi sewenang-wenang, penculikan, penyiksaan dan penghilangan, dan pembakaran desa.[3] Amnesty International menyebut diluncurkannya operasi militer ini sebagai "shock therapy" bagi GAM.[4]

Desa yang dicurigai menyembunyikan anggota GAM dibakar dan anggota keluarga tersangka militan diculik dan disiksa.[4] Diperkirakan lebih dari 300 wanita dan anak di bawah umur mengalami perkosaan [5] dan antara 9.000-12.000 orang, sebagian besar warga sipil tewas antara tahun 1989 dan 1998 dalam operasi TNI tersebut.[1]

Operasi ini berakhir dengan penarikan hampir seluruh personil TNI yang terlibat atas perintah Presiden BJ Habibie pada tanggal 22 Agustus 1998 setelah jatuhnya Presiden Soeharto dan berakhirnya era Orde Baru.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Conflict and Peacemaking in Aceh: A Chronology | Worldwatch Institute". 
  2. ^ Rizal Sukma (26 February 2004). Security operations in Aceh: goals, consequences, and lessons. East-West Center Washington. ISBN 978-1-932728-04-0. Diakses 12 April 2013. 
  3. ^ Harriet Martin (15 August 2006). Kings of Peace Pawns of War: The Untold Story of Peacemaking. Continuum International Publishing Group. ISBN 978-0-8264-9057-5. Diakses 12 April 2013. 
  4. ^ a b "INDONESIA: "SHOCK THERAPY": RESTORING ORDER IN ACEH 1989-1993". Amnesty International. 27 July 1993. Diakses 2013-04-11. 
  5. ^ "Acheh | Timeline; An Achenese Chronology". 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]