Operasi Ten-Go

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Operation Ten-Go
天號作戰 or 天号作戦
Bagian dari the Perang Pasifik dalam Perang Dunia II
Yamato sedang tenggelam mulai dari bagian belakang
Yamato sedang diserang. Kebakaran besar melanda bagian atas kapal di sebelah belakang, dan mulai tenggelam setelah dihantam torpedo
Tanggal 7 April 1945
Lokasi Samudra Pasifik, antara Kyushu dan Kepulauan Ryukyu, Jepang
Hasil Kemenangan Amerika Serikat
Pihak yang terlibat
Bendera Amerika Serikat
Gugus Tugas 58 Angkatan Laut Amerika Serikat
Bendera Jepang
Armada Gabungan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang
Komandan
Bendera Amerika Serikat Marc A. Mitscher Bendera Jepang Seiichi Itō (†)
Bendera Jepang Keizō Komura
Bendera Jepang Kosaku Aruga (†)
(†) = gugur
Kekuatan
11 kapal induk
386 pesawat terbang
1 kapal tempur
1 kapal penjelajah ringan
8 kapal perusak
Korban
10 pesawat terbang hancur
12 tewas
1 kapal tempur tenggelam
1 kapal penjelajah ringan tenggelam
4 kapal perusak tenggelam
3.700–4.250 tewas[1]
Perwira pimpinan Yamato' tanggal 5 April 1945, dua hari sebelum keberangkatan Operasi Ten-Go

Operasi Ten-Go (天號作戰 (kyūjitai) atau 天号作戦 (shinjitai) Ten-gō Sakusen?) adalah operasi militer besar yang terakhir dilakukan angkatan laut Jepang dalam Perang Pasifik, Perang Dunia II.

Pada April 1945, kapal tempur Jepang Yamato yang merupakan kapal tempur terbesar di dunia berangkat untuk melakukan misi bunuh diri melawan kekuatan Sekutu di Pertempuran Okinawa. Sebelum sampai di Okinawa, armada Jepang diserang hingga tidak melanjutkan pelayaran, dan hampir seluruhnya dihancurkan oleh pesawat-pesawat Amerika Serikat yang berpangkalan di kapal-kapal induk. Yamato dan lima kapal perang Jepang lainnya tenggelam.

Pertempuran ini mempertunjukkan supremasi udara Amerika Serikat dalam tahap terakhir Perang Pasifik, dan betapa mudahnya kapal-kapal dijadikan sasaran serangan udara bila tidak dilindungi pesawat-pesawat tempur. Meskipun harus mengorbankan sejumlah besar nyawa dalam usaha yang sia-sia, pertempuran ini menunjukkan usaha terakhir Jepang dalam memperlambat gerak maju Sekutu menuju kepulauan Jepang.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Setelah kalah berturut-turut dalam kampanye militer Kepulauan Solomon, Pertempuran Laut Filipina, dan Pertempuran Teluk Leyte, Armada Gabungan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang sudah dalam keadaan hancur. Pada awal tahun 1945, Jepang hanya memiliki sejumlah kapal perang yang masih operasional ditambah sejumlah kecil pilot dan pesawat terbang. Sebagian besar dari kapal-kapal perang Jepang Armada Gabungan yang tersisa disandarkan di beberapa pelabuhan di Jepang, sementara sebagian besar kapal-kapal besar berpangkalan di Kure, Hiroshima.[2]

Setelah invasi ke Saipan dan Iwo Jima, tentara Sekutu mulai melancarkan serangan ke pulau-pulau utama Jepang. Sebagai tahap berikut sebelum dilancarkannya invasi ke pulau-pulau utama di Jepang, tentara Sekutu menginvasi Okinawa pada 1 April 1945. Pada bulan Maret, pemimpin militer Jepang menjelaskan dalam briefing di muka Kaisar Hirohito bahwa serangan udara besar-besaran akan dilakukan Jepang, termasuk penggunaan unit serangan khusus tokkōtai bila pihak Sekutu menginvasi Okinawa. Menurut laporan, kaisar kemudian bertanya, "Lalu bagaimana dengan angkatan laut? Apa yang mereka lakukan untuk membantu mempertahankan Okinawa?" Setelah merasa ditekan untuk melakukan serangan, para petinggi angkatan laut merencanakan misi bunuh diri yang melibatkan kapal-kapal perang mereka yang masih operasional, termasuk kapal tempur Yamato.[3]

Menurut rencana yang disusun dibawah arahan Panglima Tertinggi Armada Gabungan, Laksamana Toyoda Soemu,[4] Yamato dan kapal-kapal pengawalnya ditugaskan menyerang armada Amerika Serikat yang mengawal pendaratan pasukan Amerika Serikat di sebelah barat Okinawa. Yamato dan kapal-kapal pengawalnya harus membela diri sendiri dalam perjalanan menuju Okinawa, dan lalu mengandaskan diri antara Higashi dan Yomitan, dan bertarung sebagai meriam artileri hingga dihancurkan musuh. Setelah kapal-kapal mereka hancur, para awak yang selamat diharuskan meninggalkan kapal dan bertarung melawan pasukan Amerika Serikat di darat. Kalau pun ada, pesawat-pesawat tempur yang melindungi Yamato dan kapal-kapal pengawalnya hanya sedikit. Hal ini membuat mereka hampir-hampir tidak berdaya melawan serangan udara Amerika Serikat yang bertubi-tubi.[3] Yamato dan kapal-kapal pengawalnya berangkat dari Kure menuju Tokuyama, Yamaguchi di lepas pantai Mitajiri, Jepang pada 29 Maret 1945.[5] Walaupun Laksamana Seiichi Itō sepertinya mematuhi perintah atasan, sebagai komandan Operasi Ten Go, dirinya masih menolak untuk memberi perintah kepada kapal-kapalnya untuk untuk melaksanakan misi yang diyakininya sebagai sia-sia dan tidak berguna.[6]

Sebagian pimpinan Angkatan Laut tidak menyambut dengan positif rencana misi yang dianggap mereka hanya membuang-buang nyawa dan bahan bakar. Kapten Atsushi Ōi, komandan armada pengawal menentang karena dialihkannya bahan bakar dan sumber daya yang sudah terbatas untuk operasi ini. Ketika kepadanya dikatakan bahwa operasi ini "untuk menjaga tradisi dan kehormatan angkatan laut," ia berseru:[7]

Perang ini adalah perang yang melibatkan negara, lalu mengapa kehormatan dari "armada kapal-kapal" harus lebih dihormati? Siapa yang peduli dengan kehormatan mereka? Bodoh!

("Armada kapal-kapal" mengacu kepada kapal-kapal utama, khususnya kapal-kapal tempur yang "seharusnya memenangkan perang".)

Laksamana Muda Ryūnosuke Kusaka berangkat dengan pesawat terbang dari Tokyo, 5 April 1945 menuju Tokuyama dalam usaha terakhirnya meyakinkan para komandan Armada Gabungan, termasuk Laksamana Itō agar mau menerima rencana operasi. Setelah pertama kali mendengar rincian operasi (sebelumnya masih dirahasiakan, dan sebagian besar komandan Armada Gabungan tidak diberi tahu), para komandan Armada Gabungan dan kapten-kapten kapal secara bulat mendukung Laksamana Itō, dan menolak rencana operasi berdasarkan alasan yang sebelumnya dikemukakan Laksamana Itō. Laksamana Kusaka kemudian menjelaskan bahwa serangan angkatan laut berfungsi sebagai pengalih perhatian pesawat-pesawat Amerika Serikat dari serangan udara yang akan dilancarkan angkatan darat terhadap armada Amerika Serikat di Okinawa. Ia juga menjelaskan bahwa pemimpin nasional Jepang, termasuk kaisar, juga mengharapkan angkatan laut untuk berusaha sebaik-baiknya dalam mempertahankan Okinawa.

Setelah mendengar penjelasan tambahan dari Kusaka, sikap para komandan Armada Gabungan melunak, dan menerima rencana yang diusulkan. Awak kapal diberi briefing mengenai tujuan misi dan diberi kesempatan untuk tidak ikut berangkat bila mau, namun tidak ada yang bersedia ditinggal. Walaupun demikian, awak kapal yang baru, sedang sakit, dan ragu-ragu diperintahkan meninggalkan kapal.[8] Pada awak kapal dilatih untuk terakhir kalinya sebelum misi berlangsung, terutama berlatih prosedur pengendalian kerusakan.[9] Saat tengah malam, kapal-kapal diisi bahan bakar. Menurut laporan, personel Pelabuhan Tokuyama membangkang perintah atasan. Secara diam-diam, Yamato dan kapal-kapal lainnya diisi dengan semua bahan bakar yang tersisa di pelabuhan, walaupun bahan bakar yang diisikan mungkin tidak cukup untuk kembali lagi dari Okinawa.[10]

Pertempuran[sunting | sunting sumber]

Manuver armada Jepang (garis hitam) dan kapal induk Amerika Serikat (garis merah terputus-putus)

Pukul 16.00 tanggal 6 April 1945, Yamato dengan komandan Laksamana Itō, dikawal kapal penjelajah ringan Yahagi dan delapan kapal perusak berangkat dari Tokuyama untuk memulai misi.[11] Dua kapal selam, USS Threadfin dan USS Hackleback sudah memergoki Yamato ketika mereka berlayar ke arah selatan melewati Selat Bungo, namun keduanya tidak dapat langsung menyerang. Kedua kapal selam memberitahukan armada Amerika Serikat akan adanya konvoi kapal perang Jepang.[12]

Dini hari 7 April, kapal-kapal perang Jepang melewati Semenanjung Ōsumi menuju laut terbuka dari Kyushu ke arah selatan menuju Okinawa. Mereka berlayar dalam formasi defensif, Yahagi berada di depan diikuti Yamato, delapan kapal perusak membentuk lingkaran di sekeliling dua kapal yang lebih besar. Masing-masing kapal berada dalam jarak 1.500 m satu sama lainnya, dan berlayar dengan kecepatan 20 knot.[13] Salah satu dari kapal perusak Jepang, Asashimo mengalami kerusakan mesin dan kembali pulang. Pesawat pengintai Amerika Serikat mulai membayang-bayangi kapal-kapal perang Jepang. Pada pukul 10.00, kapal-kapal Jepang berbelok ke barat agar terlihat sedang ditarik mundur, namun pada pukul 11.30, setelah dideteksi dua pesawat amfibi PBY Catalina, mereka berbalik arah menuju Okinawa setelah sempat melepaskan tembakan salvo ke arah PBY Catalina dengan meriam 460 mm yang berisi amunisi khusus (san-shiki shōsan dan).[8]

Pesawat-pesawat Amerika Serikat, seperti Curtiss Helldiver ini memulai serangan terhadap Yamato (tengah kiri), Sebuah kapal perusak Jepang berada di tengah kanan foto.[14]

Sekitar pukul 10.00 tanggal 7 April, Angkatan Laut Amerika Serikat melancarkan serangan udara dalam beberapa gelombang yang melibatkan hampir 400 pesawat dari sebelas kapal induk Gugus Tugas 58 di bawah komando Laksamana Madya Marc A. Mitscher. Kesebelas kapal induk tersebut adalah Hornet, Bennington, Belleau Wood, San Jacinto, Essex, Bunker Hill, Hancock, Bataan, Intrepid, Yorktown, dan Langley) yang ditempatkan di sebelah timur Okinawa. Pesawat yang turut serta terdiri dari pesawat tempur F6F Hellcat, pesawat pengebom tukik SB2C Helldiver, dan pesawat pengebom torpedo TBF Avenger. Selain itu, enam kapal tempur (Massachusetts, Indiana, New Jersey, South Dakota, Wisconsin, dan Missouri) yang dikawal kapal-kapal perusak (termasuk Alaska dan Guam) ikut ditugaskan mengadang armada Jepang bila serangan udara gagal.[15]

Armada Jepang tidak dilindungi oleh kekuatan udara, sehingga pesawat-pesawat Amerika Serikat dengan mudah menyusun serangan tanpa takut adanya perlawanan dari pesawat-pesawat Jepang. Setelah penerbangan dua jam dari Okinawa, pesawat-pesawat Amerika Serikat tiba di atas armada Jepang, dan sempat memutar di atas formasi kapal-kapal Jepang, namun di luar jarak efektif senjata antipesawat. Secara teratur mereka memulai serangan ke kapal-kapal Jepang yang berada di bawahnya.[8]

Serangan gelombang pertama pesawat Amerika Serikat dimulai pada pukul 12.30. Kapal-kapal Jepang menambah kecepatan hingga 25 knot (46 km/j), memulai manuver-manuver pengelakan, dan membalas dengan tembakan senjata antipesawat. Yamato membawa hampir 150 senjata antipesawat, termasuk senapan kaliber besar 460 mm yang dapat menembakan peluru khusus antipesawat "Umum Tipe 3".[16] Pesawat pengebom torpedo sebagian besar hanya menyerang ke arah lambung kiri, maksudnya untuk meningkatkan kemungkinan kapal yang dijadikan sasaran untuk terbalik.[17]

Kapal penjelajah ringan Yahagi sedang dijadikan bulan-bulanan serangan torpedo dan bom.[18]

Pada pukul 12.46, sebuah torpedo menghantam Yahagi tepat di kamar mesin, menewaskan seluruh awak kamar mesin, dan mesin kapal terhenti. Delas buah bom tepat mengenai sasaran, dan Yahagi paling sedikit terkena oleh enam buah torpedo lainnya. Kapal perusak Isokaze mencoba membantu Yahagi tapi kena serangan, rusak berat, dan tenggelam tidak lama kemudian. Yahagi terbalik dan karam pada pukul 14.05. Para awak kapal Yahagi yang selamat terapung-apung di laut, dan dapat melihat Yamato di kejauhan. Yamato terlihat masih terus bergerak maju ke selatan, dan melawan serangan-serangan pesawat Amerika Serikat. Namun pada kenyataannya, nasib Yamato hanya tinggal beberapa menit lagi sebelum tenggelam.[19]

Dalam serangan gelombang pertama, Yamato manuver pengelakan yang intensif. Sebagian besar bom-bom yang dijatuhkan ke arahnya tidak mengenai sasaran. Torpedo yang ditembakkan kapal-kapal Amerika Serikat juga luput. Namun, Yamato terkena dua bom penembus perisai dan sebuah torpedo.[20] Gerak laju Yamato tidak terpengaruh, namun salah satu bom menyebabkan kebakaran yang tidak bisa dipadamkan di bagian belakang bangunan atas kapal. Selain itu, serangan gelombang pertama memakan korban kapal perusak Jepang Hamakaze dan Suzutsuki yang rusak berat dan mundur dari pertempuran. Tidak lama kemudian Hamakaze tenggelam.[18]

Yamato condong ke arah lambung kiri dan terbakar.

Antara 13.20 dan 14.15, serangan gelombang kedua dan ketiga menjadikan Yamato sebagai bulan-bulanan. Yamato dihantam oleh paling sedikit delapan torpedo dan 15 bom. Ledakan bom menyebabkan kerusakan menyeluruh pada bagian atas kapal, termasuk mematikan listrik ke sistem pengarah senjata otomatis. Akibatnya, masing-masing senjata antipesawat harus diarahkan dan ditembakkan secara manual hingga mengurangi keefektifan dalam mengenai sasaran.[21] Torpedo berulang kali menghantam lambung kiri Yamato hingga miring, dan sewaktu-waktu bisa terbalik.[22] Pos-pos pengendali banjir telah hancur terkena bom hingga sulit untuk mengatasi banjir di dalam lambung kapal. Pada pukul 13.33, dalam keputusasaan untuk menjaga kapal dari terbalik, tim pengendali kerusakan Yamato membanjiri lambung kanan dan ruang boiler dengan air laut. Bahaya terbalik dapat dikurangi, namun usaha ini sekaligus menenggelamkan beberapa ratus awak Yamato di pos-pos mereka. Mereka sebelumnya tidak diberi peringatan kalau kompartemen mereka akan dibanjiri air laut.[23] Korban nyawa awak kapal memberi tambahan waktu kepada Yamato untuk mengapung 30 menit lebih lama.[24] Kerusakan mesin lambung kanan, ditambah beratnya air, membuat gerak Yamato melambat menjadi sekitar 10 knot.[25]

Setelah Yamato makin pelan dan makin mudah dijadikan sasaran, pesawat torpedo Amerika Serikat mulai berkonsentrasi untuk menghantam bagian buritan dan kendali. Mereka berhasil menyarangkan torpedo, dan Yamato tidak dapat lagi disetir.[26] Pada pukul 14.02, setelah diberi tahu bahwa Yamato sudah tidak bisa dikemudikan dan segera karam, Laksamana Itō memerintahkan misi dibatalkan, awak kapal segera meningalkan kapal, dan kapal-kapal sisanya untuk memunguti awak kapal yang selamat.[18] Yamato berkomunikasi dengan kapal-kapal perang yang selamat dengan menggunakan sinyal bendera karena radio sudah hancur.

Satu-satunya foto Yamato ketika meledak. Kapal ini terbalik setelah dijadikan sasaran bom dan torpedo.[14]

Pada pukul 14.05, Yamato tidak bergerak lagi dan mulai terbalik. Laksamana Itō dan para kapten menolak untuk meninggalkan kapal. Pada pukul 14.20, Yamato sudah terbalik dan mulai tenggelam (30°22′LU 128°04′BT / 30,367°LU 128,067°BT / 30.367; 128.067). Pada pukul 14.23, Yamatotiba-tiba meledak dengan dahsyat sehingga menurut laporan suara ledakan bisa didengar dan asapnya bisa dilihat dari Kagoshima yang terpisah 200 km dari pusat ledakan. Asap ledakan berupa awan berbentuk jamur yang membubung setinggi 6 km.[27] Menurut laporan, ledakan ikut menjatuhkan beberapa pesawat Amerika Serikat yang menyaksikan tenggelamnya Yamato. Ledakan diperkirakan terjadi akibat kebakaran yang disebabkan ledakan bom menjalar ke ruang amunisi.[28]

Sewaktu mencoba pulang ke pangkalan, kapal perusak Jepang Asashimo dibom pesawat Amerika Serikat dan tenggelam bersama seluruh awaknya. Kapal perusak Jepang Kasumi juga tenggelam akibat serangan pesawat-pesawat yang berpangkalan di kapal induk. Walaupun seluruh haluan kapal hancur, Suzutsuki pulang dengan selamat ke Sasebo, Nagasaki dengan cara berlayar sambil mundur.[18]

Kapal-kapal perusak Jepang sisanya yang tidak begitu rusak (Fuyuzuki, Yukikaze, dan Hatsushimo) berhasil menyelamatkan 280 awak kapal Yamato yang masih hidup (total awak kapal Yamato berbeda-beda menurut sumbernya, antara 2.750 hingga 3.300), ditambah 555 awak kapal yang selamat dari Yahagi (total awak kapal: 1.000), dan hanya di atas 800 awak kapal yang selamat dari Isokaze, Hamakaze, dan Kasumi. Total 3.700 hingga 4.250 personel Angkatan Laut Kekaisaran Jepang tewas.[18][29] Pelaut yang selamat diangkut pulang ke Sasebo.[30]

Yamato beberapa saat setelah meledak.[14]

Total 10 pesawat Amerika Serikat ditembak jatuh oleh senjata antipesawat Jepang, beberapa dari awak pesawat diselamatkan oleh pesawat amfibi atau kapal selam. Secara keseluruhan, hanya 12 prajurit Amerika Serikat tewas. Beberapa awak kapal Jepang yang selamat melaporkan bahwa pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat menembaki awak kapal yang terapung-apung di laut dengan senapan mesin.[31][32] Awak kapal Jepang yang selamat juga melaporkan pesawat-pesawat Amerika Serikat untuk sementara menghentikan serangan ke kapal-kapal perusak Jepang yang sedang sibuk memunguti awak kapal yang selamat.[33]

Selama pertempuran laut terjadi, sesuai rencana, Angkatan Darat Jepang melakukan serangan udara ke armada Angkatan Laut Amerika Serikat di Okinawa. Namun Jepang gagal menenggelamkan sebuah kapal pun. Sekitar 115 pesawat terbang, sebagian di antaranya melakukan serangan kamikaze, menghantam kapal-kapal Amerika Serikat sepanjang hari 7 April. Pesawat-pesawat Jepang menghujamkan diri ke Hancock, kapal tempur Maryland, dan kapal perusak Bennett hingga menyebabkan kerusakan sedang di Hancock dan Maryland, namun Bennett rusak berat. Sekitar 100 pesawat Jepang hancur dalam serangan.[34]

Pascapertempuran[sunting | sunting sumber]

Operasi Ten-Go adalah operasi angkatan laut Jepang yang terbesar dan terakhir. Kapal-kapal perang Jepang yang tersisa hanya sedikit terlibat dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi sesudahnya. Suzutsuki tidak pernah diperbaiki. Fuyuzuki diperbaiki, namun terkena ranjau Amerika Serikat yang dijatuhkan dari udara di Moji, 20 Agustus 1945, dan tidak pernah diperbaiki lagi. Yukikaze selamat dari perang dalam keadaan hampir-hampir tidak ada yang rusak. Hatsushimo terkena ranjau Amerika Serikat dekat Maizuru, dan tercatat sebagai kapal perusak Jepang ke-129 sekaligus kapal perusak Jepang terakhir yang tenggelam dalam perang.[35]

Setelah pertempuran sengit dan memakan korban besar, Okinawa dinyatakan aman oleh pihak Sekutu pada 21 Juni 1945.[36] Jepang menyerah pada bulan Agustus 1945 setelah dijatuhi bom atom. Keinginan keras Jepang untuk mengorbankan begitu banyak nyawa dengan taktik-taktik bunuh diri seperti Operasi Ten-go dan Pertempuran Okinawa mendasari keputusan Sekutu untuk menggunakan bom atom terhadap Jepang.[37]

Kisah seputar Operasi Ten-Go sering diangkat dalam berbagai film dan cerita. Peristiwa ini biasanya digambarkan sebagai simbol keberanian, tak mementingkan diri sendiri, namun juga usaha sia-sia para pelaut Jepang dalam mempertahankan tanah air.[38] Istilah Yamato juga sering dipakai sebagai nama puitis untuk Jepang, dan mungkin merupakan salah satu alasan peristiwa ini sering diangkat dalam budaya populer. Tamatnya riwayat kapal tempur Yamato merupakan metafora berakhirnya Kekaisaran Jepang dalam Perang Dunia II.[39]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Jentshura and CombinedFleet.com. Abe, Saburo, Tokko Yamato Kantai (The Special Attack Fleet Yamato)", Kasumi Syuppan Co. 1995, Buku berbahasa Jepang, memberi rincian korban tewas di pihak Jepang: Yamato: 3056 tewas, 276 selamat; Yahagi: 446 tewas; Isokaze: 20 tewas; Hamakaze: 100 tewas; Yukikaze: 3 tewas; Kasumi: 17 tewas; Asashimo: 326 tewas (semua awak); Fuyuzuki: 12 tewas; Suzutsuki: 57 tewas.
  2. ^ Hara, Japanese Destroyer Captain, 274.
  3. ^ a b Feifer, The Battle of Okinawa, 7.
  4. ^ Minear, Requiem, xiii.
  5. ^ Yoshida, Requiem, 6–7.
  6. ^ Yoshida, Requiem, 62.
  7. ^ Atsushi Ōi, Kaijō Goeisen.
  8. ^ a b c Hara, Japanese Destroyer Captain, 277.
  9. ^ Yoshida, Requiem, 15.
  10. ^ Spurr, A Glorious Way to Die, 162–165.
  11. ^ Yoshida, Requiem, 30.
  12. ^ Skulski, The Battleship Yamato, 12. Ada delapan kapal perusak Jepang yang ikut serta dalam misi: Isokaze, Hamakaze, Yukikaze, Kasumi, Hatsushimo, Asashimo, Fuyuzuki and Suzutsuki.
  13. ^ Yoshida, Requiem, 47–49.
  14. ^ a b c Nova: Sinking the Supership.
  15. ^ Order of Battle - Final Sortie of the Imperial Japanese Navy - 7 April 1945
  16. ^ Yoshida, Requiem, 62–64.
  17. ^ Yoshida, Requiem, 74.
  18. ^ a b c d e CombinedFleet.com
  19. ^ Hara, Japanese Destroyer Captain, 298.
  20. ^ Yoshida, Requiem, 66.
  21. ^ Yoshida, Requiem, 78.
  22. ^ Yoshida, Requiem, 80.
  23. ^ Yoshida, Requiem, 82.
  24. ^ Feifer, The Battle of Okinawa, 17–25.
  25. ^ Yoshida, Requiem, 83.
  26. ^ Yoshida, Requiem, 95–96.
  27. ^ Yoshida, Requiem, 118.
  28. ^ Skulski, The Battleship Yamato, 13.
  29. ^ Jentshura, p. 39 mengatakan bahwa 2.498 awak kapal Yamato tewas. CombinedFleet.com mengatakan 3.063 awak kapal Yamato tewas. Salah satu alasan yang mungkin menjadi penyebab berbeda-bedanya total korban adalah tidak dimasukkannya para staf Laksamana Itō yang tewas ke dalam total awak kapal Yamato. Abe, Saburo, Tokko Yamato Kantai (The Special Attack Fleet Yamato)", Kasumi Syuppan Co. 1995, buku berbahasa Jepang ini memberi rincian sebagai berikut: Yamato: 3056 tewas, 276 selamat; Yahagi: 446 tewas; Isokaze: 20 tewas; Hamakaze: 100 tewas; Yukikaze: 3 tewas; Kasumi: 17 tewas; Asashimo: 326 tewas (semua awak kapal); Fuyuzuki: 12 tewas; Suzutsuki: 57 tewas.
  30. ^ Yoshida, Requiem, 140.
  31. ^ "Lalu Amerika mulai menembaki orang-orang yang mengapung di laut dengan senapan mesin, hingga kami harus menyelam ke dalam laut."Naoyoshi Ishida; Keiko Bang (September 2005). "Survivor Stories: Ishida". Sinking the Supership. NOVA. 
  32. ^ Hara, Japanese Destroyer Captain, 301.
  33. ^ Yoshida, Requiem, 144.
  34. ^ Hara, Japanese Destroyer Captain, 304.
  35. ^ Hara, Japanese Destroyer Captain, 281.
  36. ^ Minear, Requiem, xiv.
  37. ^ Feifer, The Battle of Okinawa, 410–430.
  38. ^ IMDB.com (1990–2009). "Uchû senkan Yamato". Internet Movie Database. Diakses 2009-03-26. ; IMDB.com (2005). "Otoko-tachi no Yamato". Internet Movie Database. Diakses 2009-03-26. 
  39. ^ Minear, Requiem, xvii.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Feifer, George (2001). "Operation Heaven Number One". The Battle of Okinawa: The Blood and the Bomb. The Lyons Press. ISBN 1-58574-215-5. 
  • Hara, Tameichi (1961). "The Last Sortie". Japanese Destroyer Captain. New York & Toronto: Ballantine Books. ISBN 0-345-27894-1.  Catatan saksi mata pertempran oleh kapten kapal perusak Jepang Yahagi.
  • Jentschura, Hansgeorg; Dieter Jung and Peter Mickel (1977). Warships of the Imperial Japanese Navy, 1869-1945. Annapolis, Maryland: United States Naval Institute. ISBN 0-87021-893-X. 
  • Ōi, Atsushi (1992). Kaijo Goeisen. Asahi Sonorama. ISBN 4-05-901040-5. 
  • Skulski, Janusz (1989). The Battleship Yamato. Annapolis, Maryland: Naval Institute Press. ISBN 0-87021-019-X. 
  • Spurr, Russell (1995). A Glorious Way to Die: The Kamikaze Mission of the Battleship Yamato, April 1945. Newmarket Press. ISBN 1-55704-248-9. 
  • Yoshida, Mitsuru; Richard H. Minear (1999). Requiem for Battleship Yamato. Annapolis, Maryland: Naval Institute Press. ISBN 1-55750-544-6.  Catatan saksi mata mengenai pertempuran oleh perwira anjungan Yamato yang selamat.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]