Nichiren Shoshu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Nichiren Shōshū (日蓮正宗) adalah sebuah aliran agama Buddha yang berasal dari Jepang. Pendiri ajaran ini, bernama Nichiren Daishonin, dianggap oleh penganut aliran ini sebagai Buddha pokok Masa Akhir Dharma yang dapat memahami makna tersirat dari seluruh ajaran Buddha Sakyamuni. Inti hakekat dari seluruh ajaran Buddha Sakyamuni adalah Saddharmapundarika Sutra / Myohorengekyo dan hal ini lah yang disadari oleh Buddha Niciren. Sekte Nichiren Shoshu ini berpusat di Taisekiji, Fujinomia, provinsi Shizuoka, Jepang.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Agama Buddha menyebar dari India ke Tiongkok, lalu ke Korea, dan dari Korea lalu masuk ke Jepang. Berbeda dengan agama lain, agama Buddha sangat terbuka alias terus terang mengungkapkan dasar pokok pendirian sektenya, atau alasan Buddhaloginya. Dalam teriminologi buddhisme dinamakan dasar sutra.

Sutra adalah catat catatan tertulis dari ajaran sang Buddha Sakyamuni, dan jumlahnya mencapai puluhan ribu buah. Secara logika tentunya teramat sulit untuk mengetahui apa lagi memahami dan menguasai semua sutra-sutra itu. Sehingga secara aktual penganut awan Buddhisme biasanya mengacu kepada Bhikku sebagai guru dharma pribadi masing-masing.

Setelah Sang Buddha Sakyamuni moksa, Air Dharma diwariskan kepada Ananda, dan Ananda mewariskan kepada penerus-penerus berikutnya antara lain Nagarjuna, Vashubandu, Tien Tai, Dengyo dan seterusnya.

Kalau dilihat dari dasar buddhalogi, Nichiren Shoshu berawal dari Saddharma Pundarika Sutra versi terjemahan dari Kumarajiva, serta Sastra Ichinen Sanzen, Hokke Mong-gu, dan Hokke Geng-gi, karya maha guru Tien Tai, maha guru Mio Lo, maha guru Dengyo. Sastra adalah penjelasan, penguraiaan, pemaknaan dari sebuah sutra. Kumarajiva adalah seorang bhikku dari India yang menyebarkan agama Buddha ke Tiongkok. Beliau adalah salah satu peterjemah sutra dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Tionghoa yang sangat terkenal dan terpercaya. Kumarajiva diyakini mampu "memindahkan" makna sutra dari bahasa Sanskerta ke bahasa Tionghoa dan karya agung beliau tersebut sampai saat ini masih ada dan masih diterbitkan dalam buku di Jepang dan Taiwan. Sebagai "bukti" hal tersebut, ketika beliau wafat dan di kremasi, lidah beliau, tidak bisa terbakar.

Di Tiongkok, Mahaguru Tien Tai menyebarluaskan Saddharma Pundarika Sutra. Dalam bahasa Tionghoa Saddharma Pundarika Sutra disebut Miao Hua Lien Hwa Cing dan dalam bahasa Jepang dibaca Myohorengekyo. Sutra Saddharma Pundarika adalah ajaran Buddha Sakyamuni mazhab Mahayana. Dari Tiongkok, Myohorengekyo atau Saddharmapundarika-sutra lalu disebarkan ke Jepang oleh Mahaguru Dengyo.

Buddha Nichiren Daishonin terlahir dengan nama Zennichi Maro pada tanggal 16 Februari 1222 di desa kecil Kominato, Provinsi Awa (sekarang daerah Chiba) Jepang. Sejak usia 12 tahun Zennichi Maro masuk ke kuil untuk menjadi bhikkhu. Pada usia 16 tahun dia ditahbiskan menjadi bhikkhu dengan nama Zesho-bo Renco.

Setelah lebih dari 20 tahun mempelajari berbagai sutra dari sekte-sekte di berbagai kuil, maka beliau berkesimpulan hanya Saddharma Pundarika Sutra yang merupakan sebagai ajaran terpokok dari Buddha Sakyamuni yang bisa menyelamatkan umat manusia dari berbagai penderitaan hidup dan mati. Sejak itu beliau menyebut diri Nichiren.

Nichiren Shoshu di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Nichiren Shoshu mulai berkembang luas di Jepang, setelah Perang Dunia II di bawah pendudukan tentara Amerika, yang membebaskan kehidupan beragama. Para penganut membentuk organisasi massa umat awan bernama Sokagakai dan kemudian menjadi wadah dan motor penggerak penyiaran agama ini.

Shintaro Noda, pegawai Nissho Iwai, sejak tahun 1920-an telah menetap di Indonesia, sempat menjadi tawanan tentara sekutu di Jawa dan Australia, dan karena itu menderita berbagai penyakit, akhirnya dipulangkan tentara sekutu ke Jepang. Di Jepang beliau bergabung dengan Sokagakkai dan menganut Nichiren Shoshu berhasil sembuh dari penyakit.

Pada akhir tahun 1940 akhir Shintaro Noda, anggota Sokagakkai, pegawai Nissho Iwai kembali bertugas di Indonesia dan sekaligus menjadi penyiar agama Nichiren Shoshu sekaligus pimpinan Nichiren Shoshu di Indonesia sampai awal tahun 1970-an dan secara organisatoris berafiliasi kepada Sokagakkai dan kemudian hari membentuk Sokagakkai internasional.

Pemerintahan Orde Baru yang diskriminatif, mengkategorikan semua agama Buddha sebagai unsur-unsur budaya Tionghoa yang tidak boleh berkembang dan segala kegiataanya harus diawasi menimbulkan berbagai goncangan. Terpaksa dibuat Yayasan Nichiren Shoshu Indonesia pada tahun 1967, yang sebenarnya dipimpin oleh bukan umat Nichiren, melainkan saudara sepupu dari seorang penganut. Kondisi ini akhirnya menimbulkan kekacauan kepemimpinan karena pimpinan de facto Shintaro Noda yang berkewarganegaraan Jepang tidak dapat menjadi pemimpin de jure. Akhirnya pada awal tahun 1970-an Shintaro Noda disingkirkan dari kepemimpinan, dan munculah pimpinan baru, Senosoenoto, suami dari Keiko Sakurai seorang anggota sokagakkai.

Di kemudian hari Senosoenoto berhasil mengajak kawannya Ir Soekarno, seorang mantan menteri pada masa Orde Lama, menjadi penganut dan kemudian menjadi salah satu pucuk pimpinan NSI. Soekarno sangat aktif dalam organisasi agama buddha di Indonesia, mewakili NSI menjadi pendiri organisasi yang sekarang bernama WALUBI. Soekarno wafat pada tahun 1981.

Perpecahan Nichiren Shoshu di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Sejak akhir tahun 1970 sampai pertengahan tahun 1980, NSI berkembang dan mencapai puncak kejayaannya. Sebagaimana umumnya pekembangan organisasi, bilamana telah berkembang pesat, maka pada tahap-tahap tertentu muncul masalah rule of the game, management asset/financial, dan mekanisme pertanggungjawabab kepemimpinan organisasi. Tahun 1986 muncul usulan dan tuntutan untuk membuat AD dan ART NSI, yang memang belum ada. Draf AD ART disusun dan dibuat oleh 9 orang atas permintaan Senosoenoto, yang dikemudian hari dikenal sebagai kelompok 9.

Inisiatif kelompok sembilan ini tidak terakomodasi, mereka disingkirkan, AD ART NSI tak kunjung terwujud, mereka lalu membuat Yayasan Visistacaritra pada tgl 16 Februari 1987. Sehubungan dengan ketentuan undang-undang tentang yayasan di kemudian hari dibentuk yayasan Visistacaritra, yang dimaksudkan untuk melanjutkan kegiatan Visistacaritra sampai saat ini,dan secara subyektif berorientasi pada Sangha Nichiren Shoshu.

NSI sendiri sepeninggalan almarhum Senosoenoto,terpecah 2 karena adanya perbedaan pandangan mengenai siapa yang akan menjadi ketua umum berikutnya. Pada saat Senosoenoto meninggal, NSI merupakan organisasi agama Buddha terbesar di Indonesia dengan seluruh aset fisik (Vihara-vihara yang tersebar di seluruh Indonesia dan juga dan umatnya. Seluruh aset fisik yang dimiliki oleh NSI pada saat itu masih atas nama pribadi Senosoenoto sebagai ketua umum karena pada saat itu NSI belum menjadi organisasi yang berbadan hukum. Secara hukum ketika seseorang meninggal maka aset dan kekayaan yang dimiliki oleh orang tersebut akan jatuh pada ahli waris (dalam hal ini keluarga Senosoenoto / istri dan anaknya) hal ini lah yang menjadi awal mula perpecahan NSI. Kubu pendukung wakil ketua umum Johan Nataprawira dan Suhadi Sendjaja sebagai sekertaris jendral (sekjen) pada saat itu ingin tetap mempertahankan seluruh aset yang dimiliki oleh NSI untuk kepentingan umat karena memang pada dasarnya seluruh aset yang dimiliki oleh NSI adalah hasil dari Dana Paramitha seluruh umat NSI, namun kubu wakil ketua umum Keiko Senosoenoto (istri Senosoenoto) pada saat itu tidak setuju karena merasa bahwa seluruh aset tersebut atas nama suaminya maka beliaulah yang berhak untuk menentukan kebijakan. Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya dicapai kesepakatan sebagai berikut:

1. Kubu Johan Nataprawira dan Suhadi Sendjaja mengambil sikap untuk tetap mempertahankan eksistensi Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia (NSI), dengan tetap memegang teguh nama NSI serta ajaran-ajaran Buddha Niciren dan memulai perjuangan untuk membangun kembali NSI dari nol. (Pada saat itu kubu Johan dan Suhadi hanya diberikan sedikit ruangan dari kantor NSI yang terletak di jalan Minangkabau nomor 25 dan satu buah mobil Honda Accord warna Hijau tahun '80an dan dalam persamuan agung nasional yang dihadiri oleh seluruh Umat NSI, Suhadi Sendjaja dipercaya oleh seluruh Umat NSI untuk memimpin NSI sampai saat ini).

2. Kubu Keiko Senosoenoto memilih untuk mendirikan yayasan baru dengan nama Yayasan Pandita Sabha Buddha Dharma Indonesia (BDI), dan mengangkat anak perempuannya, Aiko Senosoenoto sebagai ketua umum sampai sekarang ini dengan seluruh aset-aset NSI (yang berasal dari Dana Paramitha umat NSI) yang masih atas nama pribadi Senosoenoto.

Pada tahun 1992 terjadi pertikaian antara Sangha Nichiren Shoshu (di Jepang) dengan Sokagakkai / Sokagakkai internasional, dan berakibat Sokagakkai membentuk sekte tersendiri dan diberi nama Nichiren Sekai Shu. Kejadian ini juga berimbas ke Indonesia, sebagian umat Nichiren Shoshu yang ada membentuk kelompok baru bernama Sokagakkai Indonesia yang berpusat di Kemayoran Jakarta, dan menjadi penganut sekte Nichiren Sekai Shu, yang tentu saja didukung oleh Sokagakkai internasional dan Shintaro Noda.

Perjuangan NSI di bawah kepemimpinan Suhadi Sendjaja berbuah manis, dengan mengandalkan ajaran yang sesungguhnya dari Buddha Niciren, Gohonzon, dan melaksanakannya dengan penuh kepercayaan dan kesungguhan hati NSI mampu bangkit dan berhasil membangun kembali Vihara-vihara di seluruh Indonesia dengan Dana Paramitha dari seluruh umat, serta berhasil membangun Kensyu Dojo (tempat diadakannya pelatihan, pendidikan Dharma,sekaligus tempat berkumpul seluruh umat NSI dari dari seluruh Indonesia) pada tahun 2005, yang diberi nama Maha VIhara Saddharma (Myoho-Ji), yang terletak di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Myoho memiliki arti Gaib / diluar jangkauan pikiran manusia, Ji berarti kuil. Nama Vihara ini diambil karena memang benar-benar dirasakan oleh seluruh umat NSI bahwa hal ini merupakan sesuatu yang di luar jangkauan pikiran manusia, NSI mampu bangkit dan membuktinyatakan kebenaran dan kekuatan ajaran sesungguhnya dari Buddha Niciren.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]