Naga Jawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Naga Jawa dalam gambaran wayang

Naga Jawa adalah sebuah mahluk mitologi Jawa yang berbentuk ular besar sebagai perwujudan dari salah satu makhluk penguasa gaib. Dalam cerita pewayangan dikenal ular Naga yang menjadi dewa bernama Sanghyang Naga Antaboga atau Anantaboga yang konon sebagai dewa penjaga di dalam perut bumi.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Patung Naga dan Bima di Solo.

Istilah kata Naga berasal dari bahasa Sanskerta, nāgá (नाग) ialah sejenis ular kobra. Kata nāgá bersinonim dengan kata phaṇin (फणिन्). Terdapat beberapa perkataan untuk menyebut "ular"; antara lain yang paling kerap digunakan ialah kata sarpá (सर्प). Adakalanya, perkataan nāgá pun digunakan untuk memaksudkan "ular" secara umum. Perkataan ini serumpun dengan perkataan Bahasa Jermanik: *snēk-a-, Proto-IE: *(s)nēg-o- yang kemudian menurunkan perkataan dalam bahasa Inggris snake. [1] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata naga adalah ular yang besar (dalam cerita) spt -- berapi, -- bura, -- gentala, -- umbang; (2) kl ular besar (menurut kepercayaan) penunggu mata angin (ada yg berpindah tiap hari, ada yg tiap tahun, spt -- hari, -- tahun).[2]

Penggambaran[sunting | sunting sumber]

Naga Jawa digambarkan sebagai sesosok mahluk sakti berbentuk ular raksasa yang tidak memiliki kaki meskipun adakala diwujudkan mempunyai kaki . Naga Jawa memakai badhog atau mahkota di atas kepalanya. Terkadang Naga Jawa digambarkan juga memakai perhiasan anting dan kalung emas.

Tidak seperti Naga Cina maupun Naga Eropa, tampilan Naga Jawa sangat unik dan khas karena naga Jawa memakai mahkota layaknya raja serta tidak mempunyai kaki. Dibanding dengan Naga cina mempunyai empat kaki serta kumis di atas mulutnya, sedangkan tampilan Naga eropa lebih mirip dengan kadal raksasa berleher panjang yang mempunyai sayap lebar.

Pandangan Terhadap Naga[sunting | sunting sumber]

Naga, dalam berbagai peradaban dikenal dengan nama dragon (Inggris), draken (Skandinavia), Liong (Cina), dikenal sebagai makhluk superior yang berwujud menyerupai ular, kadang bisa menyemburkan api, habitatnya di seluruh ruang (air, darat, udara). Meskipun penggambaran wujudnya berbeda, namun secara umum spesifikasi makhluk tersebut digambarkan sebagai mahluk sakti.

Sosok Naga di dunia barat digambarkan sebagai monster, cenderung merusak dan bersekutu dengan kekuatan gelap. Dicitrakan sebagai tokoh antagonis yang seharusnya dihancurkan. Seseorang bisa mendapat gelar pahlawan atau ksatria dengan membunuh Naga. Pendek kata, Naga adalah ancaman bagi manusia.

Tidak demikian halnya dengan citra Naga di peradaban timur. Di Cina, naga dianggap sosok yang bijaksana dan agung layaknya dewa. Naga adalah satu-satunya hewan mitos yang menjadi simbol Shio. Budaya Minangkabau mengenal dongeng ngarai Sianok yang diciptakan oleh Sang Naga. Hiasan Naga juga sangat lekat dengan budaya jawa, umumnya ada di gamelan, pintu candi dan gapura, sebagai lambang penjaga. Masyarakat Dayak juga menggambarkan Naga sebagai penguasa dunia bawah, dan Burung Enggang sebagai penguasa dunia atas. Naga di peradaban timur mendapat tempat terhormat, karena meskipun mempunyai kekuatan super yang bisa menghancurkan, namun tidak semena-mena bahkan bisa mengayomi.

Naga atau Ular menurut pandangan bangsa Indonesia dianggap sebagai lambang dunia bawah. Sebelum Zaman Hindu (Neolithicum), di Indonesia terdapat anggapan bahwa dunia ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu dunia bawah dan dunia atas, yang masing-masing mempunyai sifat-sifat bertentangan. Dunia bawah antara lain dilambangkan dengan bumi, bulan, gelap, air, ular, kura-kura, buaya. Sedangkan dunia atas dilambangkan dengan matahari, terang, atas, kuda, rajawali.[3] Pandangan semacam itu juga hampir merata di seluruh bangsa Asia. Dalam cerita Mahabarata maupun pandangan bangsa Indonesia sendiri sebelum Zaman Hindu, naga atau ular selalu berhubungan dengan air, sedangkan air mutlak diperlukan sebagai sarana pertanian.

Penggunaan[sunting | sunting sumber]

Dekorasi[sunting | sunting sumber]

Naga sebagai hiasan pada Gamelan.

Dalam kesenian rakyat kita juga sering melihat bentuk ukiran yang berbentuk ular Naga yang tertera pada gantungan dari kayu yang dipergunakan untuk menggantung gamelan dalam keadaan mulutnya terbuka lebar dengan lidah bercabang yang menjulur keluar.

Selain itu benda-benda pusaka yang berbentuk keris banyak yang menggunakan nama ular Naga ini. Seperti keris Naga Runting, keris Naga Ransang, keris Naga Sasra dan lain sebagainya. Keris tersebut dinamakan naga karena memang bentuk bilah keris yang melengkung menyerupai ekor naga. Juga ada pusaka yang berbentuk tombak yang bemama tombak Naga Baru Kelinting miliknya Ki Ageng Mangir Wanabaya, Kepala kapal layar juga banyak yang diukir dengan bentuk gambar kepala ular Naga

Naga Jawa yang dipercaya untuk menjaga area bangunan di Istana air Taman Sari Yogyakarta.

Simbol Penjagaan[sunting | sunting sumber]

Naga Jawa juga ditemui di beberapa relief candi. Naga di candi ini dinamakan Naga Taksaka yang bertugas menjaga candi. Umumnya ular naga dijadikan pola hias bentuk makara yaitu pipi tangga di kanan dan kiri tangga naik ke bangunan candi yang dibentuk sebagai badan dan kepala naga: mulut naga digambarkan terbuka lebar dan lidahnya menjulur keluar dalam wujud untaian manik-manik ataupun bentuk makara dengan naga yang menganga dengan seekor singa di dalam mulutnya. Hiasan semacam ini umum didapati di candi-candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Sering pula wujud naga dipahat di bawah cerat yoni karena yoni selalu dipahat menonjol keluar dari bingkai bujur sangar sehingga perlu penyangga di bawahnya. Fungsi naga pada bangunan candi atau pada yoni tampaknya erat kaitannya dengan tugas penjagaan atau perlindungan terhadap sebuah bangunan.

Catatan Kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Proto-IE: *(s)nēg-o-, Meaning: snake, Old Indian: nāgá- m. 'snake', Germanic: *snēk-a- m., *snak-an- m., *snak-ō f.; *snak-a- vb. http://starling.rinet.ru/cgi-bin/response.cgi?single=1&basename=/data/ie/piet&text_number=2649&root=config
  2. ^ "Arti kata naga dalam bahasa Indonesia". 8 March 2012. 
  3. ^ "Naga dan Dewi Sri dalam Budaya Jawa". 8 March 2012. 

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Susanne Rodemeier: Lego-lego Platz und naga-Darstellung. Jenseitige Kräfte im Zentrum einer Quellenstudie über die ostindonesische Insel Alor. (Magisterarbeit 1993) Universität Passau 2007
  • Heinrich Zimmer: Indische Mythen und Symbole. Diederichs, Düsseldorf 1981, ISBN 3-424-00693-9.