Muara Lawa, Kutai Barat
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Peta lokasi Kecamatan Muara Lawa |
|
| Provinsi | Kalimantan Timur |
| Kabupaten | Kutai Barat |
| Camat | Roberthus Syahrun, S.Pd (2006) |
| Luas | 465,75 km² |
| Jumlah penduduk | 7.500 jiwa (perkiraan 2007) |
| - Kepadatan | 16 jiwa/km² |
| Desa/kelurahan | 8 |
Muara Lawa adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kecamatan ini merupakan hasil pemekaran (sekitar tahun 1964) dari Kecamatan Muara Pahu pada saat masih sebagai bagian Kabupaten Kutai. Kecamatan Muara Lawa kemudian dimekarkan lagi, yang melahirkan kecamatan baru yaitu Kecamatan Bentian Besar (2001), yang terletak paling hulu Sungai Lawa.
Ibukota kecamatan Muara Lawa terletak di Kampung Lambing, yang letaknya hanya berseberangan sungai dengan Kampung Muara Lawa, dimana Sungai Lawa bermuara. Kampung Lambing dan Kampung Muara Lawa terletak di tepi Sungai Kedang Pahu anak Sungai Mahakam, sedangkan Sungai Lawa bermuara di Sungai Kedang Pahu, persis terletak di kedua kampung tersebut.
Mengingat kondisi topografis, maka Kantor Pemerintah Kecamatan Muara Lawa akan dipindahkan ke Kampung Dingin (sedang dalam pembangunan - Nopember 2007. Terletak di jalur Jalan Trans/Poros Kalimantan sekitar persimpangan jalan arah Dingin - Lotaq dan Benangin/Lampeong, Barito Utara, Kalimantan Tengah. Pada lokasi sekarang dijamin bebas banjir karena berada di perbukitan. Lokasi sekarang juga dipandang lebih strategis, baik bagi perkembangan kedepan (hubungan dengan Kalteng) maupun memperpendek birokasi karena terletak hampir di tengah-tengah wilayah kecamatan.
Namun demikian proses dan prosedur pemindahan kantor kecamatan menimbulkan polemik bahkan penolakan masyarakat terutama bagi masyarakat Kampung Lambing dan Kampung Benggeris, selain menghilang jejak historis, juga dianggap tidak bijaksana, karena lokasi yang cukup strategis dan daerah bebas banjir tidak mengharuskan pindah "kampung" karena di Kampung Lambing sendiri banyak lokasi yang juga bebas banjir dan terletak di jalur poros jalan Trans Kalimantan.
Sebagai catatan bahwa Camat periode sekarang berasal dari Kampung Dingin. Menurut masyarakat yang kontra dengan pemindahan ini, bahwa pemindahan kantor tersebut tidak pernah disosialisasikan apalagi dimusyawarahkan, terutama dengan masyarakat Kampung Lambing dan Benggeris. Sesungguhnya mengingat telah lancarnya sistem transportasi dalam/antar wilayah Kecamatan Muara Lawa, maka relokasi kantor kecamatan mestinya tidak perlu pindah "kampung".
Catatan historis adalah bahwa kedudukan Kepala Adat Besar Tolan (almarhum Ngilikng alias Kakah Gahek dengan gelar Janulen (diberikan oleh Kerajaan Kutai) yang diakui dan ditetapkan oleh Kerajaan Kutai berada di Tolan (asal Kampung Lambing) yang meliputi seluruh wilayah Kecamatan Muara Lawa saat ini, tidak terkecuali Kampung Dingin sekarang. Sehingga pemindahan Kantor Kecamatan ke Kampung Dingin dapat dianggap merupakan pelecehan sejarah.
Daftar isi |
[sunting] Tokoh Kecamatan Muara Lawa
Tokoh Masyarakat Adat - Budayawan Orang Benuaq :
- Kakah Gahek (almarhum)
- Awang Ijau - sekarang Kepala Adat Kecamatan Muara Lawa
Tokoh Perintis Pendidikan :
- Basnius Belugok (almarhum)
- Nyurung Satrip (almarhum)
- Agus Wowoseko (almarhum)
- Boyniansyah
Wakil Rakyat pada era Kabupaten Kutai (Kecamatan Muara Lawa dan Bentian Besar) :
- Samuel Robert Djukuw - sekarang Kadistamben Kutai Kartanegara
- Agus Wowoseko (almarhum)
- Selman Betari - sekarang Camat Bentian Besar
Pada Pemilu Legislatif 2004 lalu, Kecamatan Muara Lawa menempatkan 3 wakil rakyat di DPRD Kutai Barat, masing-masing :
- Drs. Amon Nereng (almarhum - Ketua BK DPRD Kutai Barat),
- Syang Hai, SE (Sekretaris Komisi A) dan
- Drs. Y. Don Bosco Bulor (Sekretaris Fraksi PN PDS).
[sunting] Pembagian administratif
Sebelum pemekaran kecamatan ini terdiri dari 16 kampung. Pada tahun 2006 Kecamatan Muara Lawa terdiri atas 8 kampung, yaitu Kampung Lambing, Muara Lawa, Dingin, Benggeris terletak di Sungai Kedang Pahu, sedangkan Kampung Cempedas, Payang, Lotak dan Muara Begai terletak di tepian Sungai Lawa.
Jumlah penduduk mencapai 6.500 jiwa, dimana lebih dari separuhnya bermukim di sekitar ibukota kecamatan. Semua wilayah kampung dapat dicapai dengan jalan darat dan air/sungai, baik jalan negara (Trans Kalimantan) maupun jalan kabupaten dengan jarak tempuh terjauh yaitu Kampung Muara Begai selama +/- 1 Jam dari ibukota kecamatan sedangkan bila dilalui lewat sungai/air mencapai 3-4 jam.
[sunting] Topografi
Wilayah Kecamatan Muara Lawa setengahnya merupakan dataran rendah, setengahnya wilayahnya bergelombang dan berbukit dengan kemiringan sedang dengan ketinggian 0 - 600 m dpl. Dengan curah hujan yang cukup tinggi, mengakibat wilayah ini secara rutin mengalami banjir tiap tahun. Karena secara geografis, kecamatan ini dilintasi 2 sungai yang memiliki DAS yang cukup luas.
[sunting] Potensi daerah
Kecamatan Muara Lawa mempunyai potensi tambang, kehutanan, pertanian dan perkebunan serta pariwisata. Tambang batubara terbesar di Kutai Barat terletak di kecamatan ini yaitu PT TCM Banpu, belum termasuk perusahaan tambang lainnya yang akan beroperasi.
Potensi pariwisata terutama budaya dan alam. Pariwisata budayanya adalah kehidupan sehari-hari Dayak Benuaq, terutama kehidupan laminnya seperti adat kematian (Parepm Api hingga Kwangkey), ritual penyembuhan secara tradisionil (Belian: Belian Bawo, Sentiyu, Kenyokng, Bejamu dll), kesenian (Ukir-ukiran, Tarian dan Seni Suara).
Terdapat lamin yang masih asli (paling asli), dibanding dengan lamin lain yang ada di Kutai Barat, namanya Lamin Tolan terletak di Kampung Lambing (+/- KM 300 dari arah Samarinda - 40 KM dari Sendawar). Di bagian bawah lamin terdapat Danau Tolan. Di kawasan lamin ini terdapat kompleks pekuburan khas Dayak Benuaq, dimana terdapat Templaaq, Lungun, Selokng dan lain-lain.
[sunting] Pertanian
[sunting] Perkebunan
[sunting] Pertambangan
[sunting] Perikanan Air Tawar
[sunting] Peternakan
[sunting] Kehutanan
[sunting] Penduduk
Penduduk yang mendiami kecamatan ini didominasi oleh etnis Dayak Benuaq, sisanya adalah Campuran Tonyoy/Tunjung Benuaq, Campuran Benuaq Bentian dan Etnis Kutai, serta kelompok pendatang etnis Banjar, Jawa dan Bugis. Sebagian besar penduduk (95 %) menganut agama Kristen baik Protestan maupun Katolik, sisanya (3 %) penganut Adat Lama yaitu Kaharingan (Hindu) sebagian kecil beragama Islam.
[sunting] Fasilitas daerah
Fasilitas kesehatan terdiri dari 1 puskesmas (1 dokter umum; 1 dokter gigi), 2 pusban, 10 posyandu. Fasilitas pendidikan terdiri dari 2 sekolah SLTA (1 negeri, 1 swasta), 1 sekolah SLTP negeri, 12 sekolah dasar (10 negeri; 2 swasta Islam), 2 sekolah TK/playgroup (1 negeri, 1 swasta Kristen). Fasilitas olahraga seperti lapangan sepak bola dan volleyball dimiliki hampir setiap kampung.
Pada pertengahan tahun 2005, Rakyat Kecamatan Muara Lawa dapat berkomunikasi dengan komunikasi telepon selular, 2 tower dari 2 operator jaringan telepon selular masing-masing Telkomsel dan Indosat telah ditempatkan di kecamatan ini yaitu di sekitar Jembatan Kedang Pahu di Kampung Muara Lawa. Sebelumnya komunikasi telepon digunakan telepon satelit lewat beberapa wartel yang ada, selebihnya komunikasi dapat juga menggunakan pesawat HT (Handytalky) yang pernah trendy pada tahun sebelumnya.
Fasilitas umum lainnya adalah pasar kecamatan yang terletak di antara kampung Muara Lawa dan kampung Cempedas, dimana terdapat pula terminal kecamatan. Pasar ini menjual semua kebutuhan masyarakat Kecamatan Muara Lawa, mulai dari barang kebutuhan pokok hingga barang elektronik. Pasar lebih ramai pada hari Rabu karena merupakan hari pasar untuk pasar kecamatan ini, hari-hari lain tetap dibuka walaupun tidak seramai hari pasarnya.
[sunting] Transportasi
Untuk mencapai kecamatan ini dapat ditempuh dengan jalur darat, sungai dan udara.
- Jalur sungai: dari Samarinda (Pelabuhan Sungai Kunjang - Naik kapal jurusan Sungai Kedang Pahu ; Trayek Samarinda-Damai/Muara Lawa.
- Jalur darat: dari Samarinda (Terminal Sungai Kunjang - Naik Bus trayek Samarinda-Melak atau naik taksi (plat hitam-taksi kijang) Samarinda-Melak).
- Jalur udara dapat dicapai baik dari Samarinda (Bandara Temindung) atau Balikpapan (Bandara Internasional Sepinggan) dengan maskapai penerbangan Bintang Sendawar menuju kota Sendawar (ibukota Kabupaten Kutai Barat), penerbangan menuju Sendawar, selanjutnya dari Bandara Melalan menuju Kecamatan Muara Lawa memakan waktu +/- 45 menit. Beberapa armada taxi bersedia mengantar penumpang dari Bandara Sepinggan Balikpapan langsung ke Kutai Barat (ke Muara Lawa).
[sunting] Pariwisata
Pariwisata Kecamatan Muara Lawa adalah wisata alam dan Budaya. Wisata tersebut antara lain:
- Kehidupan masyarakat Adat Dayak Benuaq di Lamin Tolan di Kampung Lambing
- Situs Pekuburan Dayak Benuaq di Lamin Tolan di Kampung Lambing
- Danau Tolan di Kampung Lambing
- Seni Kerajinan Anyam-anyaman rotan di Kampung Lambing
- Situs Pekuburan Dayak Benuaq di Kampung Dingin
- Memancing hampir di setiap kampung
|
Kecamatan Muara Lawa, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur |
|
|---|---|
|
Desa: Benggeris • Cempedas • Dingin • Lambing • Lotak • Muara Begai • Muara Lawa • Payang |
|
|
|
||
|---|---|---|
|
Kecamatan |
Barong Tongkok • Bentian Besar • Bongan • Damai • Jempang • Laham • Linggang Bigung • Long Apari • Long Bagun • Long Hubung • Long Iram • Long Pahangai • Mook Manar Bulatn • Melak • Muara Lawa • Muara Pahu • Nyuwatan • Penyinggahan • Sekolaq Darat • Siluq Ngurai • Tering |
|

