Model kepemimpinan dalam Perjanjian Lama

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Model kepemimpinan dalam Perjanjian Lama didasarkan pada Alkitab Ibrani atau bagian Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Ada sejumlah model yaitu: nabi, hakim, raja dan imam.[1]

Model kepemimpinan dalam Perjanjian Lama pada awalnya yaitu zaman Musa identik dengan kepemimpinan para nabi.[2] Hal ini dikarenakan adanya peran yang penting dari seorang nabi dalam umat Israel. [2] Peranan tersebut dapat dilihat melalui pemaknaan dari sosok nabi itu sendiri. Haag mengartikan nabi dalam Alkitab sebagai berikut:

"Melihat dalam akar kata Yunaninya yaitu profetes maka nabi dapat diartikan sebagai seorang penyalur perintah dari Tuhan."

Bagi Haag nabi dapat dikatakan sebagai jabatan. Nabi secara langsung menjadi seorang pemimpin sebab ia harus menyuarakan suara Tuhan kepada umat Israel sekaligus mengarahkan mereka seturut dengan perintah Tuhan. Setiap nabi memiliki model kepemimpinan yang berbeda. Hal tersebut disebabkan oleh konteks yang berbeda yang dihadapi oleh nabi tersebut. Pada umumnya konteks itu menyangkut pergumulan umat Israel. Upaya, aksi dan sikap nabi dalam menjalankan tugasnya di tengah konteks itu adalah gambaran dari model kepemimpinan dari nabi itu.

Selain dari pada kepemimpinan yang dinampakkan oleh para nabi dapat dilihat juga model kepemimpinan dari raja-raja Israel. Contoh dari mereka adalah raja Saul, Daud, Salomo, Hizkia dll.[1] Ranoh dalam tulisannya memperlihatkan bahwa sebagian besar model yang dinampakan oleh raja-raja tersebut adalah model kepemimpinan kharismatik. Kepemimpinan kharismatik adalah kepemimpinan yang karena kharisma yang ada dalam dirinya maka orang lain mau mengikutinya. Para pemimpin model ini memiliki penampilan yang selalu mempesona dan memukau para pengikut maupun orang lain yang ada di sekitarnya. Demikian hal yang dimiliki oleh seorang raja-raja Israel saat itu dikarenakan oleh kharisma seorang raja maka banyak orang mengikutinya.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b (Indonesia) Dianne Bergant dan Robert J. Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama . 2007. Yogjakarta: Kanisius.
  2. ^ a b (Indonesia)E.G. Singgih. Kepemimpinan Musa dalam Perjanjian Lama . 2004 .Makasar:INTIM.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]