Metode penangkapan ikan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Metode penangkapan ikan adalah metode yang digunakan untuk menangkap ikan yang terdiri dari tangkap tangan, tombak, jaring, rawai, dan jebakan ikan. Istilah ini tidak hanya ditujukan untuk ikan, namun juga untuk penangkapan hewan air lainnya seperti mollusca, cephalopoda, dan invertebrata lainnya yang bisa dimakan.

Terdapat hubungan antara efektivitas berbagai metode penangkapan ikan dengan pengetahuan mengenai ikan dan perilakunya, seperti migrasi ikan, bagaimana ikan mencari makan, dan habitatnya,[1] karena metode amat ditentukan oleh jenis spesies dan habitatnya.[2]

Tangkap tangan[sunting | sunting sumber]

Pengumpulan boga bahari dengan tangan dimungkinkan seperti mengambil kerang atau kelp dari pantai, menggali, bahkan mengejar kepiting. Awal sejarah penangkapan hewan laut dengan tangan dilakukan sejak tahun 300 ribu tahun yang lalu di situs Terra Amata di Prancis, dilakukan oleh manusia purba sebelum Homo sapien.[3][4]

Jenis hewan laut yang ditangkap tangan yaitu:

  • Flounder di Skotlandia, disebut dengan Flounder tramping (menjejak flounder). Ikan flounder ditangkap dengan menginjak ikan tersebut.
  • Lele di Amerika Serikat, disebut dengan Noodling. Dilakukan dengan memasukkan tangan ke dalam lubang tempat ikan lele bersembunyi. Lele akan menggigit jari karena dianggap sebagai makanan, dan ketika itu terjadi, pemancing akan menggenggam mulut lele dan menariknya. Cara ini tentu saja dapat menimbulkan luka.[5] Ikan lele yang ditangkap di alam liar umumnya berukuran lebih besar dari ikan lele yang dibudi dayakan.
  • Kerang mutiara untuk mendapatkan mutiaranya. Dilakukan dengan menyelam hingga kedalaman 30 meter.[6]
  • Trout dilakukan di Inggris dengan aktivitas yang disebut Trout binning (memukul bebatuan tempat persembunyian ikan trout dengan palu besi)[7] dan Trout tickling (menangkap trout dari bagian bawah ikan secara perlahan dengan gerakan seperti menggelitik (tickling)).[8]

Penombakan ikan[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Hupa dengan tombaknya

Penombakan ikan adalah metode kuno penangkapan ikan dengan menggunakan tombak atau varian lainnya seperti harpoon, trident, dan panah.[9][10] Beberapa varian alat yang telah maju menggunakan berbagai cara untuk menggerakkan tombak, seperti penggunaan pegas dan bubuk mesiu.

Penjaringan[sunting | sunting sumber]

Jaring penangkap ikan China, di Cà Mau, Vietnam.
Prinsip dasar pukat kantong (purse seiner)
Jaring tangan untuk menangkap Salmon di Sungai Fraser, Kanada
Penggunaan jaring lempar di Barra da Lagoa, Florianópolis, Brasil

Jaring ikan adalah jaring yang dibuat dengan cara menyulam atau menganyam benang tipis hingga membentuk jaring-jaring. Penjaringan adalah prinsip utama penangkapan ikan komersial.

Penjaringan ikan memiliki dampak ekologis yang berbahaya ketika seluruh atau sebagian dari jaring hilang di laut dan menjadi jaring hantu. Jaring hantu akan melayang di perairan mengikuti arus air dan memerangkap satwa laut, atau dimakan satwa laut yang besar karena terlihat seperti ubur-ubur dan mengganggu sistem pencernaannya. Jika jaring ikan terbuat dari plastik, jaring itu akan bertahan di laut selama ratusan tahun.

Berbagai metode penangkapan ikan dengan jaring diantaranya:

  • Jaring penangkap ikan Cina (Chinese fishing nets), digunakan di tepian secara mekanik sederhana.[11] Jaring dengan diameter 20 meter atau lebih ditenggelamkan ke air lalu kemudian diangkat.
  • Penjaringan lampuki, metode penangkapan ikan sederhana di Malta. Nelayan memotong ranting palem dan membentuk anyaman yang mampu mengapung di atas air seperti rakit. Rakit tersebut menjadi umpan bagi sekelompok ikan Coryphaena hippurus (disebut Lampuki dalam bahasa Malta). Setelah ikan lampuki berkumpul, jaring dilempar dan ikan ditangkap. Ikan ini bermigrasi ke kepulauan Malta di musim gugur.
  • Jaring lempar adalah jaring berbentuk lingkaran dengan pemberat yang tersebar di sisi jaring. Jaring tersebut dilemparkan ke air hingga tersebar dan tenggelam di air. Ikan yang tertangkap oleh jaring lalu ditarik.[12] Metode ini telah berkembang dan termodifikasi selama ribuan tahun.
  • Jaring hanyut (drift net) adalah jaring yang tidak tenggelam sampai ke dasar, namun melayang dengan bantuan pengapung dan pemberat secukupnya. Jaring ini berkibar vertikal ke bawah di dalam air hingga ikan menabrak jaring dan tersangkut di antara celah jaring. Ukuran ikan yang tertangkap amat tergantung pada ukuran (mesh) jaring.
  • Jaring tangan (hand nets, landing nets), berukuran cukup kecil hingga bisa digenggam oleh tangan atau terikat pada ujung batang di mana ujung batang yang lain digenggam dengan tangan. Biasanya jaring ini digunakan dalam aktivitas memancing rekreasi untuk membantu pemancing menarik ikan ke atas.[13] Secara komersial, jaring ini dipakai untuk menangkap ikan untuk dijual sebagai ikan hias karena jaring ini cenderung tidak melukai ikan.
  • Pukat adalah jaring berat yang tenggelam hingga ke dasar laut. Kapal pukat lalu menarik pukat yang sudah mencapai dasar laut, dengan gerakan seperti menyeret. Pukat merusak ekosistem dasar laut seperti terumbu karang.
  • Pukat kantong (purse seiner) adalah jaring ikan yang melebar dengan pemberat hampir sampai ke dasar lalu jaring ditarik untuk menggiring dan mengurung ikan, lalu diangkat. Berbeda dengan pukat yang seluruh jaring berada di dasar laut sepanjang waktu, sebagian pukat kantong berada di permukaan ketika digunakan karena bantuan pengapung atau tegangan tali yang ditarik di kedua sisi. Pukat kantong cenderung tidak merusak ekosistem dasar laut.

Jebakan[sunting | sunting sumber]

Nelayan tradisional dengan jebakan ikan di Hà Tây, Vietnam
Jebakan lobster di Beer, Devon.

Jebakan ikan berkembang secara independen di berbagai budaya yang memiliki bentuk yang bervariasi. Umumnya ada dua jenis jebakan, yaitu permanen dan semi permanen. Jebakan ditempatkan di perairan dan memiliki umpan untuk menaik perhatian hewan laut. Jebakan diperiksa secara berkala untuk mengambil hewan yang terperangkap.

  • Bendungan penangkap ikan, dilakukan di Kamerun dan Gabon. Sungai kecil dibendung selama beberapa waktu, mengakibatkan tinggi muka air turun di bagian hilir sehingga ikan lebih mudah ditangkap.[14]
  • Bendung penangkap ikan (bedakan dengan bendungan) adalah kolam di sisi sungai dengan tiang-tiang kayu yang digunakan untuk mengalihkan arah pergerakan ikan ke kolam tersebut. Cara ini dilakukan sejak Romawi Kuno namun ditentang di abad pertengahan Inggris. Teks yang tertulis di dalam Magna Carta memasukkan pelarangan penggunaan bendung penangkap ikan terutama di sungai Thames, kecuali di pinggir pantai.[15]
  • Jebakan keranjang yang dipasang mengikuti arus air. Ikan dapat masuk keranjang mengikuti arus air namun sulit untuk keluar karena bentuk mulut jebakan yang cekung ke dalam keranjang.[16]
  • Roda ikan bekerja seperti kincir air. Roda ikan digerakkan dengan aliran air. Pada satu sisi lengan roda ikan terdapat cekungan untuk menangkap enegi air dan keranjang di sisi lain untuk menangkap ikan. Roda ikan menangkap ikan yang bermigrasi melawan arus, seperti ikan salmon. Setelah ikan ditangkap, ikan dijatuhkan secara otomatis di luar badan sungai.
  • Jebakan lobster, adalah jebakan untuk menangkap lobster. Berbentuk seperti jebakan ikan namun ditujukan khusus untuk menangkap satwa yang berjalan di atas air. Selain lobster, kepiting dan crayfish juga tertangkap jebakan ini. Di dalam jebakan dimasukkan umpan yang menjadi kesukaan lobster, biasanya adalah ikan herring dan ikan kecil lainnya, namun juga bisa ulat. Jebakan lobster terikat dengan tali agar bisa ditarik oleh nelayan.

Kerja sama dengan hewan lain[sunting | sunting sumber]

Nelayan Cina dengan burung pecuk
  • Kerja sama manusia dan ikan lumba-lumba dalam penangkapan ikan telah dijelaskan oleh filsuf Pliny the Elder di zaman Romawi Kuno.[17] Aktivitas ini sekarang banyak dilakukan di Brazil. Lumba-lumba menunggu kedatangan nelayan Brazil di pinggir pantai dan menggiring kawanan ikan sebelum memberikan sinyal momen yang baik untuk melepas jaring. Lumba-lumba diuntungkan dengan ikan yang terpisah dari kawanannya yang tertangkap jaring, menjadi kurang terkoordinasi sehingga tidak mampu menghindar dari ikan lumba-lumba.[18][19]
  • Penangkapan ikan dengan pecuk, di Cina dan Jepang. Praktek ini memanfaatkan burung pecuk (cormorant) yang memiliki naluri menangkap ikan. Burung ini dipelihara dan dilatih untuk menangkap ikan. Cincin besi diletakkan di leher agar burung tidak memakan ikan besar, namun bisa memakan ikan kecil. Ikan yang besar dikumpulkan oleh nelayan. [20] Praktek ini sudah sangat jarang, dan kini diberdayakan sebagai warisan budaya dan daya tarik wisata.
  • Penangkapan ikan dengan burung Fregata minor, dilakukan di Nauru. Sama seperti penangkapan ikan dengan pecuk, tetapi umumnya dilakukan dari pinggir pantai, sementara penangkapan ikan dengan burung pecuk dilakukan di atas perahu.
  • Anjing air Portugis, dimanfaatkan oleh nelayan karena memiliki kemampuan berenang yang alami. Nelayan menggunakan anjing ini untuk mengirim pesan antar perahu, membawa umpan, hingga membantu menarik jaring.
  • Penangkapan ikan dengan remora, dilakukan di Samudra Hindia. Ikan remora dikaitkan dengan benang, dilepaskan, dan kemudian diikuti.[21] Ikan remora adalah ikan yang sering menempel dengan satwa lain, seperti hiu dan penyu. Praktek ini umum digunakan untuk mendapatkan penyu.

Metode lainnya[sunting | sunting sumber]

Ilmuwan dengan penyengat listrik untuk menangkap ikan sebagai sampel

Metode penangkapan ikan lainnya seperti penggunaan listrik, pengerukan, pemompaan, sonar, umpan cahaya, dan sebagainya.

Metode merusak[sunting | sunting sumber]

Metode penangkapan ikan yang merusak seperti pukat dasar laut, menggunakan bahan peledak, sianida, racun ikan, dan muroami.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Keegan, William F (1986) The Optimal Foraging Analysis of Horticultural Production American Anthropologist, New Series, Vol. 88, No. 1., pp. 92-107.
  2. ^ F.T.D. Website (2013) Fishing Tips and Techniques - Retrieved on 2013-24-07
  3. ^ Szabo
  4. ^ Szabo, Katherine Prehistoric Shellfish gathering.
  5. ^ Snopes Urban Legend Website on Noodling
  6. ^ Catelle, W. R. (1457). "Methods of Fishing". The Pearl: Its Story, Its Charm, and Its Value. Philadelphia & London: J. B. Lippincott Company. hlm. 171. 
  7. ^ Trout binning in The Mirror of Literature, Amusement, and Instruction, Vol. 12, Issue 328, August 23, 1828, Project Gutenberg.
  8. ^ Bennett, Oliver (2004-10-24). "HOW TO... Tickle a trout". The Independent. Diakses 2007-09-06. [pranala nonaktif]
  9. ^ Image of an eel spear.
  10. ^ Spear fishing for eels.
  11. ^ Shore operated stationary lift nets
  12. ^ Dunbar, Jeffery A (2001) Casting net NC Coastal fishing. Retrieved 25 August 2008.
  13. ^ Fishing Tools - Landing Nets
  14. ^ Dam Fishing Fishing techniques of the Baka.
  15. ^ The Text of Magna Carta, see paragraph 33.
  16. ^ Shooting and Fishing the Trent, ancient fish traps.
  17. ^ M.B. Santos, R. Fernández, A. López, J.A. Martínez and G.J. Pierce (2007), Variability in the diet of bottlenose dolphin, Tursiops truncatus, in Galician waters, north-western Spain, 1990 – 2005 (.pdf), article retrieved April 3, 2007.
  18. ^ The Telegraph (2006), Brazil's sexiest secret, article retrieved March 11, 2007.
  19. ^ Dr. Moti Nissani (2007) Bottlenose Dolphins in Laguna Requesting a Throw Net (video). Supporting material for Dr. Nissani's presentation at the 2007 International Ethological Conference. Video retrieved February 13, 2008.
  20. ^ Cormorant fishing: history and technique.
  21. ^ De Orbe Novo, Volume 1, The Eight Decades of Peter Martyr D'Anghera, Project Gutenberg.

Bahan bacaan terkait[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]