Masjid Agung Al-Barkah Bekasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Masjid Agung Bekasi
Masjid Agung Bekasi.jpg

Masjid Agung Al-Barkah Bekasi

Letak Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Afiliasi agama Islam
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitektur Masjid
Gaya arsitektur Arsitektur Arab
Pembukaan tanah 1890
Spesifikasi
Kubah 2
Menara 4

Masjid Agung Al-Barkah Bekasi adalah sebuah masjid yang ada di Bekasi. Masjid ini merupakan salah satu masjid tua di Indonesia. Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama ketika kota Bekasi menjadi tuan rumah MTQ Jawa Barat 1998, lalu direnovasi lagi pada 2002. Sampai kemudian menjadi bentuknya yang semegah dan semewah sekarang ini setelah melalui renovasi total tahun 2004-2008.

Lokasi[sunting | sunting sumber]

Masjid Agung Al-Barkah kota Bekasi berada di Jalan Veteran, Kawasan Alun alun, Pusat pemerintahan kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Lokasi masjid ini berseberangan dengan Rumah Sakit Daerah kota Bekasi.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Masjid Agung Al-Barkah kota Bekasi, dibangun tahun 1890 dipelopori oleh Penghulu Lanraad (Alm) H. Abdul Hamid, diatas tanah wakaf dari (Alm). Haji Barun, seluas 3000 m2 yang terletak di jalan Veteran. Bangunan yang belum mencirikan bangunan sebuah masjid pada umumnya.

Tahun 1967 bangunannya direhab menjadi bentuk masjid oleh Bupati Bekasi Subandi (ketika itu kota Bekasi masih menjadi bagian dari Kabupaten Bekasi).Subandi yang merupakan bupati Bekasi pertama asal Kampung Gabus Kabupaten Bekasi itu, melibatkan setiap jiwa warga Kabupaten Bekasi turut berpartisipasi menyumbang pembangunan masjid ini sebesar Rp 1.[1]


Dalam kemajuan yang terjadi di Bekasi, oleh Bupati Bekasi H Abdul Fatah, pada 1985 kembali dilakukan pembangunan. Bangunannya pada bagian depan masih menggunakan awning berwarna-warni yang saat itu sangat banyak diminati masyarakat dalam setiap melaksanakan pembangunan. Dan saat itu pulalah masjid ini ditetapkan menjadi Masjid Agung Al Barkah Kabupaten Bekasi.

Masjid Agung Al-Barkah Bekasi


Dengan ditetapkan sebagai Masjid Agung, Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi mulai campur tangan dalam pembangunannya. Pembangunan pada tahun 1985 menghabiskan biaya Rp 225 juta. Pada 1997 Pemerintah Kabupaten Bekasi saat bupatinya dijabat Muh Djamhari kembali melakukan pembangunan dengan tambahan biaya Rp 100 juta.

Pada saat kota Bekasi terbentuk tahun 1997 dan terpisah dari Kabupaten Bekasi di zaman wali kota dijabat H Achmad Zurfaih yang merupakan putra asli Bekasi, perhatian pemerintah daerah semakin besar dalam membangun masjid yang kini menjadi kebanggaan kota Bekasi. Mulai tahun 2004 hingga 2008, pembangunan besar-besaran pun dilakukan.

Persiapan pembangunan masjid Agung Al-Barkahkota Bekasi ini mulai dilakukan tahun 2003 dengan penataan ulang tata ruang alun alun, jalan dan fasilitas lain yang ada. Masjid dirancang lebih modern, namun tetap mencirikan arsitektur timur tengah. Ada keinginan dari walikota saat itu untuk menghadirkan sebuah masjid agung yang referesentatif dan menjadi ikon kota Bekasi. Masjid yang juga dapat dimanfaatkan sebagai area publik, dimana orang bisa ibadah dan menikmati pesona taman kota.

Arsitektur[sunting | sunting sumber]

Mimbar Masjid Agung Bekasi

Arsitektur masjid mengadaptasi masjid masjid timur tengah yang disublimasi dengan unsur tropis. Masjid di timur tengah tidak mengenal teras atau kanopi, karena iklim Indonesia tropis, masjid membutuhkan kantilever dan kanopi agar air hujan tidak tempias ke dalam masjid makanya kemudian masjid ini dilengkapi dengan teras.

Delapan daun pintu dari kayu jati berukir kaligrafi mencerminkan 8 pintu menuju surga. Daun pintu tersebut terbuat dari kayu jati yang dipesan langsung dari Jepara, Panitia pembangunan Masjid bahkan datang langsung ke Jepara untuk memilih kayu yang benar benar bagus dari pohon yang sudah berusia di atas 90 tahun. Kubah masjid memiliki diameter 18 meter dan dibawahnya bertuliskan 99 nama Allah (Asmu’ul Husna).

Tiang tiang masjid dilapisi kayu untuk memberi kesan hangat. Ini diadopsi dari Masjid Agung Demak yang dibuat dari kayu. Juga terdapat elemen floral dan ornamen Islam seperti bintang atau bentuk segi delapan yang umum banyak dipakai pada bangunan masjid. Masjid Agung Al-Barkah kota Bekasidilengkapi tempat Thaharah, gedung pertemuan dan tempat majelis taklim, perpustakaan, kantor ta’mir dan kantor remaja masjid, taman, plaza dan area Parkir.

Arsitektur masjid tidak lepas dari simbolisasi Islam, setiap detil bangunan memiliki arti. Simbolisasi islam bisa kita jumpai pada 4 buah menara yang memiliki arti 4 tiang ilmu, yakni Bahasa Arab, Syariah, sejarah dan filsafat. Serta syarat hidup bahagia yakni aqidah, ahlak, syariah dan Ibadan. Tiga bagian bentuk dasar bangunan menara mencerminkan iman islam dan ikhsan, sedangkan ketinggian menara 35 meter diambil dari salah satu surat Al-qur’an.

Catatan Kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Masjid Agung Bekasi". 11 March 2012.