Mare, Maybrat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Mare
Distrik
Negara  Indonesia
Provinsi Papua Barat
Kabupaten Maybrat
Pemerintahan
 • Kepala distrik -
Luas - km²
Jumlah penduduk -
Kepadatan - jiwa/km²
Kampung/kelurahan -

Mare adalah sebuah distrik di kabupaten Maybrat, Papua Barat, Indonesia.

Hutan, sungai, tanah berbukit, minyak, bahan mineral serta ragam flora fauna khas Papua merupakan "harta" daerah ini. Dari kota Sorong menuju Teminabuan, ibu kota kabupaten Sorong Selatan, awalnya hanya bisa dilalui melalui sungai "klamono" dengan berperahu, akan tetapi saat ini dengan telah dibangunnya jalan provinsi Kota Sorong-Sorong selatan maka jalan darat merupakan alternatif terbaik yang sering dimanfaatkan masyarakat. waktu tempuh hingga tiba di Teminabuan kurang lebih 8 jam dengan menggunakan kendaraan jenis L-200, kijang, dan avansa. setiap jenis kendaraan memiliki tarif yang tidak berbeda jauh antara 1 juta hingga 1,5 juta. Menyusuri jalan darat memiliki ketertarikan dan kenikmatan yang khas karena di sepanjang jalan kita dapat langsung menikmati indahnya pemandangan sorong selatan dengan keragaman flora dan faunanya. sesaat kita dapat menikmati kicauan burung kakaktua, lorikeets, dan rangkong (hornbill) dan taon-taon. Sungai-sungai kecil di sepanjang jalan tampak mengalir dengan tenang seakan mengajak kita untuk segera terjun ke dalamnya dan menikmati kesejukannya.

Itulah gambaran sepintas alam Sorong Selatan yang yang telah dimekarkan dari Kabupaten Sorong melalui Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002, tepatnya pada 6 Agustus 2003.Kabupaten ini memiliki 14 distrik dan 110 kampung yang tersebar dari daerah pesisir pantai hingga ke pegunungan. 14 distrik itu adalah distrik Ayamaru, Sawiat, Ayamaru utara, Aifat, Aifat Timur, Mare,Aitinyo, Moswaren, Wayer, Teminabuan (ibu kota kabupaten), Seremuk, Inanwatan, Kais, dan Kokoda. Ke depan akan dilakukan pemekaran beberapa distrik lagi di antaranya distrik Aifat akan dimekarkan menjadi 2 distrik yaitu distrik Aifat dan Aifat Utara, dan juga beberapa distrik lainnya seperti Ayamaru dan Aifat timur. dari ke-14 distrik tersebut, distrik dengan luas wilayah terluas adalah distrik Aifat.

Salah satu distrik yang sempat kami kunjungi adalah distrik Mare. sebelah utara dan timur distrik ini berbatasan dengan distrik Aifat, barat dan selatan berbatasan dengan distrik Ayamaru dan Ayamaru utara. Aksesibilitas untuk mencapai ibu kota distrik cukup jauh (±10 Km) dan hanya dapat dilalui dengan kendaraan bermotor (ojek). Saat kami meninjau ke lapangan kami harus berhenti sampai di batas jalan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki. 2 kampung yang menjadi target kunjungan kami adalah kampung Seni dan Sire. Dari batas jalan sampai ke kampung Seni kami harus menempuh jalan selama 6 jam, dan selain jarak yang kami tempuh cukup jauh dengan kondisi jalan setapak kami terpaksa harus berurusan dengan lintah. lintah ini cukup banyak mencuri darah kami terutama pada bagian kaki.

Setelah tiba di kampung Seni kami langsung menikmati kali yang berada di pinggiran kampung tersebut. luar biasa keindahan kali itu, dengan kesejukan yang langsung membuat kelelahan kami sirna seketika. Kami ditemani dengan sekelompok anak-anak kecil, dengan sukaria kami mandi bersama-sama di kali itu, masyarakat setempat memberi nama "kali ombak" karena di samping arus dari kali itu terdapat juga gelombang air mirip ombak seperti layaknya di pinggiran pantai.

Setelah menikmati kali ombak, kami langsung kembali ke rumah salah seorang warga yang menjadi tempat inap kami untuk semalam. Warga tersebut adalah seorang guru sekolah dasar dengan marga Nauw. Sesaat setelah tiba di tempat inap kami langsung disuguhi teh hangat dan sekaligus menunggu hingga disiapkan makan malam bagi kami.

Sambil menunggu kami sempat bertukar pikiran dan tanya jawab seputar informasi kampung yang kami kunjungi itu. Secara umum kondisi kampung sangat ideal untuk dikembangkan berbagai komoditas pertanian baik itu komoditas perkebunan maupun tanaman pangan. Dan selain itu juga dengan ketersediaan air yang bersumber dari kali-kali di sekitar kampung sangat memungkinkan untuk dikembangkan budidaya perikanan air tawar.

Menanggapi masalah pembangunan, masyarakat tampak antusias dengan pembangunan dengan satu harapan awal bahwa kampung mereka dapat dijangkau dengan transportasi darat sehingga memudahkan aksesibliltas barang ataupun manusia. Beberapa program pembangunan sementara telah dilaksanakan di antaranya adalah program BANDES, bantuan kompensasi BBM, dan pembangunan rumah sejahtera dari pemerintah provinsi Papua. namun dari semuanya itu terasa masih kurang jika pembangunan jalan belum sampai di kampung ini tegas pak Guru Nauw yang kami kunjungi tersebut. Itulah sepintas tentang informasi kampung yang kami dapati, namun untuk kelengkapan dan keakuratan data, kami langsung mencari beberapa responden tambahan yaitu warga kampung dan aparat kampung.

setelah semalam kami menginap akhirnya kami harus melanjutkan perjalanan kami lagi. Terasa berat melangkahkan kaki kami untuk kembali, hal pertama yang membuat kami terasa berat adalah keindahan kampung ini dengan kali atau sungai-sungai kecilnya dan hal yang kedua adalah medan dengan jarak tempuh yang harus kami lalui serta menghadapi serangan lintah yang siap menyerang kedua kaki kami untuk menghisap darah. Akan tetapi kami sempat diberi tip oleh warga setempat untuk menggosok tembakau pada kaki agar terhindar dari lintah dan selain itu juga kami sedikit merasa lega karena cuaca cukup panas sehingga tingkat serangan lintah juga berkurang.

itulah sepintas tentang kampung Seni di distrik Mare, indah, dan memiliki banyak misteri alam penting yang perlu diungkap. Dan lebih dari itu sentuhan pembangunan untuk kampung ini sangat diharapkan oleh warga terutama program dana otsus yang siap dicanangkan gubernur baru provinsi Papua Bapak Barnabas Suebu.