Malalayang, Manado

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Malalayang
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Sulawesi Utara
Kota Manado
Pemerintahan
 • Camat Drs. Joppij Gontung
Luas 3024,75 km²
Jumlah penduduk 57.836 jiwa
Kepadatan - jiwa/km²
Desa/kelurahan -/9

Malalayang adalah sebuah kecamatan di Kota Manado, Sulawesi Utara, Indonesia.

Berdirinya negeri Minanga, sekarang Malalayang[sunting | sunting sumber]

Malalayang, sebelumnya dikenal dengan nama Minanga, didirikan oleh anak suku Bantik yang tinggal di “Gunung Bantik", (dekat Pineleng/Warembungan sekarang), pada masa kepemimpinan “Gudangne” Kasiaha. Daerah tersebut masih berupa hutan dan belum berpenghuni. Di sepanjang pantai negeri Minanga, mereka menanam semacam pohon kayu yang warna daunnya muda, disebut “Kayu Bulrang”, atau lazim disebut orang sekarang ini “Kayu Bulan”. Pohon kayu ini kelihatannya sangat mencolok bila dipandang dari kejauhan, sebab warna daunnya yang kuning muda itu sangat kontras dengan warna pohon-pohon kayu lain yang tumbuh disepanjang pantai Minanga.

Kemudian pada masa “Gudangne” Rombang, sebagian anak-suku Bantik di Gunung Bantik, pergi mendirikan negeri “Pogidon”, sekarang Kota Manado. letaknya sebelah selatan muara sungai Tondano, dimana daerah tersebut sama dengan Minanga, awalnya masih berupa hutan dan belum berpenghuni. Adapun pusat perkampungannya didirikan tepatnya di Makorem 131 Santiago (bersebelahan dengan Kantor Pos Manado sekarang) dan sekitarnya, dan ditandai dengan penanam 7(tujuh) pohon “Kayu Dondo”. Dihalaman samping kiri Makorem 131 tersebut terdapat sebuah selokan (stream) bernama “kali Pogidon” yang sampai sekarang eksis mengalir kearah Reklamasi Megamall Teluk Manado di antara gedung Kentucky Fried Chicken dan kantor Asuransi PT Jasindo Manado). Di sekeliling negeri Pogidon banyak ditumbuhi semacam pohon kayu yang daunnya lebar-lebar yang disebut “Kayu Benang” (Wenang). Kulit batangnya biasa dipakai oleh orang Bantik untuk mencelup pukat penangkap ikan, supaya kuat dan bertahan lama. Oleh karena itu negeri Pogidon itu disebut juga “Benang” (Wenang).

Antara negeri Minanga/Malalayang dan Pogidon (Wenang/Manado) pada zaman itu tidak ada berpenghuni, hanya hutan belaka dan tempat-tempat perkebunan orang Bantik. Adapun pohon kayu bulrang yang ditanam oleh mereka yang tinggal di Minanga, adalah sebagai tanda kepada keluarga dan sahabat yang tinggal di Pogidon, supaya bilamana mereka di Pogidon itu memandang kesana, akan tampak pemandangan indah di tepi pantai, disitulah letaknya negeri Minanga. Biarpun mereka tinggal menetap di dua lokasi yang cukup berjauhan pada waktu itu, tetapi dengan memandang pohon-pohon “kayu bulrang” tersebut, mereka merasa seolah-olah seperti berdekatan saja. Oleh karena itu pula, kadang-kadang orang Bantik di “Minanga” disebut juga “Orang Bantik Kayu Bulrang” oleh orang Bantik yang tinggal di tempat lain.

Selanjutnya Gudangne Rombang berkedudukan di Pogidon, menjadi Pemimpin semua orang Bantik yang menetap di Gunung Bantik, Bukidi, Kaho, Minanga dan Pogidon tentunya, kecuali orang Bantik yang di Somoit, Bolaang Mongondow dan di Tanamon Minahasa Selatan, mereka itu berdiri sendiri jauh terpisah dari orang-orang Bantik lainnya.