Makhluk gaib

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Makhluk ghaib)
Langsung ke: navigasi, cari

Makhluk ghaib, yang disebut juga Makhluk halus, Makhluk yang tak kasat mata, atau Makhluk astral adalah istilah yang digunakan untuk menyebut makhluk hidup yang eksistensinya tidak dapat dijangkau oleh panca indera Manusia. Kata makhluk berasal dari kata bahasa Arab yang berarti "yang diciptakan" dan "Ghaib" yang artinya "tidak tampak". Sehingga ghaib disini maksudnya adalah apabila dilihat dari sudut pandang (indera) Manusia terhadap makhluk-makhluk tersebut.[1]

Menurut pandangan Agama[sunting | sunting sumber]

Agama Islam[sunting | sunting sumber]

Di dalam akidah Islam istilah ghaib mencakup banyak hal seperti kematian, rejeki, jodoh, ruh manusia, hari kiamat, Surga, dll. Beriman kepada yang ghaib adalah salah satu ciri muslim yang bertakwa.[2] Termasuk kedalam hal ghaib adalah makhluk (ciptaan) yang tidak dapat dijangkau indera manusia seperti dari bangsa Malaikat dan Jin.[3]

Di dalam keyakinan Islam dinyatakan keberadaan makhluk-makhluk ghaib tersebut, bahkan sebelum manusia pertama diciptakan, makhluk dari kalangan jin telah terlebih dahulu menghuni bumi. Akan tetapi dikarenakan perbuatannya yang merusak, sebagian besar dari golongan Jin tersebut dihancurkan oleh para Malaikat bersama Iblis (yang sebenarnya juga dari golongan Jin[4]). Kemudian Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di bumi, yang dikemudian waktu Manusia dan Jin hidup berdampingan di bumi bersama hewan, tumbuhan, dan benda.

Karakteristik Makhluk ghaib[sunting | sunting sumber]

Karateristik Makhluk ghaib dan perbandingannya dengan Manusia, diantaranya:

  • Malaikat diciptakan sebelum Jin, dan Jin diciptakan sebelum Manusia.[5]
  • Malaikat diciptakan dari cahaya, Jin dari Api, dan Manusia dari tanah, ketiganya memiliki jasad (jasmani).[6]
  • Malaikat, Jin, dan Manusia sama-sama berakal, memiliki tingkatan, kedudukan, ilmu dan amalan yang berbeda-beda dan bertingkat-tingkat.
  • Malaikat tidak memiki syahwat, tidak berjenis kelamin, tidak makan, sedangkan Jin dan Manusia sama-sama memiliki syahwat, berjenis kelamin, makan dan minum, berkeluarga, bereproduksi, bekerja dan istirahat, dll.[7]
  • Malaikat memiliki kekuatan fisik dan kecepatan yang jauh lebih kuat dari pada Jin, sedangkan Jin lebih kuat daripada manusia. Jin mampu terbang hanya sebatas langit dunia sementara Malaikat sampai ke Surga. Mampu mengerjakan sesuatu yang dianggap besar oleh manusia dalam waktu singkat, kurang dari semalam atau sekejap mata misalnya membangun bangunan atau pola raksasa di ladang).[8]
  • Para Malaikat lebih utama dari para jin baik dari sisi penciptaan, bentuk, perbuatan maupun keadaan.
  • Populasi Malaikat memiliki jumlah yang sangat banyak melebihi jumlah Jin, Manusia dan Hewan.
  • Malaikat diciptakan dengan tabiat selalu taat dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah dan disifati dengan sifat-sifat yang terpuji.[9] Sedangkan Jin dan Manusia diberikan pilihan dan kehendak (free will) untuk taat atau ingkar. Jin sebagaimana Manusia diperintakan untuk menjalankan syariat Agama mengikuti nabi yang diutus,[10] sehingga didapati ada Jin yang muslim, kafir juga atheis, ada yang baik dan ada yang jahat.[11]
  • Komunitas Jin serupa dengan Manusia, memiliki bahasa dan negara masing-masing, memiliki Raja dan bawahan, memiliki teknologi dan bangunan-bangunan.
  • Para Malaikat tinggal di langit, sementara Jin dan Manusia di bumi[12].
  • Jin seperti Manusia merasakan sakit, takut, kuat, lemah, lahir dan mati. Malaikat, Jin dan Manusia akan mengalami kematian, Malaikat peniup Sangkakala adalah yang paling akhir mati dihari kiamat, dan juga yang pertama kali dibangkitkan dari kematiannya untuk meniup kembali sangsakala pada tiupan kebangkitan bagi makhluk yang lain. Bagi Jin dan Manusia akan dihitung (hisab) amal perbuatannya dikala hidup di dunia, yang beriman masuk syurga yang ingkar ke neraka.[13]
  • Malaikat, Jin dan Manusia tidak mengetahui perkara ghaib, seperti ajalnya, masa depan, hari kiamat, dll.[14][15]
  • Para Nabi dan Rasul seluruhnya dari bangsa Manusia, bukan dari kalangan Jin dan Malaikat.[16]

Interaksi Makhluk ghaib dengan Manusia[sunting | sunting sumber]

  • Para Malaikat bertugas mengurusi urusan Manusia, Jin, Hewan dan apa saja yang diperintahkan padanya.
  • Setiap Manusia memiliki Qarin, yaitu pendamping dari kalangan Jin dan Malaikat.[17]
  • Malaikat mampu melihat Jin disetiap waktu, sedangkan Jin tidak dapat melihat mereka kecuali setelah Malaikat tersebut berubah menjadi bentuk lain (shapesifhting) yang dapat dijangkau oleh indera Jin.[18] Sedangkan Manusia tidak dapat melihat Malaikat dan Jin dalam bentuk asli mereka[19] kecuali mereka berubah menjadi bentuk yang dapat dijangkau Indera manusia,[20] seperti berubah menjadi Hewan, suara, cahaya, api, Hantu, Benda terbang tak dikenal, bahkan meniru rupa manusia (doppleganger) yang sudah meninggal maupun yang masih hidup, dalam alam nyata maupun alam mimpi.[21] Keledai dan Anjing mampu melihat bentuk asli Jin di malam hari.[22]
  • Jin mampu menzalimi, mencuri harta, membalas dendam, menculik, dan membunuh manusia,[23] sebagaimana manusia juga bisa menyakiti dan membunuh Jin. Jin menjadi lebih lemah ketika menampakkan diri sehingga manusia dapat melihatnya, yang berarti juga dapat memukulnya, bahkan membunuhnya.

Kesalahan pemahaman[sunting | sunting sumber]

Di dalam aqidah Islam tidak dikenal adanya Roh gentayangan, Arwah penasaran[24] maupun indera keenam. Diyakini bahwa setelah perginya para pelayat, mayit didalam kuburnya akan ditanyai Tiga pertanyaan Kubur oleh malaikat, manusia yang jahat mengalami siksa kubur, sedangkan yang baik mengalami nikmat kubur. Roh orang yang telah meninggal tetap berada didalam kuburnya menanti datangnya hari kebangkitan. Hal ini kadangkala dimanfaatkan oleh Jin untuk meniru wujud si mayit untuk mengambil keuntungan ataupun sekedar mempermainkan manusia. Begitu pula tentang Indera keenam, bahwasanya Jin tidak dapat dilihat manusia kecuali Jin tersebut sendiri yang menampakkan dirinya. Hanya saja Jin melihat dan memilih orang-orang tertentu untuk dia tampaki, kadang secara reguler. Tujuannya supaya manusia mengira dan meyakini bahwa dia mampu melihat hal ghaib dan mulai menyatakan kepada khalayak bahwa dia mampu mengetahui hal ghaib. Pada akhirnya Jin akan berkomunikasi dengan manusia tersebut dan menipunya, mengaku sebagai arwah orang yang telah mati, atau menawarkan manusia tersebut mencari harta, atau bahkan mengajak kepada perdukunan dan kesyirikan (seperti berkurban binatang untuk selain Allah sebagai syarat terpenuhi hajatnya), dll.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

  • Ruqyah, eksorsisme dalam Islam.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Karena Jin tidak dapat melihat Malaikat, sehingga Malaikat adalah makhluk ghaib bagi bangsa Jin.
  2. ^ "Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib..." QS. Al-Baqarah: 2.
  3. ^ Seluruh Jin dan derivasinya dengan berbagai nama dan jenis yang disematkan kepada mereka diseluruh dunia, misalnya: Hantu, Alien, Makhluk legenda, Monster, Peri, Kurcaci, atau Penunggu hutan. Iblis termasuk ke dalam golongan Jin, sedangkan Setan (syaithan) adalah kata sifat yang mencakup golongan Jin dan manusia yang durhaka, lihat QS. Al-An'am: 112.
  4. ^ "...maka sujudlah mereka kecuali Iblis, Dia adalah dari golongan Jin." (QS. Al-Kahfi: 50)
  5. ^ "Dan Kami telah menciptakan Jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (QS. Al-Hijr: 26-27)
  6. ^ "Para malaikat diciptakan dari cahaya, Jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan kepada kalian." (HR. Muslim no.2996 di dalam kitab Az-Zuhd dan Ahmad di dalam Al-Musnad dari Aisyah Ra., juga Al-Qur'an surah Al-A'raf: 12 dan Ar-Rahman: 15.
  7. ^ lihat Al-Maidah: 90.
  8. ^ Disebutkan dalam Al-Qur'an tentang Jin yang mampu membawa singgasana ratu Saba di Yaman kepada Kerajaan Nabi Sulaiman di Syam (kini Suriah, Palestina, Yordan dan Libanon) dalam sekejap: “Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ....” (QS. An Naml: 39-40). Juga pada ayat “...Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku).” (QS. Saba’: 13). Juga ayat "Dan kami tundukkan pula untuknya (Sulaiman) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam. Demikian pula setan lain yang terikat dalam belengu." (QS. Shaad:37-38).
  9. ^ lihat QS. At-Tahrim: 6; dan Al-Anbiya: 27
  10. ^ lihat QS. Adz-Dzariyat: 56.
  11. ^ lihat QS. Al-Jin: 11 & 14.
  12. ^ Pada malam itu para malaikat dan malaikat jibril turun dengan ijin Rabb mereka,..." (QS. Al-Qadr: 4).
  13. ^ "Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): "Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia",... Allah berfirman: "Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'am: 128).
  14. ^ "...mereka (Malaikat) menjawab: "Maha suci engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami..." (QS. Al-Baqarah: 32) juga lihat hadits Jibril
  15. ^ "...Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan. (QS. Saba: 14) dan "Dan hanya di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri,..." (QS. Al-An'am: 59) juga Al-Qur'an surah Hud:31, Al-A'raf:188, Luqman: 34, Al-Jin: 26-27, Ali-Imran: 179
  16. ^ Ibnu Katsir berkata: "Tidak ada rasul dari kalangan jin seperti yang telah dinyatakan Mujahid dan Ibnu Juraij serta yang lainnya dari para ulama salaf dan khalaf (Tafsir Al-Qur'anul Azhim 2/188).
  17. ^ Disebutkan dalam surah: "Yang menyertai dia (qarin) berkata pula: 'Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkan tetapi dialah (manusia) yang berada dalam kesesatan yang jauh..." (QS Qaaf: 27). Juga dalam hadits dari Aisyah ra mengatakan: "Rasulullah S.A.W keluar dari rumah pada malam hari, aku cemburu karenanya. Tak lama ia kembali dan menyaksikan tingkahku, lalu ia berkata: "Apakah kamu telah didatangi syetanmu?" "Apakah syetan bersamaku?" Jawabku, "Ya, bahkan setiap manusia." Kata Nabi Muhammad S.A.W. "Termasuk engkau juga?" Tanyaku lagi. "Betul, tetapi Allah menolongku hingga aku selamat dari godaannya." Jawab Nabi (HR Ahmad).
  18. ^ Malaikat merupakan hal ghaib bagi jin sehingga Jin diperintahkan untuk beriman kepada malaikat.
  19. ^ "Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (QS. Al-A'raf: 27).
  20. ^ Seperti Malaikat yang berubah wujud menjadi sosok manusia yang bertamu kepada Nabi Ibrahim, Nabi Luth, dan Maryam, juga saat datangnya Nabi Jibril pada hadits Jibril.
  21. ^ Rasulullah S.A.W berkata: "Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak dapat menjelma menyerupaiku." (Shahih Muslim No.4206 dari Abu Hurairah).
  22. ^ Rasulullah S.A.W bekata: "Apabila kalian mendengar gonggongan anjing dan ringkikan keledai pada malam hari, maka mintalah perlindungan (ta’awwudz) kepada Allah, karena mereka melihat sesuatu yang tidak kalian lihat.” (HR. Ahmad 3/306 dan 355; Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 1234; Abu Dawud 2/748, no. 5103; Ibnu Hibban no. 5517 dan 5518; ath-Thabrani dalam ad-Du’a` no. 2008; al-Hakim 4/283; al-Baghawi no. 3060 dari Jabir Ra.).
  23. ^ Misalnya dengan santet (memasukan benda berbahaya kedalam tubuh manusia), merasuki (kesurupan), sihir atau membakar rumah; Rasulullah S.A.W berkata: “Apabila kalian tidur, matikanlah (api) lampunya, karena syaithan seringkali berwujud seekor tikus.” (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih dari Ibnu Abbas).
  24. ^ Kadang disebut Roh dengan urusan yang belum selesai, Arwah balas dendam atau Orang yang mati sebelum waktunya. Bahkan dalam keyakinan Islam orang yang mati bunuh diripun adalah orang yang mati pada waktunya, tidak ada orang yang mati diluar rencana Tuhan (takdir kauniyah) dengan mendahului ajalnya atau sebaliknya menghindari maut, meskipun pelaku telah berdosa karena melanggar larangan Allah untuk membunuh dirinya sendiri.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Daftar pustaka
  • Hukum Berinteraksi Dengan Jin; Muhammad bin Abdillah Al-Imam, (2010); Pustaka AtsTsabat Balikpapan. ISBN:978-602-96833-0-1
  • Alamul Jin wasy Syaithon; Prof. Dr. Umar bin Sulaiman bin Abdullah Al-Asyqar, (2002); Darun Nafais.
Pranala luar