Münchhausen Trilemma

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Baron Münchhausen menarik dirinya sendiri keluar dari lumpur dengan rambutnya sendiri (ilustrasi oleh Oskar Herrfurth)

Munchhausen trilemma (dari Baron Münchhausen, yang kata orang menarik dirinya sendiri (dan kuda yang didudukinya) keluar dari rawa dengan rambutnya sendiri), disebut juga Agrippa trilemma (dari Agrippa the Skeptic), adalah istilah filosofi diciptakan untuk menekankan diakuinya kemustahilan untuk membuktikan setiap kebenaran bahkan di bidang logika dan matematika. Ia merupakan nama dari suatu argumen dalam teori pengetahuan berasal dari filsuf Jerman Hans Albert, dan secara lebih tradisional, atas nama dari Agrippa.[rujukan?]

Trilemma[sunting | sunting sumber]

Bila kita bertanya pada setiap pengetahuan: "Bagaimana saya tahu bahwa itu adalah benar?", kita mungkin akan memberikan bukti; namun pertanyaan yang sama dapat diajukan terhadap bukti, dan setiap bukti berikutnya. Munchhausen trilemma adalah bahwa kita hanya mempunyai tiga pilihan saat memberikan bukti dalam situasi ini:

satu sama lain (yaitu kita mengulang-ulang diri kita sendiri pada suatu saat)

  • argumen regresif, dimana setiap bukti membutuhkan bukti juga, ad infinitum (yakni kita terus menyediakan bukti, kemungkinan selamanya)
  • Argumen aksiomatik, yang berdasarkan pada suatu ajaran yang diterima (yakni pada suatu asumsi atau ketentuan dasar).

Dua metoda pertama dari pemikiran adalah lemah secara fundamental, dan karena para skeptis dari Yunani menganjurkan mempertanyakan lebih dalam untuk semua nilai yang diterima mereka menolak menerima bukti-bukti ke tiga. Trilemma ini, maka, adalah suatu pilihan di antara tiga pilihan yang sama-sama tidak memuaskan.

Dalam epistemologi kontemporer, pendukung koherentisme seharusnya menerima bagian "sirkular" dari trilemma; Para fondasionalis mengandalkan pada argumen aksiomatik. Pandangan yang menerima argumen regresif dinamakan dengan infinitisme.

Agrippa dan para skeptis Yunani[sunting | sunting sumber]

Kiasan berikut untuk para skeptis Yunani diberikan oleh Sextus Empiricus, dalam Outlines of Pyrrhonism-nya. Menurut Sextus, ia diatribusikan hanya "kepada para skeptis baru" dan oleh Diogenes Laertius kita mengatribusikan-nya kepada Agrippa. [1] Kiasan-kiasan tersebut yaitu:

  1. Berselisih - ketidakpastian aturan dari kehidupan bersama, dan pada opini dari para filsuf.
  2. Progres ad infinitum - Semua bukti membutuhkan bukti lebih lanjut, dan seterusnya sampai tak terbatas.
  3. Relasi - Semua hal berubah saat relasinya juga berubah, atau, saat kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
  4. Asumsi - Kebenaran yang telah ditetapkan hanyalah suatu hipotesis.
  5. Sirkulariti - Kebenaran yang telah ditetapkan mengikutkan suatu lingkaran kejam (lihat argumen regresi, dikenal dalam scolasticism sebagai diallelus)

[165] Berdasarkan mode yang berasal dari perselisihan, kita mendapati bahwa perselisihan yang tak selesai mengenai permasalahan yang diajukan telah ada dalam kehidupan sehari-hari dan di antara para filsuf. Karenanya kita tidak dapat memilih atau mengesampingkan apapun, dan kita berakhir dengan suspensi berpendapat. [166] Dalam mode yang berasal dari regresi tak terbatas, kita mengatakan bahwa apa yang dikemukakan sebagai suatu sumber dari keyakinan dari permasalahan yang diajukan membutuhkan sumber lainnya, yang mana ia sendiri juga membutuhkan sumber yang lainnya, dan maka ad infinitum, sehingga kita tidak memiliki titik dimana kita memulai menetapkan apapun, dan kemudian diikuti oleh suspensi berpendapat. [167] Dalam mode yang berasal dari relativitas, seperti yang kita katakan di atas, objek yang ada tampak berkaitan dengan penilaian dan terhadap sesuatu yang diobservasi bersama dengannya, tapi kita menghentikan penilaian dalam bagaimana bentuknya secara alami. [168] Kita memiliki mode dari hipotesis bila para dogmatis, membuang kembali ad infinitum, dimulai dari sesuatu yang mereka tidak tetapkan tetapi mengklaim secara sederhana dan tanpa bukti berdasarkan dalam kebijakan konsensi. [169] Mode timbal-balik terjadi saat apa yang seharusnya menjadi penegasan dari objek dibawah investigasi perlu dibuat meyakinkan oleh objek yang diinvestigasi; maka, ketidak mampuan mengambil salah satu untuk menetapkan yang lain, kita menangguhkan keputusan tentang keduanya. [2]

Dengan referensi kepada lima kiasan tersebut, pertama dan ketiga adalah ringkasan singkat dari sepuluh pemikiran asli tentang keraguan yang merupakan dasar dari skeptisisme awal. [1] Ketiga tambahan memperlihatkan suatu progres dalam sistem skeptikal, dan suatu transisi dari penolakan umum yang berasal dari kesalahan berakal dan beropini, sampai pada keraguan yang lebih abstrak dan berlandaskan metafisik.

Menurut Victor Brochard, "kelima kiasan dapat dianggap sebagai formulasi skeptisme yang paling radikal dan paling teliti yang pernah dipersembahkan. Dalam artian, mereka masih sangat menarik sampai sekarang." [3]

Formulasi Albert[sunting | sunting sumber]

Argumen ini berbentuk seperti berikut: Ketiga ("tri"-lemma) usaha untuk mendapatkan suatu kebenaran pasti haruslah gagal:

  1. Semua pembenaran dalam mengejar pengetahuan pasti juga harus memberikan alasan makna dari pembenarannya dan dengan itu mereka harus memberikan alasan lagi dari makna pembenaran mereka. Makanya tidak akan ada selesai. Kita menghadapi situasi sia-sia dari regresi tak terbatas.
  2. Seseorang dapat berpendapat dengan argumen sirkular, tapi ini mengorbankan kevaliditasnya.
  3. Seseorang dapat berhenti sampai pada pembuktian-sendiri atau akal sehat atau prinsip fundamental atau berbicara 'ex cathedra atau pada bukti lainnya, tapi dalam melakukan hal tersebut tujuan untuk menerapkan kebenaran pasti telah ditinggalkan.

Terjemahan Indonesia dari kutipan text asli bahasa Jermannya Albert adalah sebagai berikut: [4]

Disini, seseorang hanya memiliki suatu pilihan antara:

  1. Sebuah regresi tak terbatas, yang muncul karena perlunya untuk melihat lebih jauh kebelakang, tapi secara praktis tidak gampang, makanya, memberikan beberapa fondasi;
  2. Sebuah lingkaran logis dalam mereduksi, yang disebabkan oleh fakta bahwa seseorang, dalam keinginan mencari, kembali lagi pada statemen yang telah ada sebelumnya sebagai fondasi yang dibutuhkan, dan lingkaran tersebut tidak akan mengarah pada fondasi yang pasti juga; dan terakhir:
  3. Berhenti mencari pada suatu titik, yang secara prinsipal memungkinan, tetapi berarti suatu penangguhan acak dari prinsip pemikiran cukup.

Albert menekankan berulang-ulang bahwa tidak ada batasan dari kesimpulan deduktif Munchhausen-trilemma. Keputusan mencakup juga induktif, kausal, transendental, dan semua pembenaran terstruktur lain. Semuannya akan menjadi percuma.

Oleh karena itu kebenaran pasti adalah mustahil di capai. Sekali menyerah pada ide klasik dari pengetahuan tertentu seseorang dapat menghentikan proses pembenaran dimana seserang ingin berhenti, andaikan seseorang siap untuk memulai berpikir kritis lagi pada titik tersebut haruslah selalu dengan cara baru jika diperlukan.

Trilemma mencakup permasalahan klasik dari pembenaran dalam teori pengetahuan.

Kegagalan dalam membuktikan suatu kebenaran apapun sebagaimana yang diekspresikan oleh Munchhausen-trilemma tidak harus mengarah pada penolakan secara objektif, seperti pada relativism. Salah satu contohnya yaitu fallibilism dari Karl Popper dan Hans Albert, menerima bahwa kepastian itu tidak mungkin, tapi itu adalah yang terbaik yang paling bisa kita dekati menuju kebenaran, sambil tetap mengingat tentang ketidakpastian kita.

Dalam pandangan Albert ketakmungkinkan untuk membuktian setiap kebenaran pasti bukanlah secara sendirinya suatu kebenaran pasti. Akhirnya, anda perlu mengasumsikan beberapa aturan dasar dari kesimpulan logis dengan tujuan untuk mendapatkan hasilnya, dan dalam melakukan hal tersebut harus bisa meninggalkan pencarian dari pembenaran "pasti", seperti hal di atas, atau berusaha untuk membenarkan aturan tersebut, dll. Dia menyarankan bahwa sesuatu haruslah dianggap benar selama tidak ada yang muncul dengan suatu kebenaran lain yang lebih rinci sebagai suatu kebenaran pasti. Beberapa filsuf menerima tantangan Albert; respon beliau terhadap kritik tersebut dapat ditemukan dalam lampiran panjangnya pada Treatise on Critical Reason (lihat di bawah) dan artikel lainnya (lihat daftar publikasi).

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Diogenes Laërtius, ix.
  2. ^ Sextus Empiricus, Pyrrhōneioi hypotypōseis i., from Annas, J., Outlines of Scepticism Cambridge University Press. (2000).
  3. ^ Brochard, V., The Greek Skeptics.
  4. ^ Albert, H., Traktat über kritische Vernunft, p. 15 (Tübingen: J.C.B. Mohr, 1991).

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

  • Hans Albert, Treatise on Critical Reason, Princeton University Press, 1985, chap. I, sect. 2.
  • Untuk artikel ilmiah dari Hans Albert lihat List of Publications dalam Hans Albert @ opensociety.de

Pranala luar[sunting | sunting sumber]