Lukisan Buddhis Goryeo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Lukisan Buddhis Goryeo adalah jenis lukisan Korea dari zaman Dinasti Goryeo yang melukiskan tema-tema agama Buddha.[1] Rakyat Goryeo yang menganut Buddhisme mengekspresikan kepercayaan dan pandangan mereka secara mendalam ke bentuk karya seni seperti keramik hijau dan lukisan.[2] Bagi mereka lukisan Buddhis dibuat untuk memuji Buddha dan para Bodhisattva, selain sebagai sarana pembelajaran naskah Buddhisme secara visual.

Lukisan Buddhis Goryeo disejajarkan dengan Keramik Hijau Goryeo sebagai karya seni Goryeo yang utama selain karena pola dekorasinya yang mendetail. Karakteristik utamanya adalah keruwetan garis-garis batas yang berwarna emas, kontras dengan warna-warni merah, biru, dan hijau.

Warna lukisan Buddhis Goryeo lembut dan terang adalah dikarenakan bagian belakang lukisan juga diberi warna. Di bagian depan, hanya garis tepi dan tipis yang menggambarkan detail yang dilukis, sementara sebagian besar warna dilukis di bagian belakang. Semenjak 700 tahun berlalu, warna-warna ini tidak pudar.

Tang Hou, seniman Yuan, Cina, memuji lukisan Buddhis Goryeo sebagai karya seni lembut dan terperinci, sementara di Jepang lebih dianggap sebagai harta karun. Saat ini, berbagai museum terkenal di barat seperti Museum Guimet di Paris, Museum Berlin, Museum Seni Metropolitan mempunyai koleksi lukisan Buddhis Goryeo.

Di Jepang[sunting | sunting sumber]

Sebuah lukisan Buddhis Goryeo yang terkenal disimpan di Museum Kota Kobe, terdiri dari 8000 Buddha yang dilukis di kanvas berukuran tinggi 1,96 m dan lebar 1,33 m. Di tengah-tengah kanvas terdapat bagian persegi yang berisi Buddha dan para pengikutnya, dan sisanya adalah Buddha kecil-kecil dengan jumlah yang sangat banyak.

Sampai saat ini terdapat sebanyak 160 buah lukisan Buddhis Goryeo yang berhasil diidentifikasi, 10 tersisa di Korea, 20 di Amerika Utara dan Eropa serta 130 buah di Jepang.[2] Dari jumlah itu, beberapa dijual atau dikirim sebagai hadiah, namun sebagian besar dirampas para bajak laut Jepang menjelang akhir Dinasti Goryeo serta dalam peristiwa Perang Imjin (1592-1598) pada masa Dinasti Joseon. Sebagai hasil, lukisan Buddhis Goryeo lebih dihargai di Jepang.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Inggris)KOREAN PAINTING – Prehistory to the late 19th Century, asia-art.net. Diakses pada 7 Mei 2011.
  2. ^ a b Fifty Wonders of Korea, Volume 1 - Culture and Art (ed. 1). Korean Spirit & Culture Promotion Project. 2007. hlm. 77–79.