Laweyan, Surakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Lawiyan, Surakarta)
Langsung ke: navigasi, cari
Laweyan
Kecamatan
Lokasi-Surakarta-Lawiyan.png

Peta lokasi Kecamatan Laweyan
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kota Surakarta
Pemerintahan
 • Camat -
Luas 8,64 km²
Jumlah penduduk 86.315 (2010)
Kepadatan 10.002 per km²
Desa/kelurahan 11

Lawiyan atau Laweyan adalah kecamatan yang terletak di barat kota Surakarta. Kecamatan ini terkenal karena penduduknya banyak yang menjadi produsen dan pedagang batik, sejak dulu sampai sekarang. Di sinilah tempat berdirinya Sarekat Dagang Islam, asosiasi dagang pertama yang didirikan oleh para produsen dan pedagang batik pribumi, pada 1912.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Nama Laweyan dipakai untuk menyebut kelompok masyarakat tertentu, yaitu yang dikenal sebagai kelompok kaum kaya (wong Nglawiyan), yang berlebih (kaluwih-luwih) dalam segala hal,terutama dalam hal kebutuhan hidup (harta kekayaan), Hal itu disebabkan karena daerah tersebut menjadi pusat perdagangan batik dan tempat tinggal para pengusaha batik tulis Jawa.

Tentang istilah Laweyan ada dua cara menulisnya, yaitu "Lawiyan" dan "Laweyan". Tulisan dengan Lawiyan ditemukan dalam nama makam Astana Lawiyan, Sunan Nglawiyan, yang terletak di sebelah selatan daerah Lawiyan.

Selanjutnya berdasarkan kata "Laweyan", secara etimologis berasal dari kata Lawe, yaitu benang bahan kain. Dalam bahasa Sanskerta terdapat kata Laway, artinya jenazah tanpa kepala. Kalau demikian, maka kata Laweyan, Lawayan menunjukkan tempat Nglawe (menghukum orang dengan lawe). Siapakah yang mendapatkan hukuman itu ? peristiwa ini kita hubungkan dengan Putri Pangeran Puger (Paku Buwana I) ketika masih sebagai Pangeran, yang diperisteri (diambil sebagai selir) oleh Sunan Mangkurat Mas (Mangkurat III), bermain cinta dengan Raden Sukra, Putra Patih Raden Arya Sindureja. Keduanya ketahuan dan dihukum mati dengan lawe. Mayatnya dimakamkan di Astana Lawiyan. Dengan demikian nama Laweyan lebih muda dari pada Lawiyan.

Ada pula yang berpendapat bahwa nama "Lawiyan" berasal dari kata alih-alihan (perpindahan), dalam ucapan menjadi Ngalihan atau Ngaliyan yang akhirnya menjadi Lawiyan yaitu merupakan tempat perpindahan orang-orang dari Desa Nusupan (pelabuhan zaman Pajang-Kartasura di Bengawan Sala). Mereka pindah untuk menghindari bahaya banjir dari Bengawan Sala (dahulu namanya Bengawan Semanggi atau Bengawan Nusupan) Desa Nusupan (sekarang termasuk Kelurahan Semanggi) pada zaman Pajang dan Kartasura menjadi pelabuhan yang penting. Tetapi karena seringnya banjir, berpindah ke Lawiyan. Maka sampai saat ini wong Nglawiyan bagi masyarakat Sala termasuk kelompok orang kaya. Perkembangan selanjutnya dari Lawiyan ini pulalah muncul perkumpulan para pengusaha batik yang pertama yaitu Sarekat Dagang Islam dengan dipelopori oleh Kyai Haji Samanhudi (1911).

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Riwayat Kampung Laweyan tidak dapat dilepaskan dari tokoh Ki Ageng Enis. Ki Ageng Enis adalah putra Ki Ageng Sela. Ki Ageng Enis berputra Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Pemanahan berputra Sutawijaya atau Mas Ngabehi Loring Pasar atau Senapati pendiri kerajaan Mataram Islam

Dalam sejarah Pajang[1], Pemanahan dan Sutawijaya bersama-sama dengan Ki Juru Martani dan Ki Panjawi, sangat berjasa kepada Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir atau Mas Karebet) sebab dapat membunuh Arya Panangsang, musuhnya dari Jipang. Selanjutnya atas jasa tersebut, Sultan Hadiwijaya memberi anugerah tanah Pati kepada Ki Panjawi, dan tanah Mataram kepeda Ki Ageng Pamanahan. Sedang kepada Ki Ageng Enis dianugerahi tanah perdikan di Laweyan.[2] Karena ketaatan para kawulanya, Ki Ageng Enis mendapatkan sebutan Ki Ageng Luwih, makamnya di Astana Lawiyan. Istilah Lawiyan berasal dari kata Luwih (sakti) dari Ki Ageng Enis tersebut.

Istilah Lawiyan juga kita temukan pada peristiwa pembunuhan Raden Pabelan (Jaka Pabelan atau dalam cerita Ki Gede Sala disebut Kyai Batang). Dia dibunuh karena bermain asmara dengan putri bungsu Sultan, yaitu Raden Ayu Sekar Kedaton.[3]. Mayat Jaka Pabelan dibuang di Sungai Lawiyan (Sungai Jenes).

Selanjutnya nama Lawiyan disebut pula dalam peristiwa pelarian Sunan Paku Buwana II ke Panaraga dalam masa Geger Pacinan (Pemberontakan Tionghoa)[4]. Daerah ini dipergunakan sebagai tempat peristirahatan dan persembunyiannya. Sunan mohon berkah di Astana Lawiyan (Makam Ki Ageng Enis). Maka Sunan Paku Buwana II juga disebut Sunan Nglawiyan dan ketika mangkat juga dimakamkan di Astana Nglawiyan.

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kelurahan Laweyan terdiri dari beberapa kampung, yaitu kampung Lor Pasar (tempat Sutawijaya tinggal dengan nama Mas Ngabehi Loring Pasar), kampung Kidul Pasar (sekarang batasnya sudah tidak jelas), kampong setono (Sentono) tempat tinggal abdi sentana Mas Ngabehi Kartahastono: kampung Sayangan Wetan dan Sayangan Kilen (tempat abdi dalem saying bertempat tinggal), yang tugas sehari-harinya sebagai abdi dalem pembuat barang-barang dari tembaga untuk keperluan kraton (Pajang), kampung Kwanggan, kampung Kramat (karena Astanma Nglawiyan dianggapnya sebagai tempat yang keramat), dan kampung Klaseman yaitu tempat memproses pembuatan kain batik agar warna batik nantinya tidak mencolok tetapi kelihatan lembut.

Berikut ini adalah daftar kecamatan di Laweyan:

Referensi dan pranala luar[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (Atmodarminto, 1957:125; Dirjosubroto, 1916:87)
  2. ^ (Althoff, 1941 : 46) dalam Babad Tanah Jawi karya Althoff tersebut menyebutkan demikian: “Saking karsanipun Sultan Pajang, Ki Ageng Ngenis kaaturan gegriya ing Lawiyan, inggih ndherek. Nalika sedanipun inggih kakubur iang Lawiyan ngriku”
  3. ^ (Ibid : 86)
  4. ^ (Kuntharatama, 1958:7)