Kosakata dari bahasa asing dalam bahasa Jepang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Kosakata dari bahasa asing dalam bahasa Jepang atau gairaigo (外来語?, kata dari bahasa asing) adalah kata serapan dari bahasa asing dalam bahasa Jepang, terutama dari bahasa-bahasa Eropa Barat dan tidak termasuk kosakata dari bahasa Tionghoa. Kata serapan tersebut sudah lazim dipakai dalam kehidupan sehari-hari seperti halnya kosakata asli bahasa Jepang.

Dalam bahasa Jepang, kata-kata dari bahasa asing mudah dikenali karena ditulis dalam aksara katakana. Oleh karena itu, gairaigo juga disebut katakana-go (kata katakana). Di antara kata-kata dari bahasa asing misalnya: miruku (ミルク?, susu) dan nōto (ノート?, buku catatan) dari bahasa Inggris: milk dan note. Kata-kata dari bahasa asing sering sudah berbeda makna dari bahasa asalnya, misalnya: arubaito (アルバイト?, kerja paruh waktu) dari bahasa Jerman: Arbeit (bekerja), abekku (アベック?, pasangan muda dan belum menikah) dari bahasa Perancis: avec (dengan).

Setelah Restorasi Meiji, sebagian besar kata-kata bahasa asing berasal dari bahasa Inggris. Namun pengucapan dan arti sudah berbeda dari bahasa aslinya, sehingga kemungkinan besar kata-kata asing tersebut sudah tidak dimengerti lagi oleh penutur bahasa aslinya.

Dalam menyerap kata-kata dari bahasa Inggris, orang Jepang tidak membedakan bentuk tunggal dan bentuk jamak, dan tidak semua konsonan dalam bahasa asing memiliki padanan dalam katakana. Konsonan r dan l tidak dibedakan dalam menyerap kata-kata dari bahasa Inggris. Sangurasu adalah kata serapan untuk sunglass dan sunglasses (kacamata hitam). Konsonan v digantikan dengan b, misalnya: baiorin (violin, biola). Sufiks, -ed dan -ing diabaikan, sehingga frying pan (wajan) menjadi furai pan, condensed milk (susu kental manis) menjadi kondensu miruku.

Pembentukan kata[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar dari gairaigo dibentuk dari penyingkatan kata, perubahan arti, penambahan sufiks bahasa Jepang, dan dua kata serapan atau satu kata serapan dengan satu kata bahasa Jepang.[1]

  1. Penyingkatan kata-kata dari bahasa asing
  2. Perubahan arti:
    • atto hōme (at home, suasana santai seperti di rumah)
    • kanningu (menyontek, berasal dari kata cunning)
    • konpa atau kompa (company, kumpul-kumpul antarmahasiswa untuk makan minum dan saling mengenal).
    • manshon (mansion, kondominium, bukan lagi berarti rumah besar)
    • rifōmu (reform, renovasi)
    • reji (register, kasir, dari kata cash register, mesin kasir)
    • risutora (restructuring, pemutusan hubungan kerja)
    • sutōbu (stove, penghangat ruangan, bukan kompor)
  3. Penambahan sufiks bahasa Jepang pada morfem bahasa asing:
    • hamoru (harmony, + ru, menyelaraskan nyanyian).
    • saboru (sabotage, +ru pembentuk kata kerja, membolos)
  4. Penggabungan dua kata serapan atau satu kata serapan dengan satu kata bahasa Jepang (wasei-eigo):
    • baby car (bebiikā): kereta bayi (baby carrier)
    • engine stop (ensuto): mogok (kendaraan)
    • morning service (mōningusābisu): sarapan berupa kopi dan roti bakar di kedai kopi
    • office lady (ofisu redii) atau OL (ōeru): klerk wanita.
    • one man (wan man) atau one man car (wan man kā): kereta api atau bus dengan seorang sopir tanpa kondektur
    • skinship (sukinshippu): kebersamaan, kontak fisik secara personal

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sebelum Restorasi Meiji 1868, sebagian besar kata-kata bahasa asing berasal dari bahasa Belanda dan bahasa Portugis. Dari bahasa Portugis, orang Jepang meminjam kata pan (pão, roti), tabako (tabaco, rokok), tempura (tempero). Dari bahasa Belanda, orang Jepang meminjam kata buriki (blik, blek atau kaleng dari seng), biiru (bier, bir), garasu (glas, kaca), penki (pek, cat).

Dari Jerman, orang Jepang belajar tentang militer, kedokteran, hukum, dan olahraga luar ruang. Kata serapan dari bahasa Jerman misalnya: tēma (Thema, tema), karute (Karte, catatan medis), yōdo (Jod, yodium), dan ryukkusakku (Rucksack, ransel). Dari Perancis, orang Jepang belajar tentang seni dan busana. Kata serapan dari bahasa Perancis misalnya: atorie (atelier, studio seni), pantaron (pantalon), dan manto (manteau, mantel). Dari Italia, orang Jepang belajar tentang musik, sehingga dikenal kata-kata seperti piano (piano) dan sopurano (sopran).

Dalam kamus Jepang Genkai terbitan tahun 1859, kosakata dari bahasa asing hanya sekitar 1,4% dari jumlah keseluruhan entri.[2] Persentase kosakata dari bahasa asing meningkat menjadi 3,5% dalam Reikai Kokugojiten terbitan 1956. Dalam kamus Jepang Shin Meikai Kokugojiten terbitan 1972, kosakata dari bahasa asing sudah mencapai 7,8 persen.[2]

Institut Nasional Bahasa Jepang mengadakan penelitian terhadap kosakata yang dipakai dalam majalah-majalah Jepang terbitan 1956. Hasil penelitian menunjukkan 9,8% dari kosakata yang dipakai dalam majalah Jepang adalah kosakata dari bahasa asing.[3] Hasil penelitian serupa oleh institut yang sama pada 1994 menunjukkan pemakaian kosakata asal bahasa asing sudah berlipat ganda menjadi 33,8%.[4]

Kata-kata bahasa Jepang yang berasal dari bahasa asing, beberapa di antaranya telah dipungut kembali ke dalam bahasa asalnya, terutama istilah dalam dunia hiburan Jepang. Anime yang berasal dari bahasa Inggris animation telah diserap ke dalam bahasa Inggris sebagai istilah untuk animasi Jepang. Begitu pula halnya dengan cosplay (bahasa Inggris: costume play) dan puroresu (professional wrestling, gulat profesional).

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Sato, Esther M.T.; Masako Sakihara (1990). Japanese Now: Teacher's Manual. University of Hawaii Press. hlm. 30. ISBN 0-8248-1248-4. 
  2. ^ a b Shibatani, Masayoshi (1990). The Languages of Japan. Cambridge University Press. hlm. 153. ISBN 0-5213-6918-5. 
  3. ^ Gendai Zasshi Kyūjusshu no Yōgo Yōji (現代雑誌九十種の用語用字). 国立国語研究所. 
  4. ^ "Gendai Zasshi 2.000.000-ji Gengo Chōsa Goi-hyō (現代雑誌200万字言語調査語彙表)". Diakses 2009-11-18. 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]