Konvergensi budaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Konvergensi Budaya adalah pergeseran hubungan antar publik dengan media ditandai dengan prilaku khalayak dalam mengkonsumsi informasi. Budaya mengacu pada hal-hal (cara berpikir, pola perilaku, nilai-nilai) yang umum untuk sekelompok orang dan yang membuat mereka berbeda dari kelompok lain. Konvergensi dapat merujuk pada teknologi yang sebelumnya terpisah, seperti suara ( fitur telepon ) data ( produk aplikasi, teks, grafis ) dan video sekarang yang terintegrasi untuk menciptakan efisiensi baru. Diasumsikan bahwa konvergensi budaya yaitu penggabungkan beberapa macam budaya yang berlaku dalam masyarakat menjadi satu budaya dominan yang ada di dalam masyarakat. Sehingga masyarakat atau konsumen mampu berpartisipasi dalam aliran media yaitu konsumen menjadi aktif tidak hanya sebatas pengguna media. Konsumen dapat terlibat sebagai movie maker, editor produksi broadcast dengan arus informasi yang bebas kita dapatkan dan juga software sederhana yang kita dapat lakukan itu dengan komputer.

Perkembangan Konvergensi Budaya[sunting | sunting sumber]

Pada masa awal tumbuhnya konvergensi yaitu dimulai dengan penemuan-penemuan baru seperti mesin cetak, mesin ketik hingga bertransformasi menjadi konvergensi teknologi. Semua itu dapat dipaduakan ketika penemuan terbesar yaitu telepon, televisi, radio dan komputer menjadi alat kebutuhan roda kehidupan dan dimanfaatkan untuk menjadi zaman yang lebih modern. Hingga akhirnya ketika penemuan teknologi ini dapat disatukan dalam sebuah teknologi internet yang terus berkembang tanpa batas yang terkenal dengan sebutan konvergensi media. Teknologi internet tumbuh dan menempati respon yang begitu cepat, tepatnya diera awal millennium disambut baik oleh para pengusaha dibidang industri, perdagangan, dan menjadi dominan oleh masyarakat luas. Dengan adanya konvergensi media ini, terjadi penggabungan antara berbagai macam media terkait yang secara otomatis melahirkan hubungan baru yaitu konvergensi budaya dikarenakan begitu banyaknya nilai-nilai yang berbeda dapat disampaikan lewat media.

Bentuk Konvergensi Budaya[sunting | sunting sumber]

Dalam Konvergensi Budaya, Henry Jenkins memberikan perhatiannnya kepada empat aspek konvergensi yaitu ekonomi, teknologi, sosial, dan budaya.

  1. Perkembangan teknologi informasi memacu suatu cara baru dalam kehidupan, dari kehidupan itu dimulai sampai dengan berakhir, kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life, artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan dengan fasilitas elektronik.
  2. Lahirnya konsep konvergensi budaya agar mengubah tatanan hidup masyarakat agar lebih praktis, efisien dalam pemanfaatan ataupun melengkapi kehidupannya sehari-hari misalnya mengenai pengelolaan ekonomi. Arus informasi yang begitu cepat mampu mengubah pola prilaku masyarakat dalam bekerja, mengelola keuangan, perdagangan dengan bantuan e-commerce, e-banking.
  3. Membantu pekerjaan bidang kepemerintahan yang dikenal dengan e-government, segala aspirasi masyarakat dan juga sebagai wahana sosialisasi, interaksi yang terangkul dalam fasilitas ini.
  4. Dalam bidang pendidikan e-learning, e-education e-library, e-journal dalam bidang kedokteran, e-medicine, e-laboratory, e-biodiversity, dan yang lainnya lagi yang berbasis elektronika.

Dampak Konvergensi Budaya[sunting | sunting sumber]

  1. Menjadi suatu yang tidak dirasakan bagi mereka yang berada didaerah pedalaman seperti pedesaan yang memiliki keterbatasan jaringan internet dan dalam pendistribusian teknologi yang tidak merata ( kesenjangan sosial ).
  2. Menjadi dominan oleh kalangan tertentu.
  3. Konvergensi budaya tidak dapat dinikmati oleh masyarakat kalangan bawah karena kemajuan teknologi bisa mengurangi jatah lapangan pekerjaan mereka yang gantikan oleh kecanggihan teknologi (dehumanisasi).
  4. Segala jenis pekerjaan cenderung bergantungan dengan kemampuan teknologi ( masyarakat informasi ) sehingga mengurangi kualitas hubungan secara langsung antar sesama.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Henry Jenkins Convergence culture: where old and new media collide NYU Press, 2006