Komak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Komak
Kacang komak, Lablab purpureusDarmaga, Bogor
Kacang komak, Lablab purpureus
Darmaga, Bogor
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
(tidak termasuk) Eudicots
(tidak termasuk) Rosids
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae
Genus: Lablab
Spesies: L. purpureus
Nama binomial
Lablab purpureus
(L.) Sweet, 1826[1]
Sinonim

Dolichos lablab L., 1753[2]
Dolichos purpureus L., 1763[3]
Dolichos bengalensis Jacq., 1772[4]
Lablab niger Medik., 1787


Komak, kacang komak, kacang bado atau kacang biduk (Lablab purpureus) adalah sejenis kacang-kacangan dari suku Fabaceae (Leguminosae). Tanaman ini terutama dikembangkan sebagai penghasil bahan pangan bebijian dan sayuran; namun juga baik sebagai pakan ternak, pupuk hijau, tanaman penutup tanah, dan tanaman hias. Spesies ini adalah satu-satunya anggota marga monotipik Lablab[5].

Kacang ini juga dikenal dengan nama-nama seperti kekara, kara-kara (Mly.), kacang jěriji, kacang pěda, roay katopès (Sd.); kårå, kekårå, kårå andhong, kårå usěng, kårå wědhus (Jw.); komak (Md.); ndoto, loto, roto (Rote)[6]. Di Malaysia disebut kara-kara, kekara; di Filipina bàtau, itab, pardá; di Burma pe-gyi; di Thailand thua phaep; dan di Vietnam dâu van. Juga dikenal sebagai lablab, hyacinth bean (Ingg.) serta dolique lab-lab (Prc.)[7].

Pemerian botanis[sunting | sunting sumber]

Pelat botani menurut Blanco

Terna tahunan yang membelit; merumpun rendah atau memanjat hingga 6 m tingginya; berakar dalam. Daun-daun majemuk beranak daun tiga, dengan anak daun bundar telur melebar, 5—15 cm x 4—15 cm, bertepi rata, hampir gundul atau berambut halus; duduk daun berseling.[7]

Perbungaan berupa tandan yang kaku di ketiak, panjang tangkainya 4-23 cm dan panjang rakis 2-24 cm, dengan banyak buku berisi 1-5 kuntum bunga. Bunga dengan mahkota putih, jambon, merah, atau ungu; bertangkai pendek yang menyegi-empat dan berambut jarang; benang sari 10 helai dalam dua tukal. Polongan bervariasi bentuk dan warnanya; pipih atau menggembung; 5-20 cm x 1-5 cm; lurus atau melengkung; biasanya dengan 3-6 biji bundar telur yang beraneka dalam ukuran dan warna.[7]

Asal-usul dan kegunaan[sunting | sunting sumber]

Karangan bunga
Komak, biji yang muda, diolah
Nilai nutrisi per 100 g (3.5 oz)
Energi 209 kJ (50 kcal)
Karbohidrat 9.2 g
Lemak 0.27 g
Protein 2.95 g
Thiamine (Vit. B1) 0.056 mg (4%)
Riboflavin (Vit. B2) 0.088 mg (6%)
Niacin (Vit. B3) 0.48 mg (3%)
Folat (Vit. B9) 47 μg (12%)
Vitamin C 5.1 mg (9%)
Kalsium 41 mg (4%)
Besi 0.76 mg (6%)
Magnesium 42 mg (11%)
Mangan 0.21 mg (11%)
Fosfor 49 mg (7%)
Kalium 262 mg (6%)
Seng 0.38 mg (4%)
Link to USDA Database entry
Dikukus, dimasak tanpa garam, ditiriskan
Persentase merujuk kepada rekomendasi Amerika Serikat untuk dewasa.
Sumber: Data Nutrisi USDA

Asal-usul komak diperkirakan dari India, Asia Tenggara, atau Afrika. Tanaman ini didomestikasi dan dikembangkan terutama di India, Asia Tenggara, Mesir, dan Sudan.[7]

Di pelbagai wilayah Indonesia, polong komak yang muda populer sebagai sayuran[6]; direbus seperti buncis, dicampurkan ke dalam kari[7], atau –di wilayah Jawa Timur– dimasak sebagai sayur asam. Biji yang muda, begitu pun daun-daun yang muda, pucuk, dan karangan bunganya, kerap direbus dan dilalap[7]. Bijinya yang tua dan kering dimanfaatkan sebagai kacang-kacangan[7]. Biji komak dapat diproses menjadi tempe[8], diolah menjadi tepung kaya protein (PRF, Protein Rich Flour)[9], atau bahkan dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan daging tiruan[10].

Pada musim kering yang panjang, ketika rumput sukar tumbuh, komak sering dibudidayakan sebagai pakan ternak[6]. Hijauan ini tidak dengan serta-merta dilahap oleh ternak, terkadang diperlukan waktu pembiasaan hingga beberapa hari sebelum ternak mau memakannya. Komak juga perlu dicampur dengan hijauan lain, seperti dedaunan atau kacang-kacangan lain, agar ternak tidak mengalami kembung. Pemberian komak dapat meningkatkan dengan segera bobot tubuh sapi dan produksi susunya.[11]

Polongan muda kacang komak

Komak membentuk nodul-nodul di akarnya, tempatnya bersimbiosis dengan Rhizobium yang mengikat nitrogen; meskipun simbiosis tidak selalu mudah terjadi antara komak dengan strain Rhizobium lokal. Di samping itu, komak memperkaya kandungan nitrogen tanah melalui dekomposisi daun-daun dan rantingnya yang berguguran.[11]

Bila lahannya dipersiapkan dengan baik, komak dapat tumbuh dengan cepat menutupi lahan-lahan yang terbuka. Jika telah tumbuh mantap, tanaman ini mampu menghadapi persaingan dengan aneka gulma di kebun.[11] Kultivar komak tertentu menghasilkan bunga dan polong yang berwarna indah, sehingga acap dijadikan tanaman hias.

Kultivar[sunting | sunting sumber]

Komak, Lablab purpureus, sejak lama diketahui memiliki banyak varietas budidaya (kultivar). Bahkan Rumphius (1690an) telah menyebutkan adanya dua bentuk komak yang disebutnya sebagai Cacara (=kekara) perennis dan Cacara alba atau Cacara puty (=kekara putih)[12] Kini bentuk-bentuk itu umumnya digolongkan ke dalam tiga kelompok kultivar[7]:

  • Kelompok kv. Lablab (tersebar luas)
  • Kelompok kv. Ensiformis (Asia Tenggara, Afrika Timur)
  • Kelompok kv. Bengalensis ((Asia Selatan, Afrika Timur)

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

Biji-biji komak
Polongan yang berwarna lembayung
  1. ^ Sweet, R. 1826. Hortus Britannicus : or a catalogue of plants cultivated in the gardens of Great Britain, arranged in natural orders, Part 2: 481. London : J. Ridgway.
  2. ^ Linne, C. von. 1753. Species plantarum :exhibentes plantas rite cognitas, ad genera relatas, cum differentiis specificis, ... T. 2: 725. Holmiae : Impensis Laurentii Salvii
  3. ^ Linne, C. von. 1763. Species plantarum : ... Ed. 2. T. 2: 1021.
  4. ^ Jacquin, N.J. von. 1772. Hortus Botanicus Vindobonensis v. 2: 57, T. 124. Vindobonae : Typis Leopoldi Joannis Kaliwoda, aulae imperialis typographi.
  5. ^ Lablablab: Lablab purpureus, general information. University of Agricultural Sciences, Bangalore, India.
  6. ^ a b c Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia 2: 1067-68. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor. (edisi 1916: 347)
  7. ^ a b c d e f g h Shivashankar, G. & R.S. Kulkarni 1989. Lablab purpureus (L.) Sweet In: L.J.G. van der Maesen & S. Somaatmadja (Editors). Plant Resources of South-East Asia No. 1: Pulses. [Internet] Record from Proseabase, PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) Foundation, Bogor, Indonesia. Diakses pada 3-Sep-2013
  8. ^ Harnani, S. 2009. Studi Karakteristik Fisikokimia Dan Kapasitas Antioksidan Tepung Tempe Kacang Komak (Lablab Purpureus (L.) Sweet)
  9. ^ Nafi, A., T. Susanto, A. Subagio. 2006. Development of Protein Rich Flour (PRF) from Hyacinth Bean (Lablab purpureus (L) Sweet) and Lima bean (Phaseolus lunatus). Jurnal Teknologi Dan Industri Pangan, Vol 17, No 3.
  10. ^ Bisnis OL: AGROBISNIS: Daging Tiruan Dari Kecambah Kacang Komak. Rabu, 31 Juli 2013, 20:45 WIB
  11. ^ a b c FAO: Lablab purpureus (L.) Sweet
  12. ^ Rumpf, G.E. 1741-50. Herbarium Amboinense :plurimas conplectens arbores, frutices, herbas, plantas terrestres ... Pars 5: 378, 380, Tab. 136. Amstelaedami : Apud Fransicum Changuion, Hermannum Uytwerf.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]