Ki Ageng Pamanahan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Ki Ageng Pemanahan
Perintis Kesultanan Mataram / Explorer
Lukisan Foto Ki Ageng Pemanahan (Ilustrasi)
Lukisan Foto Ki Ageng Pemanahan (Ilustrasi)
Pasangan Nyai Sabinah / Nyai Ageng Pemanahan
Anak
18 Orang, Penerus : Panembahan Senopati
Nama lengkap
Ki Ageng Pemanahan / Kyai Gede Mataram
Wangsa Majapahit Rajasa
Ayah Ki Ageng Ngenis
Ibu Nyai Ageng Ngenis
Lahir Kotagede, Mataram
Agama Islam

Ki Ageng Pamanahan atau Ki Gede Pamanahan, adalah pendiri desa Mataram tahun 1556, yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Mataram di bawah pimpinan putranya, yang bergelar Panembahan Senapati.

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Ki Pamanahan adalah putra Ki Ageng Henis, putra Ki Ageng Sela. Ia menikah dengan sepupunya sendiri, yaitu Nyai Sabinah, putri Nyai Ageng Saba (kakak perempuan Ki Ageng Henis).

Ki Pamanahan dan adik angkatnya, yang bernama Ki Penjawi, mengabdi pada Hadiwijaya bupati Pajang yang juga murid Ki Ageng Sela. Keduanya dianggap kakak oleh raja dan dijadikan sebagai lurah wiratamtama di Pajang.

  1. Ki Ageng Pemanahan / Kyai Gede Mataram (Membuka Kota Gede Mataram pada tahun 1558 sebagai hadiah dari Raja Pajang), wafat pada tahun 1584, menikah dengan Nyai Sabinah (putri Ki Ageng Saba) mempunyai putra-putri 26 orang :
    1. Adipati Manduranegara
    2. Kanjeng Panembahan Senopati / Raden Sutawijaya (Sultan Mataram ke 1, pendiri, 1587-1601) menikah dengan 3 istri melahirkan putra-putri 14 orang :
      1. Gusti Kanjeng Ratu Pambayun / Retna Pembayun
      2. Pangeran Ronggo Samudra (Adipati Pati)
      3. Pangeran Puger / Raden Mas Kentol Kejuro (Adipati Demak)
      4. Pangeran Teposono
      5. Pangeran Purbaya / Raden Mas Damar
      6. Pangeran Rio Manggala
      7. Pangeran Adipati Jayaraga / (Raden Mas Barthotot)
      8. Panembahan Hadi Prabu Hanyokrowati/Panembahan Seda ing Krapyak (Sultan Mataram ke 2, 1601-1613) menikah dengan Ratu Tulung Ayu dan Dyah Banowati / Ratu Mas Hadi (Cicit dari Raden Joko Tingkir & Ratu Mas Cempaka), menurunkan putra-putri 12 orang :
        1. Sultan Agung / Raden Mas Djatmika (1593-1645), Sultan Mataram ke 3 (1613-1645) menikah dengan Permaisuri ke 1 Kanjeng Ratu Kulon / Ratu Mas Tinumpak (putri Panembahan Ratu Cirebon ke 4 setelah Sunan Gunung Jati), permaisuri ke 2 Kanjeng Ratu Batang / Ratu Ayu Wetan / Kanjeng Ratu Kulon mempunyai 9 orang putra-putri :
          1. Raden Mas Sahwawrat / Pangeran Temenggong Pajang
          2. Raden Mas Kasim / Pangeran Demang Tanpa Nangkil
          3. Pangeran Ronggo Kajiwan
          4. Gusti Ratu Ayu Winongan
          5. Pangeran Ngabehi Loring Pasar
          6. Pangeran Ngabehi Loring Pasar
          7. Sunan Prabu Amangkurat Agung / Amangkurat I / Raden Mas Sayidin (Sultan Mataram ke 4, 1646-1677) wafat 13 Juli 1677 di Banyumas.
            1. Sunan Prabu Mangkurat II / Sunan Amral / Raden Mas Rahmat (Sunan Kartasura ke 1, 1677-1703)
              1. Sunan Prabu Amangkurat III (Sunan Kartasura ke 2, 1703-1705)
            2. Susuhunan Pakubuwono I / Pangeran Puger / Raden Mas Drajat (Sunan Kartasura ke 3, 1704-1719)
              1. Raden Mas Sengkuk
              2. Prabu Amangkurat IV (Mangkurat Jawi) wafat 20 April 1726
                1. Kanjeng Pangeran Arya Mangkunegara (Mangkunegara I, 1757-1795)
                2. Gusti Raden Ayu Suroloyo, di Brebes
                3. Gusti Raden Ayu Wiradigda
                4. Gusti Pangeran Hario Hangabehi
                5. Gusti Pangeran Hario Pamot
                6. Gusti Pangeran Hario Diponegoro
                7. Gusti Pangeran Hario Danupaya
                8. Sri Susuhunan Pakubuwono II / Raden Mas Prabasuyasa (Sunan Surakarta ke 1, 1726-1742)
                9. Gusti Pangeran Hario Hadinagoro
                10. Gusti Kanjeng Ratu Maduretno, Garwa Pangeran Hindranata
                11. Gusti Raden Ajeng Kacihing, Dewasa Sedho
                12. Gusti Pangeran Hario Hadiwijoyo
                13. Gusti Raden Mas Subronto, Wafat Dalam Usia Dewasa
                14. Gusti Pangeran Hario Buminoto
                15. Pangeran Hario Mangkubumi Hamengku Buwono I (Sultan Yogyakarta Ke 1, 1717-1792)
                16. Sultan Dandunmatengsari
                17. Gusti Raden Ayu Megatsari
                18. Gusti Raden Ayu Purubaya
                19. Gusti Raden Ayu Pakuningrat di Sampang
                20. Gusti Pangeran Hario Cokronegoro
                21. Gusti Pangeran Hario Silarong
                22. Gusti Pangeran Hario Prangwadono
                23. Gusti Raden Ayu Suryawinata di Demak
                24. Gusti Pangeran Hario Panular
                25. Gusti Pangeran Hario Mangkukusumo
                26. Gusti Raden Mas Jaka
                27. Gusti Raden Ayu Sujonopuro
                28. Gusti Pangeran Hario Dipawinoto
                29. Gusti Raden Ayu Adipati Danureja I
              3. Pangeran Diposonto / Ki Ageng Notokusumo
              4. Raden Ayu Lembah
              5. Raden Ayu Himpun
              6. Raden Suryokusumo
              7. Pangeran Blitar
              8. Pangeran Dipanegara Madiun
              9. Pangeran Purbaya
              10. Kyai Adipati Nitiadiningrat I Raden Garudo (groedo)
              11. Raden Suryokusumo
              12. Tumenggung Honggowongso / Joko Sangrib (Kentol Surawijaya)
            3. Gusti Raden Ayu Pamot
            4. Pangeran Martosana
            5. Pangeran Singasari
            6. Pangeran Silarong
            7. Pangeran Notoprojo
            8. Pangeran Satoto
            9. Pangeran Hario Panular
            10. Gusti Raden Ayu Adip Sindurejo
            11. Raden Ayu Bendara Kaleting Kuning
            12. Gusti Raden Ayu Mangkuyudo
            13. Gusti Raden Ayu Adipati Mangkupraja
            14. Pangeran Hario Mataram
            15. Bandara Raden Ayu Danureja / Bra. Bendara
            16. Gusti Raden Ayu Wiromenggolo / R.Aj. Pusuh
          8. Gusti Raden Ayu Wiromantri
          9. Pangeran Danupoyo/Raden Mas Alit
        2. Pangeran Mangkubumi
        3. Pangeran Bumidirja
        4. Pangeran Arya Martapura / Raden Mas Wuryah (1605-1688)
        5. Ratu Mas Sekar / Ratu Pandansari
        6. Kanjeng Ratu Mas Sekar
        7. Pangeran Bhuminata
        8. Pangeran Notopuro
        9. Pangeran Pamenang
        10. Pangeran Sularong / Raden Mas Chakra (wafat Desember 1669)
        11. Gusti Ratu Wirokusumo
        12. Pangeran Pringoloyo
      9. Gusti Raden Ayu Demang Tanpa Nangkil
      10. Gusti Raden Ayu Wiramantri
      11. Pangeran Adipati Pringgoloyo I (Bupati Madiun, 1595-1601)
      12. Ki Ageng Panembahan Djuminah/Pangeran Djuminah/Pangeran Blitar I (Bupati Madiun, 1601-1613)
      13. Pangeran Adipati Martoloyo / Raden Mas Kanitren (Bupati Madiun 1613-1645)
      14. Pangeran Tanpa Nangkil
    3. Pangeran Ronggo
    4. Nyai Ageng Tumenggung Mayang menikah dengan Kyai Ageng Tumenggung Mayang berputra 1 orang :
      1. Raden Pabelan (wafat 1587)
    5. Pangeran Hario Tanduran
    6. Nyai Ageng Tumenggung Jayaprana
    7. Pangeran Teposono
    8. Pangeran Mangkubumi
      1. Adipati Sukawati
      2. Bagus Petak Madiun
    9. Pangeran Singasari/Raden Santri
      1. Pangeran Blitar
    10. Raden Ayu Kajoran
    11. Pangeran Gagak Baning (Adipati Pajang, 1588-1591)
    12. Pangeran Pronggoloyo
    13. Nyai Ageng Haji Panusa, ing Tanduran
    14. Nyai Ageng Panjangjiwa
    15. Nyai Ageng Banyak Potro, ing Waning
    16. Nyai Ageng Kusumoyudo ing Marisi
    17. Nyai Ageng Wirobodro, ing Pujang
    18. Nyai Ageng Suwakul
    19. Nyai Ageng Mohamat Pekik ing Sumawana
    20. Nyai Ageng Wiraprana ing Ngasem
    21. Nyai Ageng Hadiguno ing Pelem
    22. Nyai Ageng Suroyuda ing Kajama
    23. Nyai Ageng Mursodo ing Silarong
    24. Nyai Ageng Ronggo ing Kranggan
    25. Nyai Ageng Kawangsih ing Kawangsen
    26. Nyai Ageng Sitabaya ing Gambiro

Peran awal[sunting | sunting sumber]

Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, Kesultanan Demak mengalami perpecahan akibat perebutan takhta. Putra Sultan yang naik takhta bergelar Sunan Prawata tewas dibunuh sepupunya sendiri, yaitu Arya Penangsang, bupati Jipang.

Arya Penangsang yang didukung Sunan Kudus juga membunuh Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat, putri Sultan Trenggana. Sejak itu, Ratu Kalinyamat memilih hidup bertapa di Gunung Danaraja menunggu kematian Arya Penangsang bupati Jipang.

Arya Penangsang ganti mengirim utusan untuk membunuh Hadiwijaya di Pajang tapi gagal. Sunan Kudus pura-pura mengundang keduanya untuk berdamai. Hadiwijaya datang ke Kudus dikawal Ki Pamanahan. Pada kesempatan itu, Ki Pamanahan berhasil menyelamatkan Hadiwijaya dari kursi jebakan yang sudah dipersiapkan Sunan Kudus.

Dalam perjalanan pulang, Hadiwijaya singgah ke Gunung Danaraja. Ki Pamanahan bekerja sama dengan Ratu Kalinyamat membujuk Hadiwijaya supaya bersedia menghadapi Arya Penangsang. Sebagai hadiah, Ratu Kalinyamat memberikan cincin pusakanya kepada Ki Pamanahan.

Ki Ageng Pemanahan sebagai Perintis Kesultanan Mataram[sunting | sunting sumber]

Perkembangan sejarah masuknya Agama Islam di Surakarta, tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Ki Ageng Henis. Mulanya Laweyan merupakan perkampungan masyarakat yang beragama Hindu Jawa. Ki Ageng Beluk, sahabat Ki Ageng Henis, adalah tokoh masyarakat Laweyan saat itu. Ia menganut agama Hindu, tetapi karena dakwah yang dilakukan oleh Ki Ageng Henis, Ki Ageng Beluk menjadi masuk Islam. Ki Ageng Beluk kemudian menyerahkan bangunan pura Hindu miliknya kepada Ki Ageng Henis untuk diubah menjadi Masjid Laweyan.

Kerajaan Mataram Islam dirintis oleh tokoh-tokoh keturunan Raden Bondan Kejawan putra Bhre Kertabhumi. Tokoh utama Perintis Kesultanan Mataram adalah Ki Ageng Pamanahan, Ki Juru Martani dan Ki Panjawi mereka bertiga dikenal dengan "Tiga Serangkai Mataram" atau istilah lainnya adalah "Three Musketeers from Mataram". Disamping itu banyak perintis lainnya yang dianggap berjasa besar terhadap terbentuknya Kesultanan Mataram seperti : Bondan Kejawan, Ki Ageng Wonosobo, Ki Ageng Getas Pandawa, Nyai Ageng Ngerang dan Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Made Pandan, Ki Ageng Saba, Ki Ageng Pakringan, Ki Ageng Sela, Ki Ageng Enis dan tokoh lainnya dari keturunanan masing-masing. Mereka berperan sebagai leluhur Raja-raja Mataram yang mewarisi nama besar keluarga keturunan Brawijaya majapahit yang keturunannya menduduki tempat terhormat dimata masyarakat dengan menyandang nama Ki, Ki Gede, Ki Ageng' Nyai Gede, Nyai Ageng yang memiliki arti : tokoh besar keagamaan dan pemerintahan yang dihormati yang memiliki kelebihan, kemampuan dan sifat-sifat kepemimpinan masyarakat.

Ada beberapa fakta yang menguatkan mereka dianggap sebagai perintis Kesultanan Mataram yaitu :

  • Fakta 1 : Tokoh-tokoh perintis tersebut adalah keturunan ke 1 sampai dengan ke 6 raja Majapahit terakhir Bhre Kertabhumi yang bergelar Brawijaya V, yang sudah dapat dipastikan masih memiliki pengaruh baik dan kuat terhadap Kerajaan yang memerintah maupun terhadap masyarakat luas;


  • Fakta 2 : Tokoh-tokoh tersebut adalah keturunan Silang/Campuran dari Walisongo beserta leluhurnya yang terhubung langsung kepada Imam Husain bin Ali bin Abu Thalib, yang sudah dapat dipastikan mendapatkan bimbingan ilmu keagamaan (Islam) berikut ilmu pemerintahan ala khilafah / kekhalifahan islam jajirah Arab. Hal ini terbukti dalam aktivitas keseharian mereka juga sering berdakwah dari daerah satu ke daerah lainnya dengan mendirikan banyak Masjid, Surau dan Pesantren;


  • Fakta 3 : Para perintis tersebut pada dasarnya adalah "Misi" yang dipersiapkan oleh para Seikh dan para Wali (Wali-7 dan Wali-9) termasuk para Al-Maghrobi yang bertujuan "mengislamkan Tanah Jawa" secara sistematis dan berkelanjutan dengan cara menyatu dengan garis keturunan kerajaan.


  • Fakta 4 : Suksesi Kesultanan Demak ke Kesultanan Pajang kemudian menjadi Kesultanan Mataram pada dasarnya adalah kesinambungan dari "Misi" sesuai Fakta 3, seperti juga yang terjadi dengan Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Sumedang Larang, Kerajaan Talaga Majalengka dan Kerajaan Surasoan Banten, di luar adanya perebutan kekuasaan.


Dengan demikian dari keempat fafta di atas, jelas sudah bahwa terbentuknya Kesultanan Mataram pada khususnya dan Kesultanan Islam di Jawa pada umumnya merupakan strategi yang dipersiapkan oleh para Syeikh dan para Wali untuk mempercepat menyebarnya Islam di Tanah Jawa, sehingga salah satu persyaratan pembentukan Kesultanan Islam baik di Jawa maupun di daerah lainnya harus mendapatkan "Legitimasi/Pengesahan" dari Mekah dan/atau Turki, jalur untuk keperluan tersebut dimiliki oleh para "Ahlul Bait" seperti para Seikh dan para Wali.

Melawan Arya Penangsang[sunting | sunting sumber]

Hadiwijaya segan memerangi Arya Penangsang karena masih sama-sama anggota keluarga Kesultanan Demak. Maka, ia pun mengumumkan sayembara, barang siapa bisa membunuh Arya Penangsang akan mendapatkan hadiah tanah Mataram dan Pati.

Ki Pamanahan dan Ki Penjawi mengikuti sayembara atas desakan Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Pamanahan). Putra Ki Pamanahan yang juga anak angkat Hadiwijaya, bernama Sutawijaya ikut serta. Hadiwijaya tidak tega sehingga memberikan pasukan Pajang untuk melindungi Sutawijaya.

Perang antara pasukan Ki Pamanahan dan Arya Penangsang terjadi di dekat Bengawan Sore. Berkat siasat cerdik yang disusun Ki Juru Martani, Arya Penangsang tewas di tangan Sutawijaya.

Ki Juru Martani menyampaikan laporan palsu kepada Hadiwijaya bahwa Arya Penangsang mati dibunuh Ki Pamanahan dan Ki Penjawi. Apabila yang disampaikan adalah berita sebenarnya, maka dapat dipastikan Hadiwijaya akan lupa memberi hadiah sayembara mengingat Sutawijaya adalah anak angkatnya.

Membuka Mataram[sunting | sunting sumber]

Hadiwijaya memberikan hadiah berupa tanah Mataram dan Pati. Ki Pamanahan yang merasa lebih tua mengalah memilih Mataram yang masih berupa hutan lebat, sedangkan Ki Penjawi mandapat daerah Pati yang saat itu sudah berwujud kota.

Bumi Mataram adalah bekas kerajaan kuno yang runtuh tahun 929. Seiring berjalannya waktu, daerah ini semakin sepi sampai akhirnya tertutup hutan lebat. Masyarakat menyebut hutan yang menutupi Mataram dengan nama Alas Mentaok.

Setelah kematian Arya Penangsang tahun 1549, Hadiwijaya dilantik menjadi raja baru penerus Kesultanan Demak. Pusat kerajaan dipindah ke Pajang, di daerah pedalaman. Pada acara pelantikan, Sunan Prapen cucu (Sunan Giri) meramalkan kelak di daerah Mataram akan berdiri sebuah kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang.

Ramalan tersebut membuat Sultan Hadiwijaya resah. Sehingga penyerahan Alas Mentaok kepada Ki Pamanahan ditunda-tunda sampai tahun 1556. Hal ini diketahui oleh Sunan Kalijaga, guru mereka. Keduanya pun dipertemukan. Dengan disaksikan Sunan Kalijaga, Ki Pamanahan bersumpah akan selalu setia kepada Sultan Hadiwijaya.

Maka sejak tahun 1556 itu, Ki Pamanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani, pindah ke Hutan Mentaok, yang kemudian dibuka menjadi desa Mataram. Ki Pamanahan menjadi kepala desa pertama bergelar Ki Ageng Mataram. Adapun status desa Mataram adalah desa perdikan atau daerah bebas pajak, di mana Ki Ageng Mataram hanya punya kewajiban menghadap saja.

Babad Tanah Jawi juga mengisahkan keistimewaan lain yang dimiliki Ki Ageng Pamanahan selaku leluhur raja-raja Mataram. Konon, sesudah membuka desa Mataram, Ki Pamanahan pergi mengunjungi sahabatnya di desa Giring. Pada saat itu Ki Ageng Giring baru saja mendapatkan buah kelapa muda bertuah yang jika diminum airnya sampai habis, si peminum akan menurunkan raja-raja Jawa.

Ki Pamanahan tiba di rumah Ki Ageng Giring dalam keadaan haus. Ia langsung menuju dapur dan menemukan kelapa muda ajaib itu. Dalam sekali teguk, Ki Pamanahan menghabiskan airnya. Ki Giring tiba di rumah sehabis mandi di sungai. Ia kecewa karena tidak jadi meminum air kelapa bertuah tersebut. Namun, akhirnya Ki Ageng Giring pasrah pada takdir bahwa Ki Ageng Pamanahan yang dipilih Tuhan untuk menurunkan raja-raja pulau Jawa.

Ki Ageng Pamanahan memimpin desa Mataram sampai meninggal tahun 1584. Ia digantikan putranya, yaitu Sutawijaya sebagai pemimpin desa selanjutnya.Kelak Sutawijaya menjadi raja Mataram Islam yang pertama dengan nama Panembahan Senopati.

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]


Penghargaan dan prestasi
Didahului oleh:
Ki Ageng Enis
Perintis Kesultanan Mataram
1478-1587
Diteruskan oleh:
Sutawijaya