Keuskupan Pangkal Pinang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Keuskupan Pangkal Pinang
Lambang Keuskupan Pangkal Pinang
Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD
Informasi
Latin Dioecesis Pangkalpinangensis
Metropolit Keuskupan Agung Palembang
Uskup Mgr. Hilarius Moa Nurak, S.V.D.
Vikjen R.D. F.X. Hendrawinata
Katedral St. Yosep, Pangkal Pinang
Alamat keuskupan Stasiun XXI 545A, Kelurahan Semabung Lama, Pangkal Pinang 33147, Bangka Belitung
Sejarah
Berdiri 3 Januari 1961[1]
Sebelumnya Vikariat Apostolik Pangkal Pinang (8 Februari 1951)
Statistik
Jumlah paroki 15
Luas wilayah 30.442km²[2]
Website http://www.keuskupanpkpinang.org

Keuskupan Pangkal Pinang adalah keuskupan sufragan pada Provinsi Gerejani Keuskupan Agung Palembang.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Gembala[sunting | sunting sumber]

Prefek Bangka-Biliton

Vikaris Pangkal Pinang

Uskup Pangkal Pinang

Identitas Umat Allah Keuskupan Pangkalpinang[sunting | sunting sumber]

Gereja Partisipatip[sunting | sunting sumber]

Umat Keuskupan Pangkalpinang telah memilih untuk melukiskan identitasnya sebagai sebuah “Gereja Partisipatip”, untuk menegaskan panggilan seluruh anggotanya, imam, awam dan religius untuk “berada” bersama Kristus, bersatu denganNya berkat Sakramen Baptis. Persatuan para anggota Gereja dengan Kristus melahirkan suatu “keluarga” baru, sehingga terciptalah suatu persekutuan dan persaudaraan di antara para anggota Gereja, Tubuh Mistik Kristus, Umat Allah di Keuskupan Pangkalpinang. Dalam kesatuan itu semua anggota menjadi bagiannya. Pada saat yang sama semua anggota mengambil bagian untuk membangun suatu persaudaraan atas dasar iman, harapan dan kasih. Dan dengan cara hidup demikian umat Allah mewartakan Kerajaan Allah kepada dunia. Inilah jati diri Gereja Keuskupan Pangkalpinang.

Singkat kata, dengan menggambarkan diri sebagai sebuah Gereja Partisipatip, Umat Allah Keuskupan Pangkalpinang mengungkapkan, bahwa (1) dirinya merupakan bagian dari Tubuh Kristus yang satu, kudus, katolik dan apostolik, karena berpartisipasi dalam hidup dan misi Kristus; (2) partisipasi dalam hidup Kristus menjadikan seluruh umat Keuskupan Pangkalpinang sebagai satu keluarga di mana semua anggota “ambil bagian” dalam duka dan kecemasan, derita dan kegembiraan para anggotanya; (3) dan akhirnya, diutus untuk membangun suatu keluarga yang dilandasi oleh cinta, damai dan keadilan baik di antara para anggota Gereja maupun dengan seluruh umat manusia.

Konsili Vatikan II mengungkapkan, bahwa “seluruh Gereja nampak sebagai umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa dan Putera dan Roh Kudus.” Dalam terang Konsili ini dapat dikatakan, bahwa Umat Allah Keuskupan Pangkalpinang dijiwai oleh Allah Tritunggal Mahakudus, tidak hanya mengungkapkan kekayaan “spiritualitas” hidup Gereja, melainkan dengan tegas mengungkapkan bahwa misteri iman Allah Tritunggal adalah icon hidup bersama dalam komunitas Gerejawi yang sedang berziarah di dunia ini. Model Gereja Partisipatip ini pada hakekatnya merupakan wujud dari Umat Allah dan Tubuh Kristus yang dibentuk, dibangun dan sakramental karena dan atas dasar persekutuan hidup dan karya Allah Tritunggal Mahakudus. Karena baptisan, semua yang berpartisipasi disatukan dengan hidup dan perutusan Yesus Kristus yang telah dimulai oleh Bapa dan diteguhkan oleh Roh KudusNya di dalam sejarah umat manusia. Partisipasi dan pengalaman kesatuan dengan Kristus itu melahirkan kesatuan setiap orang dengan sesama anggota umat Allah maupun dengan semua manusia yang diciptakan sebagai gambaran Allah. Dalam persekutuan sebagai Tubuh Kristus itu, setiap orang beriman maupun komunitas-komunitas gerejawi diutus untuk mewartakan Kabar Baik Kerajaan Allah.

Memahami Komunitas Basis Gerejawi[sunting | sunting sumber]

Identitas dan cara hidup Allah Tritunggal yang menjadi model Gereja Partisipatip menegaskan bahwa Gereja di dunia harus memperlihatkan cara hidup tersebut. Dengan demikian Umat Allah Keuskupan Pangkalpinang adalah umat sakramental, umat yang dipanggil untuk menjadi tanda dan sarana kehadiran Allah di dunia; umat yang oleh cara hidup dan kesaksiannya membuat siapa saja dan apa saja mengalami penyertaan Allah (a God is with us people). Identitas dan cara hidup ini sudah diperlihatkan oleh Gereja perdana dan dialami oleh orang-orang pada zamannya, sehingga setiap hari terjadi penambahan jumlah umat.

Konsekwensi dari identitas Gereja ini adalah sebagai berikut:

  • Seorang Katolik harus menghormati Allah dalam setiap ciptaanNya;
  • Seorang Katolik harus percaya, bahwa Allah telah dan selalu menunjukkan cintaNya dalam aneka cara dan secara khusus dengan mengutus PuteraNya Yesus Kristus
  • Seorang Katolik haruslah mengikuti Yesus dalam tradisi apostolik dan Gereja Perdana serta membagi hidup ilahi Yesus kepada sesama
  • Seorang Katolik haruslah masuk dalam komunitas beriman dalam Gereja dan memberikan kesaksian atas imannya ini dalam aktivitas hidup beriman
  • Seorang Katolik harus menegaskan kepada dirinya sendiri, bahwa Yesus hadir secara nyata dalam Gereja: dahulu, sekarang dan akan datang, melalui sakramen-sakramen. Sakramen di sini mempunyai arti ganda, yakni demi keselamatan pribadi dan untuk menjadikan seseorang sakramen keselamatan bagi komunitas Gereja.

Pertanyaannya adalah cara hidup beriman yang bagaimana, yang perlu dibangun, agar setiap anggota Gereja Katolik, tanpa kecuali, menghayati identitas hidup beriman yang demikian dalam hidupnya sebagai Gereja? Para Uskup Asia, dalam pernyataan akhir pertemuan FABC, Bandung, 1990 menegaskan bahwa perlu ada sebuah cara hidup menggereja yang baru (A New Way of Being Church). Cara hidup mengereja yang baru itu disebut Komunitas Basis Gerejawi (KBG).

Paroki[sunting | sunting sumber]

  • Katedral Pangkal Pinang (St. Yosep)
    • Stasi: Kampung Jeruk
    • Stasi: Baturusa
    • Stasi: Pangkul
    • Stasi: Mesu Laut
  • Tanjungbalai, Karimun (St. Mikael)
  • Ujung Beting (St. Carolus)
  • Tiban (Kerahiman Ilahi)
  • Tanjung Pandan (St. Maria Ratu Damai)
  • Tembesi (Maria Bunda Pembantu Abadi)
  • Bengkong (Santo Damian)
    • Gereja: Kabil (Santo Yoseph)
  • Tanjung Pinang (Hati St. Perawan Maria Yang Tak Bernoda)
    • Gereja: Tarempa (Stella Maris)
    • Gereja: Tanjung Uban (St. Fransiskus Xaverius)
    • Gereja: Ranai-Natuna (St. Paulus)
  • Lubuk Baja (Santo Petrus)
  • Mentok (St. Perawan Maria Pelindung Para Pelaut)
    • Gereja: Jebus Parit Tiga (St. Hilarius)
  • Belinyu (St. Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda)
  • Sungailiat (St. Perawan Maria Pengantara Segala Rahmat)
  • Pangkalpinang (Bernadeth)
  • Koba (Santo Fransiskus Xaverius)
    • Gereja: Toboali (Stella Maris)


Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Catholic Hierarchy". Diakses 8 Januari 2012. 
  2. ^ Ekaristi.org

Pranala luar[sunting | sunting sumber]