Kereta api perkotaan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Kereta api perkotaan adalah kereta api yang digunakan diwilayah perkotaan untuk mengangkut penumpang, biasanya dilaksanakan dengan menggunakan kereta api ringan, kereta api berat (heavy rail transit), monorail. Kereta api perkotaan biasanya dijalankan dengan menggunakan tenaga listrik, seperti kereta rel listrik seperti yang digunakan di wilayah Jabotabek, sehingga tidak menimbulkan pencemaran gas rumah kaca secara langsung.

Jenis-jenis kereta api kota[sunting | sunting sumber]

Trem[sunting | sunting sumber]

Merupakan moda angkutan kota yang dikenal juga dalam bahasa Inggris dengan nama trams, streetcars, atau trolleys. Trem pernah digunakan di Jakarta[1] dan Surabaya, tetapi dihilangkan dari kedua kota tersebut pada tahun 1960an, karena dianggap mengganggu lalu lintas kendaraan. Trem merupakan alat angkut yang dapat berbaur dengan lalu lintas kendaraan bermotor lainnya.

Kereta api ringan[sunting | sunting sumber]

Merupakan moda angkutan yang dikembangkan dari trem dengan unjuk kerja dalam hal kapasitas, kecepatan yang lebih baik. Kereta api ringan bisa dikelompokkan atas:

  • Kereta api ringan I yang merupakan kereta api ringan yang masih bergabung dengan arus lalu lintas kendaraan bermotor.
  • Kereta api ringan II yang merupakan kereta api ringan yang dijalankan pada jalur khusus sehingga tidak bercampur lagi dengan lalu lintas kendaraan pribadi. dengan pengoperasian pada jalur khusus maka kereta api ringan II ini mempunyai kapasitas yang lebih tinggi disamping keselamatan yang lebih tinggi pula.

Monorail[sunting | sunting sumber]

Merupakan kereta api yang bergerak pada jalur tunggal dan biasanya seluruh lintasan dilayangkan sehingga tidak menimbulkan gesekan dengan lalu lintas kendaraan. Monorail direncanakan untuk diterapkan di Jakarta, tetapi masih belum terlaksana karena alasan pendanaan. Sistem ini telah digunakan di kota Tokyo, Kuala Lumpur dan beberapa kota lainnya.

Kereta api berat[sunting | sunting sumber]

Merupakan kereta api perkotaan dengan kapasitas angkut yang paling tinggi pada frekuensi pelayan yang tinggi pula. Sistem ini yang beroperasi di kota Hongkong mempunyai kapasitas angkut sampai dengan 80.000 orang per jam per arah, merupakan kapasitas yang sangat besar, sehingga biasanya sistem seperti ini digunakan pada koridor utama perkotaan. Semua kota-kota metropolitan biasanya dilengkapi dengan kereta api seperti. Karena pelayanan kereta api berat ini biasanya dilakukan pada frekuensi yang tinggi maka tidak diijinkan adanya persilangan sebidang, untuk itu biasanya dibangun tidak sebidang baik jalan kereta api layang ataupun dibawah tanah.

Keekonomian kereta api perkotaan[sunting | sunting sumber]

Kereta api perkotaan biasanya membutuhkan biaya yang sangat besar, sehingga untuk mengoperasikannya dibutuhkan biaya yang besar, tetapi kota metropolitan tidak mungkin untuk efisien sistem transportnya tanpa memiliki suatu sistem kereta api perkotaan. Pada tabel berikut ditunjukkan biaya dan kapasitas dari berbagai moda kereta api kota[2]:

Moda Kecepatan perjalanan, km/jam Biaya sistem, jutaan $/km Kapasitas, pnp/jam/arah
Trem 10 - 20 3 - 10 5.000 - 15.000
Kereta api ringan 15 - 25 12 - 25 18.000 - 40.000
Kereta api berat 30 - 35 30 - 120 20.000 - 80.000

Untuk menutup biaya investasi dan operasi kereta api kota diambil langkah sebagai berikut:

Subsidi sistem kereta api perkotaan[sunting | sunting sumber]

Untuk bisa menjalankan sistem kecuali jumlah penumpang sangat banyak dan tarif yang relatif tinggi adalah dengan memberikan subsidi. Subsidi diperoleh dari berbagai sumber diantaranya dari pemakai kendaraan pribadi (melalui pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, retribusi pengendalian lalu lintas)

Transit orinted development[sunting | sunting sumber]

Merupakan upaya untuk mengawinkan koridor kereta api perkotaan dengan pengembangan kawasan disekitar stasiun kereta api. Kawasan yang dibangun dengan kepadatan yang tinggi yang selain memberikan akses yang baik kepada kawasan yang dibangun, juga menambah jumlah penumpang serta dapat dipungut Pajak Bumi dan bangunan yang lebih tinggi.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kisah Kereta Trem di Jakarta [1]
  2. ^ Sutanto Husodo, Implementasi Transport Demand Manajemen di Jakarta