Kelangkaan air

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kelangkaan air menyebabkan manusia mencari sumber yang tidak bersih
Sementara di tempat lain, air digunakan secara boros
Peta kelangkaan air fisik dan ekonomi tahun 2006

Kelangkaan air adalah minimnya jumlah air yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan di suatu wilayah. Kelangkaan air telah mempengaruhi setiap benua kecuali Antartika, dan sekitar 2.8 miliar manusia hidup di daerah yang mengalami kelangkaan air setidaknya sebulan dalam setahun. Lebih dari 1.2 miliar manusia memiliki akses terhadap air minum yang tidak mencukupi.[1]

Kelangkaan air dapat disamakan dengan stres air, defisit air, dan krisis air.[2][3] Stres air dapat disebut juga kesulitan mendapatkan sumber air bersih untuk digunakan pada periode waktu tertentu dan dapat memperparah kelangkaan air.[4] Kelangkaan air dapat disebabkan oleh perubahan iklim karena berubahnya pola cuaca seperti terjadinya pergantian ekstrim antara kekeringan dan musim banjir. Pencemaran air dan peningkatan jumlah populasi manusia yang membutuhkan air juga menjadi penyebab kelangkaan air.[5]

Kelangkaan air dapat merupakan hasil dari dua mekanisme, yaitu kelangkaan air secara fisik dan kelangkaan air secara ekonomi. Kelangkaan air secara fisik dihitung berdasarkan jumlah air yang tersedia secara alami dan kebutuhannya di suatu wilayah. Kelangkaan air secara ekonomi dikarenakan kemiskinan yang terjadi meski air tersedia secara mencukupi. Berdasarkan UNDP, kelangkaan air secara ekonomi lebih sering terjadi karena perebutan air antara kebutuhan rumah tangga, pertanian, industri, dan pelestarian lingkungan.[6]

Pengurangan kasus kelangkaan air merupakan tujuan pemerintahan di berbagai negara di dunia. PBB menekankan pentingnya akses terhadap air dan sanitasi bagi penduduk suatu negara. Negara yang mengadopsi Millenium Development Goals menyatakan bahwa pada tahun 2015 akan mengurangi kasus kelangkaan air menjadi setengahnya.[7]

Stres air[sunting | sunting sumber]

Lebih dari seperenam manusia di dunia hidup di daerah yang mengalami stres air, yang berarti mereka tidak memiliki akses yang mencukupi ke air minum.[6] Sekitar 1.1 miliar jiwa dari manusia yang hidup dalam lingkungan stres air berada di negara miskin dan berkembang. Wilayah atau negara disebut "stres air" ketika suplai air tahunan berada di bawah 1700 kubik meter per orang per tahun.[8] Pada level di antara 1000 dan 1700 meter kubik per orang per tahun, suplai air terjadi secara periodik. Di bawah 1000 meter kubik per orang per tahun, kelangkaan air terjadi. Pada tahun 2006, 700 juta jiwa di 43 negara hidup di bawah batas suplai air 1700 meter kubik per orang per tahun.[6] Stres air sedang meningkat di China, India, Afrika sub Sahara. Kawasan dengan wilayah yang paling mengalami stres air adalah Timur Tengah dengan rata-rata suplai air 1200 meter kubik per orang per tahun. Di China, lebih dari 538 juta orang hidup di kawasan stres air di sekitar basin sungai di mana penggunaan sumber daya air jauh melebihi tingkat pengembaliannya.[6]

Perubahan iklim diperkirakan telah menjadi salah satu penyebab berkurangnya jumlah air tawar yang tersedia. Perubahan iklim mlelehkan gletser lebih cepat dari tingkat pengembaliannya, mengurangi jumlah air yang mengalir di sungai, dan memperkecil danau. Di berbagai tempat, akuifer dipompa berlebihan. Meski air tawar secara keseluruhan tidak dipompa secara habis, banyak sumber air tawar yang telah tercemar sehingga tidak bisa digunakan sebagai air minum dan untuk memenuhi kebutuhan pertanian dan industri. Petani harus berjuang untuk mempertahankan produktivitas dengan jumlah air yang terbatas, sedangkan perkotaan dan industri harus mencari cara untuk menghemat penggunaan air.[9]

Sebuah studi yang dipubikasikan Journal of Climate menemukan bahwa di sebelah tenggara Amerika Serikat, kelangkaan air terjadi lebih disebabkan oleh peningkatan populasi. Setelah melakukan pengambilan data iklim dan cuaca serta melakukan permodelan dengan laju peningkatan populasi manusia, disimpulkan bahwa kondisi ini akan tetap terjadi.[10]

Kelangkaan air secara fisik dan ekonomi[sunting | sunting sumber]

Kelangkaan air secara fisik adalah kondisi di mana sumber daya air tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan suatu wilayah atau negara, termasuk air untuk memenuhi kebutuhan pelestarian ekologi.[6] Kondisi ini juga terjadi di wilayah di mana air terdapat dalam jumlah yang banyak namun dipompa secara berlebihan untuk kebutuhan lain seperti irigasi. Gejala yang memperlihatkan kelangkaan air fisik mencakup degradasi lingkungan dan turunnya tinggi muka air tanah.[11]

Kelangkaan air secara ekonomi disebabkan oleh kurangnya investasi di infrastruktur dan teknologi untuk menyediakan air bagi kebutuhan manusia. Adanya manusia yang masih mencari air dari tempat yang jauh merupakan salah satu tanda adanya kelangkaan air secara ekonomi.

Efek kelangkaan air bagi lingkungan[sunting | sunting sumber]

Kapal yang terbengkalai di lokasi yang sebelumnya merupakan Laut Aral, kini merupakan tanah gersang yang mengalami salinisasi parah

Kelangkaan air memiliki berbagai dampak negatif bagi lingkungan. Penggunaan air yang berlebih terkait erat dengan kasus kelangkaan air. Kelangkaan air menyebabkan peningkatan kadar garam tanah, pencemaran nutrisi, hilangnya rawa, dan penyusutan tepi sungai.[6][12] Seama lebih dari seratus tahun yang lalu, lebih dari setengah lahan basah di bumi telah hilang.[5] Lahan basah seperti rawa dan tepi sungai merupakan habitat yang penting bagi mamalia, burung, ikan, amfibi, dan invertebrata, juga bagi manusia karena berbagai jenis lahan pertanian (seperti sawah) dibangun di atas lahan basah. Lahan basah juga berfungsi sebagai penyaring air dan perlindungan dari banjir. Laut Aral merupakan contoh kasus di mana kelangkaan air akibat irigasi berlebihan menyebabkan suplai air ke lokasi ini terhenti, menyebabkan hilangnya 58 ribu kilometer persegi perairan, dan salinisasi tanah terjadi sepanjang tiga dekade terakhir.[5]

Subsiden adalah "tenggelamnya" tanah secara perlahan maupun tiba-tiba, dan merupakan petunjuk adanya kelangkaan air tanah. Di Amerika Serikat diperkirakan 17 ribu mil persegi lahan telah mengalami subsiden, dan 80 persen di antaranya merupakan hasil dari penggunaan air tanah secara berlebihan.[13]

Berkurangnya sumber daya air[sunting | sunting sumber]

Selain air permukaan seperti sungai dan danau, sumber air tawar lain seperti air tanah dan gletser telah menjadi sumber air masyarakat yang dapat diperhitungkan. Air tanah adalah air yang terkumpul di bawah permukaan tanah dan dapat digunakan melalui sumur atau mata air. Air tanah terkumpul di lapisan yang disebut dengan akuifer. Gletser menyediakan air tawar setelah meleleh. Gletser menyuplai air bagi danau dan sungai di berbagai tempat di dunia. Karena pertumbuhan populasi manusia yang eksponensial menyebabkan jumlah air yang digunakan dari kedua sumber ini juga meningkat.[14]

Air tanah[sunting | sunting sumber]

Air tanah sebelum abad ke 20 merupakan sumber air yang jarang digunakan. Pada tahun 1960an, penggunaan air tanah terus meningkat. Perubahan pengetahuan, teknologi, dan pembiayaan memfokuskan pengembangan pada usaha ekstraksi air tanah. Pertanian juga mulai menggunakan air tanah sebagai sumber air irigasi dan mampu memperluas usaha produksi pangan hingga ke daerah yang kering.[15] Air tanah kini menyediakan air minum bagi setengah populasi dunia.[16] Sejumlah besar air yang tersimpan di bawah tanah di sebagian besar akuifer memiliki kapasitas penyangga (buffer) sehingga dapat diambil dengan batasan jumlah tertentu di musim kering tanpa menyebabkan masalah.[14] Hingga tahun 2010 rata-rata air tanah yang diambil sebanyak 1000 km kubik per tahun dengan 67% digunakan di irigasi dan 11% untuk kebutuhan industri.[14] Negara dengan tingkat ekstraksi air tanah terbesar adalah India, China, Amerika Serikat, Pakistan, Iran, Bangladesh, Meksiko, Arab Saudi, Indonesia, dan Italia dengan total 72% dari seluruh air tanah yang diserap.[14] Air tanah menjadi sumber air yang penting untuk kehidupan manusia dan ketahanan pangan bagi 1.2 hingga 1.5 miliar jiwa manusia di Afrika dan Asia.[17]

Meski air tanah merupakan sumber yang cukup penting, satu masalah yang menghinggapi ketersediaan air tanah adalah laju pengembalian air tanah (replenishment) yang dibawah laju ekstraksinya.[18] Ekstraksi berlebihan dapat mengalihkan aliran air tanah yang sebelumnya menuju ke air permukaan sehingga volume danau dan sungai menjadi mengecil.[14] Hilangnya air tanah dapat memicu salinisasi tanah, subsiden tanah, dan berkurangnya volume mata air.

Gletser[sunting | sunting sumber]

Gletser diketahui merupakan sumber air yang cukup penting bagi berbagai sungai di dunia. Peningkatan temperatur global telah memperlihatkan dampaknya di seluruh dinia dengan berkurangnya cadangan air di dalam gletser ini dan laju pelelehan yang lebih tinggi dibandingkan laju pengembaliannya.[19] Meski pelelehan gletser yang terjadi saat ini telah meningkatkan jumlah suplai air permukaan, namun hilangnya gletser membahayakan ketersediaan air secara jangka panjang di masa depan. Pelelehan gletser secara berlebihan juga dapat menyebabkan banjir hingga meruntuhkan bendungan.[20]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Water Scarcity | International Decade for Action 'Water for Life' 2005-2015". Diakses 20 October 2013. 
  2. ^ Freshwater: lifeblood of the planet. peopleandplanet.net (11 November 2002). Diakses 27 Augustus 2013.
  3. ^ Clifford Chance, Tackling Water Scarcity. (Advocates for International Development, October 2011.) http://a4id.org/sites/default/files/Tackling%20Water%20Scarcity.pdf
  4. ^ "Water Stress". Diakses 20 October 2013. 
  5. ^ a b c "Water Scarcity | Threats | WWF". 2013. Diakses 20 October 2013. 
  6. ^ a b c d e f United Nations Development Programme (2006). Human Development Report 2006: Beyond Scarcity–Power, Poverty and the Global Water Crisis. Basingstoke, United Kingdom:Palgrave Macmillan.
  7. ^ Background page, United Nations Millennium Development Goals website, Diakses 16 Juni 2009
  8. ^ Falkenmark and Lindh 1976, quoted in UNEP/WMO. "Climate Change 2001: Working Group II: Impacts, Adaptation and Vulnerability". UNEP. Diakses 3 February 2009. 
  9. ^ Chartres, C. and Varma, S. Out of water. From Abundance to Scarcity and How to Solve the World’s Water Problems FT Press (USA), 2010
  10. ^ Dean, Cornelia (2 October 2009) Southeast Drought Study Ties Water Shortage to Population, Not Global Warming. NY Times.
  11. ^ "Water scarcity, risk and vulnerability". Diakses 2 December 2014. 
  12. ^ "Water Scarcity Index - Vital Water Graphics". Diakses 20 October 2013. 
  13. ^ Texas Water Report: Going Deeper for the Solution Texas Comptroller of Public Accounts. Retrieved 2/10/14.
  14. ^ a b c d e WWAP (World Water Assessment Programme). 2012. The United Nations World Water Development Report 4: Managing Water under Uncertainty and Risk. Paris, UNESCO.
  15. ^ Giordano, M. and Volholth, K. (ed.) 2007. The Agricultural Groundwater Revolution. Wallingford, UK, Centre for Agricultural Bioscience International (CABI).
  16. ^ WWAP (World Water Assessment Programme). 2009. Water in a Changing World. World Water Development Report 3. Paris/London, UNESCO Publishing/Earthscan.
  17. ^ Comprehensive Assessment of Water Managemet in Agriculture. 2007. Water for Food, Water for Life: A Comprehensive Assessment of Water Management in Agriculture. London/Colomb, Earthscan/International Water Management Institute
  18. ^ Foster, S. and Loucks, D. 2006. Non-renewable Groundwater Resources. UNESCO-IHP Groundwater series No. 10. Paris, UNESCO.
  19. ^ Hewitt, K. 2005. The Karakoram Anomaly? Glacier expansion and the ‘elevation effect’, Karakoram Himalaya. Mountain Research and Development, Vol. 25, No. 4, pp. 332–40
  20. ^ Hewitt, K., 1982. Natural Dams and Outburst Floods of the Karakoram Himalaya. Proceedings of the Symposium on Hydrological Aspects of Alpine and High Mountain Areas. International Association of Hydrological Sciences (IAHS) Publication No. 138. Wallingford, UK, IAHS Press.

Bahan bacaan terkait[sunting | sunting sumber]

  • An International Food Policy Research Institute book about the intersection of water policy, globalization and food security: Ringler, C., Biswas, A., and Cline, S., eds. 2010. Global Change: Impacts on Water and Food Security. Heidelberg: Springer.
  • Steven Solomon (2010). Water: The Epic Struggle for Wealth, Power, and Civilization. Harper. hlm. 608. ISBN 978-0-06-054830-8. 
  • Alexander Bell (2009). Peak Water : Civilisation and the world's water crisis. Edinburgh: Luath. hlm. 208. ISBN 1-906817-19-7. 
  • Peter H. Gleick, ed. (2009). The World's Water 2008–2009: The Biennial Report on Freshwater Resources. Washington D.C. : Island Press. hlm. 402. ISBN 1597265055. 
  • Maude Barlow (2007). Blue covenant : the global water crisis and the coming battle for the right to water. New York : New Press : Distributed by W.W. Norton. hlm. 196. ISBN 978-1-59558-186-0. 
  • Richard Heinberg (2007). Peak Everything: Waking Up to the Century of Declines. Gabriola, BC : New Society Publishers. hlm. 213. ISBN 978-0-86571-598-1. 
  • Engelbert, Ernest A., and Ann Foley Scheuring, ed. (c. 1984). Water Scarcity: Impacts on Western Agriculture. Berkeley: University of California Press. 
  • Jameel M. Zayed. "No Peace Without Water – The Role of Hydropolitics in the Israel-Palestine Conflict". London. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]