Kedokteran hewan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Seorang ahli bedah merawat seekor kucing

Kedokteran hewan merupakan salah satu jenis ilmu dan praktik kedokteran, yang melakukan diagnosis, terapi, dan pencegahan penyakit pada hewan. Secara umum, semua jenis hewan dapat dikategorikan sebagai pasien, baik hewan domestik maupun liar.

Istilah[sunting | sunting sumber]

Dalam bahasa Inggris, kedokteran hewan disebut veterinary medicine, sedangkan dokter hewannya sendiri disebut veterinary physician yang disingkat menjadi veterinarian (American English) atau veterinary surgeon (British English).

Istilah ini berasal dari bahasa Latin, veterinarius. Veterinarius adalah nama yang diberikan kepada sekelompok orang yang bertugas untuk mengurusi veterinae (hewan pekerja).

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada masa peradaban kuno, hewan yang paling diperhatikan kesehatannya adalah kuda, karena mereka banyak dimanfaatkan sebagai sarana transportasi dan peperangan (bagian dari pasukan kavaleri). Lama-kelamaan, kesehatan sapi dan hewan ternak lainnya mulai diperhatikan.

Anjing baru mendapatkan fokus pada zaman modern, saat perekonomian dunia mulai tumbuh dan peperangan mulai berhenti, yang kemudian disusul oleh hewan kesayangan lainnya. Saat anjing dan kucing telah menjadi kesayangan yang umum dipelihara, beberapa orang kemudian mencoba memelihara hewan eksotik di rumah.

Interaksi antara hewan dan manusia telah berlangsung selama ribuan tahun. Dimulai saat manusia pertama kali bertemu dengan hewan dan berusaha menjinakkan mereka.

Zaman Prasejarah[sunting | sunting sumber]

Pada awal masa kehidupan, hewan hidup secara liar di habitatnya masing-masing, terpisah dengan manusia. Ilmu sejarah mengajarkan pada kita bahwa pada zaman batu, manusia hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan. Di era ini, hewan-hewan liar diburu oleh manusia untuk dijadikan makanan.

Saat zaman berubah menjadi zaman bertani dan bercocok tanam, manusia mengubah gaya hidup menjadi agraris. Mereka tak lagi menggantungkan seluruh hidupnya dengan cara berburu hewan dan memetik tumbuhan. Manusia mulai berpikir untuk merawat dan mengembangkannya sendiri di lingkungan mereka Orang-orang melihat bahwa hewan liar dapat dimanfaatkan untuk membantu kehidupan. Sejak saat itu dimulailah masa domestikasi hewan dan tumbuhan.

Secara sederhana, domestikasi adalah suatu usaha untuk menjadikan hewan (atau tumbuhan) dapat hidup dan tinggal bersama-sama dengan manusia.

Berbagai penelitian arkeologis dan genetis menyatakan bahwa anjing adalah spesies hewan pertama yang didomestikasi oleh manusia. Hewan ini didomestikasi dari serigala sejak 15.000 tahun yang lalu. Sementara itu, bangsa Mesir kuno yang sangat menjunjung tinggi kucing, diperkirakan melakukan domestikasi pada kucing pada tahun 8000 SM.

Ada beberapa poin penting yang harus dicatat sehubungan dengan proses domestikasi hewan :

  1. Seekor hewan dikatakan sebagai hewan domestik apabila ia mampu hidup, tinggal dan berkembang biak di lingkungan kehidupan manusia.
  2. Hewan domestik berasal dari satwa yang hidup liar di alam.
  3. Satwa liar masih bersifat buas, sedangkan hewan domestik lebih toleran terhadap manusia.
  4. Pada hewan domestik telah terjadi perubahan sifat secara genetis sehingga ia berbeda dengan nenek moyangnya yang liar dan buas.
  5. Apabila hewan domestik berkembang biak, keturunan yang dihasilkannya harus memiliki sifat yang sama dengan induknya. Bersikap lebih tenang dan toleran terhadap manusia.

Berbagai spesies hewan pun didomestikasi oleh berbagai peradaban di berbagai belahan bumi. Sejak saat itu, tubuh dan kesehatan hewan mulai diperhatikan. Baik sebagai usaha untuk mengobati penyakit hewan, atau sebagai bahan studi perbandingan dengan tubuh manusia.

Zaman Pertengahan[sunting | sunting sumber]

Aristoteles, salah satu dari tiga filosof terbesar Yunani kuno, dikenal sebagai bapak kedokteran hewan karena ia adalah orang pertama yang melakukan penelitian mendalam mengenai hewan. Aristoteles meneliti berbagai jenis hewan. Mencatat hal-hal yang ia temukan. Menuliskan hasil penelitiannya itu dalam berbagai buku-bukunya, yang dijadikan acuan untuk pengembangan ilmu selanjutnya.

Aristoteles menulis banyak buku yang selanjutnya digunakan selama ratusan tahun sebagai dasar ilmu pengetahuan dalam memahami hewan. Beberapa judul buku yang ditulisnya antara lain the history of animals, the parts of animals, dan the generation of animals. Namun karyanya dalam bidang biologi yang paling besar adalah The Ladder of Life. Buku yang mengelompokkan hewan menjadi berbagai tingkatan, ibarat sebuah tangga, berdasarkan fungsi dan kompleksitas tubuhnya.

Aristoteles membagi hewan dan tumbuhan dalam 11 kelompok anak tangga. Semakin kompleks makhluk hidup tersebut, semakin tinggi pula posisinya. Tumbuhan berada pada posisi paling bawah. Bagian tengah diisi oleh hewan yang bertelur. Bagian atas diisi oleh hewan yang melahirkan. Sedangkan manusia berada pada puncak tangga tersebut.

Walaupun klasifikasi Aristoteles ini tergolong tidak akurat jika dibandingkan dengan pengetahuan masa kini. Namun hasil kerjanya menjadi dasar utama teori ilmiah pada sejarah ilmu biologi. Jauh sebelum munculnya tokoh seperti Darwin dan Linnaeus.


Ashoka the Great, salah satu emperor terbesar India, merupakan penguasa yang sangat peduli dengan kesejahteraan seluruh rakyatnya, baik manusia maupun hewan. Sebagai penguasa, ia menyediakan pelayanan medis pada manusia dan hewan, mendirikan klinik untuk manusia dan hewan secara berdampingan, melarang pemotongan dan konsumsi sapi dan hewan-hewan lainnya, terutama bagi keluarga kerajaan.

Di bawah pemerintahan Ashoka, Mauryan Empire dikenal sebagai “Salah satu dari sedikit pemerintahan di dunia yang memperlakukan hewan sebagai rakyatnya, dengan memberi mereka perlindungan yang sama terhadap manusia”.

Zaman Modern[sunting | sunting sumber]

Walaupun berbagai buku tentang anatomi, fisiologi, dan taksonomi hewan telah ditulis dan dipelajari, namun usaha untuk menjadikan kedokteran hewan sebagai bidang ilmu formal dan profesi yang legal, baru dimulai sejak abad ke-18. Usaha ini dirintis oleh seorang bangsawan Prancis yang bernama Bourgelat.


Claude Bourgelat (1712-1779) adalah orang yang mendirikan sekolah kedokteran hewan pertama di dunia, yang terletak di Lyon, Prancis. Bourgelat adalah seorang ahli kuda. Karena ketertarikan dan pengetahuannya yang mendalam mengenai kuda, ia diangkat menjadi direktur akademi berkuda Lyon. Bourgelat juga belajar tentang metodologi ilmiah untuk melakukan pembedahan, meneliti anatomi kuda. Bekerja sama dengan para dokter bedah di Lyon.

Dari sini, ia melihat bahwa terdapat banyak kesamaan antara tubuh manusia dan hewan, sehingga ia mempertimbangkan kemungkinan adanya profesi dokter hewan. Ia akhirnya aktif dalam kegiatan ilmuwan. Menjadi penulis artikel-artikel tentang kuda di ensiklopedia Prancis.

Pada saat itu, abad ke-18. Penyakit-penyakit pada hewan ternak melanda benua Eropa. Salah satu penyakit yang sedang mewabah adalah cattle plague atau rinderpest. Bourgelat akhirnya berhasil meyakinkan Raja Louis XV, penguasa absolut Prancis saat itu, akan pentingnya mendirikan sekolah dokter hewan, untuk memberi pendidikan kepada masyarakat tentang ilmu kedokteran hewan, yang akan menguntungkan negara dalam memerangi penyakit seperti rinderpest ini.

Sang raja lalu mengabulkan permintaannya. Pada tahun 1761, Bourgelat diberi sebidang tanah di Lyon untuk mendirikan sekolah kedokteran hewan dan ia sendiri ditunjuk menjadi direkturnya. Sejak saat itu dimulailah usaha dalam menggali dan menyebarkan ilmu pengetahuan dan pengobatan penyakit pada hewan domestik. Dimulai dari Lyon, lalu ke Alford (daerah kecil dekat Paris), dan kemudian menyebar ke kota-kota lain di daratan Eropa, hingga ke seluruh dunia.

Kedokteran Hewan di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Kedokteran hewan merupakan suatu profesi yang resmi dan legal yang dipelajari melalui pendidikan di tingkat universitas.

Pendidikan ini terbagi menjadi dua tahap. Tahap pertama adalah pendidikan sarjana (S-1) yang biasanya ditempuh selama delapan semester. Setelah menyelesaikan tahap ini, seseorang akan mendapatkan gelar sarjana kedokteran hewan (S.K.H.). Tahap kedua adalah pendidikan profesi (koas) yang biasanya memerlukan waktu 1,5 tahun. Setelah menyelesaikan koas, seseorang baru akan mendapatkan gelar dokter hewan (drh).

Jumlah universitas yang memiliki fakultas atau program studi kedokteran hewan di Indonesia berjumlah 10 buah. Kesepuluh universitas itu adalah :

  1. Universitas Syiah Kuala (Aceh)
  2. Institut Pertanian Bogor (Bogor)
  3. Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta)
  4. Universitas Airlangga (Surabaya)
  5. Universitas Wijaya Kusuma (Surabaya)
  6. Universitas Brawijaya (Malang)
  7. Universitas Udayana (Denpasar)
  8. Universitas Nusa Tenggara Barat (Mataram)
  9. Universitas Hasanuddin (Makassar)
  10. Universitas Nusa Cendana (Kupang)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]