Kecerdasan hewan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Washoe, seekor simpanse betina yang merupakan hewan pertama yang belajar komunikasi menggunakan bahasa isyarat Amerika, sebagai bagian dari penelitian terhadap binatang untuk mengetahui kemampuan binatang dalam belajar bahasa.

Kecerdasan hewan atau kognitif hewan adalah nama yang diberikan dalam mempelajari kapasitas mental hewan. Ilmu ini telah dikembangkan dari psikologi komparatif, termasuk studi tentang pengkondisian dan pembelajaran hewan, tetapi juga telah sangat dipengaruhi oleh penelitian dalam bidang etologi, ekologi perilaku, dan psikologi evolusioner. Nama alternatif yang sering digunakan adalah kognitif etologi.[1]

Penelitian tentang kognitif hewan banyak melibatkan mamalia, terutama primata, cetacea, dan gajah, juga anjing, kucing, dan hewan pengerat. Namun, penelitian juga dikembangkan terhadap hewan vertebrata non mamalia seperti burung, termasuk bayan, corvidae, dan merpati, termasuk juga kadal, ular, dan ikan, bahkan termasuk juga hewan invertebrata seperti Cephalopoda, laba-laba dan serangga.[1]

Latar belakang sejarah[sunting | sunting sumber]

Kognitif hewan dari anekdot ke laboratorium[sunting | sunting sumber]

Perilaku hewan telah memikat imajinasi manusia dari zaman dahulu, dan selama berabad-abad banyak penulis telah berspekulasi tentang apakah hewan memiliki pikiran atau tidak, seperti yang ditulis oleh Descartes.[2] Spekulasi tentang kecerdasan hewan secara bertahap membawa terhadap penelitian ilmiah setelah Darwin menempatkan manusia dan hewan pada sebuah kontinum, meskipun pendekatan Darwin sebagian besar anekdot dengan topik yang tidak akan dianggap cukup ilmiah di kemudian hari.[3] Tidak puas dengan metode anekdot dari Darwin dan anak didiknya Romanes,[4] E. L. Thorndike membawa perilaku hewan ke laboratorium untuk pemeriksaan yang lebih obyektif. Dengan cermat Thorndike mengamati kucing, anjing dan ayam dalam usaha melepaskan diri dari kotak teka-teki yang membuat dia menyimpulkan bahwa perilaku cerdas dapat bertambah dengan adanya asosiasi sederhana untuk itu inferensi untuk alasan hewan, wawasan, atau kesadaran adalah tidak diperlukan dan menyesatkan.[5] Pada saat yang sama, I. P. Pavlov memulai penelitian tentang kondisi refleks pada anjing. Pavlov cepat meninggalkan usahanya dan mengambil kesimpulan tentang proses mental anjing ini; upaya tersebut, katanya, hanya menyebabkan pertentangan dan kebingungan. Namun, dia, mengusulkan untuk dilakukan proses fisiologis tak terlihat yang mungkin dapat menjelaskan pengamatannya.[6]

Perilaku setengah abad[sunting | sunting sumber]

Karya Thorndike, Pavlov dan beberapa pendapat dari ahli perilaky John B. Watson[7] menimbulkan gelombang penelitian lebih lanjut tentang tingkah laku hewan selama lebih dari setengah abad. Sepanjang masa ini, ada kemajuan dalam memahami asosiasi sederhana; tercatat sekitar tahun 1930 perbedaan antara kondisi instrumental Thorndike dan kondisi klasikal Pavlov dapat diklarifikasi, pada awalnya oleh Miller dan Kanorski, juga oleh B. F. Skinner.[8][9] Banyak penelitian dilakukan dalam kondisi sebagai berikut; mereka membuat beberapa teori yang kompleks,[10] namun menghilangkan atau meminimasi referensi yang dapat mengintervensi proses mental. Kemungkinan, ide yang paling eksplisit adalah bahwa perilaku pengontrol proses mental merupakan perilaku radikal. Pandangan ini berusaha untuk menjelaskan perilaku, termasuk "acara pribadi" seperti gambaran mental, hanya dengan mengacu pada kontinjensi lingkungan yang dialami manusia atau hewan.[11]

Revolusi kognitif[sunting | sunting sumber]

Dimulai sekitar tahun 1960, sebuah "revolusi kognitif" dalam penelitian pada manusia[12] secara bertahap mendorong transformasi yang sama dalam penelitian pada hewan. Inferensi dengan proses yang tidak secara langsung diamati menjadi dapat diterima dan kemudian menjadi hal biasa. Seorang pendukung yang penting dalam pergeseran pemikiran adalah Donald O. Hebb, yang berpendapat bahwa "pikiran" hanyalah sebuah nama untuk proses di kepala yang mengontrol perilaku yang kompleks, dan bahwa hal itu diperlukan untuk menyimpulkan proses tersebut dari perilaku[13] Hewan dapat dilihat sebagai "agen pencari tujuan yang memperoleh, menyimpan, mengambil, dan memproses informasi secara internal dalam berbagai tingkatan kognitif yang kompleks."[14] Namun, menarik untuk dicatat bahwa banyak percobaan kognitif dengan hewan yang telah dilakukan, atau yang sedang berjalan, menggunakan metode cerdik pengkondisian yang dipelopori oleh Thorndike dan Pavlov.[15]

Status ilmiah "kesadaran" pada hewan terus hangat diperdebatkan. Pertimbangan serius dari pikiran sadar pada hewan telah dianjurkan oleh beberapa orang (seperti, Donald Griffin),[16] tetapi komunitas peneliti yang lebih besar tidak begitu menanggapi saran tersebut.[17]

Metode[sunting | sunting sumber]

Percepatan penelitian tentang kognitif hewan dalam 50 tahun terakhir telah menyebabkan ekspansi yang cepat dalam penelitian berbagai spesies dan metode yang digunakan. Perilaku yang luar biasa pada hewan berotak besar primata dan Cetacea telah menyatakan perhatian khusus, tetapi segala macam mamalia besar dan kecil, burung, ikan, semut, lebah, dan lain-lain telah dibawa ke laboratorium atau diamati di lapangan dengan kondisi yang terkontrol dan dikendalikan . Di laboratorium, hewan diuji dengan cara mendorong tuas, menarik senar, menggali untuk makanan, berenang di labirin air, atau menanggapi gambar pada layar komputer.[15]

Beberapa projek penelitian jangka panjang telah menarik banyak perhatian. Projek ini termasuk percobaan bahasa kera seperti proyek Washoe dan proyek Nim. Proyek lainnya yang merupakan perpanjangan seri penelitian [[Irene Pepperberg] dengan menggunakan burung bayan Afrika bernama Alex, penelitian Louis Herman dengan lumba-lumba hidung botol, dan studi jangka panjang memori merpati di mana burung ditunjukkan untuk mengingat beberapa gambar untuk periode beberapa tahun.

Beberapa peneliti telah menggunakan metode Piagetian dengan efektiv, dimana hewan diminta untuk melakukan hal-hal yang dapat dilakukan manusia balita dalam beberapa tahapan umur, dan mempelajari hewan mana yang dapat melakukan tugas tersebut.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Shettleworth, S. J. (2010) Cognition, Evolution and Behavior (2nd ed) New York: Oxford.
  2. ^ Descartes, R. (1649), ‘’Passions of the Soul’’
  3. ^ Darwin, C. 1871, ‘’The descent of man, and selection in relation to sex’’
  4. ^ Romanes, J. G. 1883, ‘’Animal Intelligence’’
  5. ^ Thorndike, E. L. 1911, ‘’Animal intelligence’’.
  6. ^ Pavlov, I.P. 1928, ‘’Lectures on conditioned reflexes’’
  7. ^ Watson, J. B. (1913). Psychology as the Behaviorist Views it. ‘’ Psychological Review, 20’’, 158-177
  8. ^ Miller, S. & Konorski, J. (1928) Sur une forme particulière des reflexes conditionels. ‘’Comptes Rendus des Seances de la Societe de Biologie et de ses Filiales’’, 99, 1155-1157
  9. ^ Skinner, B. F. (1932) ‘’The Behavior of Organisms’’
  10. ^ Hull, C. L. (1943) ‘’The Principles of Behavior’’
  11. ^ Skinner, B. F. ‘’About Behaviorism’’ 1976
  12. ^ Niesser, U. (1967) ‘’Cognitive Psychology’’
  13. ^ p. 3, Hebb, D. O. 1958 ‘’ A Textbook of Psychology’’
  14. ^ p. 2 , Menzel, R. & Fischer, J. (2010) ‘’Animal Thinking: Contemporary Issues in Comparative Cognition’’
  15. ^ a b Wasserman & Zentall (eds) (2006) ‘’Comparative Cognition’’
  16. ^ Griffin, D.(1985) ‘’Animal Thinking’’
  17. ^ p.8 ff, Wasserman & Zentall (eds) (2006) ‘’Comparative Cognition’’

Pranala luar[sunting | sunting sumber]