Kaus kaki Natal

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kaus kaki Natal di atas perapian

Kaus kaki Natal adalah kaus kaki besar atau kantong kain berbentuk kaus kaki yang digantung anak-anak pada malam Natal. Anak-anak berharap Sinterklas akan datang berkunjung dan mengisinya dengan mainan, permen, buah-buahan, uang logam, atau hadiah-hadiah kecil lainnya.

Kaus kaki Natal telah menjadi salah satu hiasan Natal dan kerajinan tangan yang populer. Kaus kaki Natal berukuran besar dan dibuat dalam warna-warni mencolok sehingga tidak bisa dipakai sebagai kaus kaki sehari-hari. Nama anggota keluarga sering dicantumkan pada kaus kaki Natal agar Sinterklas tidak salah meletakkan hadiah.

Pada zaman dulu, anak-anak menggantungkan stoking atau kaus kaki besar di atas perapian agar mudah dilihat Sinterklas yang turun dari cerobong asap. Di rumah zaman sekarang yang tidak memiliki perapian, kaus kaki Natal bisa diletakkan di mana saja.

Dalam beberapa cerita Natal, Sinterklas meletakkan hadiah untuk anak-anak di dalam kaus kaki Natal. Kisah lain mengatakan Sinterklas meletakkan kado Natal yang dibungkus di bawah pohon Natal. Menurut tradisi kebudayaan Barat, anak-anak yang tidak berkelakuan manis hanya akan menerima sebuah batu bara.

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Cerita rakyat Belanda[sunting | sunting sumber]

Pada abad ke-16, anak-anak di Belanda memiliki tradisi meletakkan kelompen berisi jerami di depan perapian. Jerami dimaksudkannya sebagai makanan rusa kutub atau keledai yang menarik kereta Sinterklas.

Di dekat perapian, anak-anak juga menyiapkan kue untuk Sinterklas. Sebagai tanda terima kasih, Sinterklas akan memberikan hadiah kepada anak-anak. Di kemudian hari, kelompen diganti dengan stoking dan kaus kaki.[1]

Legenda Santo Nikolas[sunting | sunting sumber]

Seorang duda miskin memiliki tiga orang anak gadis, namun tidak memiliki uang untuk menikahkan mereka.[2] Ketiga anak gadis tersebut kemungkinan besar tidak akan pernah menikah bila sang ayah tidak memiliki uang untuk maskawin.

Santo Nikolas lewat di desa tempat mereka tinggal. Ia mendengar perbincangan penduduk desa tentang kesulitan sang ayah yang sedang dalam kesulitan. Santo Nikolas tahu bahwa sumbangan darinya pasti ditolak. Ia berniat membantu secara diam-diam, Dengan membawa tiga kantong uang emas, Santo Nikolas masuk ke dalam rumah melalui cerobong asap ketika mereka sudah tidur.

Ketika sedang mencari tempat untuk meletakkan kantong uang emas, Santo Nikolas melihat stoking milik ketiga anak gadis yang sedang digantung di dekat perapian. Ketiga kantong uang emas dimasukkannya ke dalam masing-masing stoking, dan Santo Nikolas segera pergi.

Pagi harinya setelah bangun, ketiga anak gadis itu sangat gembira menemukan kantong uang emas di dalam stoking. Dengan uang emas tersebut, sang ayah dapat menikahkan ketiga putrinya.

Kisah tersebut menjadi asal usul tradisi menggantung kaus kaki Natal yang dimulai anak-anak di Eropa. Kaus kaki yang digantung mulanya kaus kaki biasa, namun lambat laun diganti dengan kaus kaki Natal yang khusus dibuat untuk menerima hadiah.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]