Kanor, Bojonegoro

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kanor
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Timur
Kabupaten Bojonegoro
Pemerintahan
 • Camat Joko Purnomo
Luas - km²
Jumlah penduduk -
Kepadatan - jiwa/km²
Desa/kelurahan 25 desa

Kanor adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Terdapat 25 desa di kecamatan Kanor dari ujung utara yaitu jajaran Desa Kedungprimpen, Desa Gedongarum, Desa Pilang, Desa Semambung sampai ke Ujung Selatan yaitu Desa Tejo, Desa Cangaan, Desa Pesen, Desa Kabalan, Desa Piyak, Desa Nglarangan, dan Desa Sroyo. Kanor memiliki satu SMP Negeri yaitu SMP Negeri Kanor yang berdiri pada tahun 1983 dan belum memiliki SMU Negeri. Mata pencaharian utama penduduknya adalah bertani dengan mengandalkan pompanisasi pada desa-desa yang dekat dengan aliran Bengawan Solo dan tadah hujan untuk sawah-sawah yang tidak terjangkau oleh pompanisasi. Karena terletak di hilir Bengawan Solo maka hampir setiap tahun kecamatan Kanor mengalami bencana banjir. Bencana banjir yang terjadi tahun 2007 adalah yang paling besar sepanjang catatan.

Di desa Cangakan, sebuah desa yang terletak di pesisir Bengawan Solo, terdapat sebuah masjid tertua di Bojonegoro, berdiri sekitar tahun 1771. Masjid yang sampai sekarang berdiri dengan nama Masjid Nurul Huda.

Terdapat sebuah desa yang memiliki spesifik pencaharian masyarakatnya yaitu nelayan (pencari ikan). Desa ini adalah Kabalan, kultur mencari ikan di Sungai Bengawan Solo tidak dilakukan oleh warga lain selain warga Desa Kabalan.

Ibu kota Kecamatan Kanor terletak di Desa Tambahrejo, yang mana ditandai dengan berlokasinya kantor pemerintah kecamatan, polsek, koramil, dan puskesmas. Di ujung sebelah utara Kecamatan Kanor terdapat desa yang bernama Gedongarum. Desa ini berada di bibir sungai Bengawan Solo yang membatasi Kabupaten Bojonegoro dengan Kabupaten Tuban. Kepala desanya saat ini bernama Suherman. Mantan-mantan Kepala Desa Gedongarum diantaranya adalah Sudarno, Soetomo, Darsono, Usup Kartomihardjo, dan Mbah Lurah yang tidak diketahui namanya. Pada tahun 1980-an masyarakat di desa-desa di bagian utara Kecamatan Kanor mempunyai tiga siklus musim tanam. Dimulai dari musim hujan dengan menanam padi, musim kemarau menanam tembakau, dan musim pancaroba dengan menanam jagung. Tetapi saat ini siklus itu menjadi musim padi, padi, dan padi lagi karena efek dari sistem irigasi pompanisasi.

Salah satu yang unik dari desa-desa di Kecamatan Kanor adalah bahwa Kepala Desa dapat dikatakan tidak mendapat gaji dari pemerintah pusat. Kalaupun mendapatkan hanya sebatas UMR. Akan tetapi setiap desa di Kecamatan Kanor memiliki tanah desa yang luas yang diberikan hak pengelolaannya kepada Kepala Desa terpilih. Hasil bercocok tanam di tanah yang dinamai bengkok ini dapat mencapai gross 100 juta rupiah sekali musim tanam 3-bulan, dengan net sekitar 60 juta. Dalam satu tahun setidaknya mendapatkan 2 kali masa panen sehingga minimal seorang Kepala Desa akan mendapatkan penghasilan bersih 120 juta rupiah setiap tahun.