Kala (film)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kala (film)
Poster kala.jpg
Sutradara Joko Anwar
Produser Dhamoo Punjabi
Manoj Punjabi
Penulis Joko Anwar
Pemeran Fachri Albar
Ario Bayu
Shanty
Musik Haris Khaseli
Aghy Narottama
Distributor MD Pictures
Durasi 102 menit
Penghargaan
Festival Film Indonesia 2007

Kala adalah sebuah film Indonesia tahun 2007 yang disutradarai Joko Anwar dan dibintangi antara lain oleh Fachry Albar, Ario Bayu, Shanty, Fahrani, dan Tipi Jabrik. Kala yang juga dikenal dengan judul lengkap: Dead Time: Kala adalah film Indonesia pertama yang bergaya film noir dan disebut-sebut para kritikus sebagai sebuah lompatan tinggi dalam sejarah perfilman Indonesia.

Plot[sunting | sunting sumber]

Film diawali dengan dua orang polisi bernama Eros (Ario Bayu) dan Hendro Waluyo (August Melasz) yang menginvestigasi sebuah kasus pembakaran lima orang oleh massa karena kelima orang itu diteriaki maling. Kemudian film berlanjut ke kehidupan seorang jurnalis yang hidupnya gamang karena diceraikan istrinya Sari (Shanty) dan dibebastugaskan dari pencarian beritanya, Janus (Fachri Albar). Janus mempunyai sebuah penyakit bernama Narkolepsi yang dimana sang penderita terlalu berkerja keras sedikit, maka ia akan jatuh tertidur. Setelah terlambat dari sidang perceraian, Janus meneliti kasus pembakaran lima orang, dimana ia bertemu dengan seorang wanita hamil bernama Ratih yang mana merupakan istri salah satu korban. Tidak bisa mendapat informasi, Janus menyembunyikan sebuah tape recorder disela-sela pot tumbuhan dekat Ratih yang saat itu tengah berbicara dengan seorang perawat. Lalu, saat Janus keluar dari rumah sakit sebentar, ia melihat Ratih ditabrak oleh bus dan mobil, dan narkolepsi Januspun berjalan. Ia kemudian terbangun di rumah sakit dan mengambil kasetnya.

Malamnya, Janus bersama temannya Soebandi makan malam dan mendengarkan bersama hasil rekaman. Saat rekaman, tiba-tiba terdengar sebuah lantunan prosa berbahasa jawa berbunyi: Wonten Bukit Bendonowongso, wonten ngajeng Candi Pitu Anak Tangga (Ada di Bukit Bendonowongso, adanya di depan Candi Tujuh Anak Tangga). Setelah selesai, Janus berpisah dengan Soebandi yang sudah berkemas dan pergi ke rumahnya yang kos. Soebandi terus diikuti sesosok makhluk bernama Pindoro (Jose Rizal Manua) yang berakhir dengan dirinya terpenggal oleh sesuatu. Keesokan harinya, Janus dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi Eros, saat Eros meninggalkannya sebentar, seorang kepala polisi bernama Bambang (Frans Tumbuan) memaksanya untuk memberitahu isi rekaman miliknya.

Esoknya, setelah meminta alamat dari rumah sakit Janus pergi ke rumah Ratih. Disana, ia menemui seorang penduduk disana yang menceritakan bahwa Ratih, suaminya, dan ayahnya Ronggoweni (Sujiwo Tejo) meninggal dalam jangka waktu seminggu. Yang misterius, pada malam hari dulu, banyak para pejabat bertamu ke rumah Ronggoweni tersebut tanpa mengetahui maksud kedatangannya. Setelah mendapat informasi tentang anak Ronggoweni yang termuda, Ranti (Fahrani) yang kini bekerja sebagai penyanyi klub malam, Janus pergi menuju tempat Ranti dan menanyakannya perihal misteri prosa yang dikatakan Ratih. Ranti memperingatkan bahwa kalimat itu tidak boleh diberitahukan kepada orang lain, apabila hal itu dilakukan, salah satu dari kedua orang itu harus mati. Pada saat itu Ranti tengah berjalan pulang dan diculik sekelompok orang, Janus yang melihat, ketahuan oleh para penculik Ranti dan turut membawa Janus. Janus terbangun dan menemukan dirinya terikat di depan seorang menteri Budaya, Haryo Wibowo (Arswendi Nasution) yang kini mempertanyakan pembicaraannya dengan Ranti. Lalu, Janus disiram minyak tanah dan dilempari rokok Haryo sebelum Janus berada dalam narkolepsinya.

Eros datang lagi ke TKP pembakaran. Disana lewat keterangan seorang saksi, Eros mendapatkan ciri-ciri perempuan yang meneriaki kelima orang itu maling, hubungan darah dengan salah satu korban, dan kenyataan salah satu korban memakai kalung berbandul laba-laba. Kemudian Eros mendatangi rumah Ronggoweni, disana ia menemui Pindoro kendati tidak dibunuh. Esoknya Eros dan Hendro berbicara mengenai kemerosotan moral dan kolaps yang terjadi di negara ini, Hendro berkata bahwa sebentar lagi akan datang Ratu Adil yang akan membawa negara itu pada kemakmuran, namun Eros cenderung skeptis. Hendro juga memberitahu Eros dibicarakan oleh Pak Bambang dan memberitahu Eros bahwa keluarga Ranti itu adalah keluarga ajudan presiden pertama. Erospun mecari berita di perpustakaan dan menemui beberapa informasi seperti pelantikan Ronggoweni dan perburuan harta karun presiden pertama.

Janus terbangun dan berada di ruangan tempat ia disekap, namun sudah kosong. Januspun kembali ke rumahnya dan bertemu dengan Sari. Sari meminta maaf kepada Janus dan pada malam itu mereka kembali berhubungan. Pada paginya, Janus menceritakan perihal kalimat Ratih kepada Sari, dan Sari tahu lokasinya. Kemudian Sari pergi ke boks telepon dan memberitahu Haryo tentang lokasi harta itu. Dan mereka berdua bertemu di luar kota, Sari ditembak Haryo dan Haryo yang saat itu sudah mengetahui lokasinya, dikejar oleh Pindoro dan berakhir dengan kepalanya yang terpenggal. Janus yang berada di jalan menemukan liputan TV yang menayangkan kematian Sari, terpukul, Janus pergi ke atas gedung dan loncat dari sana. Janus kemudian dikembalikan ke tempat tidurnya oleh Pindoro secara misterius saat Janus yang loncat terkena narkolepsi, lalu sekelompok orang datang dan menyekapnya, meminta Janus menunjukkan lokasi harta itu, dan sang pengkomandonya adalah Pak Bambang dan seorang Menteri.

Di sisi Eros, kini ia dan Hendro tengah bermaksud menggali makam Ronggoweni untuk visum, disana ia bertemu Ranti dan terpaksalah Ranti bercerita. Dikatakan Ronggoweni mengetahui tentang harta karun yang sering diperebutkan dan dicari pejabat, dan hanya boleh ada satu orang yang bisa mengetahui lokasi harta karun tersebut dan lainnya harus mati karenanya. Kakak ipar Ranti, yakni si korban yang dibakar, memaksa Ronggoweni untuk menceritakan lokasi itu kepadanya, setelah sang menantu pergi, Ronggoweni bunuh diri. Si kakak ipar menceritakan lokasi itu kepada kakak Ranti dan keduanya meninggal pada hari yang sama, saat itulah Janus (namun tidak diketahui Hendro, Eros, dan Ranti) mendengar lokasi harta dan menyampaikan bahwa ia tahu lokasinya secara tidak langsung. Mereka bertiga pergi ke perpustakaan untuk mendapat jawaban. Terungkap sejarahnya, harta itu merupakan pemberian raja-raja Nusantara kepada generasi berikutnya, sebagai modal berdirinya negara kesatuan. Presiden pertama yang tahu akibat harta itu akan berbuntut panjang, memerintahkan sembilan orang kepercayaannya untuk menyembunyikan harta itu. Setelah membaca di buku lain, Hendro menemukan fakta mengenai Pindoro. Dan Pindoro tidak bisa membunuh karena dia berasal dari alam gaib, jadi, manusialah yang membunuh orang-orang itu. Pada saat itu, Pindoro berada disamping Ranti dan mereka berdua menghilang bersama.

Seiring kalimat yang dibaca Hendro mengenai ramalan Jayabaya yang mengatakan rahasia harta berbunyi: "Saat negara baru (republik) berusia setengah abad, perebutan harta karun akan semakin hebat. Satu (manusia) akan menjadi pemegang rahasia tersebut yang bisa dipercaya, dia akan dikenal sebagai Sang Penidur", Janus yang tidak mengetahui dirinyalah sang penidur, menceritakan lokasi kepada orang-orang yang berada di bus, niscaya, Pindoro memindahkan Ranti ke bus itu dan Ranti membunuh semua orang kecuali Janus. Akhirnya Janus dipindahkan ke mobil para perencana dan pergi ke lokasi harta. Hendro menarasi lagi, kali ini menerangkan Ranti yang sebenarnya sebagai pelindung sang penidur. Di lokasi harta, saat ingin mengangkut harta-harta tersebut, Ranti datang dan membunuh semua orang kecuali Janus, saat itu Eros yang membuntuti Pak Bambang keluar, dan karena ada dua orang yang mengetahui lokasi harta itu, maka salah seorang dari Janus atau Eros harus mati. Namun kemudian Ranti berlutut dihadapan Eros, terbukalah fakta bahwa Eroslah selama ini sang Ratu Adil dan tujuan Pindoro memperlihatkan wujudnya kepada Eros sebagai pertanda. Akhirnya, Janus, Eros, Ranti, dan Pindoro berjalan berbalik meninggalkan bukit Bendonowongso.

Film diakhiri dengan Hendro yang menarasikan epilog kisahnya: "Pada saatnya, sang penidur akan menyampaikan rahasia harta kepada sang ratu adil. Pemimpin yang akan membawa bangsa ke pintu kemakmuran. Di sebelah bukit ketiganya akan bertemu. Tapi pertemuannya (ketiganya) adalah sebuah perjuangan yang berat. Karena sejak saat itu kejahatan juga akan bersatu untuk membuat mereka gagal. Perang, penyakit, bencana akan datang silih berganti menguji perjuangan mereka."

Peran dan pemeran[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]