Kabupaten Bone

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kabupaten Bone
Lambang Kabupaten Bone.jpeg
Lambang Kabupaten Bone
Moto: -


-
Peta lokasi Kabupaten Bone
Koordinat: 4°13'- 5°6' LS dan 119°42'-120°30' BT-
Provinsi Sulawesi Selatan
Dasar hukum -
Tanggal -
Ibu kota Kota Watampone
Pemerintahan
 - Bupati H. Andi Fahsar M Padjalangi
 - Wakil Bupati H. Ambo Dalle
 - APBD -
 - DAU Rp. 867.813.851.000.-(2013)[1]
Luas 4.559 km²
Populasi
 - Total 717,268 jiwa (2010)
 - Kepadatan
Demografi
 - Kode area telepon 0481
Pembagian administratif
 - Kecamatan 27
 - Kelurahan 39
 - Situs web http://www.bone.go.id/
Trestel di Pelabuhan Bajoe, 3 kilometer menjorok ke arah laut
Trestel di Pelabuhan Bajoe

Kabupaten Bone adalah salah satu Daerah otonom di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Watampone. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 4.559 km² dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 717,268 jiwa (2010).


Wilayah[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Bone sebagai salah satu daerah yang berada di pesisir timur Sulawesi Selatan memiliki posisi strategis dalam perdagangan barang dan jasa di Kawasan Timur Indonesia yang secara administratif terdiri dari 27 kecamatan, 333 desa dan 39 kelurahan. Kabupaten ini terletak 174 km ke arah timur Kota Makassar, berada pada posisi 4°13'- 5°6' LS dan antara 119°42'-120°30' BT. Luas wilayah Kabupaten Bone 4.559 km² dengan rincian lahan sebagai berikut

  • Persawahan: 88.449 Ha
  • Tegalan/Ladang: 120.524 Ha
  • Tambak/Empang: 11.148 Ha
  • Perkebunan Negara/Swasta: 43.052,97 Ha
  • Hutan: 145.073 Ha
  • Padang rumput dan lainnya: 10.503,48 Ha
Utara Kabupaten Wajo, Soppeng
Selatan Kabupaten Sinjai, Gowa
Barat Kabupaten Maros, Pangkep, Barru
Timur Teluk Bone

Demografi[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan hasil pencacahan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Kabupaten Bone adalah 717.268 jiwa, terdiri atas 341.335 laki‐laki dan 375.933 perempuan. Dengan luas wilayah Kabupaten Bone sekitar 4.559 km2 persegi, rata‐rata tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Bone adalah 157 jiwa per km2.[2]

No Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah Rasio
1 Bontocani 7.656 7.699 15.355 99,44%
2 Kahu 17.905 19.510 37.415 91,77%
3 Kajuara 16.783 17.763 34.546 94,48%
4 Salomekko 7.265 7.696 14.961 94,40%
5 Tonra 6.160 6.658 12.818 92,52%
6 Patimpeng 7.543 8.134 15.677 92,73%
7 Libureng 14.536 14.605 29.141 99,53%
8 Mare 12.159 12.877 25.036 94,42%
9 Sibulue 15.218 17.444 32.662 87,24%
10 Cina 12.119 13.243 25.362 91,51%
11 Barebbo 12.314 14.065 26.379 87,55%
12 Ponre 6.437 6.765 13.202 95,15%
13 Lappariaja 11.067 12.093 23.160 91,52%
14 Lamuru 11.361 12.926 24.287 87,89%
15 Tellu Limpoe 6.827 6.933 13.760 98,47%
16 Bengo 12.153 13.089 25.242 92,85%
17 Ulaweng 11.435 13.080 24.515 87,42%
18 Palakka 10.257 11.837 22.094 86,65%
19 Awangpone 13.140 15.429 28.569 85,16%
20 Tellu Siattinge 18.416 21.291 39.707 86,50%
21 Amali 9.334 11.204 20.538 83,31%
22 Ajangale 12.581 14.606 27.187 86,14%
23 Dua Boccoe 13.808 16.131 29.939 85,60%
24 Cenrana 11.090 12.270 23.360 90,38%
25 Tanete Riattang Barat 20.863 22.617 43.480 92,24%
26 Tanete Riattang 22.815 25.671 48.486 88,87%
27 Tanete Riattang Timur 20.093 20.297 40.390 98,99%
TOTAL/Rata-rata 341.335 375.933 717.268 90,80%

Iklim[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kabupaten Bone termasuk daerah beriklim sedang. Kelembaban udara berkisar antara 95%-99% dengan temperatur berkisar 26 °C – 34 °C.

Selain kedua wilayah yang terkait dengan iklim tersebut, terdapat juga wilayah peralihan, yaitu: Kecamatan Bontocani dan kecamatan Libureng yang sebagian mengikuti wilayah barat dan sebagian lagi wilayah timur. Rata-rata curah hujan tahunan di wilayah Bone bervariasi, yaitu: rata-rata < 1.750 mm; 1750 – 2000 mm; 2000 – 2500 mm dan 2500 – 3000 mm.

Pada wilayah Kabupatan Bone terdapat juga pengunungan dan perbukitan yang dari celah-celahnya terdapat aliran sungai. Disekitarnya terdapat lembah yang cukup dalam. Kondisinya sebagian ada yang berair pada musim hujan yang berjumlah sekitar 90 buah. Namun pada musim kemarau sebagian mengalami kekeringan, kecuali sungai yang cukup besar, seperti sungai Walenae, Cenrana, Palakka, Jaling, Bulu-bulu, Salomekko, Tobunne dan Lekoballo.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Bone dahulu terbentuk pada awal abad ke- IV atau pada tahun 1330, namun sebelum Kerajaan Bone terbentuk sudah ada kelompok-kelompok dan pimpinannya digelar KALULA Dengan datangnya TO MANURUNG ( Manurungge Ri Matajang ) diberi gelar MATA SILOMPO-E. maka terjadilah penggabungan kelompok-kelompok tersebut termasuk Cina, Barebbo, Awangpone dan Palakka. Pada saat pengangkatan TO MANURUNG MATA SILOMPO- E menjadi Raja Bone, terjadilah kontrak pemerintahan berupa sumpah setia antara rakyat Bone dalam hal ini diwakili oleh penguasa Cina dengan 10 MANURUNG ,sebagai tanda serta lambang kesetiaan kepada Rajanya sekaligus merupakan pencerminan corak pemerintahan Kerajaan Bone diawal berdirinya. Disamping penyerahan diri kepada Sang Raja juga terpatri pengharapan rakyat agar supaya menjadi kewajiban Raja untuk menciptakan keamanan, kemakmuran, serta terjaminnya penegakan hukum dan keadilan bagi rakyat. Adapun teks Sumpah yang diucapkan oleh penguasa Cina mewakili rakyat Bone berbunyi sebagai berikut : 1. ANGIKKO KURAUKKAJU RIYAAOMI’RI RIYAKKENG 2. KUTAPPALIRENG ELOMU ELO RIKKENG ADAMMUKKUWA MATTAMPAKO 3. KILAO.. MALIKO KISAWE. MILLAUKO KI ABBERE. 4. MUDONGIRIKENG TEMMATIPPANG. MUAMPPIRIKKENG 5. TEMMAKARE. MUSALIMURIKENG TEMMADINGING “ Terjemahan bebas ; 1. ENGKAU ANGIN DAN KAMI DAUN KAYU, KEMANA BERHEMBUS KESITU KAMI MENURUT KEMAUAN DAN

2. KATA-KATAMU YANG JADI DAN BERLAKU ATAS KAMI, APABILA ENGKAU MENGUNDANG KAMI MENYAMBUT 3. DAN APABILA ENGKAU MEMINTA KAMI MEMBERI, WALAUPUN ANAK ISTRI KAMI JIKA TUANKU TIDAK SENANGI KAMIPUN TIDAK 4. MENYENANGINYA, TETAPI ENGKAU MENJAGA KAMI AGAR TENTRAM, ENGKAU BERLAKU ADIL MELINDUNGI AGAR KAMI MAKMUR 5. DAN SEJAHTERA ENGKAU SELIMUTI KAMI AGAR TIDAK KEDINGINAN ‘

Budaya masyarakat Bone demikian Tinggi mengenai sistem norma atau adat berdasarkan Lima unsur pokok masing-masing : Ade, Bicara, Rapang, Wari dan Sara yang terjalin satu sama lain, sebagai satu kesatuan organis dalam pikiran masyarakat yang memberi rasa harga diri serta martabat dari pribadi masing-masing. Kesemuanya itu terkandung dalam satu konsep yang disebut “ SIRI “merupakan integral dari ke Lima unsur pokok tersebut diatas yakni pangadereng ( Norma adat), untuk mewujudkan nilai pangadereng maka rakyat Bone memiliki sekaligus mengamalkan semangat/budaya : 1. SIPAKATAU artinya : Saling memanusiakan , menghormati / menghargai harkat dan martabat kemanusiaan seseorang sebagai mahluk ciptaan ALLAH tanpa membeda – bedakan, siapa saja orangnya harus patuh dan taat terhadap norma adat/hukum yang berlaku 2. SIPAKALEBBI artinya : Saling memuliakan posisi dan fungsi masing-masing dalam struktur kemasyarakatan dan pemerintahan, senantiasa berprilaku yang baik sesuai dengan adat dan budaya yang berlaku dalam masyarakat 3. SIPAKAINGE artinya: Saling mengingatkan satu sama lain, menghargai nasehat, pendapat orang lain, manerima saran dan kritikan positif dan siapapun atas dasar kesadaran bahwa sebagai manusia biasa tidak luput dari kekhilafan

Dengan berpegang dan berpijak pada nilai budaya tersebut diatas, maka sistem pemerintahan Kerajaan Bone adalah berdasarkan musyawarah mufakat. Hal ini dibuktikan dimana waktu itu kedudukan ketujuh Ketua Kaum ( Matoa Anang ) dalam satu majelis dimana MenurungE sebagai Ketuanya Ketujuh Kaum itu diikat dalam satu ikatan persekutuan yang disebut KAWERANG, artinya Ikatan Persekutuan Tana Bone. Sistem Kawerang ini berlangsung sejak ManurungE sebagai Raja Bone pertama hingga Raja Bone ke IX yaitu LAPPATAWE MATINROE RI BETTUNG pada akhir abad ke XVI Pada tahun 1605 Agama Islam masuk di Kerajaan Bone dimasa pemerintahan Raja Bone ke X LATENRI TUPPU MATINROE RI SIDENRENG. Pada masa itu pula sebuatan Matoa Pitu diubah menjadi Ade Pitu ( Hadat Tujuh ), sekaligus sebutan MaTOA MENGALAMI PULA PERUBAHAN MENJADI Arung misalnya Matua Ujung disebut Arung Ujung dan seterusnya Demikian perjalanan panjang Kerajaan Bone, maka pada bulan Mei 1950 untuk pertama kalinya selama Kerajaan Bone terbentuk dan berdiri diawal abad ke XIV atau tahun 1330 hingga memasuki masa kemerdekaan terjadi suatu demonstrasi rakyat dikota Watampone yaitu menuntut dibubarkannya Negara Indonesia Timur, serta dihapuskannya pemerintahan Kerajaan dan menyatakan berdiri dibelakang pemerintah Republik Indonesia Beberapa hari kemudian para anggota Hadat Tujuh mengajukan permohonan berhenti. Disusul pula beberapa tahun kemudian terjadi perubahan nama distrik/onder distrik menjadi KECAMATAN sebagaimana berlaku saat ini. Pada tanggal 6 April 1330 melalui rumusan hasil seminar yang diadakan pada tahun 1989 di Watampone dengan diperkuat Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Bone No.1 Tahun 1990 Seri C, maka ditetapkanlah tanggal 6 April 1330 sebagai HARI JADI KABUPATEN BONE dan diperingati setiap tahun

MOTTO KABUPATEN BONE YAITU SUMANGE TEALARA

Perempuan pembuat tembikar dari tulang di Bone, Sulawesi 1900-1920

Pemekaran Daerah[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Bone Utara[sunting | sunting sumber]

  1. Amali
  2. Ajangale
  3. Cenrana
  4. Dua Boccoe
  5. Tellu Siattinge

Kota Watampone[sunting | sunting sumber]

Kecamatan yang mungkin bergabung ke dalam kota ini meliputi:

  1. Awangpone
  2. Palakka
  3. Tanete Riattang Barat
  4. Tanete Riattang
  5. Tanete Riattang Timur

Referensi[sunting | sunting sumber]