Kabupaten Banggai

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Banggai
Lambang Kabupaten Banggai.png
Lambang Kabupaten Banggai
Moto: Mompo sa'angu nurung mompo sa'angu tanga'


{{{peta}}}
Peta lokasi Kabupaten Banggai
Koordinat: -
Provinsi Sulawesi Tengah
Dasar hukum Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi.
Tanggal 4 Juli 1959
Ibu kota Luwuk
Pemerintahan
 - Bupati Muhammad Sofhian Mile SH, MH
 - {{{wakil kepala daerah}}} Ir. H. Herwin Yatim, MM
 - DAU Rp. 711.134.461.000.-(2013)[1]
Luas 9.672,70 km2
Populasi
 - Total 323.626 jiwa (2010)
 - Kepadatan 33,46 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0461-21015
Pembagian administratif
 - Kecamatan 23
 - Situs web www.banggaikab.go.id
Wanita dari suku Balantak (1913)

Kabupaten Banggai adalah salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Luwuk. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 9.672 km² (data UU No 51/1999), dan berpenduduk sebanyak 323.626 jiwa (2010).

Kabupaten Banggai dulunya merupakan bekas Kerajaan Banggai yang meliputi wilayah Banggai daratan dan Banggai Kepulauan. Pada tahun 1999 Kabupaten Banggai dimekarkan menjadi Kabupaten Banggai dan Kabupaten Banggai Kepulauan.

Kabupaten Banggai merupakan salah satu Kabupaten di Sulawesi Tengah yang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, baik berupa hasil laut (ikan, udang, mutiara, rumput laut dan sebagainya), aneka hasil bumi (kopra, sawit, coklat, beras, kacang mente dan lainnya) serta hasil pertambangan (nikel yang sedang dalam taraf eksplorasi) dan gas (Blok Matindok dan Senoro).

Wilayah Administratif[sunting | sunting sumber]

Luas wilayah Kabupaten Banggai 9.672,70 Km2 atau sekitar 14,22 persen dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Tengah dan wilayah teritorial laut 20.309,68 Km2 serta panjang garis pantai sepanjang 613,25 Km.

Kabupaten Banggai dengan Ibukota Luwuk hingga tahun 2009 secara administratif terdiri atas 18 kecamatan 339 desa/kelurahan. Wilayah Kabupaten Banggai sebagian besar terdiri dari pegunungan dan perbukitan, sedangkan daratan rendah yang ada pada umumnya terletak disepanjang pesisir pantai.

Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010 oleh BPS, jumlah penduduk Kabupaten Banggai mencapai 323.872 jiwa, terdiri dari laki-laki 165.266 jiwa dan perempuan 158.606 jiwa dengan sex rasio 104. Laju pertumbuhan penduduk 0,45 persen pertahun, sedangkan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 31 jiwa/km2.

Objek Wisata[sunting | sunting sumber]

PANTAI KILO LIMA

Obyek wisata ini ramai dikunjungi oleh masyarakat kota Luwuk karena letaknya dekat dari kota. Deretan kios, kafe serta warung makan menjadi pemandangan khas. Ombak pun Beriring menghempas pantai mengiringi keceriaan pengunjung. Bersampan, berenang, ski atau selancar merupakan atraksi yang dapat dilakukan di pantai Kilo Lima. Usai atraksi pengunjung dapat melepas kepenatan sembari menikmati makanan khas seperti nasi goreng, pisang goreng atau minuman segar.

SUAKA MARGASATWA SALODIK

Salodik memiliki panorama alam yang indah terletak 27 kilometer dari kota Luwuk. Untuk mencapai Cagar Alam Salodik ditempuh dengan kendaraan roda empat selama 40 menit dari Kota Luwuk.

Daya tarik utama Cagar Alam Salodik berupa air terjun bersusun-susun. Selain air terjun, obyek yang berada pada ketinggian 600 meter di atas permukaan laut ini memiliki hutan yang lebat. Kicauan burung dari balik dedaunan yang rimbun seakan menyapa setiap pengunjung. Karena alamnya yang indah, Belanda pernah mendirikan pesanggrahan di lokasi ini. Puing¬puing tempat peristirahatan bekas peninggalan Belanda tersebut masih ada sampai sekarang.

ONDORNEMING TOBELOMBANG

Tobelombang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Nuhon Kabupaten Banggai sekitar 425 km dari kota Palu. Menurut tetua adat Tobelombang, Bapak Drs. Abino Lumbun, Tobelombang dikenal sebagai Perkebunan Kelapa pada zaman Belanda tahun 1915. Tempat ini telah dikunjungi wisatawan asing yang senang akan wisata sejarah di masa lampau. Anda masih dapat menyaksikan sisa Peninggalan bersejarah di tempat ini dan disekitar obyek wisata ini terbentang pula pemandangan alam yang indah disekitarnya.

Daftar Kecamatan dan Jumlah Desa/ Kelurahan[sunting | sunting sumber]

Nama Kecamatan Jumlah Desa/ Kelurahan Keterangan
Balantak 27 -
Batui 19 -
Bualemo 16 -
Bunta 25 -
Kintom 14 -
Lamala 18 -
Luwuk 21 -
Luwuk Timur 9 -
Masama 11 -
Nuhon 17 -
Pagimana 38 -
Toili 25 -
Tolili Barat 15 -
Kabupaten Banggai 303 -

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

SEJARAH KABUPATEN BANGGAI Oleh : Haryanto Djalumang

Pada tanggal 10 Maret 2012, bertempat di Hotel Dinasty Luwuk, di selenggarakan Seminar sehari tentang "Sejarah Kabupaten Banggai, oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banggai, untuk membahas hasil Penelitian dari LP3M Insan Cita pimpinan Haryanto Djalumang, dengan pembahasa utama Prof.Muh.Taufik Makarao,SH.,MH. Dari hasil Seminar ini di simpulkan Pertama, Sejarah Kabupaten Banggai sangat berhubungan erat dengan Sejarah Kerajaan Banggai, oleh karena itu pembahasan sejarah Kabupaten Banggai tidak terlepas juga dengan pembahasan sejarah kerajaan Banggai; Kedua, Sejarah Kabupaten Banggai sangat berhubungan erat dengan sejarah Pemerintahan Kolonial Belanda dan Jepang di wilayah kerajaan Banggai; Ketiga, sejarah Kabupaten Banggai berhubungan erat dengan sejarah pergolakan rakyat Kabupaten, untuk menuntut dan berjuang terbentuknya daerah otonom, melalui wadah "Badan Perjuangan Otonomi Daerah " disingkat "BPOD" Kabupaten Daerah Swatantra Tingkat II (DASWATI) Banggai. Hubungan erat dengan kerajaan Banggai yang paling menonjol adalah luas wilayah Kabupaten Banggai berdasarkan UU Nomor 59 Tahun 1959 tanggal 4 Juli 1959 tentang Pembentukan Kabupaten dati II di Sulawesi, sama luasnya dengan luas kerajaan Banggai. Pemerintah Belanda telah meninggalkan bekas jajahannya antara lain dengan membentuk administrasi pemerintahan Afdeling Ooskost van Celebes (907) dan Onderafdeling Banggai (1932), administrasi ini sangat digunakan oleh pemerintah Pusat dalam menyusunan UU pembentukan Kabupaten Dati II di Sulawesi. Melalui perjuangan tokoh politik, organisasi Pemuda dan Pelajar Banggai dan dukungan moril, materil dari Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) raja banggai ke33 H.Sjoekoeran Aminuddin Amir, maka terbentuk wadah perjuangan terbentuknya Kabupaten Banggai, yaitu BPOD. Anggota perjuangan BPOD Banggai adalah antara lain. Djakaria Nurdin Agama (mayor ngopa kerajaan Banggai/KPN), M.H. Wauranagai (PNI), A.Momor (PKI), Jan Posuma (PSII), Ahmad Mile (NU), Badarussalam (Masyumi), Abd. Azis Larekeng (Pemuda/Pelajar Banggai), tim ini yang langsung berjuang ke Makassar menghadap Gubernur Sulawes Andi Pangeran Petta Rani, kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta menemui Menteri Dalam Negeri Mr.Sunaryo, alhamdulillah perjuangan tim BPOD berhasil dengan lahirnya UU Nomor 59 Tahun 1959 tanggal 4 Juli 1959 tentang Pembentukan Kabupaten Dati II di Sulawesi. Tim BPOD Banggai lainnya yang berjuang di Luwuk-Poso-Makassar dan Jakarta, yaitu Aco Dg. Matorang (PSII), Azis Sinukun (NU), Djen Djalumang (NU), T.S.Nullah (Komite XII), Agulu Lagonah (Komite XII), H.Thalib (Muhammdiyah), Siradjuddin Datu Adam (Muhammadiyah), Malajo Ahmad (Muhammadiyah), Ema Hamid (Wanita Bangga), Ena Musa (Pemuda Banggai), Faruk Zaman (KAPPI), Kahar dangka (KAPPI/KAMI). Dari periode Pemerintahan di Kabupaten Banggai, tercatat yang pernah memimpin Kabupaten Banggai adalah sebagai berikut : 1. Bupati DASWATI II Banggai Bidin (1959-1964) 2. Bupati Dati II Banggai R. Atjeh Slamet (1964-1969) 3. Bupati Dati II Banggai Drs.Abd. Azis Larekeng (1969-1973) 4. Bupati Dati II Banggai Plt. Drs. Ali Sopyan (1973) 5. Bupati Dati II Banggai Drs. Eddy Singgih (1973-1978) 6. Bupati Dati II Banggai Plt. Drs. Malaga (1978-1980) 7. Bupati Dati II Banggai Joesoef Soepardjan (1980-1985) 8. Bupati Dati II Banggai Drs. H.M. Junus (1985-1990 dan 1990-1996) 9. Bupati Dati II Banggai Sudarto (1996-2001 dan 2001-2005) 10.Bupati Kabupaten Banggai Drs. Ma'mun Amir (2005) 11.Bupati Kabupaten banggai plt. B.Paliudju (2006) 12.Bupati Kabupaten Banggai Drs. Ma'mun Amir (2006-2011) 13.Bupati Kabupaten Banggai H.M. Sophian Mile, SH., MH. (2011-2016)

Kabupaten Banggai, memiliki adat-istiadat leluhur dari suku Loinang (Saluan), Lo'on (Balantak dan Andio), serta Lobo (Banggai, Peling dan Labobo), dan juga mempunyai nama-nama yang dipakai dalam pemerintahan zaman dulu yaitu di tingkat kabupaten dinamakan Tomundo setingkat Bupati, kemudian ada pembantu dengan nama kapitan laut dan mayor ngopa, lalu ada yang dinamakan sangaji atau bosanyo, lalu ada kapitan setingkat camat, dan tonggon setingkat kepala desa, kepala desa atau yang biasa disebut tonggon dibantu oleh seorang juru tulis setingkat sekretaris desa, lalu ada kepala jaga. Di Pagimana ada 3 Kapitan yaitu Kapitan Lambangan, Kapitan Bualemo dan Kapitan Lingketeng, di wilayah Bunta ada 2 kapitan yaitu Kapitan Duhian dan Kapitan Bugis Mangantjo, kemudian di wilayah Lamala ada Kapitan Lasompoh. Dengan bahasa yang telah diteliti oleh Pusat Bahasa Indonesia Jakarta tahun 1986, 1996 dan 2001. Bahasa Saluan, Balantak, Andio dan Banggai sudah masuk dalam ISO 193-3, Registren Outhorrity, edisi 16 tahun 2012.

Pada Tahun 2010, jumlah penduduk Kabupaten Banggai 305.897 jiwa, dengan kepadatan penduduk rata-rata 32 jiwa/km (BPS Kab.Banggai), luas wilayah 9.672,70 km2., secara administrasi di bagi dalam 18 (delapan belas) Kecamatan, 46 (empat enam) Kelurahan, dan 291 (dua ratus sembilan puluh satu) Desa, serta 2 (dua) unit Pemukiman Transmigrasi. Pada tahun 2012, jumlah Kecamatan bertambah 23 (dua puluh tiga)....

Pemekaran Daerah[sunting | sunting sumber]

Luas wilayah Kabupaten Banggai berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 Tanggal 4 Juli 1959 Tentang Pembentukan Kabupaten Dati II di Sulawesi adalah 12.064,45 km2. Kota Luwuk yang selama ini menjadi ibukota kabupaten Banggai akan dikembangkan menjadi Kotamadya. Sedangkan ibukotanya diarahkan ke Balantak.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15. 
  2. ^ Sulteng Dikembangkan Jadi 13 Kabupaten beritapalu.com