Johny Lumintang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Johny Lumintang

Letnan Jenderal TNI (Purn.) Johny Josephus Lumintang (lahir di Minahasa, Sulawesi Utara, 28 Juni 1947; umur 67 tahun) adalah salah satu tokoh militer Indonesia dan duta besar Indonesia untuk negara Filipina sejak 14 Februari 2014.[1] Ia adalah lulusan AKABRI Angkatan 1970 dan berasal dari kesatuan Infanteri - Baret Hijau. Pangkat Terakhir militer aktif adalah Letnan Jenderal TNI. Jabatan terakhir sebagai militer aktif adalah Sekretaris Jenderal DEPHAN.

Biografi[sunting | sunting sumber]

Johny Josephus Lumintang, lahir di Desa Noongan, Minahasa, Sulawesi Utara, 28 Juni 1947. Pria ini adalah salah satu pria yang turut berperan dalam operasi pembebasan sandera Mapenduma Team Ekspedisi Lorenz di Irian Jaya, lewat Operasi Rajawali[2], saat menjadi Kepala Staf Kodam/Kasdam VIII/Trikora (1996).

Baru  selesai  melaksanakan  tugas  pembebasan  Team  Ekspedisi Lorenz, Johny yang baru dilantik menjadi Panglima Kodam VII/Trikora atau sekarang menjadi Kodam XVII/Cendrawasih (20 Agustus 1996) mendapat tugas lagi membebaskan sandera 14 orang karyawan PT. Jayanti yang disandera GPK di Kamuna Raya Camp Timika tanggal 14 Agustus 1996, dan kali ini operasi pembebasan sandera tersebut dia pimpin sendiri, tugas tersebut diselesaikan dalam waktu singkat. Tanggal 18 September 1996 sandera dibebaskan walaupun akhirnya 2 sandera meninggal dunia.

Jabatan Pangdam VII/Trikora diembankan padanya selama satu setengah tahun Tamatan Akabri tahun 1970, ini kemudian kembali dipercayakan menjabat Asisten Operasi Kasum TNI (dulu ABRI).

Beberapa jabatan penting sebelumnya antara lain: Komandan Batalyon Infanteri 751, Dandim Merauke dan Jayapura, Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 18/Trisula Kostrad, Komandan Rindam Jaya, Danrem 164 Timor-Timur dan Panglima Divisi Infanteri I/Kostrad.

Pada saat-saat kritis saat Soeharto turun dari kursi kepresidenan, Johny dipercaya menjabat Pangkostrad, menggantikan Letjen TNI Prabowo Subianto (yang saat itu terkenal sebagai The Rising Star). Sayang, masa jabatannya sebagai Panglima Kostrad sangat singkat, hanya 17 jam (22-23 Mei 1998). Itu adalah saat-saat yang paling menentukan dalam kehidupan bangsa dan negara.

Tanggal 30 Oktober 1998, Johny lagi-lagi dipercaya menggantikan posisi Prabowo sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI. Sekaligus juga menggantikan kedudukannya sebagai Anggota Fraksi ABRI MPR-RI.

Suami Drg. Sonya Riupassa, MHA ini pada tanggal18 Januari 1999 ditunjuk menjadi Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat, dan sebelum pensiun Johny menduduki jabatan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Pertahanan setelah sebelumnya menjabat Gubernur Lemhanas. Rupanya angka 18 merupakan angka istimewa bagi Johny, sehingga dalam waktu yang relatif singkat, yaitu ± 10 bulan, ia telah menduduki banyak jabatan strategis. Anak keempat dari lima bersaudara pasangan Alm.Frederik Lumintang dan Sofia Wuisan ini, adalah alumnus Sesko TNI (1991-1992) Angkatan 18, Sus Staf Senior (1992) serta Lemhannas (1995).

Bapak dari tiga anak ini, Kitty Lumintang, lahir 27 Januari 1974, Della Lumintang, kelahiran 28 Oktober 1977, dan Valentino Lumintang, lahir 5 Desember 1979 ini, banyak melewati pendidikan militer, seperti: Infantry Officer Advanced Course, di Fort Benning, USA (1978), serta International Defence Management Course, di Monterey, USA (1989).

Ada satu kegiatan yang amat disukai Johny Lumintang saat tak berbaju militer lagi, yaitu berkebun. Anda suatu kali mungkin dapat melihat mantan Jenderal berbintang tiga ini menenteng beberapa sisir pisang dan beberapa butir kelapa di jalan raya Desa Tosuraya, Ratahan, Kabupaten Minahasa Tenggara tempat mantan Pangkostrad ini dibesarkan.“Saya ingin memberi contoh kepada orang Minahasa agar tidak malas menjalani profesi sebagai Petani, karena saya pun bisa seperti sekarang karena Petani” katanya.

Johny memang mungkin bisa ngomong begitu karena ia merasa ia menduduki karir yang cemerlang juga awalnya dari hasil berkebun. Keluarga Johny seperti warga Minahasa lainnya memang tidak bisa lepas dari profesi petani, karena mayoritas etnis Minahasa sebagai etnis terbesar di Sulawesi Utara menggeluti profesi tersebut. Mereka mampu menyekolahkan anak-anak mereka hanya lewat hasil bertani.

Johny memang menjadi salah satu jenderal dari Sulawesi Utara yang bersinar cemerlang, tak kalah dari Prabowo Subianto.[3]

Karier[sunting | sunting sumber]

  • Kolonel: Komandan Brigade Infanteri Linud 18 Trisula Kostrad
  • Komandan Resimen Induk Kodam Jaya
  • Komandan Resort Militer (Danrem) 164 Wira Dharma Dili, Timor-Timur
  • Brigadir Jenderal: Panglima Divisi Infanteri (Divif) I Kostrad
  • Kepala Staf Daerah Militer VIII/Trikora
  • Mayor Jenderal: Panglima Daerah Militer VIII/Trikora
  • Asisten Operasi KASUM ABRI
  • Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat
  • Letnan Jenderal: Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI
  • Gubernur Lemhanas
  • Wakil Kepala Staf Angkatan Darat
  • Sekretaris Jenderal DEPHAN

Referensi[sunting | sunting sumber]

Didahului oleh:
Agum Gumelar
Gubernur Lemhannas
1999–2001
Diteruskan oleh:
Ermaya Suradinata
Jabatan militer
Didahului oleh:
Letjen TNI Prabowo Subianto
Panglima Kostrad
22 Mei 1998 - 22 Mei 1998
Diteruskan oleh:
Letjen TNI Djamari Chaniago