Jin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Sebuah gua yang disebut Majlis al-Jin di Oman, secara harfiah "Tempat berkumpulnya para Jin".
Sebuah Jin dalam kisah Aladin dan Lampu Wasiat yang ada di Legoland.

Jin (bahasa arab: جن Janna) secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi "tersembunyi" atau "tidak terlihat". Bangsa Jin dahulu dikatakan dapat menduduki beberapa tempat dilangit dan mendengarkan berita-berita dari Allah, setelah diutusnya seorang nabi yang bernama Muhammad maka mereka tidak lagi bisa mendengarkannya karena ada barisan yang menjaga rahasia itu.

...dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang[1] barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya) (Al-Jin 9:72)

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Asal pembentukan kata "jin" dari huruf 'jim' (ج) dan 'nun' (ن) menunjukkan makna tertutup, Syaikh al-Islam berkata: "Ia dinamakan jin karena ketertutupannya dari pandangan manusia."

Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan, yang berarti istitar (tersembunyi).

Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan syetan ialah sifat dari setiap yang durhaka dari golongan jin dan manusia.

Pandangan mitologi Arab[sunting | sunting sumber]

Dalam anggapan orang-orang sebelum Islam datang, Jin dianggap sebagai makhluk keramat, yang harus disembah dan dihormati. Orang orang pada masa tersebut menggambarkannya dalam bentuk patung sesembahan mereka.

Pandangan Islam[sunting | sunting sumber]

Unsur dasar[sunting | sunting sumber]

Tentang asal kejadian jin, Allah menjelaskan, kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas, dijelaskan dalam Al-Hijr dan Ar-Rahman,

"...dan kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (Al-Hijr 15:27)
"...dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api." (Ar-Rahman 55:15)

Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adh-Dhahak berkata, bahwa yang dimaksud dengan firman Allah: "Dari nyala api, ialah dari api murni". Yang di maksud dengan api murni adalah tidak dicampur unsur lain, seperti halnya manusia diciptakan dari berbagai unsur tanah.

Mereka juga berpendapat bahwa yang dimaksud "api yang sangat panas" (nar al-samum) atau "nyala api" (nar) dalam firman Allah di atas ialah "api murni". Ibnu Abbas pernah pula mengartikannya "bara api", seperti dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir.

Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas: "Dari bara api." Riwayat ini ditemukan dalam Tafsir Ibnu Katsir. Dalilnya dari hadits riwayat Aisyah, bahwasanya Rasulullah S.A.W bersabda: "Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan (diceritakan) kepada kalian."[2]

Wujud fisik[sunting | sunting sumber]

Jin dikatakan memiliki tanduk,[3] berukuran kecil[4] dalam kisah lain dikatakan kecil seperti lalat[5] memiliki sayap.[6]

Menurut ajaran Islam, jin dapat melihat manusia, namun sebaliknya manusia tidak dapat melihat mereka dalam wujud aslinya. Jikalau ada manusia yang dapat melihat jin, maka jin yang dilihatnya itu adalah jin yang sedang menjelma dalam wujud makhluk yang dapat dilihat mata manusia biasa.

"Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman." (Al-A'rof 7:27)

Kemudian tidak seorangpun mampu melihat jin, kecuali bila mereka mengubah diri (menjelma) dalam berbagai bentuk. Hanya nabi dan rasul saja yang sanggup melihat wujud aslinya.[7][8]

Ada beberapa riwayat yang menjelaskan bahwasanya mereka mengubah diri ke dalam berbagai bentuk seperti di antaranya:

  • Menjadi seorang lelaki miskin,[9]
  • Menjadi seorang Syaikh dari Najd,[10]
  • Berbentuk ular,[11][12]
  • Berbentuk tikus.[13]

Jin bisa berujud seperti manusia siapapun kecuali sosok Nabi Muhammad,[14][15] mereka dapat mengubah wujud mereka menjadi hewan apapun. Serta bisa berujud Bani Adam seperti waktu setan mendatangi kaum musyrikin dalam bentuk Suraqah bin Malik kala mereka hendak pergi menuju Badr. Mereka dapat berubah-ubah dalam bentuk yang banyak, seperti anjing hitam atau juga kucing hitam. Karena warna hitam itu lebih signifikan bagi kekuatan jin dan mempunyai kekuatan panas.[16]

Beberapa hewan dianugerahi bisa melihat jin, seperti keledai[17] dan anjing[18]

Leluhur jin[sunting | sunting sumber]

Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Iblis tidak termasuk golongan malaikat sedikitpun. Iblis merupakan asal mula jin, sebagaimana Adam sebagai asal mula manusia.”[19][20] Kemudian menurut Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menambahkan: “Iblis adalah abu al-jan (bapak para jin).”[21]

Ketika manusia pertama selesai diciptakan, kemudian Allah memerintahkan kepada para malaikat dan Azazil untuk bersujud dihadapan Adam. Seketika itu pula Azazil menolak untuk bersujud, kemudian ia dipanggil oleh Tuhan dengan kalimat Iblis. Jadi Iblis ini adalah "Setan Pertama", karena dia yang pertama kali membangkang atas perintah Tuhan.

Syaithan dalam bahasa Arab menurut Ibnu Jarir, sebenarnya adalah kata sifat yang bisa menunjukkan pada setiap yang durhaka kepada Tuhan, baik dari bangsa jin, manusia, hewan, atau segala sesuatu yang jauh dari kebaikan,[22] pendapat ini diperkuat pada surah Al-An'am:

...dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al-An’am :112)

Berkembang-biak[sunting | sunting sumber]

Bangsa Jin memiliki jenis kelamin seperti halnya manusia yaitu, pria dan wanita, mereka sanggup beranak-pinak dan berkembang-biak

Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku,... (Al-Kahfi 18:50)

Kemudian bangsa Jin juga diyakini bisa mati[23][24] sebelum datangnya hari kiamat, kecuali Iblis yang umurnya telah ditangguhkan.

Klasifikasi dan sifat[sunting | sunting sumber]

Jin terdiri dari tiga kelompok, yaitu yang memiliki sayap dan terbang diudara, satu kelompok berbentuk ular dan satu kelompok nomaden.[25]

Ibnu Taimiyah yakin jin pada umumnya adalah "bodoh, tidak tulus, menindas, berbahaya dan licik,"[26]

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi pernah ditanya tentang perbedaan jin dan setan, ia menjawab: “Jin itu meliputi setan, namun ada juga yang shalih. Setan diciptakan untuk memalingkan manusia dan menyesatkannya. Kemudian jin yang shalih, mereka berpegang teguh dengan agamanya, memiliki masjid-masjid dan melakukan shalat sebatas yang mereka ketahui ilmunya. Hanya saja mayoritas mereka itu bodoh.”[27]

Makanan dan minuman[sunting | sunting sumber]

Dikisahkan jin makan-makanan berasal dari kotoran manusia dan hewan, tulang,[28][29] sari makanan dan minuman yang tidak disebutkan nama Allah,[30] mereka menyukai aroma dupa dan kemenyan, dan minuman yang memabukkan.

Agama[sunting | sunting sumber]

Diantara mereka ada yang beriman dan ada pula yang kafir seperti halnya manusia, berdasarkan al-Quran surah al-Jin.

...dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (Al-Jin 72:11)

dan

...dan sesungguhnya di antara kami ada jin-jin yang taat dan ada jin-jin yang menyimpang (Al Jiin 72:14)

Kalangan bangsa jin juga ada yang menganut ateis, menyembah matahari, bahkan menyembah sesama jin, animisme, dinamisme, namun ada juga yang beragama Majusi, Yahudi, dan Nasrani. Hal ini sebagaimana layaknya manusia yang memiliki keyakinan dan aqidah yang berbeda-beda.

Habitat[sunting | sunting sumber]

Menurut beberapa hadist setan dari golongan jin tinggal dibeberapa tempat, golongan jin kafir suka tinggal ditempat yang kotor, dan mereka juga ada yang berdiam di masjid,[31] atau mengganggu manusia ketika salat.[32][33] Tempat berdiam di antaranya adalah:

  • Lubang yang berada ditanah,[50]
  • Tempat maksiat.[35]
  • Tempat antara panas dan teduh,[51]
  • Tempat atau benda yang dianggap keramat,[52]

Qarin[sunting | sunting sumber]

Yang dimaksud dengan qarin dalam surat Qaaf 50:27 ialah yang menyertai. Setiap manusia disertai "Qarin dari kalangan Jin". Allah berfirman, artinya:

Yang menyertai dia (qarin) berkata pula: 'Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkan tetapi dialah (manusia) yang berada dalam kesesatan yang jauh... (QS Qaaf 50:27)

Manusia dan qarinnya itu akan bersama-sama pada hari berhisab nanti. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Aisyah ra mengatakan:

Rasulullah S.A.W keluar dari rumah pada malam hari, aku cemburu karenanya. Tak lama ia kembali dan menyaksikan tingkahku, lalu ia berkata: "Apakah kamu telah didatangi syetanmu?" "Apakah syetan bersamaku?" Jawabku, "Ya, bahkan setiap manusia." Kata Nabi Muhammad S.A.W. "Termasuk engkau juga?" Tanyaku lagi. "Betul, tetapi Allah menolongku hingga aku selamat dari godaannya." Jawab Nabi (HR Ahmad).

Berdasarkan hadits ini, Nabi Muhammad juga ternyata didampingi qarin. Hanya qarin itu tidak berkutik terhadapnya. Lalu bagaimana mendeteksi keberadaan jin (misalnya di rumah kita), apa tanda-tanda seseorang kemasukan jin? Tidak ada cara atau alat yang bisa mendeteksi keberadaan jin. Sebab jin dalam wujud aslinya merupakan makhluk ghaib yang tidak mungkin dilihat manusia.

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. (Al-A'raf 7:27)

Manusia yang biasa tidak mampu melihat jin, melainkan mereka yang telah diizinkan Allah.Didalam Al-Quran melarang sama sekali kita meminta pertolongan kepada Jin, ini membuktikan terdapat beberapa bilangan manusia yang mampu melihat dan berbicara dengan mereka. Ada juga sesetengah ahli agama yang tersilap bicara diatas nafsu mereka seperti mengatakan Jin memakan asap padahal perkara ini tidak disebut sama sekali di dalam Al-Quran.

...dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin 72:6)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Yang dimaksud dengan sekarang, ialah waktu sesudah Nabi Muhammad s.a.w. diutus menjadi rasul.
  2. ^ HR. Muslim di dalam kitab Az-Zuhd dan Ahmad di dalam Al-Musnad.
  3. ^ Amr bin abasah mengisahkan bahwa rasulallah bersabda, “Sholat subuhlah kalian. lalu tahanlah diri dari sholat (jangan sholat) sampai matahari terbit sehingga (benar-benar) naik, karena sesungguhnya dia muncul di antara dua tanduk setan. Ketika itu, orang-orang kafir sedang sujud menyembahnya. Setelah (melewati waktu itu) maka sholatlah, karena sesungguhnya sholat itu disaksikan dan dihadiri (para malaikat) sampai tombak tidak memiliki bayangan (matahari tepat berada ditangah-tangah). Lalu tahanlah diri dari sholat, karena sesungguhnya ketika itu neraka jahanam dinyalakan. Lalu apabila bayangan matahari telah nampak (matahari tergelincir ke arah barat) maka sholatlah, karena sesungguhnya sholat itu disaksikan dan dihadiri (para malaikat) hingga kamu sholat ashar. Kemudian tahanlah diri dari sholat sampai matahari tenggelam, karena sesungguhnya dia tenggelam di antara dua tanduk setan. Ketika itu orang-orang kafir sujud menyembahnya.” (HR. Muslim 832) Mengenai pengertian dua tanduk setan ini menurut Imam Nawawi para ulama berbeda pendapat, ada yang mengartikan bahwa ketika manusia shalat pas pada waktu itu maka setan akan mengikuti dengan kedua tanduknya dan ada pula yang berpendapat ketika orang kafir sujud kepada matahari maka setan berdiri di sana agar mengira dirinyalah yang disembah, ada juga yang mengartikan secara kiasan bahwa tanduk di situ artinya adalah kesombongan dari setan. (Shahih Muslim bi Syarh An Nawawi Juz IV /124)
  4. ^ Ibnu Az-Zubair meriwayatkan bahawa suatu ketika ia melihat seorang lelaki memakai pakaian yang biasa digunakan ketika bepergian tingginya satu jengkal (20 -30 cm) lalu Ibnu Az-Zubair bertanya: “Siapa engkau ini ?” Makhluk itu menjawab: “Aku Izib”. Ibnu Az-Zubair berkata: “Apa Izib itu?” Makhluk itu menjawab: “Izib ya Izib”. Lalu Ibnu Az-Zubair memukulnya dengan tongkatnya hingga makhluk itu lari terbirit-birit. (Al-Syibli Al Hanafi dalam Ahkam Al Marjan fi Ghara’ib Al Akhbar wa Ahkam al Jan hal 224)
  5. ^ Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa jika dibacakan bismillah, jin akan mengecil sebesar lalat (mungkin ini adalah ukuran aslinya jin). Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnadnya meriwayatkan dari ayah Abu Al-Malih, seseorang yang bernama Usamah bin Umari,ia diboncengi oleh rasulallah. Usamah berkata, “Tunggangan Nabi tergelincir, maka aku katakan: ‘‘Tsa’isas-syaithaan (celakalah setan), bahwa Rasulallah bersabda, “Janganlah engkau mengatakan celakalah setan, karena dengan itu dia justru membesar hingga seperti gunung. Lalu dia akan mengatakan, ‘Dengan segala kekuatanku, aku jatuhkan dia!’ Tapi, hendaklah dia mengucapkan: ‘Bismillah”. Karena jika engkau mengatakan seperti itu, setan itu mengecil hingga menjadi seperti seekor lalat.” (Hadist riwayat Ahmad 5:95, Abu Dawud 4982, An-Nasa’i, Nawawi, Al-Hakim, Mardawaid dan dishahihkan oleh Al-Albani)
  6. ^ Imam adh-Dhahhak pernah ditanya: “Apakah setan mempunyai sayap?” ia menjawab: “Bagaimana mereka dapat terbang menuju langit kalau mereka tidak memiliki sayap.” (H.R. Ibnu Jarir)
  7. ^ “Sesungguhnya setan menampakkan diri di hadapanku untuk memutus shalatku. Namun Allah memberikan kekuasaan kepadaku untuk menghadapinya. Maka aku pun membiarkannya. Sebenarnya aku ingin mengikatnya di sebuah tiang hingga kalian dapat menontonnya. Tapi aku teringat perkataan saudaraku Sulaiman ‘alaihissalam: ‘Ya Rabbi anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun sesudahku’. Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina.” (HR. Al-Bukhari no. 4808, Muslim no. 541 dari Abu Hurairah)
  8. ^ Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mendirikan shalat, lalu didatangi setan. Beliau memegangnya dan mencekiknya. Beliau bersabda: “Hingga tanganku dapat merasakan lidahnya yang dingin yang menjulur di antara dua jariku: ibu jari dan yang setelahnya.” (HR. Ahmad, 3/82-83 dari Abu Sa’id Al-Khudri).
  9. ^ Mukhtasor Shahih Muslim karya Az-Zabidi: 1078.
  10. ^ Siroh Ibnu Hisyam 2/122.
  11. ^ Dari Ibrahim dari Ibnu Mas’ud, katanya: “Bunuhlah semua ular kecuali jin putih yang bentuknya seperti tongkat perak”. (H.R. Abu Daud) Al Mudziri berkata hadits ini munqothi’ sebab Ibrahim tidak pernah bertemu Ibnu Mas’ud, Rasulullah S.A.W bersabda: “Ular-ular itu adalah jin yang mengubah rupa dan bentuknya sebagaimana Bani Israil yang berubah bentuk menjadi rupa monyet dan babi.” (H.R. Thabrani dengan sanad yang sahih)
  12. ^ Mukhtasor Shahih Muslimi: 1498.
  13. ^ Ibnu Abbas berkata: “Suatu hari seekor tikus datang menyeret kain yang dipintal kemudian dilemparkan ke hadapan rasulullah S.A.W yang sedang duduk di atas tikar. Kemudian kain dipintal yang dibawa tikus tadi terbakar persis sebesar uang dirham. Rasulullah S.A.W Kemudian bersabda: “Apabila kalian tidur, matikanlah lampunya, karena syaithan seringkali berwujud seekor tikus” (H.R. Abu Dawud dengan sanad shahih).
  14. ^ Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah S.A.W bersabda: Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar telah melihatku. Sesungguhnya setan tidak dapat menjelma sepertiku. (Shahih Muslim No.4206)
  15. ^ Hadis riwayat Abu Qatadah, ia berkata: Rasulullah S.A.W bersabda: Barang siapa yang melihat aku dalam mimpi, maka dia benar-benar melihat sesuatu yang benar. (Shahih Muslim No.4208)
  16. ^ Idhahu Ad-Dilalah, hal. 19 dan 23.
  17. ^ “Jika kalian mendengar ringkikan keledai, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari setan karena sesungguhnya dia melihat setan.” (HR. Al Bukhari : 3303 dan Muslim : 2729)
  18. ^ Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud; dari Jabir bin Abdullah radiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,Apabila kalian mendengar gonggongan anjing dan ringkikan keledai pada malam hari, maka mintalah perlindungan (ta’awwudz) kepada Allah, karena mereka melihat sesuatu yang tidak kalian lihat.” Shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 29797; Ahmad 3/306 dan 355; Abd bin Humaid no. 1157-Muntakhab; al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 1234; Abu Dawud, Kitab al-Adab, Bab ad-Dik wa al-Bahaim, 2/748, no. 5103; Abu Ya’la no. 2221 dan 2327; Ibnu Hibban no. 5517 dan 5518; ath-Thabrani dalam ad-Du’a` no. 2008; al-Hakim 4/283; al-Baghawi no. 3060: dari berbagai jalur, dari Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits, dari Atha` bin Yasar, dari Jabir dengan hadits tersebut.
  19. ^ Tafsir Al-Qur`anul ’Azhim, 3/94.
  20. ^ Al-Hasan Al-Bashri t. Beliau menyatakan: “Iblis tidak pernah menjadi golongan malaikat sekejap matapun sama sekali, dan dia benar-benar asal usul jin, sebagaimana Adam adalah asal usul manusia.” Diriwayatkan Ibnu Jarir dalam tafsir surat Al-Kahfi ayat 50, dan dishahihkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya.
  21. ^ Tafsir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 406 dan 793
  22. ^ Tafsir Ibnu Jarir, 1/49
  23. ^ Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa nabi S.A.W dalam salah satu doanya, beliau melantunkan: “Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Dzat yang tidak akan mati. Sementara jin dan manusia akan mati.” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim no. 2717)
  24. ^ Kisah seorang sahabat muda yang membunuh ular jadi-jadian yang ada di rumahnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim. ‘Alamul Jinni wa asy-Syayathiin, Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar.
  25. ^ Rasulullah Shallollohu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Jin terdiri dari tiga kelompok; satu kelompok memiliki sayap dan mereka terbang di udara, satu kelompok berbentuk ular dan satu kelompok tidak menetap dan berpindah-pindah.” Hadits Abu Tsa’labah radiyallohu anhu, yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani (22/214-215) No. 573, Al Baihaqi dalam “Al Asma wa Ash Shifat” (827), Al Hakim (2/456) dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani Rahimahullah dalam ta’liqnya terhadap Kitab “Al Misykaat” (4148) dan Syaikh Kami Al Wadi’i Rahimahullah dalam “Ash Shahiih Al Musnad Mimma Laisa Fii Ash Shahihain” (1213)
  26. ^ Ibn Taymiyyah, al-Furqān bayna awliyā’ al-Raḥmān wa-awliyā’ al-Shayṭān ("Essay on the Jinn"), diterjemahkan oleh Abu Ameenah Bilal Phillips.
  27. ^ Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin.
  28. ^ Kisah dari Abu Hurairah, bahwa dia pernah membawakan sebuah kantung air terbuat dari kulit untuk wudhu' dan hajat nabi, dan dia mengikuti beliau dengan membawa kantung air tersebut, beliau bertanya: "Siapakah ini?". Ia menjawab; "Saya Abu Hurairah". Maka beliau berkata: "Carikanlah aku beberapa batu untuk aku gunakan sebagai alat bersuci dan jangan bawakan aku tulang dan kotoran hewan". Kemudian aku datang dengan membawa beberapa batu dengan menggunakan ujung bajuku dan meletakkannya di samping beliau. Kemudian aku pergi. Ketika beliau telah selesai, aku berjalan bersama beliau bertanya; "Kenapa dengan tulang dan kotoran hewan?". Beliau menjawab: "Keduanya termasuk makanan jin, dan sesungguhnya pernah datang kepadaku utusan jin dari Nashibin, dia adalah sebaik-baik jin, lalu mereka meminta kepadaku tentang bekal. Maka aku memohon kepada Allah untuk mereka agar mereka tidak melewati tulang dan kotoran hewan melainkan mereka mendapatkannya sebagai makanan". (HR.Al-Bukhari no 3571)
  29. ^ Kisah dari Amir dia berkata, "Saya bertanya kepada Alqamah, Apakah dahulu Ibnu Mas'ud menyaksikan bersama rasulullah S.A.W malam jin? Perawi berkata, 'Lalu Alqamah berkata, 'Aku bertanya Ibnu Mas'ud, lalu aku berkata, Apakah salah seorang dari kalian hadir bersama rasulullah S.A.W pada malam jin? Dia menjawab, Tidak, akan tetapi kami pernah pada suatu malam bersama Rasulullah, lalu kami kehilangan beliau sehingga kami mencarinya di lembah dan setapak jelan ke gunung. Maka kami berkata, Jin membawanya pergi atau membunuhnya secara sembunyi-sembunyi. Maka kami bermalam dengan malam yang jelek yang para sahabat turut bersama melalui malam itu. Pada pagi harinya, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira'. Perawi berkata, "Kami berkata, Wahai Rasulullah, kami telah kehilanganmu, lalu mencarimu, maka kami tidak mendapatkanmu hingga kami bermalam pada malam yang jelek yang para sahabat turut bersama melalui malam-malam itu. Beliau menjawab, Seorang dai dari kalangan jin mendatangiku, maka aku pergi bersamanya, lalu aku membaca al-Qur'an di hadapan mereka. Perawi berkata, 'Lalu beliau beranjak pergi bersama kami untuk menunjukkan jejak-jejak mereka dan jejak perapian mereka, dan mereka meminta kepadanya bekal, maka beliau bersabda, Kamu mendapatkan setiap tulang yang disebutkan nama Allah atasnya (ketika disembelih), yang mana di tangan kalian lebih banyak menjadi daging dan setiap kotoran hewan adalah makanan untuk hewan tunggangan kalian.' Lalu rasulullah S.A.W bersabda, Maka janganlah kalian beristinjak dengan keduanya (maksudnya kotoran hewan dan tulang), karena keduanya adalah makanan saudara kalian." Dan telah menceritakan kepadaku tentangnya Ali bin Hujr as-Sa'di telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Dawud dengan sanad ini hingga sabda beliau, "Dan jejak perapian mereka." Asy-Sya'bi berkata, "Mereka meminta bekal kepada beliau, dan mereka adalah berasal dari kalangan jin al-Jazirah." (Shahih Muslim no 682)
  30. ^ Hadis dari Jabir di atas menegaskan hal ini, tapi apabila dia tidak mengingat Allah ketika masuk maka setan mengatakan: ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’, dan jika dia tidak mengingat Allah ketika makan maka setan akan mengatakan: ‘Kalian mendapatkan tempat menginap dan makan malam’.” (HR. Muslim 2018, Abu Daud 3765 dan yang lainnya)
  31. ^ Nabi Muhammad bahwa bila masuk masjid biasa berdoa (yang artinya): "Aku berlindung kepada Alloh yang Maha Agung, kepada Wajah-Nya yang Maha Mulia, dan kepada kekuasaan-Nya yang ada tanpa permulaan, dari setan yang terkutuk. Perawi hadits bertanya kepada gurunya, “Apa hanya itu saja yang beliau ucapkan?” Dijawab, “Ya.” Nabi S.A.W bersabda, “Ketika seseorang mengucapkan doa itu, setan berkata, “Dia telah diberi penjagaan dari godaanku sepanjang hari ini.” (HR Abu Dawud dari hadits Ibnu 'Amr ra; hadits shahih)
  32. ^ 'Abdullah bin 'Umar bila duduk saat shalat, beliau meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya, dan berisyarat dengan jari (telunjuk)nya, dan mengarahkan pandangannya ke jari telunjuk. Kemudian dia berkata, "Rasulullah S.A.W bersabda: Sungguh (jari telunjuk) itu lebih keras bagi setan daripada besi." Yang beliau maksud adalah jari telunjuk. HR Ahmad; hasan.
  33. ^ 'Utsman bin Abil 'Ash datang kepada nabi S.A.W lalu mengadu, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan menghalangiku dari shalatku dan bacaanku; dia merancukan bacaanku." Rasulullah S.A.W menasihatkan, "Itu adalah setan yang bernama Khinzib. Bila Anda mendapati hal itu, maka berlindunglah kepada Alloh dan meludahlah ke arah kiri 3 kali." 'Utsman berkata, "Aku pun melakukan itu, lalu Alloh menghilangkan gangguan itu dariku." (Hadits riwayat Muslim)
  34. ^ Rasulullah S.A.W menganjurkan agar setiap kali masuk ke WC, terlebih dahulu membaca doa sebagai permohonan perlindungan kepada Allah dari gangguan setan laki-laki dan setan perempuan. Hal ini sebagaimana tertuang dalam hadits berikut ini: "Dari Zaid bin Arqam, Rasulullah S.A.W bersabda: "Sesungguhnya toilet-toilet itu dihuni oleh Jin. Oleh karena itu, apabila seseorang di antara kalian masuk WC, maka katakanlah: Allahumma Inni audzubika minal khubutsi wal khabaits (Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari gangguan jin laki-laki dan jin perempuan." (HR. Abu Dawud no.6, Nasa'I, Ibnu Majah dan Ahmad).
  35. ^ a b Anas bin Malik berkata, "Iblis telah bertanya pada Allah, katanya: "Wahai Tuhanku! Engkau telah memberikan anak Adam tempat kediaman untuk mereka berteduh dan berzikir kepada-Mu, oleh itu tunjukkanlah padaku tempat kediaman untukku." Firman Allah: "Tempat kediamanmu adalah di dalam tandas." "Wahai Tuhanku, Engkau telah berikan anak Adam berkumpul di masjid, di manakah pula tempatku berkumpul?" "Tempatmu berkumpul ialah di pasar-pasar, pesta, pusat membeli-beli, kelab malam, tempat hiburan serta majlis-majlis maksiat."
  36. ^ Dari Abu Hurairah r.a. behwasanya Rasulullah S.A.W bersabda: "Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya setan akan lari dari rumah-rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah." (HR. Muslim:780 - Shahih Muslim:752, At-Turmudzi 2877)
  37. ^ Sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan: “Sesungguhnya setan, apabila mendengar surat Al-Baqarah dibacakan dalam rumah, maka dia akan keluar dari rumah itu.” (HR. Ad-Darimi 3422, At-thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir 8642)
  38. ^ Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Nabi S.A.W bersabda:“Apabila ada orang yang masuk rumah, kemudian dia mengingat Allah ketika masuk, dan ketika makan, maka setan akan mengatakan (kepada temannya): ‘Tidak ada tempat menginap dan tidak ada makan malam.’ Tapi apabila dia tidak mengingat Allah (bismillah dan jangan lupa ucapkan salam) ketika masuk, maka setan mengatakan: ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’.” (HR. Muslim 2018, Abu Daud 3765 dan yang lainnya)
  39. ^ Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah S.A.W bersabda: “Semua tempat di bumi ini adalah masjid (dapat digunakan untuk shalat atau bersujud) kecuali kamar mandi dan kuburan”. (HR. Abu Daud no. 492 dan At-Tirmizi no. 317, seta dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’: 1/320)
  40. ^ Ibnu Taimiyah menulis bahwa jin banyak berada di tempat-tempat kumuh, yang di dalamnya terapat najis, seperti tempat pembuangan sampah dan kuburan.
  41. ^ Dari Salman r.a. ia berkata: "Bersabda Rasulullah S.A.W: "Sungguh jika kamu mampu, janganlah engkau menjadi orang yang pertama kali masuk pasar dan terakhir kali keluar darinya, karena sesungguhnya pasar adalah medan peperangan setan dan di dalamnya ia menancapkan bendera." (HR. Muslim:2451)
  42. ^ Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah S.A.W bersabda: “Shalatlah kalian di kandang kambing dan jangan kalian shalat di tempat menderumnya unta.” (HR. At-Tirmizi no. 348)
  43. ^ Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah S.A.W bersabda: “Shalatlah kalian di kandang kambing dan jangan shalat di kandang unta, sebab ia diciptakan dari setan.” (HR. An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad)
  44. ^ "Rasulullah S.A.W bersabda: "Janganlah kalian shalat di kandang-kandang unta karena di sana terdapat syaithan, shalatlah di kandang domba karena dia itu membawa berkah." (HR. Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah)
  45. ^ Dari Abdullah bin Mughofal r.a., ia berkata: "Rasulullah S.A.W telah melarang kami untuk melakukan sholat di kandang-kandang unta dan tempat-tempat menderumnya, karena ia diciptakan dari setan-setan." (Shahih Sunan Abu Dawud, No.184/493)
  46. ^ Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Mas'ud r.a. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: "Pada suatu malam kami bersama rasulullah S.A.W, lalu kami kehilangan beliau lantas kamipun mencari beliau di lembah-lembah dan gang-gang. Kami mengatakan "Rasulullah S.A.W telah diculik." Maka kamipun tidur malam dengan sejelek-jelek malam yang suatu kaum bermalam dengannya. Tatkala tiba waktu pagi hari, tiba-tiba beliau datang dari arah Haro', maka kami mengatakan: "Ya Rasulullah, kami kehilangan anda dan kami mencari anda namun kami tidak menjumpai anda, lantas kami bermalam dengan sejelek-jelek malam yang suatu kaum bermalam dengannya." (Mendengar ucapan tersebut) maka Rasulullah menjawab: "Datang kepadaku seorang yang mengundang dari kalangan jin, maka akupun pergi bersamanya dan aku membacakan Al-Qur'an kepada mereka." (HR.Muslim, 1007)
  47. ^ Rasulullah S.A.W mengajarkan bahwa apabila seseorang keluar dari rumah, atau melewati lembah, tempat angker hendaklah membaca doa sebagaimana tercantum dalam hadits berikut: "Rasulullah S.A.W bersabda: "Kalau saja seseorang di antara kalian keluar rumah lalu berdoa: Audzu bikalimatillahit tammati min syarri ma khalaq (Aku berlindung kepada Allah dengan perantaraan kalimah Allah yang sempurna dari kejahatan makhluknya), maka ia tidak akan diganggu sedikitpun sejak ia berada di rumah itu sampai ia meninggalkannya". (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shahih)
  48. ^ Dari Jabir r.a. ia berkata: rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di lautan. Dari sana dia mengirim pasukannya untuk membuat fitnah (mengacau atau membencanai) umat manusia. Maka siapa yang lebih besar membuat bencana, dialah yang lebih besar jasanya (terhormat) di kalangan mereka". (HR.Muslim: 2813-Shahih Muslim: 2408)
  49. ^ a b Syekh Abdul Mu’nim Ibrahim, tempat hidupnya jin adalah tempat yang sepi, tetapi ada pula beberapa jin yang hidup di pulau-pulau tengah laut, padang pasir, tempat sampah atau tempat yang rusak dan di antara mereka ada juga yang hidup bersama manusia.
  50. ^ Dari Qatadah, dari Abdullah bin Sirjis, bahwa sesungguhnya Nabi S.A.W melarang seseorang melakukan kencing di lubang. Meraka bertanya kepada Qatadah: "Mengapa dibenci kencing di dalam lubang?" Ia menjawab: "Dikatakan, bahwasanya ia adalah tempat-tempat tinggal jin". (Abu Daud: 29)
  51. ^ “Apabila salah seorang berada di tempat yang terbuka atau di tengah matahari sedang bersinar, lalu bayangan yang meneduhinya bergerak sehingga sebahagian dari dirinya terletak di tempat panas dan sebahagian lagi di tempat sejuk, maka hendaklah dia berdiri (meninggalkan tempat itu)”. (H.R. Abu Hurairah)
  52. ^ Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu, pernah diperintahkan nabi S.A.W untuk menghancurkan Uzza. Pohon keramat yang disembah orang musyrik jahiliyah. Setelah Khalid bin Walid menebang ketiga pohon yang dikeramatkan di tempat itu, dan membantai setiap orang yang mencoba menghalangi, beliau menghadap nabi S.A.W. Beliau bersabda: “Kembali, kamu belum melakukan apapun.” Khalid pun segera kembali. Tiba-tiba banyak orang naik ke bukit. Mereka memanggil-manggil; “Wahai Uzza, Wahai Uzza.” Khalid pun mendatanginya. Ternyata ada wanita telanjang, rambutnya terjuntai, di atas kepalanya ada pasirnya. Khalid dengan sigap menusukkan pedangnya, sampai dia mati. Setelah diceritakan kepada nabi S.A.W, beliau bersabda: “Itulah Uzza”. (HR. Nasai dalam Sunan al-Kubro 11547, al-Mushili dalam Musnad-nya 866)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]