Jati, Batujajar, Bandung Barat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Jati
—  Desa  —
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Barat
Kabupaten Bandung Barat
Kecamatan Batujajar

Jati adalah desa di kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia. Jati adalah sebuah desa di kecamatan Batujajar kabupaten Bandung Barat. Menurut para ahli sejarah masyarakat desa Jati diperkirakan telah ada sejak zaman kerajaan Tarumanegara, karena secara geografis desa Jati berdekatan dengan desa Rajamandala kecamatan Cipatat. Desa Rajamandala konon berasal dari sebuah nama seorang raja kecil (raja bawahan) yang bernama Mandala pada zaman kerajaan Tarumanegara yang mencoba memisahkan diri. Beberapa orang berpendapat bahwa desa Jati sudah ada jauh sebelum zaman Tarumanegara. Keyakinan tersebut berdasarkan fakta ditemukannya beberapa peninggalan manusia prasejarah (zaman batu) di sekitar situs purbakala gua Pawon yang berjarak hanya sekitar 15 km dari desa Jati ke arah utara.

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Orang tertua yang tercatat sebagai penduduk asli Desa Jati adalah Aki Madasan. Aki Madasan adalah bungsu dari lima bersaudara, beliau di duga kuat berasal dari daerah kaler desa Jati.Jika diarik garis lurus, daerah kaler (utara) desa Jati, maka akan bertemu satu daerah yang disebut situs guha pawon (berjarak kira-kira 15 Km).Menurut Ang guru Amid,Hs (lahir 1938 di desa Jati) -salah seorang buyut dari Aki Madasan- Nama desa Jati berasal dari sebuah pohon Jati nunggal atau pohon jati yang tumbuh hanya satu batang tapi sangat besar yang tumbuh persis dilokasi dekat balai desa pertama desa Jati sekitar ahun 1942 atau zaman Jepang. Jadi salah besar jika anda berfikir bahwa nama desa Jati berawal dari daerah yang dulunya hutan Jati !.

Awal Pemerintahan desa[sunting | sunting sumber]

Pada mulanya desa Jati merupakan bagian dari desa Cikande kecamatan Batujajar. Namun sejak tahun 1942 Desa Jati resmi berdiri dengan Lurah pertama bernama Rahiya. Seteleh Bapak Rahiya, lurah Desa Jati adalah : Danu , Entam, Odih (tiga periode),Solihin, Warmat,Deden,dan sekarang H.Engkun.

Tragedi Pasir Bandera[sunting | sunting sumber]

Tragedi Pasir Bandera adalah peristiwa dibakarnya pos penjagaan Polisi yang terletak di bukit (Sunda:Pasir) Bandera oleh gerombolan yang mengaku anggota DI/TII di desa jati sekitar tahun 1954.Dalam peristiwa itu kurang lebih 30 orang Polisi hangus terbakar. Letak Pasir Bandera sendiri hanya berjarak 300 m ke arah timur dari kantor Desa Jati. Menurut saksi mata diantaranya Aki Omo, Aki Emang, Ema Ita Purnama Sari, Aki Yuhdi, Ang Guru Amid Hs yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut, Tragedi Pasir Bandera sangat mengerikan dan berakibat trauma berkepanjangan. Seperti banyak dikisahkan penduduk desa Jati yang sempat menyaksikan peristiwa itu terjadi di tengah berkecamuknya pemberontakan DI/TII pimpinan Karto suwiryo. Kegiatan gerombolan yang merajalela di desa jati waktu itu adalah merampok harta benda penduduk diantaranya : Beras, Padi, uang, pakaian, domba, hingga anak gadis (cantik).Untuk menjaga keamanan di daerah tersebut pemerintah menugaskan satu regu polisi yang bermarkas di sebuah bukit yang bernama Pasir Bandera.

Adat dan budaya[sunting | sunting sumber]

Masyarakat desa jati memiliki adat dan budaya yang umum dimiliki oleh masyarakat Ki Sunda di tatar sunda pada umumnya. Namun ada beberapa yang unik dan khas yang masih tetap dijaga dan di lestarikan keberadaannya. Adat dan budaya tersebut diantaranya : ngadu domba, ngadu kolecer,ngadu lodong dll. Ngadu domba bagi masyarakat Desa Jati sejak dahulu memang bukan merupakan ajang judi taruhan, tapi merupakan adu ketangkasan dan kekuatan (fisik) domba adu semata. Oleh Karena domba adu harus selalu sehat dan kuat, untuk itu dibutuhkan perawatan dan pemeliharaan khusus yang sudah barang tentu menguras kocek sang empunya. Disinilah nilai seninya yang secara tidak langsung menggambarkan kemampuan dan status sosial sang pemilik domba.Nilai status sosial pemilik domba akan bertambah seiring kemenangan dari domba yang di adu, sehingga tidak mengherankan jika harga jual domba yang sering menang dalam kontes, akan melambung hinggapuluhan juta rupiah.Dari seni dan budaya ngadu domba ini mestinya akan terbuka simpul-simpul bisnis lainseperti: jamu khusus untuk domba adu, rumput khusus makanan Domba, asesoris domba adu, hingga paket wisata budaya yang bisa ditawarkan kepada turis baik lokal maupun mancanegara.Untuk kesenian sunda yang ada di desa Jati seperti wayang golek, calung, degung, reog, bahkan kesenian sunda buhun seperti pantun dan beluk masih ada grup yang eksis melestarikannya diantaranya grup Lingkung seni GIRI PAJAR pimpinan Bapak Dalan Rahmat.Beberapa tokoh seni desa Jati (Dalang Wayang Golek)yang pernah tercatat adalah : Dalang Rahmat (Murid Dalang Asep Sunandar Sunarya ),Dalang Danu, Dalang Amung, Kearipan lokal yang lain adalah ngadu kolecer (Baling-baling bambu) yang dipasang di bukit (sunda:Pasir), keunikan dan keasikannya -konon- menurut "kolecerisme"ketika terdengar deru kolecer yang ngahiung nyeledut(menderu bersaut-sautan), beraneka macam ragam suaranya. Suara kolecer tersebut memberikan ruang imajinasi tersendiri bagi pemiliknya atau bagi siapa saja yang mendengarkan kolecer tersebut saat berputr-putar diterpa angin. Biasanya suara kolecer tersebut terdengar seperti suara helikopter, bahkan ada yang seperti guludug(halilintar), hal itu dipastikan akibat terpaan angin yang sangat kuat tapi detik berikutnya mendadak arah angin berubah 180 derajat, maka timbulah suara JELEGUURRR !!!!! bersambung.........