Jambhala

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Bagian dari serial
Agama Buddha

Lotus75.png

Sejarah
Garis waktu
Dewan-dewan Buddhis

Konsep ajaran agama Buddha
Empat Kesunyataan Mulia
Delapan Jalan Utama
Pancasila · Tuhan
Nirvana · Tri Ratna

Ajaran inti
Tiga Corak Umum
Samsara · Kelahiran kembali · Sunyata
Paticcasamuppada · Karma

Tokoh penting
Siddharta Gautama
Siswa utama · Keluarga

Tingkat-tingkat Pencerahan
Buddha · Bodhisattva
Empat Tingkat Pencerahan
Meditasi

Wilayah agama Buddha
Asia Tenggara · Asia Timur
Tibet · India dan Asia Tengah
Indonesia · Barat

Sekte-sekte agama Buddha
Theravada · Mahayana
Vajrayana · Sekte Awal

Kitab Suci
Sutta · Vinaya · Abdhidahamma

Dharma wheel 1.png

Jambhala (juga dilafalkan sebagai Dzambhala, Dzambala, Zambala, atau Jambala) adalah Dewa Kekayaan dan merupakan anggota dari Keluarga Permata (lihat Ratnasambhava). Dalam mitologi Hindu, Jambhala dikenal sebagai Kubera. Jambhala juga dipercaya merupakan emanasi dari Awalokiteswara atau Chenrezig, sang Bodhisatwa Welas Asih. Terdapat lima Jambhala yang berbeda, masing-masing memiliki praktik dan mantra hati berbeda yang dapat menghapus kemisikinan dan menciptakan stabilitas finansial.[1]

Yang Mulia Gyalten Sogdzin Rinpoche berkata bahwa Jambhala adalah pelindung dari semua Silsilah dan semua makhluk dari segala penyakit dan kesulitan. Jambhala adalah sesosok Bodhisatwa kekayaan material dan spiritual serta banyak hal lainnya, terutama dalam hal memberkahi stabilitas finansial.

Karena di dunia ini, terdapat segala jenis emosi penuh kemarahan dan negatif atau roh-roh jahat, dan terkadang mereka akan mencederaimu dan semua makhluk lainnya, Dzambhala harus menggunakan wujud angkara murka serta kuat untuk melindungi kita dari roh-roh jahat serta karma negatif ini. Terutama, Dzambhala membantu kita meminimalkan atau mengurangi segala kesialan dan hambatan serta menolong kita meningkatkan segala keberuntungan dan kebahagiaan.”[2]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Dzam” memiliki makna “Ilahi atau perkumpulan”. “Bhah” memiliki makna “emas atau kekayaan”. “La” memiliki makna “menghormati”. “Dzambhala” berarti “Ilahi Keemasan Berharga, yang mengumpulkan atau memberi kekayaan spiritualitas atau Dharma dan keamanan materi atau penyelesaian kepada hidup kita”.[2]

Lima Jambhala[sunting | sunting sumber]

Kelima Jambhala adalah manifestasi dari welas asih para Buddha dan Bodhisatwa untuk memandu para makhluk dalam jalur menuju pencerahan. Mereka memiliki esensi kemurahan hati dan mewakili aktivitas peningkatan keuntungan. Aspirasi mereka adalah untuk menolong yang miskin dan mereka yng menderita dari ketidakberuntungan.[3]

Jambhala Hijau[sunting | sunting sumber]

Jambhala Hijau adalah manifestasi dari Buddha Amoghasiddhi setelah dimohon oleh Buddha Shakyamuni untuk memutar roda Dharma demi kebaikan semua makhluk yang menderita akibat kemiskinan. Ia akan membuat segala jerih payah terbayarkan sempurna dan memurnikan semua kesialan serta rintangan, mencegah pencurian, hutang yang tak terbayar, dan kehilangan kekayaan.[3]

Ia biasanya digambarkan bersama dengan pasangannya dan tangan kirinya membawa seekor cerpelai yang menghasilkan permata.[4] Jambhala Hijau memiliki tubuh yang berwarna hijau kebiruan. Ia bersila dalam posisi vajra bersama dengan Dakini di depannya. Kaki kirinya menjulur dalam posisi sila sementara kaki kanannya bertumpu di atas keong dan bunga teratai. Tangan kirinya membawa seekor binatang yang disebut Nehulay (cerpelai) yang mengeluarkan permata dari mulutnya, tangan kanannya membawa Norbu. Dakini di hadapannya membawa bunga teratai. Mantra Hati Jambhala Hijau adalah:[5]

Om Karma Jambhala Ah Svaha

Jambhala Putih[sunting | sunting sumber]

Jambhala Putih (atau Dzambhala Gapee dalam bahasa Tibet) adalah manifestasi welas asih dari Bodhisatwa Chenrezig (Guan Yin). Ia dapat menghilangkan penderitaan yang dikarenakan kemiskinan dan penyakit, memurnikan karma non-kebajikan, dan rintangan yang diakibatkan oleh karma, menolak bencana dan penyakit, serta mengembangkan pikiran [[bodhicitta].[3][1]

Legenda Tibet menyebutkan bahwa Lama Agung Atisha, saat ia berjalan sendirian, bertemu dengan seseorang yang hampir meninggal karena kelaparan. Setelah berkeliling dan tidak menemukan sesuatu untuk dimakan, Lama Atisha memotong dagingnya sendiri agar dapat dimakan oleh pria itu. Namun, pria tersebut menolak untuk makan dagingnya. Karena tidak tahu bagaimana lagi cara untuk menolong pria tersebut, Lama Atisha hanya dapat terduduk di sampingnya. Pada saat itu, tiba-tiba muncul cahaya putih yang sangat menyilaukan dan dihadapan Atisha muncul Chenrezig yang penuh Welas Asih. Ia berkata kepada Lama Atisha bahwa ia akan bermanifestasi sebagai Dewa Kekayaan, Jambhala, dan memastikan mereka yang miskin tidak akan menderita terlalu lama lagi.[6]

Sebagai manifestasi Bodhisatwa Awalokiteswara, Jambhala Putih terlahir dari mata kanannya. Ia mengendarai seekor singa salju, meskipun beberapa artis menggambarkannya mengendarai seekor naga, dan seekor cerpelai di tangan kirinya memuntahkan intan berharga serta berbagai ornamen.[1] Jambhala Putih memiliki tubuh berwarna putih. Ia juga membawa Bendera Kekayaan di tangan kirinya dan sebilah Pedang Emas di tangan kanannya. Mantra Hati Jambhala Putih adalah:[5]

Om Padma Krodha Arya Jambhala Hridaya Hum Phat

Saat berlatih "Sadhana Jambhala Putih Mengendarai Naga", para praktisi dapat juga berdoa agar mereka dibawa menuju harta terpendam. Pada waktu yang lampau, Para guru Tantra Tibet meletakkan ajaran berharga mereka di gua-gua. Ajaran-ajaran tersebut dikunci dengan empat elemen "tanah, air, api, dan angin". Untuk memperoleh harta Dharma tersebut, seseorang harus melakukan metode yang sangat khusus; ia juga harus mengetahui lokasi gua tempat para guru kuno mengasingkan diri untuk berlatih. Para praktisi dapat berdoa kepada "Jambhala Putih yang Mengendarai Naga" agar ia akan membawa mereka ke gua-gua tempat harta berharga tersebut disembunyikan.[7]

Jambhala Kuning[sunting | sunting sumber]

Patung Vaisravana bergaya Tibet yang disepuh sebagian, duduk di atas seekor singa salju dan membawa cerpelai di tangan kirinya. Abad ke-18

Jambhala Kuning dianggap paling populer dan berkuasa di antara semua Dewa Kekayaan.[6] Ia adalah emanasi dari Buddha Ratnasambhava. Ia dapat menghilangkan kemisikinan di keenam alam, meningkatkan kebajikan, panjang usia, dan kebijaksanaan.[3]

Ia juga dikatakan sebagai emanasi dari Vaisravana, salah satu dari "Empat Raja Surgawi Agung Pelindung Dunia". Dalam agama Buddha, ia adalah penjaga cahaya, makhluk suci sangat dermawan yang memberikan keberuntungan serta perlindungan. Raja Vaisravana tinggal di wilayah utara Empat Surga, pada istana kristal utara yang terletak di tingkat keempat Gunung Sumeru. Para pelayannya adalah yaksa atau bhaisajya-yaksa. Menurut komentar pada Sutra Teratai, raja surgawi ini memiliki pengetahuan yang teramat luas karena dirinya terus-menerus menjaga sang Buddha sehingga membuatnya mendengar banyak ajaran.[7]

Jambhala Kuning memiliki tubuh yang berwana kuning, ia bersila dalam posisi vajra, kaki kanannya bertumpu di atas sebuah keong dan bunga teratai. Ia memiliki satu wajah dan dua lengan. Tangan kirinya membawa seekor cerpelai atau Nehulay yang mengeluarkan permata-permata berharga dari mulutnya, sementara tangan kanannya membawa permata yang berbentuk buah dan mahkota teratai.[5] Vaisravana sebenarnya digambarkan pada tangan kirinya membawa pagoda berharga yang mengeluarkan berbagai harta. Dalam gambaran Tantra Tibet, pagoda berharga tersebut digantikan oleh cerpelai yang memuntahkan harta.[7] Jambhala Kuning duduk di atas sebuah teratai, cakram matahari dan cakram bulan.[1] Mantranya adalah:[5]

Om Jambhala Jalendraye Svaha

Jambhala Merah[sunting | sunting sumber]

Ganapati, Maha Rakta

Jambhala Merah digambarkan sedang melakukan praktik Tantra bersama dengan pasangannya, yaitu ibunda kekayaan surgawi yang bertugas membagikan harta di dunia manusia. Pada masa lampau, ritualnya dipraktikkan terutama oleh para raja dan bangsawan. Praktik ritualnya sangat sesuai untuk orang-orang yang berada di posisi tinggi, atau berkeinginan untuk memiliki kekuasaan tinggi, karena ritual Jambhala Merah dapat menarik orang-orang, kekayaan, dan ketenaran. Para praktisinya akan memiliki kekayaan yang berlimpah dan akan dihormati serta didukung oleh orang-orang.[3] Juga terdapat metode praktik Jambhala Merah yang akan membuat pernikahan bahagia serta keluarga yang harmonis.[7]

Jambhala Merah adalah manifestasi dari Vajrasattva. Ia memiliki dua wajah serta empat lengan serta membawa cerpelai harta di tangan kirinya. Namanya dalam bahasa Tibet adalah Dzambhala Mapo.[1] Jambhala Merah memiliki tubuh berwarna merah, bersila dalam posisi vajra dan sesosok Dakini duduk di pangkuannya, kaki kanannya bertumpu di atas sebuah keong dan bunga teratai. Tangan kirinya membawa seekor binatang yang disebut Nehulay (cerpelai), sementara tangan kanannya membawa Khorlo (Cakram); Dakini di pangkuannya membawa Kapala yang berisi Nektar di tangan kiri dan Norbu Mebar di tangan kanan. Mantra Hati dari Jambhala Merah adalah:[5]

Om Jambhala Jalendraye Dhanam Medehi Hrih Dakini Jambhala Sambhara Svaha

Beberapa aliran meyakini bahwa Jambhala Merah adalah Dewa Kekayaan Hindu yang bernama Ganesha[4], sang Ganapati Merah,[1] dan memiliki kepala gajah.[6] Setelah kebangkitan Wajrayana, Ganesha menjadi makhluk suci kekayaan dalam Tantra dan dikenal sebagai "Raja Penyedia dalam Tantra Tibet ". Berdasarkan legenda, Jambhala Merah diberi tugas mengawasi harta surgawi milik putra Maheswara. Karena welas asihnya yang luar biasa besar, Jambhala Merah tidak pernah tidak menjawab doa-doa dari para pemujanya. Murka karena Jambhala Merah memberikan berkahnya tanpa memilah mana yang baik dan mana yang jahat, Dharmapala Mahakala memenggal kepalanya. Hanya setelah Jambhala Merah menyesali kesalahannya, Mahakala kemudian memasangkan kepala gajah di lehernya dan menerima sebagai pengikut.[7]

Jambhala Hitam[sunting | sunting sumber]

Jambhala Hitamjuga dikenal sebagai Dewa Kekayaan Hindu, Kuwera.[6] Berasal dari India kuno, ia bermanifestasi dari air sungai dan memberikan transmisi peningkatan kekayaan kepada seorang raja yang kerajaannya mengalami masalah keuangan teramat parah pada masa itu. Ia juga memberikan keuntungan kepada orang-orang miskin dan para petapa yang memiliki pikiran bajik.[3]

Ia adalah pemimpin dari kelima Jambhala dan merupakan manifestasi dari Buddha Akshobhya, digambarkan berdiri di batas jenasah dan membawa cerpelai di tangan kirinya serta Kapala di tangan kanan.[1] Jambhala Hitam memiliki tubuh berwarna hitam. Ia ditampikan berdiri di atas tubuh manusia, melambangkan penaklukannya atas keegoisan manusia serta menghilangkan keserakahan. Tangan kanannya membawa Pot Permata dan tangan kirinya membawa seekor hewan yang disebut Nehulay (cerpelai) yang mengeluarkan permata-permata dari mulutnya. Jambhala Hitam juga mengenakan kalung ular di tubuhnya. Mantra Hati Jambhala Hitam adalah:[5]

Om Jambhala Jalendraye Bashu Dharini Svaha

Praktik[sunting | sunting sumber]

DalamTantra, praktik Jambhala adalah metode kultivasi yang bermanfaat serta bersifat duniawi. Kultivasi Tantra dibagi menjadi “Tahap Pembangkitan” dan “Tahap Penyempurnaan”; Tahap Pembangkitanadalah dasar sementara Tahap Penyempurnaan meliputi praktik untuk memperoleh kebenaran suci dan metode transendental. Praktik Jambhala adalah metode kultivasi dasar.[7]

Dasar dari praktik Lima Jambhala adalah Bodhicitta. Para praktisinya harus mengembangkan sikap welas asih kepada makhluk lain (Bodhicitta), dan dermawan. Praktik Jambhala dapat menyingkirkan kemiskinan di dalam keenam alam dan meningkatkan jasa kebajikan, kebijaksanaan, dan panjang usia seseorang. Semua kebutuhan material dan spiritual mereka akan terpenuhi.[3]

Ritual puja Lima Jambhala akan menarik energi kekayaan positif dalam jumlah besar kepada para partisipan yang hadir. Umat Buddhis percaya bahwa kekayaan merupakan hasil dari perbuatan masa lalu seseorang, tetapi puja semacam ini juga memberikan peran yang berarti untuk mengubah kondisi finansial seseorang. Gaden Shartse berkata:[3]

Dengan motivasi yang tulus untuk mengumpulkan jasa kebajikan, memurnikan karma negatif kita, dan juga mendoakan semua makhluk agar terbebas dari segala kemiskinan dan segala penderitaan, tanpa diragukan – seseorang dipastikan akan menerima berkah sangat luas dan perlindungan dari para makhluk suci kekayaan.”

Beberapa orang berpikir bahwa mengultivasi praktik Jambhala akan meningkatkan keserakahannya. Meskipun para praktisi spiritual memiliki keinginan untuk memperoleh sangat banyak keberuntungan, tubuhnya, pikirannya, dan ucapannya dipastikan akan dimurnikan secara bertahap dalam proses mempraktikan metode Tantra.[7]

Membaca mantra[sunting | sunting sumber]

Membaca mantra tiap-tiap Jambhala akan lebih bermanfaat jika praktisi yang membacakan telah menerima transmisi oral dari seorang guru yang memiliki ajaran (Silsilah).[5]

Menuangkan air pada rupang[sunting | sunting sumber]

Legenda menyatakan, saat Buddha Sakyamuni sedang mengajarkan Maha Prajna-Paramita Sutra, Devadatta yang diliputi dengki melemparkan batu ke arah Buddha. Namun, batu tersebut menghantam kepala Jambhala Putih dan Kuning serta perut Jambhala Hitam.[1] Buddha kemudian mendatangi Jambhala dan memberkahinya; dari tangannya mengalir substansi kebijaksanaan, welas asih, dan kasih yang berwarna putih, seperti nektar, dan menyentuh kepala Jambhala. Jambhala merasa sangat bahagia, gembira, damai, dan bersih dari kekotoran serta halangannya, serta juga sembuh dari lukanya. Jambhala segera membungkuk kepada Buddha dan berterima kasih.[4]

Buddha Sakyamuni berkata kepadanya, “Sebagaimana diriku telah menyembuhkanmu dan diriku telah menuangkan nektar suci ini kepadamu, di masa depan, jika salah satu muridku atau murid dari muridku yang memohon kekuatanmu dan menuangkan air ke atas kepalamu – berkahilah mereka dengan kekayaan, berilah mereka dua jenis kekayaan, kekayaan material dan kekayaan spiritual, terutama yang lebih penting adalah kekayaan spiritual.” Setelah itu, Jambhala merapatkan kedua telapak tangannya dan berkata, “Aku akan melakukan seperti perkataanmu dan aku berjanji bahwa aku pasti akan melakukannya.”[4]

Kisah tersebut menjadi alasan para praktisi Puja Jambhala untuk menuangkan air ke atas rupang mereka atau menempatkan rupang Jambhala di bawah pancuran air enam tingkat.[1]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i Nepalese and Tibetan Arts Blog. Access date= June 3rd, 2013. Five Jambala (Dzambhala) and Mantra.
  2. ^ a b His Holiness Gyalten Sogdzin Rinpoche. Access date= June 3rd, 2013. A Dharma Teaching by His Holiness Rimay Gyalten Sogdzin Rinpoche. Section 17. The Teachings for the Dzambhala Enpowerment.
  3. ^ a b c d e f g h Gaden Shartse Dro-Phen Ling (甘丹东顶渡悲林). Access date= June 3rd, 2013. Five Dzambalas Wealth-Congregating & Fortune Blessing Puja 五路财神聚财增福大法会.
  4. ^ a b c d Red Zambala. February 14th, 2013. Access date= June 3rd, 2013. Red Zambala.
  5. ^ a b c d e f g Tharpa Ling Jakarta – Indonesia Tibetan Tantric Buddhism. February 4th, 2013. Access date= April 3rd, 2013. Jambhala, The Bodhisattva of Wealth.
  6. ^ a b c d John W. Sheridan. June 29th, 2011. Access date= June 3rd, 2013. The Five Jambhala Wealth Gods.
  7. ^ a b c d e f g Singapore True Buddha School Yuan Xi Tang. Access date= April 3rd, 2013. The Jambhala Practice of Tantric Buddhism.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]