Jagalan, Jebres, Surakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Jagalan
Kelurahan
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kota Surakarta
Kecamatan Jebres

Kelurahan Jagalan adalah sebuah kelurahan di kecamatan Jebres, Surakarta. Kelurahan ini memiliki kode pos 57124. Wilayah Jagalan dibatasi oleh Pucang Sawit di timur, Purwalaya di barat, Jebres di utara, dan Kampung Sewu di selatan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kampung Jagalan terbentuk pada akhir abad ke-19. Kampung Jagalan terbentuk dari suatu perkumpulan masyarakat yang berprofesi berhubungan dengan jagal atau penyembelihan hewan. Daerah Jagalan dulunya merupakan daerah yang dikepalai oleh seorang lurah dari Keraton Surakarta. Daerah Jagalan adalah tempat penyembelihan hewan untuk memenuhi kebutuhan daging di kota Surakarta. Dari proses itu lebih kurang ada 70 sampai 80 hewan yang disembelih tiap harinya. Hewan yang disenbelih adalah sapi dan juga kerbau. Di kampung Jagalan sendiri dulu beroperasi banyak rumah pemotongan hewan.

Warga yang tingal pun mempunyai kebudayaan tinggal berhubungan dengan proses tersebut antara lain adanya produksi rambak yang berasal dari kulit sapi yang semuahya berasal dari kegiatan penyembelihan. Dengan berkembangnya zaman para jagal pun lama-kelamaan mulai menutup usahanya. Sampai pada saat ini hanya ada satu tempat penjagalan yang masih difungsikan. Para jagal mulai menutup uashanya karena adanya banyak kerugian karena banyaknya penipuan yang terjadi.

Untuk mitos yang berkembang di daerah jagalan sendiri adalah mitos tentang daerah kalangan. Daerah kalang terbentuk dari perkumpulan penduduk kalang. Kalang sendiri adalah para ahli kayu yang sangat ahli. Menurut mitos orang kalang kemungkinan bukan penduduk asli jawa. Orang kalang dianggap mempunyai strtuktur sosial paling rendah. Mitos orang kalang adalah tentang bahwa orang kalang adalah keturunan dari manusia dengan binatang. Selain itu orang kalang dianggap telah kawin dengan keluarga mereka sendiri (inses) sehingga di anggap sama dengan binatang.

Pada masa Sultan Agung dari Mataram, orang kalang mulai dikumpulkan dan dijadikan abdi dalem kraton yang bertugas sebagai pembuat bangunan istana, karena kemampuan mereka dalam memahami jenis-jenis kayu yang baik digunakan untuk pembuatan bangunan rumah. Ketika kerajaan mataram dipecah menjadi dua para kalang pun dibagi menjadi dua, setengah dari jumlah kalang ikut ke yogyakarta dan setengah lainnya menetap di kraton surakarta.

Kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Kebudayaan yang berkembang di daerah Jagalan adalah adanya suatu perkumpulan budaya yaitu campursari dan juga reog. Seiring dengan perkembangan zaman kebudayaan itu mulai terkikis dan hilang. Di kampung Jagalan masyarakat yang baru pindah biasanya meminta izin dan juga bersilaturahmi kepada sesepuh kampung dalam istilah Jawa disebut kulo nuwun.


Kampung[sunting | sunting sumber]

Kelurahan Jagalan memiliki beberapa kampung, yaitu :

  • Boro/Bororejo: terbentuk karena daerah itu mulanya adalah tempat yang ramai (rejo) dan banyak orang yang berdatangan (boro=nglemboro).
  • Wonosaren.
  • Rejosari, terdapat bekas makam zaman Belanda(kerkoof) yang kini sudah dialih fungsikan menjadi rumah susun sewa
  • Pokoso/Pakasa: Kampung yang menjadi pusat Perkumpulan Kawula Surakarta (PKS), yaang tumbuh dan berkembang sebagai organisasi politik lokal di Surakarta sekitar tahun 1930-an.
  • Kalangan: adalah tempat para abdi dalem (kalang) tinggal
  • Jagalan Pojok.
  • Belik: karena daerah itu dulu terdapat sebuah belik atau sebuah sumber mata air yang digunakan masyarakat sekitar untuk kebutuhan sehari-hari. Kini daerah tersebut semakin kecil dan lambat laun berkurang.
  • Kandang Pitik: daerah yang terbentuk karena dulu tempat itu merupakan tempat untuk memelihara ayam atau pitik.
  • Sorogenen: menurut cerita yang berkembang terbentuk karena daerah itu adalah tempat tinggal abdi dalem Sorogeni
  • Tekenan: merupakan wilayah yang digunakan pada akhir abad ke-19 untuk menyortir hewan-hewan yang akan masuk ke tempat penjagalan.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

  1. TK Bakti 6 Jagalan
  2. TK Aisyah RW VI
  3. TK PAUD RW V dan RW IX
  4. TK Kanisius Sorogenen
  5. TK Pertiwi RW XV
  6. SD Muhammadiyah 8, Jagalan. [Website: sdmuh8surakarta.sch.id]
  7. SD Negeri 81, Jagalan.
  8. SD Negeri Mijen 1.
  9. SD Negeri Mijen 2.
  10. SD Kanisius Sorogenen
  11. SMP 20 Jagalan.

Tempat ibadah[sunting | sunting sumber]

Islam[sunting | sunting sumber]

  1. Masjid Jami' Baiturrahman.[[Berkas:[1]]
  2. Langgar Hidayah.
  3. Langgar Mbah Surojo
  4. Mushola Amanah RW VIII
  5. Mushola Al Ikhlas RW VI
  6. Mushola Al Wustho
  7. Mushola Al Barru
  8. Mushola Sakinah
  9. Mushola Al Anshor Kalangan
  10. Mushola Thoriqul Jannah
  11. Mushola Syahid
  12. Mushola Mohtar Hadi

Gereja[sunting | sunting sumber]

  1. Bunga Bakung.
  2. Gereja Yesus Sejati Solo

Tempat jajanan[sunting | sunting sumber]

Hik[sunting | sunting sumber]

  1. Warung Hik, "Mbah Ribut" di Jl. Surya, Jagalan, dekat SMP 20 Surakarta.
  2. Warung Makan Jawa (Prasmanan, murah meriah), Depan SMP 20 Surakarta.

Perpustakaan Kampung Jagalan[sunting | sunting sumber]

Perpustakaan Kampung Jagalan merupakan bagian dari Program Walikota Solo H. Joko Widodo untuk mendekatkan perpustakaan ke tingkat kampung dan meningkatkan minat baca warga kampung, khususnya bagi anak sekolah.

Organisasi Masyarakat[sunting | sunting sumber]

Kepemudaan[sunting | sunting sumber]

  1. Pemuda Muhammadiyah.
  2. Karangtaruna.
  3. Nasyiatul Aisiah.
  4. Paguyuban Keluarga Muda Katholik.

Keagamaan[sunting | sunting sumber]

  1. Muhammadiyah Ranting Jagalan.
  2. Aisiyah Ranting Jagalan.
  3. Paguyuban Keluarga Muda katholik.
  4. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan

Pranala luar[sunting | sunting sumber]