Istana Mangkunegaran

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Mangkunegaran adalah suatu dinasti yang berasal dari dinasti Mataram. Cikal bakal dari dinasti ini adalah Pangeran Sambernyawa yang bertahta sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I. Istana Mangkunegaran sebagai pusat pengendalian kekuasaan politik didirikan setelah ditanda tanganinya Perjanjian Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757 di Salatiga.

Posisi Mangkunegaran dalam sistem dan struktur politik Jawa menempati kedudukan yang istimewa karena berdirinya Mangkunegaran merupakan hasil perjuangan (Ricklefs,1991). Pangeran Sambernyawa sebagai cikal bakalnya telah memulai perjuangan sejak berumur 16 tahun ketika panggilan perjuangan memanggilnya. Keulungan Mangkunegara I dalam kemiliteran sangat teruji ketika Mangkunegara I harus menghadapi 3 kekuatan gabungan yang terdiri dari pasukan pasukan; Belanda, Pakubuwana III dan Pangeran Mangkubumi

Istana Mangkunegaran[sunting | sunting sumber]

Dalam kancah politik Jawa Istana Mangkunegaran dengan penguasanya Mangkunegara tampil dengan penguatan yang bersifat rasional. Dua penguasa Jawa lainnya di istana Surakarta dan Yogyakarta membangun kekuasaan untuk keagungan sebagai penguasa menempuh jalan penguatan simbolik simbolik sedangkan Mangkunegaran membangun kemegahan kekuasaan dengan jalan rasional dan aksi. Rasionalisasi kekuasaan ini tampak dalam masa pemerintahan Mangkunegara II yang melanjutkan pendahulunya Mangkunegara I.

Pembangunan rasional ditempuh untuk kepentingan dan kekuatan keraton sehingga kemakmuran yang dicapai bisa mengalir ke bawah kepada kawulanya. Pembangunan militer yang kuat dan ekonomi beriring dengan karya karya sastera yang sampai sekarang tetap aktual dan menjadi rujukan bagi masyarakat Jawa.

Penguasa Mangkunegaran[sunting | sunting sumber]

Penguasa Mangkunegaran secara resmi bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ing Ayudha Sudibyaningprang yang disingkat dengan Mangkunegara dengan tambahan angka Romawi di belakangnya yang menunjukan pada yang urutan keturunan sedang bertahta. :

Selewat peperangan yang berlarut larut sampai dilaluinya Perjanjian Salatiga 17 Maret 1757, Mangkunegaran menjadi kekuatan penyeimbang yang masih selalu menampakan kegarangannya dalam memainkan kartu kartu konfliknya. Kedudukan penguasa Mangkunegaran diperjuangkan untuk menuju kemandiriannya tanpa mau didikte. Mangkunegaran tidak segan segan memainkan kekerasan dalam menghadapi kekuasaan lain yang merongrong wibawa dan eksistensinya.

Gelar Pangeran Prangwadana selalu menyertai bagi penerus Mangkunegaran.

Sejak tahun 1757 berturut turut yang bertahta di Istana Mangkunegaran adalah;

  1. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunegara I (1757-1795)
  2. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II (1796-1835)
  3. Mangkunegara III (1835-1853)
  4. Mangkunegara IV (1853-1881)
  5. Mangkunegara V (1881-1896)
  6. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI (1896-1916)
  7. Mangkunegara VII (1916-1944)
  8. Mangkunegara VIII (1944-1987)
  9. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX (1987-sekarang)

Lokasi Mangkunegaran[sunting | sunting sumber]

Istana Mangkunegaran berlokasi di Kota Surakarta di jalan Ronggowarsito dan bangunan menghadap ke Selatan. Sebagai keraton yang terbuka dengan ide-ide baru perjumpaan kebudayaan Jawa dengan Eropa dicermati dengan saksama dan diakulturasikan menjadi budaya Jawa. Akulturasi ini diinkulturasi sampai unsur dan elemen Eropa menjadi semakin Jawa.

Bangunan istana[sunting | sunting sumber]

Istana Mangkunegaran berdiri sejak tahun 1757 dan pada waktu awal mula berdiri komplek istana belum dilengkapi dengan Pendapa. Bangunan Pendapa dengan atap Joglo baru dibangun pada masa pemerintahan Mangkunegara IV yakni tahun 1866. Surakarta yang kental dengan kebiasaan-kebiasaan Jawa mengadopsi gaya Eropa menjadi gaya Jawa tampil dalam hal pembangunan fisik.

Bangunan Jawa secara prinsipial tidak mengenal adanya teras atau elemen serambi karena elemen ini merupakan kekhasan dari villa-villa di Eropa. Bangunan Jawa yang tanpa mengenal serambi ini dipadukan dengan elemen Eropa secara visual dan fungsional menghadirkan keindahan dan kegunaan terwariskan secara tradisi kegenerasi berikutnya. Aliran klasik dan neoklasik Eropa berpadu dengan semangat neoklasik Jawa menghadirkan pengolahan tata ruang yang secara simbolik menampilkan citra dan kegunaan aktivitas beserta ornamen dan pahatan sebagai simbolik.

Dari visualisasi bangunan, Istana Mangkunegaran mengambil corak Eropa dalam Empire Style dalam perpaduan Jawa yang menghadirkan kemaharajaan dengan keagungan dan kewibawaannya. Perpaduan antara Arsitektur Jawa dan Arsitektur Eropa terserap di Mangkunegaran yang memang terbuka untuk inovasi dan ide-ide yang baru.

Sistem denah menghadirkan suatu pola tatanan ruang yang tertutup dan bersifat linear. Pada kondisi struktur bangunan tampak bahwa antara atap dan dinding merupakan satu kesatuan utuh struktur dengan kata lain sistem struktur bangunan Istana menggunakan sistem strutur dinding pemikul. Penggunaan kolom-kolom bulat yang terbuat dari besi tuang (cor) dengan konsol-konsol besi semakin menampakan perpaduan Jawa dengan neoklasik Eropa dalam penampilannya.

Ciri utama peningalan Eropa di Jawa dalam soal bangunan juga terdapat pada keluasan bidang bukaan jendela dan pintu serta skala ruang yang luas dan tinggi. Aspek keluasan ini pada intinya adalah pengolahan aspek kenyamanan penghuni dalam aktivitasnya sehari hari yang hadir di bumi beriklim tropis.

Mangkunegaran Masa Sekarang[sunting | sunting sumber]

Di Mangkunegaran saat ini yang bertahta adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX. Pada masa pemerintahannya sekarang beberapa bangunan di Istana mengalami Revitalisasi dengan dana bantuan dan ahli yag berasal dari Pemerintah Republik Indonesia melalui Pemerintah daerah.Revitalisasi sendiri adalah upaya untuk memulihkan bangunan seperti sedia kala dengan fungsi yang berbeda. Jaman dulu gedung Kavaleri adalah Markas Legiun Mangunegaran maka sekarang bisa difungsikan untuk aktivitas yang lain.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. Lieberman,Victor B. Beyond binary histories: re-imagining Eurasia to c.1830, University of Michigan Press,USA, 1999.
  2. Ricklefs, MC., Jogjakarta Under Sultan Mangkubumi
  3. Carey, Peter, 'Civilization on Loan: The Making of an Upstart Polity: Mataram Its Successors 1600-1830
  4. http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/06/28/58203/Revitalisasi-Mangkunegaran-Libatkan-BP3
  5. Soekanto, Dr., Sekitar Jogjakarta, 1755-1830, Jakarta: Mahabarata, 1952