Insiden Gerbang Xuanwu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Gerbang Xuanwu di kota Xi'an, saksi sejarah kudeta berdarah yang merenggut nyawa putra mahkota Tang, Li Jiancheng

Kudeta di Gerbang Xuanwu (Hanzi: 玄武门之变, pinyin: Xuanwumen zhi bian, 2 Juli 626) adalah sebuah insiden yang merupakan puncak dari intrik keluarga Dinasti Tang antara putra-putra Kaisar Tang Gaozu (Li Yuan) yaitu putra mahkota, Li Jiancheng dan Li Shimin. Li Jiancheng yang iri pada Li Shimin bermaksud membunuhnya, namun Li Shimin yang telah mencium rencana ini mengambil tindakan pendahuluan dengan menyergap Li Jiancheng di gerbang Xuanwu, gerbang yang menuju ke istana Kaisar Gaozu. Disana Li Shimin membunuh kakaknya dan juga adiknya, Li Yuanji, yang mendukung Li Jiancheng. Setelah itu ia mengirim pasukan ke istana untuk menghadap ayahnya. Di bawah intimidasi, Kaisar Gaozu menyerahkan status putra mahkota pada Li Shimin dan turun tahta dua bulan kemudian serta menyerahkan tahtanya pada putra keduanya itu. Peristiwa berdarah ini terjadi di Chang'an (sekarang Xi'an, Provinsi Shaanxi)

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Kaisar Gaozu memiliki empat putra dari pernikahannya dengan Putri Dou (meninggal sebelum Dinasti Tang berdiri, secara anumerta dijadikan permaisuri) yaitu Li Jiancheng, Li Shimin, Li Xuanba (mati muda tahun 614), dan Li Yuanji. Setelah Dinasti Tang berdiri, Li Jiancheng menjadi putra mahkota. Walaupun seorang jenderal tangguh yang telah memenangkan banyak pertempuran, namun ia kalah pamor dari adiknya, Li Shimin, yang membujuk ayahnya untuk mengambil inisiatif memberontak terhadap Kaisar Yang dari Sui dan berhasil mengalahkan para pemberontak seperti Kaisar Qin, Xue Rengao; Khan Dingyang, Liu Wuzhou; Pangeran Xia, Dou Jiande; dan Kaisar Zheng, Wang Shichong. Gaozu memberikan kuasa penuh pada ketiga pangeran itu, perintah mereka sama derajatnya dengan titah kaisar. Sejarah tradisional mencatat bahwa Kaisar Gaozu pernah mempertimbangkan untuk mengalihkan status putra mahkota pada Li Shimin yang lebih berprestasi, namun niat ini tidak terwujud karena Li Jiancheng didukung oleh Li Yuanji dan selir-selir kesayangannya. Hal ini lah yang membuat Jiancheng mulai merasa tidak nyaman dan dibayang-bayangi oleh adiknya itu.

Seiring berjalannya waktu, permusuhan antara keduanya makin meruncing, bawahan masing-masing saling mendesak junjungan mereka untuk bertindak terlebih dahulu. Suatu ketika Li Shimin sedang mengunjungi kediaman Li Jiancheng, dalam kesempatan itu Li Yuanji hendak membunuhnya, namun dicegah oleh kakaknya yang masih ragu melakukan hal itu. Bagaimanapun, Li Shimin masih menjadi momok bagi Li Jiancheng. Pada tahun 624, Li Jiancheng berencana untuk menambah pengawalnya dengan pasukan di bawah komando Li Yi (Luo Yi), pangeran Yan, suatu hal yang bertentangan dengan aturan kaisar. Kepala pengawal Li, Yang Wen’gan, takut dihukum dan kehilangan jabatannya sehingga memberontak. Untuk menumpas pemberontakan Yang, Kaisar Gaozu menugaskan Li Shimin dan menjanjikannya status putra mahkota bila berhasil menumpas pemberontakan itu. Namun ketika Li Shimin sibuk bertempur dengan pemberontak, Li Yuanji, Feng Deyi, dan selir-selir Gaozu melakukan intervensi dengan mendukung Li Jiancheng tetap sebagai putra mahkota. Kaisar Gaozu pun menetapkan putra sulungnya itu sebagai penerusnya, serta mengasingkan bawahannya Wang Gui, Wei Ting, dan seorang bawahan Li Shimin, Du Yan. Yang Wen’gan sendiri pada akhirnya berhasil dikalahkan dan dibunuh oleh bawahannya sendiri.

Setelah itu, Li Shimin meminta izin ayahnya untuk meninggalkan Chang’an (ibukota Tang) untuk mengurus Luoyang (ibukota lama, bekas ibukota Dinasti Sui). Kaisar Gaozu menyetujuinya, namun Li Jiancheng dan Li Yuanji khawatir saudaranya itu akan menggunakan Luoyang sebagai basis untuk membangun kekuatan melawan mereka. Mereka pun memprotes rencana itu pada ayah mereka sehingga rencana ini dibatalkan. Mereka juga membuat tuduhan palsu bahwa Li Shimin melakukan tindakan kriminal. Berkat pembelaan Chen Shuda (adik mantan kaisar Chen terakhir, Chen Shubao), Li Shimin luput dari hukuman. Kedua pangeran itu tetap berusaha memojokkan Li Shimin, siasat mereka kali ini adalah mempreteli kekuatan Li Shimin satu-persatu. Para perwira dan ahli strategi yang pro Li Shimin seperti Yuchi Jingde (Yuchi Gong), Cheng Zhijie, Fang Xuanling dan Du Ruhui dicabut dari jajaran staff Li Shimin. Dalam kesempatan lain mereka juga mencoba membunuhnya dengan meracuni arak yang diminumnya ketika bertamu ke tempat Li Jiancheng. Namun Li Shimin sudah merasakan efek racun yang kerjanya perlahan namun mematikan itu sehingga dia buru-buru meminum penawar dan sembuh.

Li Shimin membunuh kakak dan adiknya[sunting | sunting sumber]

Musim panas tahun 626, jenderal dari Tujue Timur (suku Turki), Ashina Yushe, memasuki perbatasan Tang serta mengepung Wucheng (sekarang Yulin, Shaanxi). Biasanya yang menangani gangguan dari Tujue adalah Li Shimin, namun atas bujukan Li Jiancheng, Kaisar Gaozu memberikan tugas ini pada Li Yuanji dan pasukan dibawah Li Shimin dialihkan pada adiknya itu. Atas saran iparnya, Zhangsun Wuji dan Yuchi Jingde, Li Shimin yang takut kedua saudaranya akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menghabisinya memutuskan untuk mengambil tindakan. Secara rahasia ia memanggil Fang Xuanling dan Du Ruhui ke kediamannya untuk menyusun rencana. Malamnya mereka mengirimkan laporan berisi tuduhan palsu terhadap Li Jiancheng dan Li Yuanji yang menyebutkan bahwa keduanya memiliki hubungan gelap dengan selir ayahnya dan berencana membunuhnya. Gaozu sangat terkejut dengan laporan ini, namun dia belum mengambil tindakan antisipasi, hanya mengatakan bahwa ia akan menangani masalah ini besok. Ia juga memanggil pejabat-pejabat tingginya seperti Pei Ji, Xiao Yu, dan Chen Shuda untuk membicarakan apa tindakan apa yang harus diambil selanjutnya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Li Shimin dan Zhangsun Wuji berangkat ke istana kaisar dan menyembunyikan pasukannya di gerbang utara istana yang bernama Gerbang Xuanwu. Sementara itu, salah seorang selir Gaozu, Selir Zhang telah mendengar tuduhan palsu yang dibuat Li Shimin terhadap dua saudaranya. Dia pun secara rahasia membeberkannya pada kedua pangeran itu. Li Yuanji menyarankan untuk tidak melaporkan hal ini ke istana, yang harus dilakukan adalah mempersiapkan pasukan untuk berperang. Namun kakaknya, sambil menggerakkan pasukan juga ingin menghadap ayahnya untuk membicarakan situasi, maka mereka bersama pasukannya bergerak menuju istana.

Ketika keduanya tiba di istana, barulah mereka menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Mereka bersiap untuk kembali ke kediaman Li Jiancheng, namun terlambat, Li Shimin bersama pasukannya keluar dari persembunyian dan menyergap mereka. Li Yuanji menembakkan panah tiga kali pada Li Shimin, namun karena panik, semuanya meleset. Li Shimin membalasnya dengan menembakkan sebatang anak panah yang mengenai dan menewaskan Li Jiancheng. Menurut catatan dari Zizhi Tongjian karya sejarawan Song, Sima Guang, Li Shimin sebenarnya tidak ingin membunuh Li Yuanji. Ia mengejar adiknya yang mencoba kabur. Di hutan Li terjatuh dari kudanya dan kesempatan ini dimanfaatkan oleh Li Yuanji untuk membunuh Li Shimin dengan cekikan tali busur. Pada saat yang kritis itu, Yuchi Jingde tiba dan ia membunuh Li Yuanji dengan sebatang panah.

Pasca kudeta[sunting | sunting sumber]

Sementara itu, kepala pengawal Li Jiancheng, Feng Yi walaupun telah mendengar kematian tuannya, ia masih setia padanya dan memutuskan untuk terus berperang. Bersama perwira lainnya, Xue Wanche dan Xie Shufang, Feng memimpin pasukan Li Jiancheng dan Li Yuanji ke Gerbang Xuanwu dimana mereka berhadapan dengan pasukan Li Shimin. Pada awalnya mereka di atas angin dan berhasil membunuh dua orang komandan Li, Jing Junhong dan Lu Shiheng, namun tak lama kemudian Li dan Yuchi tiba disana sambil membawa kepala kedua pangeran. Moral pasukan itu langsung jatuh begitu melihat kepala kedua junjungannya, Feng dan Xue melarikan diri di tengah kekacauan itu.

Li lalu mengirim Yuchi ke istana lengkap dengan pasukan. Kaisar Gaozu sangat terkejut ketika Yuchi menghadapnya dengan pasukan. Ia bertanya apa yang dilakukannya di sini, Yuchi menjawab, “Putra mahkota dan Pangeran Qi (Li Yuanji) telah memberontak, Pangeran Qin (Li Shimin) telah mengirim pasukan dan menghukum mati mereka. Ia khawatir yang mulia akan terkejut sehingga mengirim hamba untuk melindungi yang mulia”

Kaisar Gaozu yang menyadari situasi telah demikian serius meminta nasihat dari Pei Ji, Xiao Yu, dan Chen Shuda. Xiao dan Chen menyarankan padanya agar menetapkan Li Shimin sebagai putra mahkota untuk menenangkannya. Atas permintaan Yuchi, Gaozu mengeluarkan titah yang memerintahkan agar seluruh sisa pasukan Li Jiancheng dan Li Yuanji menghentikan perlawanan dan tunduk pada Li Shimin. Ia juga memanggil putra keduanya itu menghadapnya untuk memberinya beberapa nasihat, di hadapan ayahnya Li Shimin berlutut dan menangis. Tiga hari kemudian ia mengangkat Li Shimin sebagai putra mahkota dan menyerahkan seluruh tanggung jawab negara padanya. Dua bulan setelahnya ia turun tahta dan Li Shimin menjadi kaisar berikutnya dengan gelar Kaisar Tang Taizong. Li Shimin menghukum mati seluruh putra-putra Li Jiancheng dan Li Yuanji, namun mengampuni para bawahan mereka.

Legenda[sunting | sunting sumber]

Dalam naskah Dunhuang ada salinan berjudul Perjalanan Kaisar Taizong ke Alam Baka. Disini diceritakan bahwa, Li Shimin ketika sakit keras, jiwanya sempat berkelana ke alam baka dimana dia berjumpa dengan arwah kedua saudaranya yang menuntut balas, mereka menuntut agar Li Shimin diinterogasi oleh Raja Yama, penguasa alam baka dan dijebloskan ke neraka. Namun kisah ini hanyalah hasil rekayasa selama rezim kaisar wanita Wu Zetian untuk mendiskreditkan klan Li (keluarga Dinasti Tang) dan pendukungnya.

Legenda ini juga menjadi asal mula tradisi Dewa Pintu (门神). Konon untuk menghalangi hantu kedua saudaranya yang bergentayangan mengganggunya, Li Shimin memerintahkan dua jenderalnya, Yuchi Jingde dan Qin Qiong untuk berjaga di depan pintu kamarnya sepanjang hari. Namun karena keterbatasan tenaga, keduanya tidak bisa berjaga non-stop sepanjang hari. Sebagai gantinya dibuatlah lukisan kedua jenderal itu dan ditempelkan di sisi kanan dan kiri pintu kamar sang kaisar. Tradisi ini masih dipraktekkan oleh orang Tionghoa hingga kini untuk mencegah hal-hal yang buruk masuk ke rumah.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Fu Chunjiang, “Chinese History:Ancient China to 1911”, Singapore:Asiapac Books, 2005.
  • Feng Ge, “Journey Through The Underworld:10 Courts of Hell”, Singapore:Asiapac Books, 2001.