Hogereburgerschool

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

HBS (singkatan dari bahasa Belanda: Hogere Burger School atau Hoogere Burgerschool) adalah sekolah lanjutan tingkat menengah pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. HBS setara dengan MULO + AMS atau SMP + SMA, namun hanya 5 tahun.

Peraturan Pendidikan 1848, 1892, dan Politik Etis 1901[sunting | sunting sumber]

Peraturan pendidikan dasar untuk masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848, dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus ada pada setiap Karesidenan, Kabupaten, Kawedanaan, atau pusat-pusat kerajinan, perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu [1]. Peraturan yang terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik Balas Budi dari Kerajaian Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting: irigrasi, transmigrasi [2], pendidikan.

Pada zaman Hindia Belanda anak masuk HIS pada usia 6 th dan tidak ada Kelompok Bermain (Speel Groep) atau Taman Kanak-Kanak (Voorbels), sehingga langsung masuk dan selama 7 tahun belajar. Setelah itu dapat melanjutkan ke MULO, HBS, atau Kweekschool.

Bagi masyarakat keturunan Tionghoa biasanya memilih jalur HCS (Hollands Chinesche School) karena selain bahasa pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa.

Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada pihak swasta seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhamadiyah, Pondok Pesantren, dlsb.

Jalur Pendidikan HBS[sunting | sunting sumber]

Pendidikan HBS selama 5 tahun setelah HIS atau ELS adalah lebih pendek dari pada melalui jalur MULO (3 tahun) + AMS (3 tahun). Di sini dibutuhkan murid yang pandai, terutama bahasa Belanda. Sukarno merupakan salah satu murid HBS di Surabaya sebelum beliau masuk THS di Bandung. Pada waktu itu HBS hanya ada di kota Jakarta (Koning Willem III School te Batavia dibuka tanggal 27 November 1860), Surabaya (November 1875), Semarang (1 November 1877)[1], Bandung (1915), Malang (1927), dan Medan (1928)[2]:184, sedangkan AMS ada di kota Jakarta, Bandung, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya.

Jumlah anak pribumi yang masuk HBS pada tahun 1900 hanya 2%, pada tahun 1915 sebanyak 6,1% dari 915 siswa di tiga HBS (Jakarta, Surabaya, dan Semarang). Pemerintah Hindia Belanda sudah mengizinkan anak pribumi masuk HBS sejak tahun 1874.[3]:40

Kurikulum HBS[sunting | sunting sumber]

Kualitas HBS di Hindia Belanda dirancang agar tidak lebih rendah dari HBS di negeri Belanda. Hal ini dibuktikan dengan kurikulum yang dibuat sama, dan kualitas gurunya juga disetarakan di mana banyak juga yang menyandang gelar Doktor. Mata pelajaran yang diberikan meliputi 19 mata pelajaran. Sebelas mata pelajaran diberikan dari kelas satu sampai kelas lima, yaitu:[3]:38

  1. berhitung;
  2. aljabar;
  3. matematika;
  4. botani;
  5. biologi;
  6. sejarah;
  7. geografi;
  8. bahasa Belanda;
  9. bahasa Inggris;
  10. bahasa Perancis;
  11. bahasa Jerman;
  12. menggambar tangan;
  13. olah raga (pelajaran wajib, namun dinilai hanya sebagai kegiatan ekstra kurikuler).

Enam pelajaran yang diberikan sejak kelas tiga hingga kelas lima adalah:[3]:38

  1. fisika;
  2. kimia;
  3. undang-undang negara;
  4. ekonomi;
  5. tata buku;
  6. menggambar garis.

Mata pelajaran yang diberikan sejak kelas empat adalah mekanika dan kosmografi. Berbeda dengan HBS di Belanda, Bahasa Latin dan bahasa Yunani tidak diberikan di HBS di Hindia Belanda.[3]:38

Beban pelajaran yang banyak dan berat itu menyebabkan para siswa HBS sulit menyelesaikan studinya tepat waktu, bahkan akhirnya drop out. Jumlah murid yang dapat bertahan hingga kelas empat hanya 50%, sementara yang berhasil lulus ujian akhir dan memperoleh ijazah HBS hanya 25%, dan sisanya drop out.[3]:39

Tingginya angka drop out disebabkan:[3]:39

  • banyaknya jumlah pelajaran yang diberikan;
  • tingginya standar kualitas akademis yang ditetapkan sebagai syarat kelulusan;
  • ketiadaan/kekurangan biaya.

Kebanyakan murid merasa berat memenuhi standar kelulusan mata pelajaran bahasa Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman. Sebagian lainnya kesulitan untuk bisa lulus pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam. Penerapan standar tinggi ini memang harus diterima agar HBS Jawa dapat disetarakan dengan HBS di Belanda.[3]:39

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]