Gua Pawon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Gua Pawon
Informasi air terjun
Lokasi Desa Gunung Masigit, Cipatat, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Indonesia

Gua Pawon adalah sebuah tempat yang penting bagi orang Sunda karena di sana pernah ditemukan kerangka manusia purba yang konon adalah nenek moyang orang Sunda (masih diteliti di balai Arkeolog Bandung). Gua ini sebenarnya adalah sebuah situs purbakala yang terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, atau sekitar 25 km arah barat Kota Bandung.

Namun sayangnya popularitas Gua Pawon sendiri sebagai sebuah tempat wisata kalah dengan tempat-tempat wisata lainnya yang berada di sekitar Bandung. Misalanya saja oleh Kawah Putih, Tangkuban Perahu ataupun Situ Cibutur yang berada di dekatnya.

Untuk ke Gua Pawon, khusunya untuk yang berdomisili di Bandung atau Jatinangor, sebenarnya tidaklah sulit dan tidak memerlukan biaya yang besar. Kita tinggal naik bus jurusan Jakarta, Cianjur atau Bogor yang melewati Padalarang.

Setelah itu turun di di jalan raya Bandung - Cianjur, tepatnya di daerah Citatah. Tidak sulit ditemukan karena di pinggir jalannya ada plang bertuliskan ’Situs Sejarah Gua Pawon’. Semoga saat teman-teman pas kesana plangnya tidak sedang ambruk. Letaknya tidak jauh setelah melewati Situ Ciburuy. Kalau sama sekali tidak tahu kawasan ini, bisa minta tolong pada kernet bisnya. Ongkos yang harus dikeluarkan juga tidak terlalu mahal. Saat itu kami naik dari Cileunyi dan diharuskan membayar Rp 7.000, mungkin kalau dari Bandung antara Rp 20.000 - Rp 25.000.

Setelah sampai di plang tersebut ada sebuah belokan berupa sebuah jalan panjang yang tidak terlalu besar hanya saja jalanya sudah rusak cukup parah. Mungkin karena banyaknya truk pengangkut batu kapur yang sering pulang pergi lewat jalan itu. Sebenarnya untuk sampai ke Gua Pawon dari jalan tersebut, mempunyai dua pilihan. Pertama, naik ojeg dengan tarif sekitar Rp 10.000,- atau jika ingin merasakan perjalanan yang lebih seru, sebaiknya jalan kaki saja, karena pemandangan yang ditawarkan juga cukup cantik.

Bila ingin berjalan kaki, maka akan menempuh jalan yang berbatu-batu, menanjak dan jauh. Di tambah lagi matahari yang menyengat. Tapi semua itu akan terbayar karena sambil berjalan, bisa merasakan hembusan angin segar dan indahnya tebing di karst Citatah yang meneluarkan semburat emas terekena sinar matahari.

Dalam perjalanan ini, harus banyak bertanya pada warga sekitar karena sama sekali tidak ada papan petunjuk jalan untuk menuju ke Gua Pawon. Setelah berjalan cukup lama dan melewati beberapa tanjakan serta turunan ditambah jalan tanah merah becek barulah sampai di mulut Gua Pawon.

Selain menuju ke Gua Pawon, yang datang ke sini juag bisa memanjat teving di karst Citatah ataupun ke Gunung Masigit, karena kami pun sempat melihat beberapa orang yang sepertinya adalah pecinta alam sedang memanjat tebing.

Indah, eksotis dan misterius. Mungkin itulah kata-kata yang bisa menggambarkan Saat kami sampai ke Gua Pawon. Saat itu kami jadi ingin cepat-cepat masuk ke sana. Sayangnya harus siap-meliahat banyak sekali coretan-coretan pilox yang mengotori plang nama gua tersebut maupun dinding-dinding disekitarnya.

Saat sampai di sana, jangan berpikir kalau akan menemukan penjaga Gua atau orang yang bisa mengajak berkeliling gua. Karena gua tersebut benar-benar sepi. Tidak ada kehidupan manusia. Paling hanya beberapa anak kecil saja yang terkadang lewat.

Kalau berani, bisa langsung masuk dan menjelajahi gua itu sendiri. Namun bila merasa tempat itu sedikit spookey, gelap gulita dan takut tersesat, dapat mencari penduduk sekitar yang bisa dijadikan guide. Waktu itu kebetulan penduduk sekitar sana merekomendasikan kami pada Pak RT setempat, yaitu Pak Koswara. Jadi kalau memang butuh pemandu, tidak ada salahnya mencari Pak Koswara. Cukup bertanya saja ke penduduk sekitar, maka akan diantar ke rumanya.

Saat itu Pak Koswara menawari kami melewati dua jalur untuk sampai ke Gua Pawon. Pertama lewat jalan utama yang tadi sudah kami lewati. Dan yang kedua lewat jalan alternatif di sebelah utara jalan utama. Kata Pak Kosawara, kalau mau menjelajah dan yang lebih dekat dari sawah tempat kami bertemu adalah jalan alternatif, jadi kami pun memilih lewat jalan alternatif saja. Jadi tergantung pada mau melesati jalan yang mana. Apakah ingin aman-aman saja dan melalui multu utama, atau ingin merasakan sedikit jalanan terjal melalui jalan alternatif.

Jalan alternatif yang ditawarkan Pak RT ini memang juara karena sangat terjal dan juga licin, sangat berbeda jauh dengan jalan utama yang kami lewati sebelumnya. Tapi dengan begitu kita bisa merasakan petualangan lebih lho..

Waktu itu kami sempat beberapa kali mengalami kesulitan saat menanjak, mungkin karena sepatu yang kami pakai. Jadi kami saranakan bagi untuk memakai alas kaki yang aman dan nyaman. Pakailah sandal gunung atau sepatu boot. Pokoknya pakai alas kaki yang tidak licin dan nyaman.

Begitu sampai ke mulut gua, akan disambut oleh pandangan yang hebat. Saat itu berarti sudah berada di mulut Gua Poek. Gua ini sering dipakai sebagai tempat bermalam oleh orang yang berkunjung ke Gua Pawon. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang cukup luas yang memang terlihat seperti sebuah kamar untuk menginap. Menurut Pak RT, dalam legenda orang Sunda (legenda Sangkuriang), gua ini dulunya adalah dapur Dayang Sumbi.

Untuk sampai ke ruang berikutnya yang merupakan ruang utama harus sedikit memanjat dan menyelip di bawah batu besar. Cukup sulit, jadi harus berhati-hati.

Sampai di sisi lain gua, kedatangan kita akan kembali disambut oleh pemandangan yang indah. Ada tiga mulut gua yang seperti mendadahi minta dimasuki, dan ada satu lagi yang letaknya di bawah, jadi seperti kolam kering yang di pojoknya ada sebuah celah besar. Saat berada si sana, kami sarankan mengambil foto yang banyak, karena pemandangannya bagus sekali. Sayang jika tidak diabadikan.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan memasuki mulut gua paling kiri. Gua ini masih temasuk ke dalam bagian dari Gua Lega, karena ruangannya memang nyambung dengan ruangan dari kedua mulut gua yang lainnya, sehingga di namakan sebagai ruang utama.

Di bagian kiri atas gua ini, ada sebuah spot yang dinamakan Sumur Bandung. Sumur Bandung ini sebenarnya bukanlah sebuah sumur, lebih seperti sebuah kolam kecil yang cukup dalam yang tentu aja berisi air. Konon kata Pak RT biasanya orang-orang yang datang kesana itu percaya kalo air dari sumur itu sakti, ya bisa bawa tuah katanya. Menurut Pak RT juga, air sumur itu tidak selalu ada, kadang-kadang saja. Dan kebetulan sekarnag sedang terisi.

Sumur Bandung ini tempatnya cukup tinggi dan jalan kesana total harus memanjat dinding batu yang terjal dan licin. Untuk itu bagi yang memakai sepatu kets biasa, kami sarankan untuk mencopot sepatu saja, karena sangat licin. Dan carilah batu untuk pijakan meloncat ke atas.

Sumur tersebut sebenarnya tidak terlalu besar. Mungkin juga tidak akan bisa melihat seberapa dalam sumur itu karena gelap. Airnya bening dan dingin. Bagai yang percaya bahwa air di sana membawa tuah, bisa membasih muka, tangan atau kaki dengan air itu. Dan tentu saja saran kami jangan lupa foto-foto.

Dari situ bisa terus berjalan ke arah belakang. Menuju sebuah celah besar, tapi sayangnya lagi- lagi di dalam sana harus menemukan banyak sekali coretan-coretan pilox tidak penting yang merusak keindahan gua.

Melewati celah besar itu kita akan kagum melihat pemandangan yang ada di sana. Ada sebuah tebing yang indah sekali. Sebelah kanannya ada sebuah gua kecil yang di depannnya terdapat lokasi penemuan fosil manusia purba. Jadi ternyata gua ini pernah di pakai sebagi tempat tinggal manusia purba, yang konon adalah nenek moyangya orang Bandung.

Di situ kita bisa menikmati indahnya tebing yang menjulang tinggi dengan warna emas kecoklatan, lalu berjalan ke bawah sedikit ada lagi celah di pinggir tebing yang bentuknya seperti sebuah jendela besar bagi Gua Pawon sebagai rumahnya. Menurut Pak RT, tempat ini dinamalakn Gua Kopi karena dulunya di sini banyak pohon kopi yang tumbuh.

Dari sana bisa lanjut ke bagian depan Gua Pawon. Bagian yang pertama kali kami masuki sebelum bertemu Pak RT. Untuk sampai ke sana, harus kembali lagi ke Gua ruang utama dan kali ini berjalan turun ke bawah, ke tempat yang sebelumnya kami sebut sebagai kolam kering dengan celah yang cukup besar di pojoknya.

Setelah melewati celah itu, kita akan sampai di tempat yang di beri plat 'kamar 1'. Disini bau kotoran kelelawar menyengat sekali. Ya, disarankan tidak usah berdiam terlalu lama disini karena banyak kelelawar dan bau kotorannya yang menyengat. Dari situ bisa langsung keluar Gua Pawon melalui mulut utama.

Setelah keluar dari mulut gua itu masuk ke satu gua lagi, yaitu Gua Barong. Gua ini terletak di sebelah kanan jalan masuk utama. Menurut Pak RT, di dalam gua itu banyak benda-benda pusaka yang cukup sacral. Sayangnya saat itu kamiterpaksa menguruhkan niat untuk memasuki gua itu karena trek ke gua itu yang sangat terjal, di tambah hujan turun semakin lebat.

Bila tidak jadi masuk ke Gua Barong, kita bisa melanjutkan perjalanan meliahat pemandangan yang indah dari bukit-bukit di karst Citatah atau bila membawa perlengakapan yang memadai kita bisa lanjut ke Gunung Masigit. Dan jangan lupa memeberikan tip kepada orang yang mengatar kita berkeliling gua, hitung-hitung ucapan terima kasih. Kami waktu itu memberi Pak Koswara lima puluh ribu rupiah, ya sebanding dengan yang kami dapatkan. Karena dia pun rela meninggalkan pekerjaannya di sawah. Heu…

Saran dari kami, bila memang ingin berkunjung ke Gua Pawon atau kawasan karst Citatah lainnya sebaiknya cepat-cepat. Karena yang mengkhawatirkan kami juga, tempat tersebut sebentar lagi terancam bertambah rusak bahkan mungkin akan hancur oleh penambangan fosfat dan batu kapur. Bahkan beberapa lokasi di sekitar gunung Masigit sudah cukup porak poranda dan gundul akibat penggalian.

Ya, semoga saja ini tidak terjadi dan hanya menjadi kekahwatiran kami saja. Jadi untuk yang ingin ke sana, selamat mencoba. Oh ya, daran dari kami lagi, bila punya waktu lebih setelah atau sebelum dari Gua pawon, bisa sekalian menikmati keindahan Situ Ciburuy, jadi sekali mendayung dua pulau terlampaui.