Gibeon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Gibeon
Gibeon is located in Tepi Barat
Peta West Bank
Lokasi Kanaan
Koordinat 31°50′51″LU 35°11′00″BT / 31,847451°LU 35,183351°BT / 31.847451; 35.183351
Jenis kota
Catatan
Waktu penemuan 1956-1962
Arkeolog James B. Pritchard

Gibeon (bahasa Ibrani: גבעון, Standar Giv'on Tiberias Giḇʻôn) adalah kota kuno di Kanaan yang dicatat pada sejumlah peristiwa penting dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Terletak di utara Yerusalem. Kota ini dikisahkan direbut oleh Yosua bin Nun, tetapi penduduknya tidak dibunuh. Yosua 10:12 dan 2 Samuel21:2 menjelaskan bahwa orang Gibeon bukan keturunan bangsa Israel, melainkan tergolong orang Amori atau orang Hewi, yaitu penduduk Kanaan sebelum datangnya orang Israel dari Mesir.

Reruntuhan kota Gibeon terletak di sudut selatan dari desa Palestina, Jib.

Catatan Alkitab[sunting | sunting sumber]

Zaman Yosua[sunting | sunting sumber]

Setelah kehancuran Yerikho dan Ai, orang Hewi di Gibeon mengirimkan utusan untuk menipu Yosua dan orang Israel agar membuat perjanjian damai dengan mereka yang berpura-pura datang dari negara jauh. Seharusnya Allah memerintahkan bangsa Israel untuk memunahkan semua penduduk Kanaan. Yosua akhirnya sadar kalau ditipu, tetapi tetap memegang perjanjian itu sehingga penduduk Gibeon tidak dibunuh, melainkan dijadikan budak untuk memotong kayu dan mengambil air (Yosua 9:3-27).

2 Samuel 21:2 mengindikasikan bahwa Saul bermaksud membasmi orang Gibeon demi semangatnya kepada orang Israel dan Yehuda, meskipun tidak tuntas.[1] Di kemudian hari, setelah Daud menjadi raja menggantikan Saul, Israel mengalami bencana kekeringan yang diyakini akibat perbuatan Saul tersebut.[2] Untuk menghentikan tulah itu Daud menyerahkan Armoni dan Mefiboset, dua putra Saul dari gundiknya, serta lima putra Merab, putri Saul, kepada orang Gibeon, yang menggantung mati mereka.[3]

Gibeon termasuk ke dalam wilayah suku Benyamin.[4] Juga diberikan sebagai salah satu kota suku Lewi.[5] Di dekat kota ini Allah membuat matahari berhenti ketika bangsa Israel berperang melawan orang Amori.[6]

Kemah Suci[sunting | sunting sumber]

Ada bukit pengorbanan besar di Gibeon, sebab di situlah Kemah Pertemuan Allah[7] yang dibuat Musa, hamba TUHAN itu, di padang gurun. Tetapi Daud telah mengangkut tabut Allah dari Kiryat-Yearim ke tempat yang disiapkannya bagi tabut itu, sebab ia telah memasang kemah untuk tabut itu di Yerusalem. Namun mezbah tembaga yang dibuat Bezaleel bin Uri bin Hur masih ada di sana di depan Kemah Suci TUHAN. Maka ke sanalah Salomo dan jemaah itu meminta petunjuk TUHAN.[8] Seribu korban bakaran dipersembahkan Salomo di atas mezbah itu.[9] Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam[10] serta menganugerahkan hikmat kepadanya.[11]

Sejarah lain[sunting | sunting sumber]

Arkeologi[sunting | sunting sumber]

Pintu masuk ke sumur di Gibeon

Penyebutan paling awal Gibeon di luar catatan Alkitab adalah pada daftar kota-kota di tembok kuil Amum di Karnak, memperingati penyerangan ke tanah Kanaan oleh raja Mesir Shoshenq I (945-924 SM<).[17]

Reruntuhan Gibeon diekskavasi dalam 6 ekspedisi mulai tahun 1956 sampai 1962, yang dipimpin oleh arkeolog dari University of Pennsylvania, James B. Pritchard.[18][19][20]

Gibeon didirikan di Zaman Perunggu Awal,[21] karena para penggali menemukan periuk penyimpanan jenis 14 EB ("Early Bronze" = Perunggu Awal) di bawah fondamen tembok Zaman Besi. Peninggalan EB lain ditemukan di puncak tel tetapi tulisannya (stratigraphy) dihancurkan oleh tembakan tentara Inggris pada waktu Perang Dunia I. Terdapat kubur yang digali pada batu-batu karang di sisi timur bukit, di mana ditemukan periuk dan mangkok EB, dibuat mula-mula dengan tangan dan kemudian diselesaikan dengan roda lambat. Kota pada Zaman Perunggu Awal dihancurkan dengan api, tetapi tidak dapat ditentukan kapan waktunya.

Zaman Perunggu Tengah diketahui dari kubur shaft di barat kota: 26 makam dari zaman MBI ("Middle Bronze I" = Perunggu Tengah pertama) ditemukan, tetapi kasarnya jenis keramik yang ditemukan menunjukkan orang-orang itu nampaknya adalah nomaden yang berkemah di daerah tidak berbenteng. Bekas-bekas semacam itu ditemukan juga di tempat lain, misalnya Yerikho, Lakhis dan Megido. Dalam periode Perunggu Tengah kedua (MBII) ada kota yang dibangun dan keramiknya berkualitas paling halus, beberapa sangat tipis sehingga dapat dikira terbuat dari kulit telur burung onta! 29 makam zaman MBII ditemukan, rupanya dipakai berulang (tidak sebagaimana makam MBI yang hanya dipakai sekali).

Hanya 7 makam diketahui dari Zaman Perunggu Akhir, tetapi menunjukkan kualitas tinggi, karena mengandung barang keramik yang diimpor dari Cypriote dan pengrajin keramik setempat mencoba meniru keramik Mycenaean dan Cypriote. Tampaknya beberapa makam digali sebelumnya dan digunakan lagi.[19][20]

Selama Zaman Besi Awal, sebuah tembok besar dibangun di sekitar puncak bukit. Sebuah kolam luas digali dari batu karang sedikit di sebelah dalam tembok, berukuran diameter 11.8 m dan dalamnya 10.8 m, dengan tangga berbentuk spiral sebanyak 79 anak tangga dipahat dalam dinding kolam, terus turun ke dalam suatu terusan menuju kamar berair 24 m di bawah permukaan kota. Diduga, tetapi belum dapat dipastikan, inilah yang disebut "kolam Gibeon" yang dicatat di 2 Samuel 2:13. Kemudian, sebuah terusan lain dengan 93 anak tangga dibuat menuju sumber air yang lebih baik di bawah kota, bermula dari satu titik dekat kolam itu. Titik masuk kedua dari sumber air ini berasal dari kaki bukit dan masih dipakai sampai sekarang.[18][19] Nampaknya inilah periode kemakmuran kota tersebut.

Pada abad ke-8 an ke-7 SM terdapat industri anggur besar di sana; gudang anggur untuk 95.000 liter anggur telah ditemukan, termasuk yang mengagumkan adalah 63 gudang anggur dari abad ke-8 sampai ke-7 SM. Inskripsi Ibrani גבען (GBʻN) pada pegangan guci penyimpan anggur, sebagian besar diekskavasi dari kolam besar, cocok dengan catatan Alkitab, membuat identifikasi Gibeon menjadi pasti dan merupakan marka penting arkeologi alkitabiah. Pritchard menerbitkan artikel-artikel mengenai produksi anggur, inskripsi bahasa Ibrani, gudang anggur yang digali dalam batu karang, dan saluran air yang dibangun dengan teknik bagus untuk penyediaan air bagi kota itu.

Dari abad ke-6 sampai permulaan abad ke-1 SM, tidak ada tanda-tanda penting penghunian tempat ini. Pada zaman Romawi didirikan sejumlah bangunan, termasuk mikveh (tempat mandi bertangga) dan saluran air.[18][19] Gibeon nampaknya merupakan bagian dari kota Yerusalem, dan tidak berbenteng pada waktu itu.

Identifikasi kota Kanaan kuno Gibeon dengan kota modern Jib ditetapkan sejak abad ke-17 dan dibuktikan dengan inskripsi Ibrani yang digali pada tahun 1956.[19]

Tradisi Yahudi[sunting | sunting sumber]

Dalam Yudaisme Rabbinik, mereka yang dianggap keturunan orang Gibeon disebut Natin (bentuk jamaknya Natinim). Mereka diperlakukan berbeda dengan orang Yahudi biasa, misalnya tidak boleh menikah dengan orang yang lahir Yahudi, tetapi boleh menikah dengan Mamzerim dan Gerim.[22] Mamzer (bentuk tunggal dari Mamzerim) adalah orang yang lahir dari hubungan terlarang menurut Alkitab, atau keturunan orang-orang tersebut, misalnya lahir dari perzinahan wanita Yahudi dengan pria yang bukan suaminya, atau hasil hubungan sedarah, dan anak-anak mereka, tetapi tidak termasuk anak-anak yang lahir oleh ibu-ibu yang belum menikah. Gerim (bentuk jamak dari Giyur) adalah orang-orang bukan Yahudi yang masuk menganut Yudaisme.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ 2 Samuel 21:5
  2. ^ 2 Samuel21:1
  3. ^ 2 Samuel 21:8-9
  4. ^ Yosua 18:25
  5. ^ Yosua 21:17
  6. ^ Yosua 10:12
  7. ^ 1 Tawarikh 21:29
  8. ^ 2 Tawarikh 1:3-5
  9. ^ 1 Raja-raja 3:4
  10. ^ 1 Raja-raja 3:5
  11. ^ 1 Raja-raja 3:12
  12. ^ 2 Samuel 2:12
  13. ^ 2 Samuel 5:25 dan 1 Tawarikh 14:16
  14. ^ 2 Samuel 20:8
  15. ^ Yeremia 28:1
  16. ^ Nehemia 3:7
  17. ^ J. Blenkinsopp, Gibeon and Israel (Cambridge University Press, 1972), p3.
  18. ^ a b c J. B. Pritchard, Gibeon: where the sun stood still (Princeton University Press, 1962).
  19. ^ a b c d e E. Stern (ed.), The New Encyclopedia of Archaeological Excavations in the Holy Land, article "Gibeon", Israel Exploration Society & Carta (1993), Vol 2, pp511-514.
  20. ^ a b J. B. Pritchard, Culture and History, in J. P. Hyatt (ed.) The Bible in Modern Scholarship (Abingdon Press, 1965), pp313-324.
  21. ^ "The Biblical World. A dictionary of Biblical Archaeology", ed. Charles F. Pfeiffer, art. "Gibeon"
  22. ^ Yebamot 8:3

Pranala luar[sunting | sunting sumber]