Garut (tumbuhan)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Garut
Garut, Maranta arundinaceamenurut F.M. Blanco, Flora de Filipinas
Garut, Maranta arundinacea
menurut F.M. Blanco, Flora de Filipinas
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
(tidak termasuk) Monocots
(tidak termasuk) Commelinids
Ordo: Zingiberales
Famili: Marantaceae
Genus: Maranta
Spesies: M. arundinacea
Nama binomial
Maranta arundinacea
L.
Sinonim
  • Maranta indica Tussac
  • Maranta minor Chantrier ex André
  • Maranta ramosissima Wall.
  • Maranta sylvatica Roscoe ex Sm.
  • Maranta tessellata var. kegeljanii E.Morren
  • Phrynium variegatum N.E.Br., nom. illeg.
Garut
Nilai nutrisi per 100 g (3.5 oz)
Energi 271 kJ (65 kcal)
Karbohidrat 13.39 g
- Serat pangan 1.3 g
Lemak 0.2 g
Protein 4.24 g
Thiamine (Vit. B1) 0.143 mg (11%)
Riboflavin (Vit. B2) 0.059 mg (4%)
Niacin (Vit. B3) 1.693 mg (11%)
Asam Pantothenat (B5) 0.292 mg (6%)
Vitamin B6 0.266 mg (20%)
Folat (Vit. B9) 338 μg (85%)
Besi 2.22 mg (18%)
Magnesium 25 mg (7%)
Mangan 0.174 mg (9%)
Fosfor 98 mg (14%)
Kalium 454 mg (10%)
Seng 0.63 mg (6%)
Link to USDA Database entry
Persentase merujuk kepada rekomendasi Amerika Serikat untuk dewasa.
Sumber: Data Nutrisi USDA

Garut, ararut atau irut (Maranta arundinacea) adalah sejenis tumbuhan berbentuk terna yang menghasilkan umbi yang dapat dimakan. Garut tidak pernah menjadi sumber pangan pokok namun ia kerap ditanam di pekarangan di pedesaan sebagai cadangan pangan dalam musim paceklik. Nama-nama daerahnya di antaranya: sagu (Plg.); sagu bamban (Bat.); sagu belanda, sagu betawi, ubi sagu (Mly.); sagu rarut (Mink.). Juga, patat sagu, larut (Sd.); angkrik, garut, gaerut, irut, larut, rarut, jlarut, klarut, waerut (Jw.); arut, larut, laru, salarut (Md.); krarus, marus (Bal.); arerut towang, tawang, labia walanta, pi walanda (bahasa-bahasa di Sulut); péda-péda, péda sula, huda sula, hula moa (bahasa-bahasa di Malut).[1]

Pemerian[sunting | sunting sumber]

Ditanam di pekarangan rumah, Banyumas

Terna menahun, tegak, dengan batang-batang yang bercabang menggarpu, tinggi 40–100 cm. Rimpangnya lunak dan membengkak, berdaging, keputih-putihan atau kemerahan, dengan sisik daun putih kemerahan. Daun bertangkai panjang, berpelepah pada pangkalnya dan menebal, dengan helaian bentuk lonjong atau bundar telur-melonjong berujung runcing. Bunga majemuk dalam malai terminal (di ujung batang), zigomorfik, berwarna putih. Buah melonjong, merah tua, gundul sampai berambut.[2][3]

Manfaat[sunting | sunting sumber]

Kue tepung garut dari Réunion

Garut terutama ditanam untuk umbinya, yang menghasilkan pati yang berkualitas tinggi, berukuran halus dan berharga mahal.[4] Rimpang garut juga dapat dijadikan sumber karbohidrat alternatif untuk menggantikan tepung terigu.[5] Rimpang segar mengandung air 69–72%, protein 1,0–2,2%, lemak 0,1%, pati 19,4–21,7%, serat 0,6–1,3% dan abu 1,3–1,4%.[6]

Tanaman garut hias

Tepung garut baik untuk dikonsumsi oleh orang yang lemah atau yang baru sembuh dari sakit, karena mudah dicerna oleh penderita masalah perut atau masalah usus. Tepung ini juga digunakan sebagai pengenyal berbagai macam makanan, bumbu, sup, gula-gula, masakan dan makanan pencuci mulut seperti puding dan es krim. Bubur dari rimpang yang masih segar digunakan sebagai obat oles luka dan luka bernanah; patinya dicampur dengan air atau susu digunakan untuk mengobati masalah-masalah perut (misalnya mengobati keracunan) dan diare. Seluruh bagian rimpang yang belum berserat dapat dimakan dengan cara dikukus atau dipanggang lebih dulu.[3]

Bubur yang dihasilkan dari rimpang dipakai dalam pabrik kertas, karton, bantal dan papan tembok, dan patinya sebagai bahan dasar bedak, lem dan sabun. Ampas sisa pembuatan tepung dimanfaatkan untuk pakan ternak dan pupuk. Daunnya digunakan sebagai pembungkus. Sementara itu, beberapa kultivar garut dengan daun yang berwarna menarik digemari pula sebagai tanaman hias.[3]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 1:608-610 Terj. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta
  2. ^ Sudarnadi, H. 1996. Tumbuhan Monokotil. Penebar Swadaya, Jakarta. Hal. 90-91
  3. ^ a b c Flach, M. & F. Rumawas. 1996. Maranta arundinacea L. PROSEA 9: Plants yielding non-seed carbohydrates. Bogor. p.113-116
  4. ^ Sastra, D.R. 2003. Analisis Keragaman Genetik Maranta arundinacea L. Berdasarkan Penanda Molekuler Rapd (Random Amplified Polymorphic DNA). Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, Vol 5(5): 209-218, Agustus 2003. (abstrak)
  5. ^ Sapuan dan Wahid. 1998. dalam Sastra, D.R. 2003. Op. cit.
  6. ^ Lingga, P. 1986 . dalam Abun. 2005. Efek Fermentasi Ampas Umbi Garut (Maranta arundinacea Linn.) dengan Kapang Aspergillus niger terhadap Nilai Kecernaan Ransum Ayam Pedaging. Artikel ilmiah pada Fakultas Peternakan UNPAD. (tidak diterbitkan)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]