Gangguan bunyi bahasa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Gangguan bunyi bahasa adalah gangguan bicara di mana bunyi bahasa (yang disebut fonem) tidak mampu diucapkan, atau tidak diucapkan dengan benar, atau tidak digunakan secara benar oleh penutur ibu bahasa bersangkutan. Gangguan ini dapat terjadi pada anak kecil maupun orang dewasa.

Ciri umum[sunting | sunting sumber]

Kesalahan pengucapan oleh para pengidap gangguan bunyi bahasa biasanya diklasifikasikan ke dalam empat kategori:

  • Omisi: bunyi-bunyi tertentu tidak mampu diucapkan. Keseluruhan suku kata atau kelas bunyi tidak terucapkan; misalnya "kecil" disingkat menjadi "'cil", "minta" disingkat menjadi "'ta".
  • Adisi (atau Comisi): ada bunyi yang ditambahkan pada kata yang diucapkan.
  • Distorsi: pengucapan berubah secara halus sehingga kata yang diucapkan masih dapat dipahami namun pelafalannya tetap salah, atau tidak terdengar seperti kata yang terdapat dalam bahasa bersangkutan. Kasus ini sering disebut dengan istilah sigmatisme, di mana banyak pengidapnya tidak mampu melafalkan konsonan sibilan (contohnya bunyi [s]) dan menggantinya dengan konsonan interdental (desis gigi, contohnya bunyi [θ]); misalnya "sing" (/sɪŋ/) diucapkan seperti "thing" (/θɪŋ/), tapi "sun" (/sʌn/) diucapkan "thun" (/θʌn/).
  • Substitusi: Suatu bunyi digantikan oleh bunyi lain; contohnya "ramal" menjadi "lamal", "rabbit" menjadi "wabbit". Kasus ini sering disebut dengan istilah cadel.

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Dalam pengucapan/pelafalan bunyi bahasa, artikulator berperan penting, baik aktif (contohnya lidah dan bibir) dan pasif (contohnya gigi, langit-langit mulut, dsb). Beberapa anak melafalkan bunyi yang dikehendaki dengan posisi artikulator yang tidak tepat, sehingga fonem yang dihasilkan berbeda dengan pelafalan yang lazim. Misalnya pengucapan fonem [r] (konsonan geletar alveolar) dengan posisi lidah lateral, sehingga yang dihasilkan adalah bunyi konsonan lateral alveolar ([l]). Beberapa gangguan dapat disebabkan karena masalah fisik, misalnya:

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  • Bauman-Waengler, Jacqueline (2004). Articulatory and Phonological Impairments : A Clinical Focus (2cd ed). Pearson (Boston). ISBN 0-205-40248-8.
  • Secord, Wayne A., Boyce, Suzanne E., Donahue, JoAnn S., Fox, Robert A., and Shine, Rchiard E. (2007). Eliciting Sounds : Techniques and Strategies for Clinicians (2cd ed). Thompson Delmar Learning. ISBN 1-4018-9725-8.
  • Justice, Laura M. (2006). Communication Science and Disorders : An Introduction. Pearson Merril Printice Hall. ISBN 0-12-113518-X.
  • Shriberg, Lawrence D., and Kent, Raymond D. (2003). Clinical Phonetics (3rd ed). Allyn and Bacon (Boston). ISBN 0-205-36883-6.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]