Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik adalah salah satu Fakultas di Universitas Airlangga

Sejarah[sunting | sunting sumber]

1. Sejarah dan Pengembangannya

Tanggal 23 Desember 1977 adalah hari yang bersejarah. Di hari itu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga berdiri, dengan nama Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Surat Keputusan Rektor Universitas Airlangga yang terbit pada hari itu, bernomor A.II.5685/Rektor/90/UA/77, mengangkat sebuah presidium untuk mengelola Fakultas yang baru ini, dengan Soetandyo Wignjosoebroto, MPA sebagai dr. R. Koento, MPH, MA sebagai sekretaris, Prof. dr. D. Ma’rifin Husin, Msc. Sebagai anggota. Pada hari itu juga dengan surat keputusan yang sama, Rektor membubarkan Panitia Pembentukan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga yang telah bekerja setahun lamanya mempersiapkan berdirinya Fakultas Ilmu Sosial tersebut.

Secara fisik FISIP Unair telah berubah. Dari sebuah fakultas bergedung kecil yang kini digunakan koperasi mahasiswa dan sekretariat unit-unit kegiatan mahasiswa dengan fasilitas seadanya, menjadi fakultas yang memiliki gedung permanen tiga lantai yang cukup memadai. Dari fakultas yang hanya mengelola satu jurusan (sosiologi) saja, FISIP kini menjadi fakultas yang mempunyai enam jurusan, mengelola beragam program studi S1, program S2, dan program D3. Dari rahim FISIP bahkan telah lahir dua fakultas baru : Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Budaya.

Membangun sebuah komunitas dan institusi akademik tampaknya selalu menempuh jalan yang berliku. Tak terkecuali FISIP Universitas Airlangga. Di lingkungan Universitas Airlangga, FISIP termasuk fakultas yang masih berusia muda dan hanya dengan berbekal tekad, idealisme dan spirit.

Adalah Soetandyo Wignjosoebroto atau akrab disapa mahasiswa dengan nama Pak Tandyo sesungguhnya yang menjadi cikal bakal pendiri FISIP. Di sebuah gedung kecil yang terletak di pojok jalan jauh dari kesan sebuah kampus yang layak, disanalah pertama kali sejumlah dosen dengan dimotori Pak Tandyo mencoba membangun sebuah tradisi akademik baru : mengembangkan ilmu sosial yang pada masa itu baru tak banyak dikenal orang.

Di saat awal berdiri, FISIP Unair yang pada waktu itu masih bernama FIS hanya memiliki tujuh orang tenaga pengajar tetap dan dua orang tenaga tidak tetap. Pada tahun akademisi 1978, mahasiswa yang diterima untuk angkatan pertama hanya 62 orang, 29 diantaranya mahasiswa putri. Para mahasiswa itu telah diterima melalui seleksi ujian masuk yang diselenggarakan oleh Proyek Perintis I Departemen P & K. Pada tanggal 21 Februari 1978, kuliah pertama semester I tahun akademi 1978 di mulai dan inilah sebenarnya awal dan tantangan riil dari sebuah proses perubahan besar di bidang akademik.


Berbeda dengan Fakultas Kedokteran yang tengah mencapai puncak kejayaan atau Fakultas Teknik yang banyak diburu karena menjadikan masa depan yang cemerlang, FISIP justru didirikan ketika masyarakat belum banyak yang paham apa itu ilmu sosial. Seseorang arsitek, ia bisa mendesain dan membangun gedung bertingkat yang megah. Seorang dokter ia dianggap telah melakukan pekerjaan mulia menolong dan mengobati orang – orang yang sakit. Lantas, apa yang bisa dihasilkan dan di harapkan dari seorang ilmu sosial? Bagaimana mungkin sebuah fakultas yang gedungnya saja masih jauh dari layak bisa mendidik mahasiswa hingga menjadi sarjana ilmu sosial yang bermutu?


Sejak awal mula fakultas ilmusosial didirikan dengan niat besar untuk mendayungan inovasi – inovasi baru di bidang pendidikan guna mengembangkan kegiatan belajar mengajar yang inkovensional. Selain pembangunan dan penerapan apa yang disebut learning by objective, dan pula penggunaan praktik diskusi dalam kelompok – kelompok kecil sebagai salah satu cara belajar mahasiswa, fakultas ilmu sosial pemgembangan kemampuan mahasiswa untuk menulis dan untuk mendayagunakan informasi yang tersimpan di dalam kepustakaan dan perpustakaan. Minat untuk mengamati keyataan ( melalui studi lapangan ) dan mendayagunakan data sekunder ( melalui usaha kliping ) juga telah dicoba dikembangkan sejak tahapnya yang paling dini pada tahun akademi yang pertama. Sementara itu pantas pula dicatat bahwa di lingkungan Universitas Airlangga yang menerapkan sistem kredit untuk menghitung besar baban kegiatan belajar mahasiswa.


Di bidang materi kajian dan materi pengajaran sekalipun fakultas ilmu sosial ini mencoba mengonsentrasikan diri pada permasalahan sosiologik dan politik, namun ada dua dimensi utama yang akan banyak pula diperhatika dan digarap alam program-program kurikuler Fakultas ii,yakni dimensi cultural dan dimensi cultural, dan dimensi psikologi / individual masyarakat. Pendidikan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga ini akan lebih mencondongkan diri pada pendidikan yang bersifat multisipliner di bidang ilmu-ilmu sosial daripada mengarahkan diri pada suatu pendidikan monodisipli yang ketat an sempit.


Tanggal 25 April 1978, dua bulan telah dimulainya kegiatan-kegiatan akademis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini, Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Departemen P&K menyatakan prinsip persetujuannya atas pembukaan Fakultas ini (melalui suratnya bernomor 267/D/R/78). Empat bulan kemudian, Rektor dengan surat keputusannya tertanggal 191978 dan bernomor A.II3937/Rektor/50/UA/78 memandang perlu untuk mengganti bentuk dan personalia pimpinan Fakultas Ilmu Sosial. Bentuk pimpinan berubah dari bentuk Presidium ke bentuk Kedekanan. Sebagai Dekan pertama diangkat Soetandyo Wignjosoebroto, MPA, sedasngkan dr. R. Koento, MPH, MA, Drs. J. Dwi Narwoko dan Drs. Soedarmadji Harjono masing-masing diangkat sebagai Pembantu Dekan Urusan Pendidikan dan Penelitian, Pembantu Dekan Urusan Administrasi Umum dan Pembantu Dekan Urusan Kemahasiswaan dan Pengabdian Masyarakat.


2. Dinamika Perubahan



Roda terus berputar, dan FISIP kini berusia lebih seperempat abad, sehingga situasi, kondisi dan tantangan yang dihadapi tentunya telah pula berubah. Jika diawal berdiri FISIP hanya menampung 62 orang mahasiswa, kini jumlah mahasiswa FISIP mencapai lebih dari 2.000 orang. Gedung kuliah pun tidak hanya di bangun kecil yang jauh dari layak, tetapi kini FISIP telah menempati sebuah gedung yang megah, berlantai tiga dan sanggup menampung seluruh kegiatan akademik dengan memadai. Fasilitas gedung yang paling baru adalah FISIP gedung C yang berdiri di atas lahan yang dulunya merupakan markas Resimen Mahasiswa dan Pramuka.

Dari ritme kehidupan yang berjalan naik turun, FISIP Unair telah melahirkan orang-orang terdidik yang cerdas, berpikir bebas, kritis dan bertanggung jawab, keberadaan FISIP telah menghasilkan ribuan alumni yang tersebar di berbagai sektor kehidupan dan pada beragam tingkatan status sosial. Mereka tidak saja berada di wilayah Indonesia, tetapi juga ada yang “bertugas” di luar negeri. Ini membuktikan bahwa kelahiran FISIP diapresiasi, memperoleh dukungan, sekaligus memberikan kontribusi kepada masyarakat. Pengakuan atas ni juga tampak dari minat untuk belajar di FISIP yan tak pernah surut. Untuk itu FISIP berusaha menjaga kepercayaan ini secara bertanggung jawab, antara lain dengan tidak tergoda untuk menjadikan FISIP sekedar lembaga bisnis ijazah dengan menampung mahasiswa sebanyak-banyaknya belaka. Komunikasi belajar yang aktif, kreatif dan dalam hubungan yang akrab hangat harus tetap dijaga.

Apresiasi, dukungan dan kepercayaan masyarakat juga tampak dari banyak permintaan kepada FISIK baik secara kelembagaan maupun elemen-elemen civitas akademik di dalamnya, untuk mengambil peran-peran kemasyarakat. Misalnya, banyak dosen yang di luar tugas pokok mengajar dan meneliti diminta pendapat, analisis dan tulisannya di media massa, di berbagai forum diskusi dan seminar, pelatihan, konsltan serta memfasilitasi pemecahan berbagai masalah sosial politik. Secara langsung dan tidak, kehadiran FISIP juga ikut berperan dalam dinamisasi Unair secara keseluruhan.

Tidak semua catatan perkembangan FISIP memberikan gambaran keberhasilan gemilang. Ada kalanya dinamika di FISIP justru dirasakan menimbulkan masalah. Kekurangan dan ketidakpuasan, baik di lingkungan internal maupun eksternal terus terasa dan terungkap, FISIP yang mulai sejarahnya ketika dunia pendidikan tinggi tengah di hadapi pada kebijakan politik NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus), menyusun pro-kontra dalam menyikapi aksi-aksi protes mahasiswa yang berusaha melakukan koreksi terhadap praktik-praktik penindasan dan korupsi pada rezim Orde Baru, menghasilkan torehan sejarah dan tradisi yang cukup unik. Pada masa itu perguruan tinggi memperoleh sorotan tajam dari dua sisi : miskin prestasi ilmiah sekaligus bak “menara gading” yang kurang memberikan kontribusi signifikan kepada masyarakat.

Di satu sisi kehadiran FISIP seakan menjadi eksperimentasi yang bersemangat dalam mengembangkan “kampus yang normal”, dimana mahasiswa sebagai salah satu eksponen pokoknya didorong untuk menjadi man of analysis. Sejak kehadirannya, mahasiswa FISIP Unair memang sering menang dalam lomba-lomba ilmiah yang diselenggarakan Pemerintah.

Tradisi akademik yang dikembangkan sebagai akibat dari kebijkan politik NKK seakan justru menjauhkan, bahkan mengisolasi atau membuat FISIP steril dari dinamika masyarakat yang semata-mata dijadikan objek kajian. Secara demikian masyarakat kampus seakan alergi dan menolak tanggung jawab politik. Padahal, ilmu sosial dan ilmu politik pada dasarnya senantiasa bersifat kritis, termasuk terhadap institusinya sendiri. Maka, dinamika FISIP dirasa masih kurang memuaskan dari dua sisi : dari segi pengembangan ilmu maupun peran-peran langsung dalam (perubahan) masyarakat. Ujungnya adalah dorongan untuk menjadikan masyarakat akademik lebih aktif terlibat dengan realitas keseharian masyrakat, ikut memikul tanggung jawab dalam melakukan perubahan masyarakat yang berada dalam cengkraman otoriterisme Orde Baru.

Pada tahun-tahun terakhir periode 1980-an dan awal periode 1990-an, mulai dicatat dan diakui bahwa FISIP Unair telah berubah. Seiring menggelindingnya bola keterbukaan, keterlibatan FISIP Unair di dalam masalah kemasyarakatan mulai meningkat, antra lain juga dalam bentuk aksi-aksi mahasiswa yang melakukan pembelaan terhadap kelompok masyarakat yang mengalami represi oleh negara, baik dalam kasus-kasus lokal, regional maupun nasional. Bahkan bisa dikatakan, FISIP Unair menjelma menjadi salah satu sentra utama gerakan-gerakan pro demokrasi yang berbasis di kampus di Jawa Timur. Hal ini berlanjut sampai gelombang aksi reformasi pada 1998, dan tentu saja saat ini ketika reformasi menemukan dirinya dalam keadaan macet.

Peran aktif demikian bukan tanpa resiko. Dosen dan mahasiswa FISIP berulang kali harus berhadapan dengan berbagai intimidasi, terutama dari aparat-aparat represi Orde Baru. Bahkan FISIP Unair telah kehilangan dua mahasiswa aktivisnya, yaitu : Herman Hendrawan dan Petrus Nugroho. Keduanya termasuk dalam daftar aktivis pro demokrasi yang hilang diculik, yang sejak 1997 hingga sekarang tak pernah bisa dipastikan kebenarannya secara resmi. Selain keduanya, belasan aktivis FISIP Unair lainnya sempat diteror, dikejar-kejar hingga dipenjarakan rezim otoriter Orde Baru.

Seiring dengan dinamika Unair yang terus berkembang, kiranya penting untuk mengingatkan kembali jati diri kampus, institusi, dan komunikasi ini sebagai “menara api” bukan “ menara gading” atau “menara air”. Dengan mengabaikan dinamika sosial kemasyarakatan yang ada, mustahil pula kampus ini bisa mengembangkan dinamika keilmuannya yang bermakna dalam kehidupan masyarakat.

Di zaman reformasi dan ketika situasi krisis ekonomi mulai menyergap masyarakat di berbagai wilayah, barangkali tidak terlalu sulit kita membayangkan peran dan arti penting ilmu sosial. Bahkan ada kesan ilmu sosial dalam batas-batas tertentu telah tampil sebagai sebuah jawaban dan harapan yang ditunggu-tunggu sebagian besar warna masyarakat. Di tengah rasa frustasi dan kekecewaan terhadap model pembangunan yang terlalu menekankan aspek ekonomi dan kemajuan fisik yang serba gigantis, keberadaan ilmu sosial dan seluruh perangkatnya termasuk ilmu sosial dan pendekatan yang ditawarkan, tak pelak adalah alternatif pilihan yang sangat menjanjikan.

Dibangun di atas pondasi idealisme yang kuat dan rasa solidaritas yang kental, FISIP sesederhan apapun ibaratnya adalah batu karang yang kokoh. Lebih dari sekadara sebuah lembaga pendidikan atau fakultas baru, FISIP sesungguhnya adalah sebuah wacana alternatif yang menawarkan banyak hal : pembaharuan idealisme, tekad, kebenaran, sikap kritis dan keyakinan. Di tengah suasana yang didominasi kepentingan dan kekuasaan yang menghegemoni, FISIP tumbuh sebagai dirinya sendiri, melawan arus, sekalipun tak harus dilakukan secara terang-terangan. Ruang kuliah yang selalu marak dengan diskusi dan pertanyaan-pertanyaan kritis selalu hadir setiap hari. Mahasiswa tidak hanya berkutat dengan buku dan diktat, tapi mereka diajarkan untuk kenal dengan realitas sosial di sekitarnya : melakukan kuliah lapangan ke berbagai desa dan melihat dengan mata kepala sendiri penderitaan rakyat. Dosen-dosen setiap hari rabu dalam sebua forum yang disebut Diskusi Reboan dengan antusias berdebat, bertukar pikiran dan mengasah ketajaman analisis, siapa yang tak rindu suasana seperti ini?

FISIP yang mula-mula tak banyak dilirik mata dan dinilai sebagai disiplin yang kurang marketable, pelan-pelan berhasil membangun dan membuktikan dirinya bahwa disana memang ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membanggakan dan patut dibanggakan. Di berbagai fakultas lain Universitas Airlangga, ketika konservatisme dan sikap feodal masing berlangsung akrab, di FISIP yang berkembang kemudian adalah sebuah tradisi baru. Mahasiswa dan dosen ibarat mitra dan mereka benar-benar mengembangkan hubungan yang egaliter. Apa perbedaan kuliah di FISIP dengan fakultas sastra atau di fakultas seni? Rambut gondrong, pakaian yang lusuh, kecerian, mahasiswa dan dosen yang tampil bak seniman adalah dunia keseharian di FISIP Universitas Airlangga.

Di FISIP, apa yang diajarkan bukan keterbatasan untuk bertindak kreatif dan inovatif, tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan pikiran-pikiran yang “subyektif”. Seorang calon ilmuwan sosial, ia tidak sekadar menstransplantasikan materi dan menghafal teori. Tetapi dalam upaya membangun proses pencerdasan dan sikap kritis, maka yang namanya ilmuwan sosial harus berani bertindak dan mengemukakan isu-isu “subyektif” yang membongkar hegemoni dan mendorong tumbuhnya sikap skeptif dan senantiasa kreatif untuk menampilkan pikiran-pikiran alternatif atau counter-counter.

Adalah Pak Kunto (alm) salah satu dosen senior di FISIP Unair yang banyak menjadi panutan kolega juniornya karena kesederhanaan dan kejujurannya. Mencoba menggambarkan peran ilmuwan sosial dengan analogi yang sederhana. Ilmuwan sosial sebetulnya tak ubanya seperti seorang calon mertua. Berbeda dengan si anak yang selalu menganggap pasangan adalah segala-galanya, seorang calon mertua selalu menimbang bobot, bibit dan bebet sang calon menantu. Sang anak tak akan pernah kritis pada calon pasangannya karena mereka setiap hari selalu berdekatan. Tetapi seorang calon mertuanya, sehingga penilaiannya pun seringkali lebih kritis, obyektif dan terkadang pula konfrotatif.

Bagi ilmu sosial, boleh dikatakan takdir mereka adalah bagaimana menjaga agar mereka tetap berdiri di luar sistem : senantiasa mengambil jarak dengan realialitas dan kekuasaan agar penilaian mereka tidak terkontaminasi oleh kepentingan dan kontak personal. Seorang ilmuwan sosial yang terlibat dan larut masuk dalam kekuasaan, mereka tak ubahnya seperti sang anak yang telah kehilangan sikap kritisnya. Hal ini berbeda jika ilmuwan sosial tetap menjaga jarak layaknya sang mertua yang kritis : tetap berdiri di luar sistem dan memerankan diri sebagai kritikus yang tak terbeli atau mabuk oleh tawaran apapun.


3. Ikon Unair


Berawal dari kesederhanaan, tekad dan idealisme, FISIP ini sudah naik populer, berkembang menjadi ikon tersendiri di era reformasi. Di zaman reformasi seperti sekarang ini, siapa yang tak kenal Soetandyo Wignjosoebroto? Siapa yang tak kenal Daniel T. Sparinga? Siapa yang tak kenal Ramlan Surbakti? Siapa yang tak kenal Priyatmoko? Siapa yang tak kenal Dede Oetomo, Anas Urbaningrum, Herman – aktivis yang dikabarkan hilang; Moch. Nurhasim, Dina Katjasungkana, Bambang Budiono, Yoppie Hidayat, Daru Priyambodo, I. Basis Susilo, Khofifah Indar Parawangsa, Aribowo, Hariyadi, Kacung Maridjan atau Pingky Saptandari? Sebagai pengamat politik yang kritis, pengamat sosial yang tajam, peneliti dan aktivis sosial yang selalu bersentuhan dengan realitas lapangan, semua nama yang disebutkan di atas adalah produk, milik dan kebanggaan FISIP Universitas Airlangga.

Di luar nama-nama yang telah disebutkan, bukan berarti tidak ada lagi yang patut dibanggakan. Yang disebut FISIP Universitas Airlangga sesungguhnya adalah sebuah komunitas ilmiah dan tradisi yang luas, tetapi tetap menjaga kekhasannya. Ucapan, pikiran dan tulisan bagi mahasiswa, dosen dan seluruh lulusan FISIP Universitas Airlangga ibaratnya adanya refleksi dari sikap kritis yang tak kan pernah terbeli oleh kekuasaan. Ribuan lulusan FISIP Universitas Airlangga, kini boleh dikata telah merambah ke berbagai wilayah, merambah sendi-sendi kehidupan baru dan membangun tradisi-tradisi baru yang mereka warisi dari kampus almamaternya. Di desa-desa terpelosok, sebagian PLKB niscaya adalah Alumnus FISIP Universitas Airlangga. Dimedia massa, alumnus FISIP tak hanya menjadi reporter yang handal, redaktur senior yang disegani, tetapi juga sebagian menjadi Pemimpin Redaksi. Di jajaran Birokrasi, pioner yang motor penggerak dari berbagai kegiatan perencana, besar kemungkinan juga alumni FISIP. Pendek kata, apa yang telah dihasilkan dan di didik di “kampus orange” mereka umumnya selalu melampaui zamannya : pikiran mereka lebih maju, sikap mereka selalu lebih kritis dan bahkan tidak sedikit kemudian yang berani melawan arus.

Pengalaman telah banyak membuktikan bahwa kemajuan seringkali memang menimbulkan dilema, bahkan resiko. Tetapi, dengan berkaca pada pengalaman dan mengingat kembali sejarah di masa lalu, sebetulnya ada banyak hal yang masih dibisa dilakukan.

Di usianya lebih dari 30 tahun, harus diakui FISIP kini telah berkembang jauh melampau berbagai harapan yang digagas di awal pendiriannya, dan bahkan telah menjadi ikon tersendiri dizaman reformasi. Banyak hal yang harus dicatat, disyukuri, ditinjau ulang dan direnungkan dengan sikap kritis dari keberadaan FISIP Unair. Di usianya yang semakin matang, FISIP Unair bukan saja menuntut dapat terus berkembang dan makin maju, namun juga diharapkan bersedia melakukan intropeksi : menoleh kembali ke masa silam dan kemudian bertekad sekuat tenaga untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Dekan[sunting | sunting sumber]

Saat ini dipimpin oleh :

Dekan : Drs. Ignatius Basis Susilo, M.A.

Wadek I: Dr. Dwi Windyastuti Budi H.,Dra.,M.A.

Wadek II : Karnaji, S.Sos.,M.Si.

Wadek III : Vinsesio Marselino Arifin Dugis, M.A.,Ph.D.

Program Studi[sunting | sunting sumber]

D III Teknik Perpustakaan

D III Usaha Perjalanan Wisata

D III Pariwisata Perhotelan


S1 Komunikasi

S1 Sosiologi

S1 Antropologi

S1 Ilmu Politik

S1 Sistem Informasi dan Perpustakaan

S1 Administrasi Negara

S1 Hubungan Internasional


S2 Ilmu PSDM

S2 Media Komunikasi

S2 Komunikasi Profesional

S2 Kebijakan Publik

S2 Sosiologi

S2 Ilmu Politik

S2 Ilmu Hubungan Internasional


S3 Ilmu Sosial

S3 PSDM

Guru Besar Aktif[sunting | sunting sumber]

1. Prof. Ramlan Surbakti, Drs.,M.A.,Ph.D.

2. Prof. Dr. Hotman Siahaan, Drs.,M.A.

3. Prof. Drs. Kacung Marijan, M.A.,Ph.D.

4. Prof. Dr. Jusuf Irianto, M.Com.

5. Prof. Dr. Mustain Mashud, Drs.,M.Si.

6. Prof. Dr. Laurentius Dyson, Drs.,M.A.

7. Prof. Dr. Ida Bagus Putera Manuaba, Drs.,SU.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • [www.fisip.unair.ac.id Situs resmi FISIP UNAIR]