Fadli Zon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Fadli Zon, SS, M.Sc
Lahir 1 Juni 1971
Jakarta, Indonesia
Kewarganegaraan Indonesia
Pendidikan - Program Studi Rusia (FIB UI)
- Master of Science (MSc) Development Studies dari The London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris.
Dikenal karena Intelektual
Penulis
Politikus
Budayawan
Partai politik Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA)
Agama Islam
Anak Shafa Sabila Fadli
Zara Saladina Fadli
Orang tua Zon Harjo (alm) dan Hj. Ellyda Yatim
Situs web
www.fadlizon.com

Fadli Zon, SS, M.Sc (lahir di Jakarta, Indonesia, 1 Juni 1971; umur 43 tahun) adalah seorang intelektual, penulis, budayawan, pengusaha, dan politikus Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada Program Studi Rusia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dan Master of Science (M.Sc) Development Studies dari The London School of Economics and Political Science (LSE) Inggris. Kini sedang menempuh S3 di Program Studi Sejarah FIB UI. Aktivis mahasiswa awal 1990-an ini punya segudang kesibukan, selain aktif dibidang budaya, politik, jurnalistik, serta bisnis, Fadli Zon juga aktif menjadi pengajar di FIB UI.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Fadli Zon lahir di Jakarta dan dibesarkan di desa Cisarua-Bogor, putera pertama dari tiga bersaudara pasangan Zon Harjo (alm) dan Hj. Ellyda Yatim. Kedua orang tuanya adalah orang Minangkabau dari Payakumbuh, Sumatera Barat.

Ayah dua anak perempuan, Shafa Sabila Fadli (13 tahun) dan Zara Saladina Fadli (6 tahun) ini menyelesaikan pendidikan dasarnya di Cibeureum, Cisarua, Bogor. Melanjutkan SMP di Gadog, Bogor dan Jakarta. SMA selama dua tahun di SMA Negeri 31, Jakarta Timur. Ia kemudian mendapat beasiswa dari AFS (American Field Service) ke San Antonio, Texas, Amerika Serikat dan lulus di sana dengan predikat summa cum laude.

Sejak kecil, Fadli Zon suka membaca, berorganisasi dan menyukai karya tulis. Ia pun memenangkan berbagai kompetisi siswa berprestasi, lomba pidato, baca puisi, tulis puisi, drama, karya tulis, karya ilmiah, dan matematika. Ia juga pernah menjadi Ketua Kelompok Ilmiah Remaja SMAN 31, dan juara I mengarang se-DKI.

Semasa kuliah, ia aktif di berbagai organisasi intra kampus maupun ekstra kampus, antara lain pernah menjadi Ketua Biro Pendidikan Senat Mahasiswa FSUI (1992-1993), Sekretaris Umum Senat Mahasiswa FSUI (1993), Ketua Komisi Hubungan Luar Senat Mahasiswa UI (1993-1994). Fadli juga berkali-kali memimpin demonstrasi mahasiswa UI dalam isu-isu nasional dan internasional. Ia ikut memimpin jaringan aktivis mahasiswa di Jawa dan mengusung gagasan ”Gerakan Mahasiswa 1990-an”. Selain mendukung ”parlemen jalanan,” ia juga turut membentuk dan menghidupkan kelompok-kelompok studi di dalam kampus UI era awal 1990-an. Sedangkan Untuk kegiatan budaya, ia bergabung dengan Teater Sastra UI.

Di luar kampus, ia pernah menjadi Sekjen dan Presiden Indonesian Student Association for International Studies (ISAFIS) (1993-1995), pengurus pusat KNPI (1996-1999), pengurus pusat Gerakan Pemuda Islam (1996-1999), anggota Asian Conference on Religion and Peace (ACRP) sejak 1996. Dia sempat menjadi Wakil Ketua Yayasan BESTARI, sebuah LSM bidang anak-anak dengan aktivitas utama Rumah Dongeng Indonesia yang ikut menyebarkan dongeng pada anak-anak dan membina kreativitas anak-anak Indonesia (1991-1994).Di FDI (Forum Dialog Indonesia), sebuah forum dialog pemuda dan aktivis membicarakan berbagai perkembangan nasional di bidang ekonomi, politik dan budaya, dia dipercaya sebagai Tim Pelaksana Aktivitas (1994-1996).

Tahun 1994, penggemar novel-novel Rusia ini terpilih menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) I Universitas Indonesia dan Mahasiswa Berprestasi III tingkat Nasional. Menjadi visiting student di departemen politik National University of Singapore tahun 1995 dan memimpin delegasi mahasiswa Indonesia dalam ASEAN Varsities Debate IV (1994) di Malaysia.

Selama menjadi mahasiswa UI, ia mendapat kesempatan mengikuti berbagai konferensi dan seminar di luar negeri ,antara lain menjadi ketua delegasi mahasiswa Indonesia dan panelis The 40th International Student Conference di Jepang (1993); pembicara di Simposium Dinamika Gerakan Mahasiswa Islam Asia Tenggara di Malaysia (1994); ketua delegasi pemuda Indonesia dalam Korea-ASEAN Youth Cooperative Project di Korea Selatan (1994); peserta Saemaul Undong Training di Korea Selatan (1994); observer gencatan senjata Filipina-Moro di Filipina (1995); ketua delegasi Indonesia dalam ASEAN Youth Day Meeting IV di Filipina (1995); pembicara dalam South East Asia University Student Conference di Malaysia (1995); peserta World Friendship Week di Virginia, Amerika Serikat (1995); Delegasi Indonesia dalam Konferensi LSM ke-48 di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York (1995); Ketua Delegasi Indonesia dan pembicara dalam Asia-Pacific Youth Leadership Conference di Taipei, Taiwan (1996); pembicara Seminar National Build-up and Literary Process in South East Asia di Moskow dan St. Petersburg, Rusia (1996); Konferensi ACRP V di Thailand (1996); peserta Hitachi Young Leaders Initiative di Singapura (1997); dan lain-lain.

Tahun 2002, ia mendapat kesempatan belajar di London School of Economics and Political Science (LSE). Banyak pengalaman berharga yang didapatnya terutama mendapat kuliah dari intelektual-intelektual ternama. Fadli langsung berada dibawah pembimbing Prof. John Harriss, PhD (Director of Development Studies Institute, LSE) dan Prof. Robert Wade, PhD. Ia ikut beberapa organisasi seperti ASEN dan menjadi aktivis di LSE Stop the War Coalition (2002-2003) yang menentang invasi AS ke Irak.

Sebagai ahli studi pembangunan, Fadli Zon sering diundang sebagai pengajar tamu di Universitas Indonesia untuk program S1 dan S2 mata kuliah Ekonomi Politik dan International Development sejak 2005.Ia juga beberapa kali membimbing skripsi mahasiswa antara lain tentang pemikiran Joseph E. Stiglitz. Selain itu, ia juga sering tampil sebagai pembicara dalam diskusi, seminar, konferensi dan training-training mahasiswa.

Aktivitas[sunting | sunting sumber]

Aktivitas Politik[sunting | sunting sumber]

Fadli Zon pernah menjadi Direktur Eksekutif Center for Policy and Development Studies (CPDS) pada 1995-1997, sebuah lembaga think tank dan penelitian. Ia juga pernah menjadi anggota MPR RI (1997-1999) dan aktif sebagai asisten Badan Pekerja Panitia Adhoc I yang membuat GBHN. Pada 1998 ikut mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB) dan menjadi salah satu Ketua hingga 2001 (mundur).

Ia menjadi Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA) sejak 2008 dan Ketua Badan Komunikasi Partai GERINDRA (sejak 2010). Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) periode 2010-2015, sebelumnya Ketua DPN HKTI (2004-2010). Ketua Ikatan Alumni (ILUNI) FIB UI (2010-2013). Ikut mendirikan dan menjadi Direktur Eksekutif Institute for Policy Studies sejak 1997. Fadli Zon juga anggota Globalise Resistance di London; anggota Association for the Study of Ethnicity and Nationalism (ASEN), LSE, dan Development Studies Institute Alumni Association, LSE. Selain itu ia diangkat sebagai Dewan Pakar Gebu Minang periode 2005-2009 dan beberapa organisasi lain.

Fadli Zon juga aktif dalam beberapa forum internasional antara lain menjadi anggota Delegasi RI dalam Konferensi tingkat Menteri VI, World Trade Organization (WTO), Hongkong (13-18 Desember 2005). Kunjungan kerja Delegasi HKTI ke Vietnam (2006-2007); mengikuti konferensi ketahanan pangan di Jepang (2006), dan lain-lain. Ia pernah menjadi anggota Dewan Gula (2005-2009), Wakil Ketua Tim Pengawas Pengadaan Beras Bulog (2007), Anggota Oversight Committee Impor Beras (2005 – 2007) dan Wakil Ketua ADIPBI (Asosiasi Distributor dan Pengecer Barang Bersubsidi Indonesia) (2006 – 2009).

Fadli juga sering diundang sebagai narasumber dalam berbagai diskusi, seminar, konferensi dan talkshow di televisi dan radio. Televisi antara lain Metro TV, TV One, SCTV, RCTI, TVRI dan ANTV. Radio antara lain Radio Elshinta. Namun yang cukup rutin adalah diskusi di Soegeng Sarjadi Forum, QTV (2005 - 2009). Di forum ini, ia berhadapan dengan banyak panelis membahas berbagai tema ekonomi, politik, internasional, sosial, dan budaya.

Aktivitas Jurnalistik[sunting | sunting sumber]

Pengalaman jurnalistik Fadli Zon dimulai dengan menulis sejumlah artikel di majalah remaja seperti Nona dan Hai (1989-1990). Kemudian menjadi wartawan di majalah Suara Hidayatullah dan Harian Terbit (1990-1991). Semasa kuliah mengasuh majalah Gema (1992-1994) milik DHN Angkatan 45, Redaktur dan Dewan Redaksi majalah sastra Horison (sejak 1993), redaktur majalah Tajuk (1995-1996) dan lain-lain. Pemimpin Redaksi Jurnal VISI (sejak 1997), Dewan Redaksi Majalah Tani Merdeka (sejak 2007), dan juga pemimpin redaksi Tabloid Gema Indonesia Raya (sejak 2011).

Tulisan-tulisan Fadli Zon juga banyak dimuat di sejumlah buku, bunga rampai, jurnal dan media massa nasional.

Aktivitas Bisnis[sunting | sunting sumber]

Selain aktif dibidang politik dan jurnalistik, Fadli Zon juga aktif dalam dunia bisnis. Kini menjadi Komisaris PT Tidar Kerinci Agung sejak 2009, (Direktur 2007-2009) bidang kelapa sawit. Direktur PT Padi Nusantara (sejak 2005). Pernah menjadi Direktur Umum Golden Spike Energy Indonesia Ltd (2002-2005) sebuah perusahaan minyak dan gas swasta; dan sebelumnya Nusantara Energy Ltd (1999-2001).

Aktivitas Budaya[sunting | sunting sumber]

Fadli Zon adalah seorang budayawan. Penggiat kebudayaan sejak masih remaja. Ia mendirikan Fadli Zon Librray di Jakarta Pusat, Rumah Budaya di Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat, dan menjadi Ketua Lingkaran Keris Indonesia (Indonesia Keris Circle) yang bertujuan memajukan keris nusantara.

Fadli Zon Library[sunting | sunting sumber]

Fadli Zon Library

Fadli Zon Library (FZL) yang didirikan pada tahun 2008 merupakan oase intelektual Fadli Zon. Fadli Zon Library sering menggelar acara diskusi secara reguler tentang berbagai tema, dari mulai sejarah, budaya, politik, ekonomi, maupun tema-tema lainnya yang aktual, serta menjadi tempat persinggahan tokoh-tokoh intelektual Indonesia dari dalam dan luar negeri.

Koleksi buku di Fadli Zon Library mencapai 45.000 buah, terutama buku-buku tua Hindia Belanda sejak 1700-an. Selain buku tua dan kuno, juga menyimpan majalah, naskah kuno, dan ribuan lembar koran sejak abad ke-19. Buku tertua adalah Het Amboinsch Kruid-Boek (Herbarium Amboinensis) karya Georgius Everhardus Rumphius terbitan tahun 1747 kemudian Histoire de Sumatra karya William Marsden terbitan 1788 dalam dua volume. Koran tua antara lain Selompret Malajoe (1862), Wazir Indie (1878-1979), Sin Po (1922-1955), Patriot (1946-1947), Berdjoang (1946-1947), Madura Syuu (1943-1945) dan lain-lain.

Beberapa koleksi lain di Fadli Zon Library:

  1. Koleksi keris dan tombak dari berbagai kerajaan di Nusantara
  2. Koleksi prangko sejak pra-filateli awal abad 19, prangko pertama Hindia Belanda (1864) hingga 2011
  3. Koleksi uang logam (coin), medal, dan uang kertas antara lain set coin zaman Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Samudera Pasai (Aceh), Banten, Jambi, Palembang, Cirebon hingga VOC, Hindia Belanda dan Republik Indonesia
  4. Koleksi lukisan dan patung dari sejumlah perupa terkemuka Indonesia
  5. Koleksi piringan hitam (long play) dari musisi/penyanyi Indonesia sejak 1930-an hingga 1980-an
  6. Koleksi rokok yang diproduksi di Indonesia
  7. Koleksi tekstil/kain tua dari beberapa daerah
  8. Koleksi kaca mata para tokoh seperti Bung Hatta, Mr. Sjafroeddin Prawiranegara, Mr. Mohammad Roem, Ruslan Abdulgani, B.M. Diah, Soemanang, Rosihan Anwar, Taufiq Ismail, Asrul Sani dan lain-lain.

Fadli Zon Library juga menerbitkan buku, antara lain :

  1. Hardi: Seni & Politik (FZL, 2011)
  2. Seni, Uang, Rakyat: Lintasan Pikiran Pelukis Hardi (FZL, 2011)
  3. Jatuh Bangun Pergerakan Islam di Indonesia karya Rosihan Anwar (FZL, 2011)

Pada 1 Juni 2011, Fadli Zon Library memperoleh tiga rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dalam kategori:

  1. Perpustakaan pribadi dengan koleksi keris terbanyak
  2. Perpustakaan pribadi dengan koleksi koran tua terbanyak
  3. Perpustakaan pribadi dengan koleksi piringan hitam terbanyak.

Pada 1 Oktober 2012, Fadli Zon Library kembali memperoleh tiga rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dalam kategori:[1]

  1. Perpustaan pribadi dengan koleksi mata uang logam kuno terbanyak
  2. Perpustaan pribadi dengan koleksi jumlah buku terbanyak
  3. Perpustaan pribadi dengan koleksi prangko terbanyak


Hobi lain sebagai Filatelis, Fadli Zon juga ikut dalam Pameran Filateli Nasional 2010 dengan Pameran Netherland Indie Postal Stationary 1874-1948 di Mall of Indonesia, Jakarta pada 10-14 Desember 2010. Pameran Filateli Tokoh-Tokoh Nasional di Museum Prangko TMII pada 1-7 Oktober 2011.Koleksinya meraih Medal Large Silver.

Lingkaran Keris Indonesia[sunting | sunting sumber]

Fadli Zon peduli terhadap pelestarian warisan budaya leluhur.Ia menjadi Ketua Lingkaran Keris Indonesia (Indonesian Keris Circle) yang hendak memajukan Keris Nusantara. Kegiatannya adalah diskusi, pameran dan mencipta keris-keris baru. Koleksi Keris Fadli Zon telah dipamerkan beberapa kali, antara lain: Keris for the World 2010 di Galeri Nasional Jakarta (3-8 Juni 2010); Keris Mahakarya Nusantara di Solo (19-21 April 2011); Keris Sumatera di Taman Mini Indonesia Indah (23 Oktober – 4 Desember 2011).

Fadli Zon juga merupakan salah seorang pembina di organisasi perkerisan nasional SNKI (Sekretariat Nasional Keris Indonesia) periode 2011-2016.Selain itu tercatat sebagai anggota Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI).

Rumah Budaya Fadli Zon[sunting | sunting sumber]

Logo Rumah Budaya Fadli Zon

Rumah Budaya Fadli Zon didirikan oleh tokoh muda minang yang sukses sebagai pengusaha dan politisi nasional, Fadli Zon. Rumah Budaya ini mulai dibangun pada tahun 2009 di areal Rumah Puisi Taufiq Ismail. Kegiatan seni tradisi, musik, tari, saluang, baca puisi dan melukis bersama, serta pelatihan guru dilaksanakan sebagai bagian kegiatan Rumah Budaya Fadli Zon yang diresmikan 1 Juni 2011 oleh penyair Taufiq Ismail.

Tujuan utama pendirian Rumah Budaya Fadli Zon adalah sebagai pusat dokumentasi kebudayaan Minangkabau. Didalamya tersimpan sejumlah koleksi baik buku, post card, artefak, manuskrip, keris pusaka, koin kuno, alat musik tradisional, dan berbagai koleksi lainnya. Bangunan Rumah Budaya Fadli Zon berbentuk setengah bagonjong, bertingkat dua.

Di tingkat dua terdapat sebuah aula dengan kapasitas 200-an tempat duduk, disekelilingnya berdinding kaca sehingga pengunjung dapat dengan mudah memandang panorama Gunung Singgalang, Gunung Tandikek dan Gunung Merapi. Di ruangan aula ini sangat cocok digunakan sebagai tempat kegiatan, baik seminar, workshop, pelatihan, dengan skala lokal, nasional, regional maupun internasional.

Karya[sunting | sunting sumber]

Fadli Zon menulis sejumlah buku, antara lain :

  1. Gerakan Etnonasionalis: Bubarnya Imperium Uni Soviet, (Sinar Harapan, 2002)
  2. The IMF Game: The Role of the IMF in Bringing down the Soeharto Regime (IPS, 2004)
  3. Politik Huru Hara Mei 1998 (buku best seller) (IPS, 2004)
  4. Politics of May Riots 1998 (Solstice, 2004)
  5. Mimpi-Mimpi Yang Kupelihara: Kumpulan Puisi 1983-1991 (Horison, 2010)
  6. Hari Terakhir Kartosoewirjo. 81 Foto Eksekusi Imam DI/TII (Fadli Zon Library, 2012)[2]
  7. Idris Sardi, Perjalanan Maestro Biola Indonesia (Fadli Zon Library, 2012) [3]

Ia juga menjadi editor beberapa buku antara lain :

  1. Timor Timur, Indonesia dan Dunia: Mitos dan Kenyataan, karya Bilveer Singh (IPS, 1998)
  2. Tanjung Priok Berdarah (Gema Insani Press, 1998)
  3. Kembalikan Indonesia! Haluan Baru Keluar dari Kemelut Bangsa, karya Prabowo Subianto (Sinar Harapan, 2004)
  4. Konflik dan Integrasi TNI-AD, karya Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen (IPS, 2004)
  5. Kesaksian Korban Kekejaman PKI 1948 (Komite Waspada Komunisme, 2005)
  6. Lakon Politik “Che Guevara Melayu”: Dokumentasi Teror PKI 1955-1960, karya Ridwan Saidi (IPS, 2006)
  7. Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif LEKRA/PKI Dkk, karya DS Moeljanto dan Taufiq Ismail (IPS, 2008)
  8. Setelah Politik Bukan Panglima Sastra: Polemik Hadiah Magsaysay bagi Pramoedya Ananta Toer (IPS, 2009)
  9. Daulat Pangan, Daulat Petani, (Fadli Zon Library, 2010)

Penghargaan dan gelar kehormatan[sunting | sunting sumber]

  1. Di kampung nenek moyangnya, di Kabupaten 50 Kota, Fadli diangkat menjadi Datuk Bijo Dirajo Nan Kuning
  2. Tuanku Muda Pujangga Diraja, dari Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Minangkabau, 2009
  3. Tokoh Muda Inspiratif, Kompas, November 2009
  4. Komunikator Terbaik Pilpres 2009 untuk kategori Tim Kampanye/Tim Sukses, dari Strategi Aliansi Komunika, 2009
  5. Pemimpin Pancasila Tahun 2011, dari Yayasan Indonesia Satu, 11 Juni 2011
  6. Kanjeng Pangeran Kusumohadiningrat, dari Keraton Surakarta Hadiningrat, Juni 2011
  7. Kanjeng Pangeran Aryo Kusumoyudho, dari Keraton Surakarta Hadiningrat, Februari 2012

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Tribunnews, Senin, 1 Oktober 2012. Fadli Zon Library Diganjar Rekor MURI Lagi Diakses pada 3 Februari 2013
  2. ^ JPPN. Jum'at, 07 September 2012. Terungkapnya Detik-Detik Terakhir Eksekusi Mati Kartosoewirjo Diakses pada 3 Februari 2013.
  3. ^ Tribunnews. Senin, 1 Oktober 2012. Fadli Zon Luncurkan Buku Kisah Idris Sardi Diakses pada 3 Februari 2013