Eksorsisme

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Santo Fransiskus Assisi mengusir roh jahat di kota Arezzo, lukisan dinding karya Giotto

Eksorsisme (dari Bahasa Latin akhir exorcismus, yang berasal dari Bahasa Yunani exorkizein - mendesak) adalah sebuah praktik untuk mengusir setan atau makhluk halus (roh) jahat lainnya dari seseorang atau suatu tempat yang dipercaya sedang kerasukan setan. Praktek ini sudah cukup tua dan menjadi bagian dari sistem kepercayaan (agama) di berbagai negara.

Orang yang melakukan eksorsisme, dikenal dengan sebutan eksorsis, seringkali adalah seorang rohaniwan atau seseorang yang dipercaya memiliki kekuatan atau kemampuan khusus. Eksorsis bisa menggunakan doa-doa dan hal-hal religius lainnya, seperti mantra, gerak-gerik, simbol, gambar/patung orang suci, jimat, dan yang lainnya. Sang eksorsis seringkali memohon bantuan Tuhan, Yesus dan/atau beberapa malaikat dan malaikat agung lainnya untuk ikut campur di dalam eksorsisme.

Secara umum, orang yang sedang kerasukan setan tidak dianggap sebagai setan itu sendiri, termasuk juga sama sekali tidak bertanggung-jawab akan tindakan orang itu sendiri. Oleh karena itu, para pelakunya menganggap eksorsisme lebih sebagai suatu penyembuhan daripada suatu hukuman. Ritual-ritual yang umum akan hal ini biasanya memperhatikan unsur tersebut, memastikan bahwa tidak akan terjadi kekerasan terhadap diri orang yang kerasukan itu. Apabila ada potensi terjadinya kekerasan, maka orang yang sedang kerasukan itu biasanya hanya direbahkan dan diikat.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Konsep kerasukan setan atau roh jahat dan praktik eksorsisme telah berusia sangat tua dan tersebar dimana-mana, dan mungkin berasal dari berbagai kepercayaan perdukunan prasejarah.

Kitab Perjanjian Baru Kristiani mengikut-sertakan eksorsisme di antara keajaiban-keajaiban yang dilakukan oleh Yesus. Karena hal ini, kerasukan setan ada dalam sistem kepercayaan Kristiani semenjak agama ini lahir, dan eksorsisme masih merupakan praktik yang dikenal di dalam agama Katolik, Ortodoks Timur dan beberapa sekte Protestan. Gereja Inggris juga memiliki seorang eksorsis resmi di tiap keuskupannya.[2]

Setelah Masa Pencerahan, praktik eksorsisme semakin berkurang nilai pentingnya bagi kebanyakan kelompok religius dan penggunaannya semakin berkurang, terutama di masyarakat Barat. Secara umum, di abad ke-20, penggunaannya kebanyakan ditemukan di Eropa Timur dan Afrika, dengan beberapa kasus memperoleh peliputan media massa; kasus Anneliese Michel mungkin merupakan kasus yang paling terbaru daripadanya. Hal ini terjadi terutama karena berkembangnya penelitian di bidang psikologi dan di bidang fungsi dan struktur otak manusia. Banyak kasus yang dulunya dianggap perlu untuk eksorsisme seringkali akhirnya dapat dijelaskan sebagai penyakit mental dan oleh karenanya ditangai sesuai dengan hal tersebut.

Namun pada tahun 1973 film The Exorcist dirilis dan pemikiran akan eksorsisme langsung menyeruak ke permukaan. Setelah dirilisnya film ini, tanggapan yang sangat luas datang dari publik Amerika Serikat dan Eropa, dan kepercayaan akan kerasukan setan dan eksorsisme mendapatkan tempat di tengah-tengah masyarakat modern. Kepercayaan mengenai keabsahan praktik ini tidak lagi menjadi pemikiran yang radikal, dan mulai diterima secara luas.[3]

Eksorsisme di dalam Agama Kristiani[sunting | sunting sumber]

Yesus[sunting | sunting sumber]

Di dalam agama Kristiani, eksorsisme dilakukan dengan menggunakan "kuasa Kristus" atau "dalam nama Yesus". Hal ini berdasar pada kepercayaan bahwa Yesus memerintahakn para pengikutnya untuk mengusir roh-roh jahat dalam nama-Nya (Injil Matius 10:1; 10:8; Injil Markus 6:7; Injil Lukas 9:1; 10:17; Injil Markus 16:17). Menurut artikel Catholic Encyclopedia mengenai eksorsisme: Yesus mengusir setan sebagai sebuah tanda akan Kuasa Penyelamatan-Nya dan memberikan kuasa itu kepada para murid-Nya untuk melakukan hal yang sama.[4].=

Artikel Jewish Encyclopedia mengenai Yesus menyatakan bahwa Yesus "terutama rajin untuk mengusir setan" dan juga percaya bahwa Ia memberikan kuasa ini kepada para pengikut-Nya; namun, Ia lebih berkuasa daripada mereka di dalam eksorsisme".[5]

Di zaman Yesus, sumber-sumber Yahudi yang non-Perjanjian Baru menyatakan bahawa eksorsisme dilakukan dengan cara memberikan obat-obatan dengan campuran sari akar yang beracun atau sari-sari lainnya lewat upacara kurban.(Josephus, "B. J." vii. 6, § 3; Sanh. 65b). Tulisan-tulisan ini tidak menceritakan Yesus sebagai seorang eksorsis, namun menyebutkan bahwa praktik eksorsisme dilakukan oleh sekte Essene dari agama Yahudi (Gulungan Laut Mati di Qumran).

Agama Katolik Roma[sunting | sunting sumber]

Lukisan karya Francisco Goya bertemakan Santo Fransiskus Borgia melakukan eksorsisme.

Keperacayaan dalam agama Katolik Roma adalah, tidak seperti pembaptisan atau pengakuan dosa, eksorsisme merupakan sebuah ritual yang bukan sebuah sakramen Gereja Katolik. Tidak seperti sebuah sakramen, "integritas dan keberhasilan eksorsisme tidak bergantung pada penggunaan ucapan-ucapan yang kaku dan tepat, ataupun tata cara tindakan yang dilakukan dengan urut dan tepat. Keberhasilannya bergantung pada dua unsur: pemberian hak dari kuasa Gereja yang sah dan sesuai hukum, dan iman sang eksorsis".[6] Namun daripada itu, eksorsisme Katolik masihlah merupakan salah satu ritual eksorsisme yang paling kaku dan terorganisasi dengan ketat daripada ritual yang lainnya. Eksorsisme yang penuh kekhidmatan, menurut Hukum Kanon Gereja Katolik, hanya bisa dilaksanakan oleh seorang imam yang telah ditahbiskan (atau yang lebih tinggi jabatan gerejawinya) dengan izin tertulis dari uskup setempat, dan hanya dilakukan setelah adanya sebuah pemeriksaan medis untuk menghilangkan kemungkinan bahwa yang terjadi adalah penyakit mental. Catholic Encyclopedia (1908) memerintahkan: "Takhyul seharusnya tidak dicampur-adukkan dengan agama, sebanyak apapun sejarah mereka mungkin pernah bersentuhan, demikian juga sihir, seputih apapun bentuknya, untuk dicampur-adukkan dengan ritus religius yang benar". Hal-hal yang tercantum di dalam Ritus Romawi sebagai petunjuk adanya kemungkinan kerasukan setan diantaranya adalah: berbicara dalam bahasa asing atau kuno yang tidak diketahui oleh orang yang kerasukan setan sebelumnya; kemampuan dan kekuatan supernatural; pengetahuan akan hal-hal yang tersembunyi atau yang terletak jauh dimana orang yang kerasukan tidak mungkin tahu, kebencian akan segala sesuatu yang suci, penghinaan kepada Tuhan yang luar biasa, atau penghujatan terhadap segala sesuatu yang suci dan berhubungan dengan Tuhan.

Gereja Katolik mengubah Ritus Eksorsisme pada bulan Januari 1999, walaupun Ritus Eksorsisme tradisional dalam Bahasa Latin tetap diperbolehkan sebagai suatu pilihan. Tindakan eksorsisme dianggap sebagai suatu tugas rohani yang berbahaya. Ritual ini beranggapan bahwa orang-orang yang kerasukan tetap memiliki keinginan bebasnya walaupun setan mungkin telah menguasai tubuh mereka, dan melibatkan doa-doa, pemberkatan-pemberkatan dan undangan-undangan melalui penggunaan dokumen Mengenai Eksorsisme dan Permohonan-permohonan Tertentu. Ucapan-ucapan ritual eksorsisme lainnya yang pernah digunakan di masa lalu diantaranya adalah Vade retro satana dari kaum Benediktin. Di zaman modern, Gereja Katolik sangat jarang memberikan izin untuk melakukan eksorsisme, dengan lebih menelaah kasus-kasus yang berpotensi dengan anggapan bahwa penyakit mental atau fisik yang sebenarnya terjadi. Dalam kasus-kasus yang ringan, Doa Butiran Santo Mikael seharusnya digunakan.

Beberapa eksorsisme terkenal[sunting | sunting sumber]

Salvador Dalí konon pernah menerima eksorsisme dari seorang biarawan Italia, Gabriele Maria Berardi, saat ia masih tinggal di Perancis tahun 1947. Dali menciptakan sebuah patung Kristus di atas sebuah salib yang ia berikan kepada biarawan tersebut sebagai tanda terima kasih.[7]

Anneliese Michel adalah seorang wanita Katolik dari Jerman yang dipercaya kerasukan oleh enam ,mungkin lebih, setan dan yang kemudian menjalani eksorsisme pada tahun 1975. Dua film, The Exorcism of Emily Rose dan Requiem dibuat berdasarkan inspirasi cerita Anneliese ini.

Seorang bocah laki-laki dengan nama samaran "Roland Doe" menjadi subyek eksorsisme pada tahun 1949, yang kemudian menjadi tema dari The Exorcist, sebuah novel horor dan kemudian menjadi film yang ditulis oleh William Peter Blatty. Blatty mendengar kasus ini di dalam salah satu kelasnya tahun 1950 ketika ia masih menjadi seorang mahasiswa di Universitas Georgetown. Eksorsisme ini sebagian dilakukan di kota Cottage City, Maryland, dan di kota Bel-Nor, Missouri[8] oleh Romo William S. Bowdern, S.J. dan seorang akademiah Yesuit Romo Walter Halloran, S.J.[9]

Pandangan ilmiah[sunting | sunting sumber]

Ritual Katolik Roma mengenai eksorsisme menelaah subyeknya dengan suatu prosedur yang menganggap adanya sakit mental atau fisik dalam kasus-kasus yang diajukan, dan meminta kepastian dari para pekerja profesional di bidang medis dan kesehatan mental bahwa tidak ada penyebab fisik atau mental dari terjadinya kasus-kasus tersebut sebelum diizinkannya pelaksanaan ritual eksorsisme. Ketika semua kemungkinan sekecil apapun yang dapat menyembuhkan kasus-kasus tersebut tidak ada lagi, maka kasus-kasus ini diperlakukan sebagai kasus-kasus kerasukan setan jahat.

Kerasukan setan bukanlah sebuah diagnosa psikiatris atau medis yang sah yang diakui baik oleh Buku Panduan Diagnosa dan Statistik Penyimpangan-penyimpangan Mental (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders/DSM-IV) maupun Klasifikasi Statistik Internasional mengenai Penyakit dan Masalah-masalah Kesehatan yang berhubungan dengannya (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems/ICD-10). Pihak-pihak yang mengaku percaya pada kerasukan setan kadang-kadang menganggap gejala-gejala yang berhubungan dengan penyakit mental seperti histeria, mania, psikosis, sindrom Tourette, epilepsi, schizophrenia atau penyimpangan identitas terpisah (dissociative identity disorder) sebagai sumber kerasukan setan.[10][11][12] Dalam kasus-kasus dissociative identity disorder dimana kepribadian yang lain ditanya siapa dirinya, dilaporkan bahwa 29% diantaranya mengidentifikasi diri mereka sendiri sebagai setan.[13] Selain itu, terdapat juga sebuah bentuk dari monomania bernama demonomania atau demonopathy dimana sang pasien percaya bahwa dirinya dirasuki oleh satu atau lebih roh jahat.

Fakta bahwa eksorsisme berhasil bekerja pada orang-orang yang mengalami gejala-gejala kerasukan setan dihubungkan dengan pengaruh placebo dan kekuatan sugesti.[14] Beberapa orang yang terlihat kerasukan setan sebenarnya adalah kaum narsis atau yang mengalami rasa percaya diri yang sangat rendah yang kemudian berpura-pura menjadi orang yang kerasukan setan untuk memperoleh perhatian orang lain.[15]

Eksorsisme dalam Kebudayaan Popular[sunting | sunting sumber]

Eksorsisme telah menjadi sebuah topik popular dalam dunia fiksi, terutama fiksi horor.

  • Supernatural (serial televisi)
  • The Dybbuk (drama tahun 1914 karya S. Ansky)
  • The Exorcist (novel tahun 1971 karya William Peter Blatty)
  • The Exorcist (film tahun 1973 dan 2000), dan film lanjutan serta cerita awalnya, terinspirasi dari ritual eksorsisme Katolik Roma dan cerita rakyat.
  • Repossessed (film komepada tahun 1990 yang dibintangi oleh Linda Blair dan Leslie Nielsen)
  • The Biggest Douche in the Universe (episode televisi South Park tahun 2002)
  • Kya Dark Lineage (video game keluaran tahun 2003)
  • Constantine (film tahun 2005) yang didasari dari buku komik keluaran DC Comics/Vertigo Hellblazer.
  • The Exorcism of Emily Rose (film tahun 2005) yang terinspirasi dari kasus Anneliese Michel.
  • Requiem (film Bahasa Jerman tahun karya Hans-Christian Schmid) yang berdasar pada kasus Anneliese Michel.
  • An American Haunting (film tahun 2006)
  • D.Gray-man (film animasi Jepang tahun 2006 karya Hoshino Katsura)
  • A Haunting Suatu acara yang melibatkan hantu dan eksorsisme
  • Stigmata (film tahun 1999 yang dibintangi oleh Patricia Arquette dan Gabriel Bryne)
  • Grudge 2 (film Inggris tahun 2006 yang berdasar pada serial Jepang Ju-on)
  • El Orfanato (The Orphanage) (film tahun 2008 disutradarai oleh Juan Antonio Bayona dan diproduksi oleh Guillermo Del Toro)
  • 1920 (film Bollywood tahun 2008)
  • True Blood (serial televisi HBO tahun 2008)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Malachi M. (1976) Hostage to the Devil: the possession and exorcism of five living Americans. San Francisco, Harpercollins p.462 ISBN 0-06-065337-X
  2. ^ Batty, David (2001-05-02). "Exorcism: abuse or cure?". Guardian Unlimited. Diakses 2007-12-29. 
  3. ^ Cuneo, M. (2001). American Exorcism: Expelling Demons in the Land of Plenty. New York, NY, USA: Doubleday. hlm. 3–13. 
  4. ^ Exorcism
  5. ^ JewishEncyclopedia.com - JESUS OF NAZARETH
  6. ^ Martin M. (1976) Hostage to the Devil: The Possession and Exorcism of Five Contemporary Americans. Harper San Francisco. Appendix one "The Roman Ritual of Exorcism" p.459 ISBN 0-06-065337-X
  7. ^ Dali's gift to exorcist uncovered Catholic News 14 October 2005
  8. ^ St. Louis - News - Hell of a House
  9. ^ Part I - The Haunted Boy: the Inspiration for the Exorcist
  10. ^ How Exorcism Works
  11. ^ J. Goodwin, S. Hill, R. Attias "Historical and folk techniques of exorcism: applications to the treatment of dissociative disorders"
  12. ^ Journal of Personality Assessment (abstract)
  13. ^ Microsoft Word - Haraldur Erlendsson 1.6.03 Multiple Personality
  14. ^ Voice of Reason: Exorcisms, Fictional and Fatal
  15. ^ How Exorcism Works

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • William Baldwin, D.D.S., Ph.D., "Spirit Releasement Therapy". ISBN 1-882658-00-0. Practitioner & Instructor of Spirit Releasement Therapy, containing an extensive biliography.
  • Shakuntala Modi, M.D., "Remarkable Healings, A Psychiatrist Discovers Unsuspected Roots of Mental and Physical Illness." ISBN 1-57174-079-1 Gives cases, and statistical summaries of the kinds of maladies remedied by this therapy.
  • Malachi Martin, Hostage to the Devil. ISBN 0-06-065337-X.
  • M. Scott Peck, Glimpses of the Devil : A Psychiatrist's Personal Accounts of Possession, Exorcism, and Redemption. ISBN 0-7432-5467-8
  • Max Heindel, The Web of Destiny (Chapter I - Part III: "The Dweller on the Threshold"--Earth-Bound Spirits, Part IV: The "Sin Body"--Possession by Self-Made Deamons--Elementals, Part V: Obsession of Man and of Animals), ISBN 0-911274-17-0,

Pranala luar[sunting | sunting sumber]