Efesus 5

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
pasal 4       Efesus 5       pasal 6
Papyrus 49, 3rd century

Potongan surat Efesus 4:31-5:13 pada sisi verso Papirus 49, yang ditulis sekitar abad ke-3 M.
Kitab: Surat Efesus
Bagian Alkitab: Perjanjian Baru
Kitab ke- 10
Kategori: Surat-surat Paulus

Efesus 5 (disingkat Ef 5) adalah bagian dari Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen.[1][2] Digubah oleh rasul Paulus.[3]

Teks[sunting | sunting sumber]

  • Surat aslinya diyakini ditulis dalam bahasa Yunani dan ditujukan kepada jemaat gereja di kota Efesus.
  • Salah satu naskah kuno tertua yang memuat bagian pasal ini adalah Papirus 49 (diperkirakan dibuat sekitar abad ke-3 M).
  • Pasal ini dibagi atas 33 ayat.
  • Berisi pengajaran bahwa hubungan Kristus dan jemaat seperti suami isteri.

Struktur[sunting | sunting sumber]

Pembagian isi pasal:

Ayat 5[sunting | sunting sumber]

Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.[4]

Rasul Paulus, seperti halnya jemaat Efesus, tahu dengan pasti bahwa semua orang (baik anggota gereja maupun tidak) yang cabul, tidak kudus, atau serakah (yaitu, lebih mengasihi materi daripada Allah) dilarang masuk Kerajaan Kristus. Hal ini diajarkan dengan keyakinan kuat oleh nabi-nabi dalam Perjanjian Lama (Yeremia 8:7; Yeremia 23:17; Yehezkiel 13:10) dan para rasul dan gereja Perjanjian Baru (lihat 1 Korintus 6:9; Galatia 5:21). Orang yang melakukan dosa-dosa tersebut memberikan bukti yang jelas bahwa mereka tidak diselamatkan, tidak memiliki hidup Allah, dan terpisah dari hidup kekal (lihat Yohanes 8:42; 1Yoh 3:15).[5]

Ayat 21[sunting | sunting sumber]

Dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.[6]

Saling merendahkan diri di dalam Kristus adalah suatu prinsip rohani yang umum. Prinsip ini harus diterapkan pertama-tama dalam keluarga Kristen. Ketundukan, kerendahan hati, kelembutan, kesabaran, dan toleransi harus merupakan ciri khas dari setiap anggota keluarga Kristen.

  • Istri harus tunduk (yaitu, tunduk di dalam kasih) kepada tanggung jawab suaminya selaku pemimpin dalam keluarga (Efesus 5:22).
  • Suami harus tunduk kepada kebutuhan istrinya dengan sikap kasih dan pengorbanan diri (Efesus 5:23).
  • Anak-anak harus tunduk kepada kekuasaan orang-tua di dalam ketaatan (Efesus 6:1).
  • Dan orang-tua harus tunduk kepada kebutuhan anak-anak dan membina mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4).[5]

Ayat 23[sunting | sunting sumber]

Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.[7]

Allah telah menetapkan keluarga sebagai kesatuan dasar sebuah masyarakat. Setiap keluarga harus memiliki seorang pemimpin. Oleh karena itu, Allah telah menyerahkan kepada suami tanggung jawab menjadi kepala istri dan keluarga (Efesus 5:23-33; 6:4). Kepemimpinannya itu harus dilaksanakan di dalam kasih, kelembutan, dan tenggang rasa terhadap istri dan keluarganya (Efesus 5:25-30; 6:4). Tanggung jawab suami yang diberikan Allah sebagai "kepala istri" meliputi:

Ayat 28[sunting | sunting sumber]

Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.[8]

Seorang "istri" adalah "satu daging" dengan "suami"-nya, sehingga bukan lagi "orang lain" atau "sesama", melainkan sama seperti "diri sendiri", sebagaimana tertulis dalam ayat 31, yang dikutip dari Kejadian 2:24.

Ayat 31[sunting | sunting sumber]

Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.[9]

Kutipan verbatim dari Kejadian 2:24, yang juga pernah dikutip oleh Yesus Kristus (Matius 19:5; Markus 10:7-8) dan Paulus sendiri di suratnya yang lain (1 Korintus 6:16).

Ayat 32[sunting | sunting sumber]

Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.[10]

Rahasia yang dimaksudkan adalah ayat sebelumnya (ayat 31), yang mengandung makna bahwa Yesus Kristus rela meninggalkan rumah Bapa-Nya dan kemuliaan sorga untuk datang ke dunia menyelamatkan "istri" atau "mempelai perempuan"-Nya yang telah jatuh dalam dosa dan "najis", dengan penebusan dosa melalui kematian-Nya di atas kayu salib, supaya kemudian kedua pihak dapat menjadi satu selama-lamanya.[11]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis terhadap masalah-masalahnya. Jakarta:Gunung Mulia. 2008. ISBN:9789794159219.
  2. ^ John Drane. Introducing the New Testament. Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-teologis. Jakarta:Gunung Mulia. 2005. ISBN:9794159050.
  3. ^ Efesus 1:1
  4. ^ Efesus 5:5
  5. ^ a b c The Full Life Study Bible. Life Publishers International. 1992. Teks Penuntun edisi Bahasa Indonesia. Penerbit Gandum Mas. 1993, 1994.
  6. ^ Efesus 5:21
  7. ^ Efesus 5:23
  8. ^ Efesus 5:28
  9. ^ Efesus 5:31
  10. ^ Efesus 5:32
  11. ^ M.R. DeHaan. Portraits of Christ in Genesis. Zondervan. 1966.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]